
Sore ini, Alula pulang kembali ke rumah yang ia tempati bersama Kai. Alula harus mengemasi semua baju dan barang-barangnya. Bibi May menangisi Alula saat ia tahu majikannya itu akan pergi. Alula tidak memberi tahukan kota tujuannya kepada bibi May.
"Bibi akan merindukanmu, Nona!" Bibi May menangis dan memeluk Alula. Cukup lama mereka berpelukan satu sama lain.
"Bibi jaga kesehatan ya! Jaga rumah ini! Alula akan selalu mengingat bibi," Alula melepaskan pelukannya. Ia pun segera masuk ke kamar untuk membereskan semua barang yang akan ia bawa.
Tepat pukul 7.00 PM, Kai masuk ke dalam rumah yang sudah tujuh bulan ia tinggali dengan istrinya. Tampak bibi May tengah menangis di ruang tengah yang berada di lantai satu. Kai merasa heran melihat bibi May menangis.
"Di mana dia?" Kai tidak menyebut nama istrinya.
"Nona di kamarnya, tuan."
Kai segera naik ke lantai dua menuju kamarnya dan Alula. Saat ia berada di ambang pintu, Kai melihat Alula tengah berdiri di depan jendela kamar. Kai mengalihkan pandangannya ke arah koper besar dan tas besar milik istrinya.
"Ada apa?" Kai masih bertanya dengan dingin.
Alula membalikan tubuhnya. Perlahan ia berjalan menuju suaminya.
"Ada apa kau menyuruhku kemari?" Kai menaikan suaranya.
"Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu," Alula tersenyum. Sebisa mungkin ia tahan air matanya untuk tidak terjatuh.
"Kau mau ke mana?" Kai menatap wajah Alula. Mata istrinya tampak bengkak dan memerah.
"Aku akan pergi dari kota ini. Aku akan menuruti mau mu. Kau tidak akan melihatku kembali di kota ini."
"Apa maksudmu?" Kai berjalan menghampiri Alula dengan raut wajah yang gusar.
"Bukankah kau menyuruhku untuk pergi?" Mata Alula mulai berkaca-kaca kembali.
Kai terdiam mendengar jawaban istrinya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal untukmu. Aku kembalikan ini," Alula menyimpan dua buah kartu dan ponsel miliknya yang di berikan oleh Kai kepadanya di atas nakas.
"Mengenai perceraian kita, mamaku yang akan mengurusnya. Jaga dirimu baik-baik!" Alula segera mengggusur koper dan hendak berlalu dari sana.
Ketika Alula akan mengambil tas, Kai mencekal lengannya dan mendorong Alula sampai ia terhimpit di tembok. Kai mengurung istrinya dengan lengannya, kebiasaan yang sering ia lakukan jiga mereka sedang bertengkar.
"Mengapa? Mengapa kau mencelakai Daddy?" Mata Kai memerah menahan tangis.
__ADS_1
"Jika saja kau tidak mencelakai ayahku, tentu aku tidak akan pernah melepaskanmu," imbuhnya.
"Aku sudah bosan mengatakan jika aku tidak mencelakai ayahmu. Walau pun aku memberikan pembelaan sekeras apapun, kau tidak akan mempercayaiku," cairan bening kembali merembes di mata Alula. Ia sudah menahan untuk tidak menangis kembali, tetapi Alula benar-benar tidak bisa menahan tangisnya lagi.
"Jika bukan kau orang terakhir yang ditemui Daddy, mungkin aku akan percaya padamu," Kai menatap tajam Alula.
"Lalu apa maumu?"
"Akuilah perbuatanmu!!" Teriak Kai memenuhi langit-langit kamar.
"Baiklah. Ya, aku memang yang mencelakai ayahmu. Aku yang berusaha untuk membunuhnya. Kau puas sekarang??" Alula balas berteriak.
Kai terdiam. Ia menatap wajahnya istrinya.
"Mengapa? Mengapa kau melakukannya?" Bibir Kai tampak bergetar.
"Karena ayahmu tidak merestui pernikahan kita," Alula berbohong kembali.
Alula kembali menatap wajah Kai dengan sendu selama beberapa menit. Tiba-tiba Alula mengalungkan lengannya ke leher Kai dan berjinjit untuk mencium bibir suaminya.
Alula membenamkan bibirnya di bibir Kai. Ia memejamkan matanya, air mata terus meleleh membanjiri wajah Alula. Kai merasakan bibir Alula bergetar. Air mata yang berderai di wajah istrinya membuat bibir Kai terasa asin. Kai pun memejamkan matanya dan air mata ikut mengalir dari matanya.
"Ini cincin pernikahan kita. Aku sudah tidak pantas memakainya lagi. Selamat tinggal!" Alula melepas tangannya di leher Kai dan melepaskan cincin pernikahan yang ada di jemarinya dan memberikan cincin itu kepada lengan Kai. Alula mulai melangkah menjauh dan mengambil tas juga koper miliknya.
Kai hanya diam dan berdiri di tempatnya berpijak. Ia tidak mengejar istrinya yang sudah berlalu dari kamar. Kai menatap kosong tembok yang ada di depannya. Lengannya tampak mengepal cincin pernikahan milik Alula.
"Arrrgghhhh!!!" Kai berteriak dan melempar semua barang yang ada di dalam kamar.
****
Alula berjalan ke luar rumah dengan hati yang teramat sakit. Setidaknya ia sudah menyadari jika mempertahankan Kai akan sangat sia-sia. Ia tak bisa hidup lagi dengan orang yang tidak mempercayainya.
Alula segera mencegat taksi yang melewati perumahan Boston Villages.
"Halte bus depan pak!" Tutur Alula kepada supir taksi. Ia memang akan pergi dari kota Birmingham dengan diantar oleh Cleon dan juga Chelsea. Mereka janjian di halte bus yang ada di dekat perumahan Boston Villages.
Sesampainya di halte bus, Alula segera terduduk di kursi halte dengan menekuk lututnya. Alula mengambil sesuatu dari saku mantel yang ia kenakan.
"Biarkan kalung ini menjadi milikku! Setidaknya ada sesuatu yang bisa aku kenang dari dirimu," Alula menatap kalung pemberian Kai berliontin K yang telah putus setelah Kai menarik kalung itu secara kasar dari lehernya.
__ADS_1
"Al, kau sudah lama?" Chelsea keluar dari dalam mobil di ikuti oleh Cleon.
Cleon menatap wajah Alula yang penuh dengan air mata. Ia segera mendekat ke arah Alula dan mengusap air mata itu dengan tangannya. Chelsea hanya menatap mereka, tak ada rasa cemburu di hatinya karena ia pun memaklumi keadaan Alula saat ini.
"Ayo masuk!" Perintah Cleon lembut. Ia mengambil tas dan koper Alula lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil.
"Al, kau mau duduk di depan?" Chelsea membukakan pintu mobil di samping pengemudi.
"Tidak, aku di belakang saja."
"Aku akan menemanimu duduk di belakang," ujar Chelsea dengan raut wajah yang iba melihat keadaan sahabatnya.
"Kau duduk di depan saja Chel! Aku sedang ingin duduk sendiri," Alula segera masuk ke dalam mobil milik Cleon. Ia duduk di kursi belakang. Chelsea dan Cleon pun segera masuk dan mendudukan tubuhnya di depan.
Mobil bergerak meninggalkan halte bus.
"Cleon, kita pergi ke kota York," Alula nyaris bergumam di dalam mobil. Ia terlihat menyenderkan kepalanya.
"Bukankah kita akan pergi ke county Surrey?" Chelsea bertanya dengan heran.
"Aku tidak jadi pergi ke sana. Aku kurang dekat dengan kakek dan nenek dari mama. Aku ingin ke kota York saja, ke rumah papa semasa kecil. papa sudah menelfon kakek dan nenek tadi sore," ucap Alula kembali.
"Baiklah," Cleon segera melajukan mobilnya menuju kota York yang akan memakan waktu perjalanan selama 4 jam.
Hening, tidak ada percakapan di antara mereka di dalam mobil. Cleon tengah menyetir, Chelsea sudah tertidur di kursinya, sedangkan Alula menatap kaca mobil untuk melihat pemandangan di luar. Akan tetapi, hati dan pikirannya masih tertinggal di kota Birmingham, kota yang penuh dengan kenangan bersama suaminya.
Cleon sesekali menatap Alula dari kaca spion.
"Al, jika saja aku tidak berjanji kepada Chelsea untuk melupakanmu dan belajar untuk mencintainya, mungkin sekarang aku akan berjuang kembali untuk merebut hatimu. Aku akan menerima keadaanmu walau pun kini kau tengah mengandung anak dari pria lain. Aku akan menerima dan merawat anak itu seperti anakku sendiri. Aku belum bisa melupakanmu sepenuhnya. Tapi aku seorang pria, aku harus menepati janjiku kepada Chelsea. Andai aku tidak berjanji di hari itu, tentu hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu di mana kau berpisah dengan Kai," gumam Cleon.
Cleon segera memutar musik untuk mengusir sepi di dalam mobil. Lagu pertama yang di putar adalah lagu milik Adele berjudul Hello. Setelah lagu itu berakhir, terdengar lagu milik Lewis Capaldi berjudul Before You Go mengalun di tape mobil Cleon.
"I fell by the way side like everyone else,
I hate you, I hate you, I hate you but I was just kidding myself. Our every moment I start to replace, cause I know that they're gone, all I hear are the words that I neeed to say. When you hurt under the surface, like troubled water running cold. Well, time can heal but this won't," terdengar suara Lewis Capaldi mengalun ngalun di telinga Alula.
Air mata terjatuh kembali dari matanya. Alula mengingat saat awal pernikahan, Alula berkata jika lagu ini akan dijadikan sebagai lagu perpisahannya dengan Kai. Dan kini ia sudah berpisah dengan suaminya.
"Terjemahan lagu : Aku pun gagal seperti orang lain, aku membencimu tapi aku hanya membohongi diriku sendiri. Setiap moment kita akan mulai menggantinya karena kini semua itu telah tiada, yang ku dengar hanya kata-kata yang perlu ku katakan. Saat kau terluka dari dalam, seperti air keruh yang mengalir deras. Ya, Waktu bisa menyembuhkan tapi tidak yang ini."
__ADS_1
Dear para readers : Tolong tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih š¤