Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Menemui Arabella


__ADS_3

William sudah membulatkan tekadnya. Ia akan segera berbicara kepada Arabella untuk tidak mengganggu rumah tangga Kai dan Alula. Sore ini, William sedang bersiap untuk bertemu dengan Arabella. William akan bertemu dengan Arabella di restoran yang ada di pusat kota Birmingham.


"Bel?" Sapa William saat ia sudah sampai di restoran dan melihat Arabella sudah terduduk di kursinya.


"Bagaimana, Dadd? Apakah kau sudah membujuk Kai untuk melepaskan wanita murahan itu?" Tanya Arabella langsung pada intinya.


"Mengapa kau menyebut menantuku wanita murahan?" William merasa tidak suka saat Arabella memanggil Alula dengan sebutan wanita murahan.


"Ya, karena dia sudah dua kali merebut kekasihku, Dadd. Makanya aku menyebutnya wanita murahan," ungkap Arabella sembari menyeruput segelas cocktail yang sudah ia pesan.


"Bel? Daddy sudah membujuk Kai untuk bercerai dengan istrinya. Bahkan Daddy sudah menyuruh Kai untuk menanda tangani sebuah suat perceraian."


"Lalu? Bagaimana, Dadd? Kai mau kan menanda tangani surat perceraian itu?" Arabella tampak bersemangat ketika mendengar William menyuruh Kai menanda tangani sebuah surat gugatan cerai.


"Kai tidak mau menanda tangani surat itu. Kai tetap tidak mau menceraikan Alula," jawab William.


"What? Lalu sekarang apa rencanamu untuk memisahkan mereka, Dadd?" Arabella berkata dengan gelisah.


"Kurasa tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, Bell. Sebaiknya kau lupakan putraku ! Dia benar-benar mencintai Alula," tegas William.


"Haha. Lelucon macam apa ini?" Arabella tertawa dengan keras.


"Kau bercanda? Kau menyuruhku datang ke sini hanya untuk mendengar leluconmu yang memuakan ini? Dengarkan aku Tuan William ! Putramu yang menjanjikan untuk menikah denganku setelah tujuh bulan pernikahannya dengan wanita lakn*at itu!" Lontar Arabella dengan geram.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang sudah menjadi milikku yang direbut wanita sial*n itu!! " Lanjut Arabella dengan berapi-api.


William seperti tidak mengenali Arabella seperti biasanya. Ia melihat sisi lain dari diri Arabella yang baru ia lihat.


"Akhiri semuanya, Bell ! Biarkan putraku bahagia dengan wanita pilihannya!" William berkata dengan sangat berwibawa.


"Bahkan kau pun tidak bisa menghentikan langkahku untuk memiliki anakmu ! Apapun akan ku lakukan untuk membuat Kai kembali padaku, termasuk mengenyahkan menantu sial*nmu itu!" Desis Arabella tajam.

__ADS_1


"Cukup ! Aku ke sini datang dengan baik untuk memintamu meninggalkan putraku. Hiduplah dengan bebas ! Carilah pria lain ! Kau gadis yang cantik dan kaya raya. Tentu tidak akan sulit menemukan pria yang kau inginkan," William mulai terpancing emosi dengan sikap Arabella.


"Aku hanya menginginkan putramu tuan William, bukan yang lain !" Arabella meminum kembali cocktail miliknya.


"Sejak kecil aku selalu mendapatkan apa yang ku inginkan dengan mudah. Daddy dan mommy selalu memberikan apa yang aku minta dengan sekejap mata. Dan aku akan selalu mendapatkan apa yang ku mau. Tak akan ada yang bisa menghentikanku!" Arabella menyeringai jahat.


"Putraku bukan barang yang bisa kau dapatkan semaumu!" Bentak William sehingga membuat pengunjung lain menoleh kepada mereka.


"Tapi putramu yang berjanji akan menikahiku. Aku hanya ingin dia menepati janjinya. Aku akan melakukan berbagai cara untuk membuat Kai kembali padaku. Dia milikku dan hanya milikku selamanya. Tidak ada yang akan bisa memilikinya. Siapa pun itu ! Camkan baik-baik ucapanku, tuan William !" Arabella tersenyum jahat sembari menatap William. Ia mengayun ngayunkan gelasnya yang masih terisi dengan cocktail.


"Kai berjanji karena dia tidak akan tahu akan jatuh cinta dengan istrinya."


"Jatuh cinta? Kau sangat yakin anakmu akan jatuh cinta pada wanita rendahan itu?" Arabella tersenyum sinis.


"Aku sangat yakin," jawab William mantap.


"Kau salah, Tuan William !! Kaivan Allen hanya mencintaiku. Dia tidak akan mencintai wanita lain selain aku," Arabella menatap William tajam.


"Kau tidak usah terlalu percaya diri, Bell! Hati seseorang mudah sekali untuk berubah."


"Ayolah ! Bujuk kembali anakmu untuk meninggalkan istrinya," Arabella mencoba untuk membujuk William kembali.


"Aku akan menyuruh Daddy untuk menginvestasikan sahamnya di perusahaan anakmu jika kau memisahkan Kai dan wanita itu," Arabella masih berusaha untuk membuat William berubah pikiran.


"Aku tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi. Kai sudah sangat cukup dalam hal finansial. Perusahaannya sangat maju sekarang. Ayahmu tidak menginvestasikan saham ke perusahaan anakku itu tidak menjadi soal dan tidak menjadi masalah untuk Kai," William tersenyum dingin.


"Kau sombong sekali tuan William!!" Arabella tersenyum jahat.


"Aku tanya sekali lagi. Kau mau membantuku untuk memisahkan Kai dan istrinya atau tidak?" Tanya Arabella penuh penekanan.


"Tidak, aku tidak akan mengganggu rumah tangga anakku lagi," tukas William mantap.

__ADS_1


"Baiklah, kita tunggu apa yang akan terjadi ke depan Tuan William. Aku akan melakukan hal yang tidak kau duga," ancam Arabella.


"Terserah padamu. Aku menyesal datang menemuimu. Aku benar-benar sudah membuang waktuku datang ke tempat ini !" William segera berdiri dan meninggalkan Arabella di dalam restoran itu.


"Kau sudah membangunkan singa yang tengah tertidur tuan William. Lihatlah apa yang akan terjadi !!" Arabella menyeringai jahat.


"Aku tahu Arabella tak akan berhenti. Terlebih ayahnya akan sangat mendukung setiap keinginan putrinya. Aku harus memperingati Kai untuk berhati-hati padanya," resah William di dalam hatinya. Kemudian ia segera naik ke mobilnya dan berlalu meninggalkan restoran itu.


Di dalam mobil, William mencoba untuk menghubungi Kai. Tetapi, putrnya tak kunjung menjawab panggilan telfonnya.


"Ke mana anak ini? Semenjak kejadian dia berlutut padaku, Kai seolah menghindariku," William bergumam pelan.


"Leo, antar aku ke kantor anakku!" Perintah William kepada Leo.


"Baik, tuan," Leo menyetujui dan langsung melajukan mobilnya menuju kantor Kai.


Sesampainya di kantor anaknya, William segera turun dari mobil dan bergegas untuk masuk ke dalam kantor milik Kai. Semua karyawan yang berlalu lalang di kantor langsung memberikan jalan saat William datang. Tentu mereka tahu siapa William. Ia adalah ayah dari pemilik kantor tempat mereka bekerja.


William segera berjalan cepat menuju ruangan pribadi Kai, sesaat ia masuk ke dalam ruangannya Kai tidak ada di sana.


"Ke mana anakku?" Tanya William kepada Rachel, sekretaris pribadi Kai.


"Hari ini Tuan Kai sedang melakukan observasi ke tempat yang akan di jadikan area perumahan baru, tuan," jelas Rachel dengan nada yang sopan.


"Kapan dia akan kembali?" Tanya William.


"Saya tidak tahu persis, tuan. Sepertinya akan sangat lama," tutur Rachel.


"Baiklah. Jika Kai datang sampaikan jika aku datang kemari mencarinya," pesan William.


"Baik, tuan. Saya akan menyampaikan kepada Tuan Kai nanti setelah ia kembali ke kantor," Rachel mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu," William segera bergegas keluar kembali dari kantor Kai.


"Padahal ini sangat penting. Aku harus memberi tahu Kai mengenai Arabella. Dia sepertinya akan bertindak nekat untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga anakku," William mencoba menerawang.


__ADS_2