Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Pertengkaran Tiga Orang Sahabat


__ADS_3

Kai hendak masuk ke dalam mobil, tetapi Nino menahannya.


"Kau mau ke mana?" Nino menghadang Kai yang akan segera masuk ke dalam mobilnya.


"Aku ingin ke rumah istriku."


"Kau masih bisa mengatakan dia istrimu setelah apa yang kau lakukan padanya?" Nino tersenyum sinis.


"Kau tidak akan bisa menemuinya. Alula sudah pergi," lanjut Nino.


"Apa maksudmu?" Kai menarik kaos yang dipakai oleh Nino.


"Aku bilang Alula sudah pergi. Kau tidak akan menemukannya lagi."


"Dari mana kau tahu?" Kai mengguncang tubuh Nino dengan kasar.


"Aku semalam melihatnya saat akan membeli makanan. Dia pergi dengan Cleon dan juga Chelsea," jelas Nino


"Ke mana dia pergi?" Kai menatap wajah Nino tajam.


"Aku tidak tahu. Walau pun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu," Nino tersenyum meledek.


Buuggg


Kai meninju wajah Nino hingga dia jatuh tersungkur. Nino meraba sudut bibirnya yang berdarah. Ia hanya tertawa mendapat bogem mentah dari sahabatnya itu.


"Katakan ke mana istriku pergi?" Kai kembali membangunkan Nino dengan menarik kaosnya.


"Kau sungguh tidak tahu malu! Kau sudah menyakitinya sekarang kau mencarinya kembali. Aku yakin Alula tidak akan menerimamu lagi sebagai suaminya," Alden kini yang menimpali.


Kai menghunuskan tatapan tajamnya kepada Alden.


"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!!" Kai berteriak kepada Alden.


"Kami sudah ikut campur dengan rumah tanggamu. Setelah kita pulang dari rumah Edward, aku dan Nino segera menyelidik kasus penusukan om William. Kami menemukan video rekaman CCTV yang sekarang beredar di internet. Dan kami juga yang mengupload video itu," papar Alden.


Kai melepaskan Nino, kini ia berjalan ke arah Alden.

__ADS_1


"Mengapa kau tidak memberi tahuku lebih awal?" Kai mencengkram kerah kemeja Alden.


"Aku hanya ingin kau menerima balasan atas apa yang kau lakukan," Alden tersenyum sinis. Ini pertama kalinya Alden dan Nino berani kepada Kai. Biasanya mereka akan mengalah dan memilih tidak berkonflik dengan sahabat kecilnya.


Kai hendak meninju wajah Alden, dengan sigap Alden menahan kepalan tangan Kai.


"Kau harus bersyukur setidaknya kami selangkah membantumu . Sekarang kau berusaha lah sendiri untuk membawa Alula kembali padamu. Itu pun jika ia masih ingin menerimamu," Alden melepaskan tangan kiri Kai dari kerah kemejanya.


"Berubahlah menjadi orang yang tidak mengedepankan nafsu dan amarahmu saja! Jika saja saat itu kau berfikir jernih, kau tidak akan kehilangan istrimu!" Imbuh Alden.


"Aku terlalu percaya kepada Edward," Kai bergumam pelan.


Alden hanya tersenyum sinis mendengar gumaman Kai. Alden segera membangunkan Nino. Mereka pun segera masuk ke mobil dan meninggalkan Kai yang masih ada di sana.


"Kita benar-benar hebat berani melawan seorang Kaivan Allen," ucap Alden di dalam mobilnya. Ia merasa sangat bangga sudah melawan Kai. Nino pun tersenyum sembari terus mengemudikan mobilnya.


***


Kai sampai di rumah Halbert. Kini ia sudah duduk berhadapan dengan Halbert dan juga Ainsley di ruang tamu. Ainsley dan Halbert memandang wajah menantunya itu dengan tidak ramah.


"Aku mencari istriku," Kai menatap sendu mertuanya itu.


"Istriku?" Halbert kemudian tertawa.


"Kemarin bukannya kau membuang putriku?"


"Maafkan aku, Pa! Aku sudah salah paham," Kai menundukan kepalanya.


"Enteng sekali kau meminta maaf! Apakah kau tahu saat kau menuduhnya mencelakai ayahmu, Alula sedang mengandung darah dagingmu?" Air mata menitik dari mata Ainsley. Ia sungguh sangat terluka melihat penderitaan Alula sebelum berangkat ke kota York.


"Maafkan Kai, Ma! Kai tidak mengetahui Alula sedang mengandung," Kai melihat wajah mertuanya yang sangat terluka.


"Bahkan jika dia sedang tidak mengandung anakmu, kau tidak pantas untuk memperlakukannya seperti itu!" Bentak Halbert.


"Kai merasa bersalah, Pa. Izinkan Kai untuk memperbaiki semuanya."


"Memperbaiki? Aku tidak akan mengizinkannya. Aku akan mengurus perceraian anakku denganmu! Sekarang kau pergilah dari rumah ini!" Halbert berdiri dan hendak naik ke atas tangga. Ainsley pun mengikuti suaminya.

__ADS_1


"Pa?" Kai mengejar Halbert dan Ainsley.


"Kai mohon jangan seperti ini!" Mata Kai berkaca-kaca ketika mendengar Halbert akan mengurus perceraiannya dengan Alula.


Halbert dan Ainsley pun menghentikan langkah dan membalikan badannya menghadap Kai.


"Aku menikahkan putriku denganmu berharap dia akan bahagia. Tetapi kau malah menyakitinya dan membuangnya seperti sampah," mata Halbert tampak memerah.


Secara mengejutkan, Kai menempelkan lututnya di lantai. Ia kini bersimpuh di hadapan ibu dan ayah mertuanya.


"Kai mohon! Berikan Kai satu kali kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku sangat mencintai putrimu," suara Kai memberat mengandung tangis.


"Mencintai?" Halbert tersenyum sinis.


"Kai benar-benar menginginkan Alula. Terlebih Alula sedang mengandung anakku. Tidak kah kau tega melihat anak itu lahir tanpa seorang ayah?" Kai terisak.


Halbert terkesiap mendengar ucapan Kai. Ia tidak berfikir ke arah sana. Ke arah di mana cucunya akan lahir tanpa adanya kasih sayang dari seorang ayah.


"Beri dia kesempatan!" Ucap Ainsley kepada suaminya sambil tersedu. Ainsley pun tak mau cucunya lahir ke dunia tanpa kasih sayang dari ayahnya.


"Baiklah. Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi," Halbert menghela nafasnya.


"Tetapi, jika Alula sudah tidak mau denganmu, kami tak bisa melakukan apa-apa lagi. Putriku yang akan memutuskan, apakah ia masih ingin melanjutkan rumah tangganya denganmu atau tidak," sambung Halbert.


"Terima kasih, Pa. Kai akan berusaha untuk membuat Alula menerima Kai lagi," Kai seperti menemukan secercah harapan untuk mendapatkan istrinya kembali.


"Lantas ke mana istriku pergi?" Tanya Kai masih dengan posisi bersimpuhnya. Ainsley segera membangunkan menantunya itu untuk berdiri.


"Aku tidak bisa memberi tahumu. Berusahalah untuk mencari keberadaannya!" Tukas Halbert. Kemudian ia segera naik ke atas tangga.


"Ma, ke mana Alula pergi?" Sorot mata Kai memohon kepada Ainsley agar ia mau memberi tahu di mana keberadaan Alula.


"Mama tidak bisa memberi tahumu. Mama sudah berjanji kepada Alula. Berusahalah untuk menemukannya!"


Author ucapkan terima kasih untuk para readers yang sudah berkenan membaca, menyukai, mengomentari juga memberikan vote kepada novel yang masih jauh dari kata bagus ini. Tolong jaga kesehatan kalian selama masa pandemi juga musim hujan seperti ini! Maaf author belum sempat membalas komentar kalian satu persatu karena beberapa hari ini author sedang ada kegiatan di real life.


Terima kasih bagi yang sudah meninggalkan komentar, karena komentar itu semakin membuat Author bersemangat untuk melanjutkan novel ini. Selamat menikmati weekend terakhir kalian di tahun ini šŸ¤—šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2