
"Kau kenapa, Kai? Mengapa wajahmu begitu kusut seperti baju yang tidak disetrika?" Ledek Alden kepada Kai. Hari ini Kai, Alden dan Nino sedang melakukan olahraga di tempat gym yang biasa mereka datangi.
"Iya, ku lihat kau tidak bersemangat akhir-akhir ini," Nino membenarkan.
"Gadis bodoh itu, ah tidak tidak! Dia sudah tidak gadis lagi sekarang. Ini tentang istriku. Sudah tujuh hari Alula tidak pulang ke rumah," jawab Kai sambil terbaring di leg press machine yang ada di ruang gym.
"Kau tidak mengajaknya pulang?" Alden mendudukan dirinya di kursi untuk beristirahat setelah ia melakukan crunch.
"Tidak. Aku tidak bisa membujuknya. Bertemu denganku pun dia tidak mau," Kai bangun dari leg press machine dan mendudukan dirinya di samping Alden, tak lama ia meneguk air mineral yang ada di botol.
"Kau lemah sekali jadi pria!" Ledek Nino sambil menggerak-gerakan barbel di tangannya.
"Kau berani mengataiku lemah?" Teriak Kai kepada Nino.
"Hehe," Nino tertawa takut.
"Maksudku dia kan istrimu. Harusnya kau tegas untuk membawanya pulang. Jika kau tidak tegas seperti ini, masalah kalian tidak akan pernah selesai," sambung Nino.
"Ini semua gara-gara kau! Jika kau tidak memberikan nomor ponsel Alula kepada Arabella, tidak akan terjadi hal seperti ini," ucap Kai geram kepada Nino.
"Maaf, Kai! Bella membodohiku. Dia berkata akan memberikan Alula hadiah karena Alula istrimu. Siapa yang tahu jika hadiah itu adalah foto kemesraan kau dan Bella," Nino menyimpan barbel yang ada di tangannya dan mendudukan dirinya di samping Kai.
"Bella menarikku dan sengaja berpose seolah olah aku memeluknya," jelas Kai.
"Kau benar-benar sudah tidak menginginkan Bella?" Tanya Alden serius.
"Iya. Aku hanya ingin istriku sekarang. Aku begitu penasaran dengannya, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Selama seminggu ini aku tersiksa ketika dia jauh dariku. Aku selalu melihat bayang bayangnya yang sedang memasak dan tidur di sampingku," Kai berkata dengan nada yang sedih.
"Hey, sejak kapan seorang Kaivan Allen menjadi seorang yang mellow drama seperti ini?" Nino tertawa melihat raut wajah sahabatnya.
"Iya, apalagi wanita itu adalah Alula. Bayangkan men! Bayangkan!" Alden menggerakan tangannya di kepala Nino.
"Haha. Aku jadi teringat ketika dulu kau menyimpan permen karet di kursinya," Nino tertawa dengan lepas.
"Diamlah ! Aku sungguh tidak ingin mengingat hal itu lagi!" Gerutu Kai geram.
"Tapi benar apa kata Nino. Harusnya kau tegas kepada istrimu !! Bagaimana bisa dia pergi sampai seminggu ini dan meninggalkan kau sebagai suaminya?" Tutur Alden serius.
"Iya, bukannya seorang istri harusnya melayani suaminya?" Nino membenarkan.
"Kau sih bermain kasar, jadi dia trauma," goda Alden.
__ADS_1
"Bukan bermain kasar. Itu gara gara ulah anak tengil ini yang memberikan nomor ponsel Alula kepada Bella!" Kai menunjuk ke arah Nino.
"Ya, maaf! Aku tidak tahu kan jadinya begini," timpal Nino seraya melepas sepatu olahraganya.
"Ajaklah dia pulang, Kai! Bila tidak mau, paksa saja! Bukannya kau selalu bermain secara paksa?" Celetuk Alden dengan polosnya.
"Diamlah! Atau ku sumpal mulutmu dengan kaos kakiku!" Kai melepaskan kaos kaki miliknya.
"Ampun!" Alden berlari menjauh dari Kai.
***
Malam ini, Kai sudah tidak bisa menahan perasaan dan rindunya lagi. Ia sudah tidak kuat dengan kesepian yang melanda karena Alula tak ada di sampingnya. Sepulang dari tempat ngegym. Kai langsung pergi ke rumah Chelsea untuk menjemput Alula. Kai memarkirkan mobilnya di luar halaman rumah Chelsea, agar Alula tidak tahu kedatangannya. Kai pun memencet bel pintu rumah Chelsea. Pintu terbuka dan ternyata yang membuka pintu adalah Alula. Alula terkecoh karena ia tidak mendengar suara mobil, jadi dia pikir itu adalah pengantar pizza yang mengirimkan pesanan pizza miliknya.
"Kai?" Alula terkejut melihat suaminya.
"Iya, ini aku. Aku ingin menjemputmu pulang!"
"Aku tidak mau pulang!" Alula hendak menutup pintu rumah, tetapi dengan cepat lengan Kai menahannya.
"Aku bilang pulang!" Kai berbisik dengan berang di telinga Alula.
"Jika kau tidak pulang, maka aku akan-" Kai menggantung kalimatnya.
"Aku akan menghancurkan rumah temanmu ini dan butiknya!" Ujar Kai dengan wajah dan suara yang menyeramkan.
Alula tampak kaget dengan apa yang ia dengar.
"Lakukan saja! Memangnya kau bisa?" Alula menutupi ketakutan pada dirinya.
"Benarkah kau menginginkannya? Jangankan rumah dan butik temanmu, bila perlu satu komplek ini aku hancurkan! Aku tidak main-main dengan perkataanku, kau ingin bukti? Aku akan segera menelfon orang-orangku agar membawa alat berat kesini dan menghancurkan rumah temanmu ini," Kai berseringai jahat.
"Aku hitung sampai 5, ikut aku pulang atau ku hancurkan rumah temanmu ini!"
"1, 2, 3, 4 dan 5," Kai menjetikan jarinya. Kemudian ia membalikan badannya dan bergegas pergi meninggalkan rumah Chelsea.
"Kai?" Panggil Alula. Kai menaikan sudut bibirnya ke atas saat Alula memanggilnya.
Alula berlari dan memeluk tubuh Kai dari belakang.
"Jangan lakukan itu! Aku akan ikut kau pulang ke rumah," Alula masih memeluk tubuh Kai dari belakang. Kai membalikan tubuhnya menghadap Alula.
__ADS_1
"Good girl!!" Kai menepuk kepala Alula.
"Sekarang ambil barangmu dan pamitlah kepada temanmu!" Perintah Kai masih dengan sorot wajah yang menyeramkan.
Alula hanya mengangguk, kemudian ia segera berlari ke dalam rumah. Setelah 10 menit, Alula keluar dengan ditemani oleh Chelsea. Mereka tampak berpelukan di depan pintu.
"Terimakasih karena sudah menjaga Alula dengan baik selama di sini," tutur Kai dengan senyumannya yang terlihat menakutkan.
"Sama-sama, Kai," jawab Chelsea. Chelsea tahu saat ini Kai sedang marah besar. Chelsea sudah tahu arti dari senyuman itu.
"Ayo pulang sayang!" Kai menggenggam erat lengan Alula, lalu mereka pergi dari rumah Chelsea dan segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan, Kai maupun Alula tidak saling berbicara. Suasana tampak mendebarkan dan hening. Secara tiba-tiba, Kai membanting setirnya ke kiri dan menepikan mobilnya di jalanan yang sepi.
"Jika kau berani untuk kabur lagi dariku, kau akan tahu akibatnya!" Ancam Kai dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
Alula hanya diam tanpa mampu menjawab suaminya. Dengan cepat, Kai merengkuh leher Alula. Ia menciumi bibir istrinya di dalam mobil. Alula memukul-mukul dada Kai yang tengah menciumnya, berharap untuk dilepaskan. Akan tetapi, Kai semakin menggila. Ia semakin memperdalam ciuman itu. Setetes air mata keluar dari sudut mata Alula. Ia begitu takut kejadian malam itu akan terulang lagi. Kai yang melihat air mata itu, langsung melepaskan bibir Alula.
"Itu adalah hukumanmu karena sudah menelantarkanku selama seminggu," ucap Kai dingin. Ia langsung mengemudikan kembali mobilnya menuju ke rumahnya yang ada di Boston Villages.
"Turun!" Perintah Kai kepada Alula saat mereka sudah sampai di rumah.
Alula segera turun dari dalam mobil. Dengan cepat, Kai menarik lengan Alula ke kamar mereka yang ada di lantai dua.
Setelah mereka di kamar, Kai mengunci pintu dan mendorong tubuh Alula hingga ia terjerembab di atas kasur.
"Kai, kau mau apa?" Alula panik saat Kai membuka bajunya.
Kai mendekati tubuh Alula dan mengurung tubuh Alula di bawah tubuhnya, "Layani aku!" Bisiknya. Kai mulai menciumi wajah Alula. Kemudian, bibirnya bergerak ke telinga dan leher istrinya. Sementara Alula hanya diam dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Aww," ringis Alula saat Kai menggigit telinganya. Kai tidak menghentikan aktivitasnya saat ini. Tangannya mulai membuka kancing piyama Alula satu persatu.
"Kai hentikan! Aku tidak bisa melayanimu sekarang! aku sedang datang bulan," Alula berkata dengan gugup, ia takut Kai tahu dirinya tengah berbohong.
Lengan Kai yang sedang membuka kancing piyama istrinya seketika berhenti. Kai menatap Alula yang bernafas dengan sangat cepat dan juga tidak menatap pada wajahnya.
"Benarkah kau sedang datang bulan?" Tanya Kai dingin.
"I-iya, Kai," jawab Alula cepat.
Kai segera bangun dan menjauhi tubuh istrinya.
__ADS_1
"Kau kira aku bodoh?" Kai tersenyum sinis sembari berjalan ke luar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.
Dear Readers : Maaf ya ! Hari ini author hanya mampu menulis satu episode karena tubuh sedang kurang Vit. Udara di Bandung sekarang sedang dingin-dinginnya, kira-kira kaya lagi di kota Forks (hehe, lebay amat). Angin nya pun setiap hari berhembus dengan kencang, jadi kondisi tubuh gampang ngedrop. Jika para readers suka dengan novel ini, jangan lupa untuk like, coment, vote dan juga beri rate 5 untuk mendukung author. Terimakasih. š¤š¤