
Pagi hari. Alula, Kai, William dan Sofia tampak sarapan bersama-sama.
"Al, apa sudah ada tanda tanda kamu hamil?" Tanya Sofia kepada Alula yang tengah memakan sereal miliknya.
"Sepertinya belum, Mom," Alula menunduk.
"Tidak apa-apa sayang. Coba terus ya?" Hibur Sofia.
"Tenang saja. Baru tujuh bulan kita menikah," Kai pun mengelus lengan istrinya lembut sembari tersenyum tulus.
William yang melihat tingkah Kai mengernyit heran. Dari sejak kapan anak itu berlaku lembut kepada orang lain, begitu pikirnya.
"Kai, sepertinya kau tidak sabar memiliki anak!" Goda Sofia.
"Tentu saja, Mom. Kai sangat menantikan anak dari wanita yang Kai cintai," Kai tersenyum simpul.
William yang mendengar itu langsung tersedak.
"Daddy baik-baik saja?" Alula berdiri dan mengambilkan air untuk mertuanya.
William menerima air itu dan meminumnya dengan canggung.
Alula pun segera terduduk kembali di samping suaminya. Sementara Sofia hanya tersenyum menatap Alula yang begitu perhatian kepada William.
"Mommy senang melihat kalian seperti ini. Mudah-mudahan menantu mommy yang cantik ini segera hamil !" Tutur Sofia dengan tulus.
"Honey? Kau tahu? Menantu kita yang memasak masakan ini," ucap Sofia kepada William.
"Iya, Dadd. Makanan nya enak kan? Kai yang meminta Alula membuatkan Ratatouille untuk Daddy," celoteh Kai.
William hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Enak sekali. Masakan gadis ini sama dengan masakan ibuku dulu," batin William.
Setelah menghabiskan makanan miliknya, William segera bergegas pergi ke kantor dengan ditemani oleh supir pribadinya.
"Kau yang sabar ya! Aku yakin sebentar lagi Daddy akan menerimamu!" Kai menangkup tangan Alula hangat. Alula hanya mengangguk.
****
Semalaman William memikirkan kata-kata yang Alula ucapkan padanya saat di ruangan kerjanya semalam. William begitu melihat kejujuran di mata Alula, saat menantunya mengatakan jika ia mencintai Kai.
"Apa aku terlalu egois? Kai juga sepertinya sangat mencintai Alula."
"Kita sampai, tuan," ucap supir pribadinya yang hanya melihat William bengong di kursi belakang.
William pun segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke kantor miliknya.
__ADS_1
"Tuan, ada tamu untuk tuan!" Ucap seorang resepsionis kantor.
"Siapa?" Jawab William dengan berwibawa.
"Seorang wanita. Dia menunggu di ruang tunggu tamu," tukas resepsionis itu sopan.
"Baiklah," William segera melangkahkan dirinya ke ruangan itu.
"Arabella?" Seru William saat ia melihat mantan kekasih dari putranya.
"Hallo, Dadd!" Arabella berdiri dan memeluk William. Arabella memang terbiasa memanggil Daddy kepada William.
"Sedang apa kau di sini?" William merasa heran karena Arabella muncul di kantornya.
"Aku ingin berbicara padamu."
"Baiklah. Mari kita bicara di ruanganku," William berjalan lebih dulu. Tentu ia sudah tahu maksud kedatangan Arabella ke sini.
"Dadd, tolong bantu aku untuk mendapatkan hati anakmu lagi!" Arabella berkata tanpa berbasa basi.
William menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian ia segera duduk di kursinya.
"Bell, sepertinya Kai memang sudah tidak mencintaimu," William berkata dengan hati-hati.
"Tidak, Dadd. Kai masih sangat mencintaiku."
"Tapi aku sangat yakin jika hati Kai masih untukku. Aku mohon bantu aku untuk mendapatkan Kai," rengek Arabella.
"Daddy sungguh bingung. Kai bukanlah tipe anak yang mudah untuk dipaksa."
"Dadd, mengapa kau menjadi pengkhianat seperti ini. Bukankah kau berkata kepada kedua orang tuaku untuk mendukung aku menikah dengan Kai?" gerutu Arabella.
"Daddy berkata demikian, karena daddy pikir Kai masih sangat mencintaimu. Tapi, sepertinya daddy salah."
"Dadd, jika Bella menikah dengan Kai, tentu Kai akan sangat di untungkan. Perusahaan ayahku adalah perusahan kontraktor terbesar di Eropa Barat. Kau jangan lupakan fakta itu!" Arabella berkata dengan penuh penekanan mengenai keadaan ekonomi keluarganya.
"Aku sungguh tidak lupa. Tetapi, Kai pun memiliki perusahaannya sendiri. Saat ini dia mandiri dan tidak bergantung dengan perusahaan mana pun," William merasa tidak suka Arabella berkata seperti itu.
"Aku mohon, Dadd !! Bantu aku untuk mendapatkan Kai kembali!" Arabella mulai terisak. Ia menangis di hadapan William.
"Aku mohon, Dadd. Tidak kah kau kasihan padaku? Setiap malam aku harus meminum obat tidur untuk bisa tidur. Aku sungguh depresi karena Kai meninggalkanku. Aku benar-benar ingin Kai berada di sisiku lagi," Arabella memohon.
William pun merasa iba mendengar penuturan Arabella. Ia berdiri dari duduknya dan mendekati Arabella.
"Baiklah, Bell. Daddy akan membantumu sekali lagi. Daddy akan berbicara dengan Kai. Tetapi, jika Kai tidak mau denganmu, Daddy sungguh tidak bisa memaksanya lagi," tegas William.
"Baiklah, Dad," Arabella menyeka air matanya.
__ADS_1
"Kau tidak tahu saat ini kau tengah berhadapan dengan siapa. Aku akan memastikan Kai menjadi milikku lagi. Aku akan membuat Kai berada di sisiku lagi, apa pun caranya."
****
William pulang dari kantornya. Saat ia sampai rumah, William melihat Alula tengah tertidur di pangkuan Sofia, sambil menonton acara televisi bersama-sama di atas sebuah karpet bulu. Mereka seperti anak dan ibu kandung yang sangat akrab. Entah mengapa hatinya menghangat melihat keakraban itu.
"Mom, jika nanti film A Quit Place 2 sudah rilis di bioskop. Ayo kita menonton bersama!" Ajak Alula kepada Sofia. Kepalanya masih berada di pangkuan ibu mertuanya itu.
"Baik, sayang. Nanti mommy menemanimu untuk nonton," Sofia mengelus rambut Alula lembut. Sementara Kai yang sedang terduduk di sofa hanya tersenyum melihat keakraban ibu dan istrinya.
"Al, kau tahu? Mommy sangat ingin memiliki anak perempuan," Sofia masih mengelus lembut rambut menantunya.
"Lalu, mengapa mommy tidak menambah anak waktu itu?"
"Kai merengek. Dia bilang tidak mau mempunyai adik. Kai bilang jika ia mempunyai adik, dia akan tersisihkan," Sofia mengalihkan tatapannya ke wajah putranya yang tengah terduduk di sofa.
"Sayang, kau sangat kekanakan! Jika saja kau memiliki adik, tentu aku akan memiliki adik ipar," Gerutu Alula kepada suaminya.
"Namanya anak kecil," Kai terkekeh.
"Ya sudah, Mommy hamil saja sekarang," seru Alula dengan polosnya.
"Kau yang benar saja! Saat ini aku lebih pantas memiliki seorang anak bukannya adik," tolak Kai.
Sofia yang mendengar hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Walau pun sudah saling jatuh cinta, tetapi Alula dan Kai selalu berdebat untuk hal-hal yang kecil.
"Tidak bisa sayang. Usia mommy sudah tidak memungkinkan," Sofia merapikan rambut Alula.
"Alula juga ingin mempunya adik, Mom. Tapi kesehatan mama tidak memungkinkan," lanjut Alula.
"Memangnya mama mu kenapa?" Tanya Sofia penasaran.
"Entahlah, Mom. Mama juga tidak menceritakannya secara rinci. Papa hanya menjelaskan jika kesehatan mama tidak memungkinkan untuk mengandung lagi," papar Alula.
"Itu artinya kita memang berjodoh sayang. Kita sama-sama anak tunggal," celetuk Kai.
"Apa hubungannya? Kau sungguh aneh," Alula tertawa mendengar pernyataan Kai yang sangat tidak berkolerasi.
"Ehem," William berdehem.
Alula segera bangun dari pangkuan Sofia.
"Kau sudah pulang?" Sofia menyambut Willaim. Tak lupa ia mengambil tas kerja kantor suaminya..
"Seperti yang kau lihat!" William tersenyum.
"Daddy, Alula sudah membuatkan makan malam untuk Daddy," kata Alula kepada William.
__ADS_1
"Terima kasih. Nanti Daddy makan," William tersenyum.