Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Satu Sama


__ADS_3

Hari ini Beverly sampai di Bandar Udara Internasional Macdonald-Cartier yang ada di kota Ottawa, Kanada. Beverly akan menghabiskan waktunya selama 7 hari di negara yang terkenal dengan sebutan negeri pecahan es ini.


"Musim panas di sini terasa lebih nyaman dan juga lebih sejuk," Beverly tersenyum memandangi pemandangan kota Ottawa dari taksi yang ia tumpangi.


Sebelum pergi, Kate melarang dengan keras putrinya untuk berangkat seorang diri ke negara orang terlebih negara itu ada di benua Amerika bukan di benua biru, Eropa. Akan tetapi, Beverly terus menerus memaksa ibunya untuk berangkat. Ia pun memberikan alasan ingin mengobati patah hatinya karena Cleon. Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Beverly pun di izinkan untuk berlibur ke Kanada.


Beverly check in di sebuah hotel yang mewah di kota Ottawa. Kantor memang memberikannya fasilitas yang baik sebagai ucapan terima kasih Kai karena Beverly sudah memberitahukan keberadaan Alula. Kamar Beverly di hotel berada di lantai 13.


Setelah membereskan barang-barang miliknya, Beverly segera keluar untuk menjelajahi kota Ottawa dengan berbekal Google Maps dari ponselnya.


Beverly segera naik lift untuk menuju lobby hotel. Saat lift terhenti dan terbuka di lantai 7, seseorang yang ia kenal tampak masuk.


"Kau? Sedang apa kau di sini?" Tanya Beverly yang melihat kehadiran kakak dari pria yang ia cintai.


"Justru aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku hingga ke mari?" Henry balik bertanya. Ia pun segera masuk ke dalam lift sebelum pintu lift itu tertutup.


"Tingkat kepercayaan dirimu belum juga turun ya? Aku sedang berlibur di sini," Beverly berdecak kesal. Prilaku Henry sangat berbeda dengan adiknya yang kalem dan juga baik.


"Bilang saja jika kau ingin bertemu denganku! Kau jatuh hati kan gara-gara aku mengantarmu ke kota York? Sayang sekali, aku tidak tertarik padamu. Aku sudah memiliki wanita yang aku incar di kota ini," Henry meledek Beverly.


"Walau pun kau pria terakhir di bumi ini, aku tidak akan menyukaimu!" Beverly menatap kesal wajah Henry. Pintu lift terbuka, Beverly langsung keluar dari lift di ikuti dengan Henry.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Beverly kepada Henry yang terlihat keluyuran saat jam kerja.


"Aku di pindahkan oleh kedubes. Aku di pindahkan ke kedubes Kanada yang ada di Inggris. Pekerjaanku akan mulai minggu depan. Jadi, aku memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu sebelum aku benar-benar pulang."


"Kau tidak tinggal di apartemen?"


"Tidak. Aku tidur dulu di hotel, karena apartemenku sudah habis masa sewanya," jelas Henry sembari berjalan ke luar.


"Aku kira kau memiliki apartemen di sini ternyata menyewa," Beverly tersenyum mengejek.


"Apartemen di sini sangat mahal. Terlebih aku masih berstatus warga negara Inggris. Jadi, sewaktu waktu aku bisa dipindahkan ke Inggris dan benar saja. Jika aku membeli, kan sayang sekali apartemennya."

__ADS_1


"Dasar tuan pelit," Beverly segera keluar dari hotel dan berjalan untuk mencari kendaraan yang akan membawanya ke destinasi wisata yang ada di kota Ottawa.


"Dasar gadis menyebalkan!" Henry menggerutu dan langsung bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil mobil miliknya di parkiran hotel. Hari ini Henry akan bertemu dengan wanita yang sedang ia dekati.


Saat ia keluar dari dalam hotel, Henry melihat Beverly tengah mengobrol dengan pria yang terlihat berandalan. Pria itu memperhatikan Beverly dari ujung kaki sampai dengan rambut. Henry segera turun dari dalam mobilnya dan mendatangi Beverly.


"Maaf, tuan! Apa yang anda lakukan dengan kekasihku?" Henry memeluk bahu Beverly.


Beverly terkejut mendengar penuturan Henry yang menyebut ia kekasihnya.


"Jadi, dia kekasihmu? Mengapa tadi kau menyebut dirimu single?" Ucap pria berandalan itu kepada Beverly.


"Maaf, kami sedang bertengkar!" Henry tersenyum.


"Sudahlah!" Pria itu berlalu dengan raut wajah yang kesal.


"Hey, tunggu! Dia bu-"


Henry segera membekap bibir Beverly dengan tangannya.


"Harusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku menyelamatkanmu dari pria berandal itu. Kau tidak lihat wajah dan tampilannya? Seperti pria hidung belang."


"Terserah denganmu. Sial sekali aku bertemu denganmu di sini!" Beverly segera berlalu dari hadapan Henry. Ia mencegat taksi untuk sampai di tempat wisata yang ia inginkan.


"Bagaimana adikku akan suka padamu? Kau gampangan sekali berkenalan dengan pria asing," Henry pun masuk kembali ke dalam mobilnya.


Hari ini Beverly menghabiskan waktunya dengan berjalan jalan di National Gallery Of Canada yang merupakan museum seni yang ada di kota Ottawa. Beverly mengambil foto selfie dirinya sangat banyak. Lalu ia menyusuri jalanan kota Ottawa dengan berjalan kaki untuk menikmati suasana ibu kota Kanada itu.


"Aku lapar sekali. Lebih baik, aku cari makan saja," Beverly segera mengambil ponsel dan mencari restoran yang ada di kota Kanada.


"Sepertinya di restoran ini menunya enak-enak," Beverly tersenyum menatap menu di restoran yang akan ia tuju.


Setelah 15 menit, Beverly sampai di restoran yang ia maksud. Beverly mulai memakan makanan yang sudah waitress hidangkan di atas meja miliknya. Saat Beverly fokus dengan kegiatannya, ia melihat Henry tengah terduduk dengan seorang wanita. Mereka tengah mengobrol dengan hangat dan tak lupa sembari tersenyum.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Beverly.


"Aku akan membalas perlakuanmu tadi," Beverly tersenyum penuh maksud. Ia segera berjalan menuju ke meja Henry.


"Jadi, wanita ini yang membuatmu meninggalkanku?" Beverly berakting menangis ketika sampai di meja Henry.


"Apa maksudmu?" Henry menatap wajah Beverly dengan tidak mengerti.


"Apa maksud anda, Nona?" Tanya wanita yang ada di samping Henry.


"Aku tunangan dari pria ini. Saat ini dia sudah mencampakanku. Dan ini semua karenamu," Beverly semakin terisak dengan air mata palsunya.


"Henry apa maksudnya ini?" Wanita itu berteriak kepada Henry.


"Dia bukan siapa-siapaku," Henry mencoba menjelaskan kepada wanita yang ada di sampingnya.


"Kau tahu Nona? Aku sekarang tengah mengandung anak Henry," Beverly mengencangkan tangisnya.


"Apa?" Seru wanita itu dengan wajah terkejutnya.


"Bev, kau keterlaluan!" Henry berteriak kepada Beverly.


"Jangan percaya padanya! Dia berbohong. Dia bukan siapa-siapa!" Henry masih mencoba menjelaskan.


"Aku benar-benar hamil anak Henry. Jauh jauh aku terbang dari Inggris untuk menyusulnya ke negara ini, agar dia mau bertanggung jawab," air mata palsu semakin membasahi wajah Beverly.


"Berengs*k!" Wanita itu berdiri dan menyiram wajah Henry dengan jus lemon yang ada di hadapannya. Tak lama wanita itu meninggalkan Henry.


"Vie!!" Henry berteriak memanggil wanita tadi.


Beverly tersenyum sambil menghapus air mata buayanya.


"Satu sama," bisik Beverly di telinga Henry. Ia segera pergi meninggalkan Henry yang tengah menggeram kesal terhadapnya.

__ADS_1


Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate maupun vote. Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan. ❤❤


__ADS_2