Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Seputar Mantan


__ADS_3

"Ceritakan ada berapa mantanmu dan bagaimana kau mendekatinya!"


"Habislah aku!"


"Sayang? Mengapa kau diam?" Alula menatap wajah Kai yang tampak pias seperti tidak teredari darah sama sekali.


"Sayang, ini sudah malam. Ayo kita tidur!" Kai menempelkan tubuhnya di tubuh Alula dan mengelus-ngelus punggung istrinya agar Alula bisa segera tertidur.


"Sayang, aku belum mengantuk!" Alula mendorong tubuh Kai agar ada jarak di antara mereka.


"Ceritakan tentang mantanmu!" Pinta Alula kembali.


"Sayang, bukankah tidak baik jika kita mengungkit masa lalu?" Kai bertanya hati-hati. Ia takut Alula akan marah kepadanya.


"Sayang, bukankah kau selalu bertanya mengenai Cleon kepadaku? Aku tidak mengungkit masa lalumu, aku hanya ingin tahu agar ke depannya aku tidak melakukan kesalahan seperti mantanmu."


"Kalau aku bercerita, kau tidak akan marah kan?" Kai memastikan.


"Tentu saja. Untuk apa aku marah?" Alula mengusap pipi suaminya. Kai pun seolah mendapatkan dukungan moril dari istrinya untuk bercerita mengenai masa lalunya.


"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan!" Kai tersenyum sembari memeluk tubuh Alula.


"Ada berapa mantanmu?"


"Aku tidak tahu."


"Benarkah kau tidak tahu?" Alula seakan tidak percaya dengan jawaban suaminya.


"Benar. Aku tidak menghafalnya."


"Bagaimana kau bisa berpacaran dengan Emily?" Tanya Alula kembali.


"Waktu kelas 1 SMA kita satu kelompok. Emily mendekatiku. Aku pun mau karena waktu itu aku berfikir dia cantik," Kai tersenyum terus agar Alula tidak mengeluarkan tanduknya.


"Mengapa kau senyum senyum seperti itu saat menceritakan Emily? Kau masih menyukainya?" Tuduh Alula kesal.


"Matilah aku!"


"Sayang, bukan begitu. Aku tersenyum karena memandang wajah istriku yang cantik. Istriku begitu cantik dan lebih cantik dari mantan-mantanku," Kai mencubit lembut pipi Alula.


"Benarkah begitu?" Alula perlahan tersenyum kembali.


"Iya, sayang. Ibu dari anakku yang paling cantik."


"Ibu dari anakku? Kau sudah punya anak dari wanita lain?" Tanya Alula dengan berapi-api.


"Maksudku ibu dari anakku itu kamu sayang. Sekarang kan kamu sedang mengandung anakku."


"Ya, tentu saja ini anakmu bukan anak Cleon atau pun anak Alden dan Nino. Kan kau yang pertama dan satu satunya yang menyentuhku," Alula merenggut.


"Aku salah bicara lagi."


"Sayang, bukan itu maksudku. Maksudku adalah anak yang kau kandung sudah pasti adalah anakku. Anak kita."


"Oh, bilang dari tadi. Lalu, berapa lama kau berhubungan dengan Emily?" Alula menurunkan level suaranya.


"Kira-kira setengah tahun," Kai menjawab sesingkat mungkin agar tidak membuat istrinya murka.


"Kalian pernah kencan ke mana saja?" Alula bertanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Ke bioskop, makan, ya begitu begitu saja."


"Kau bisa mengajak Emily ke bioskop, tetapi belum pernah mengajakku ke bioskop!"


"Sayang, malam minggu ini mari kita nonton ke bioskop. Kau mau? Kita kencan dan menonton film romantis. Kau ingin menonton apa sayang?" Kai mengalihkan pembicaraan istrinya.


"Ah, aku ingin nonton film A Five Feet apart, sayang."


"Film apa itu, sayang?" Kai memancing Alula agar mengalihkan topik seputar mantan.


"Itu film tentang sepasang remaja yang jatuh cinta bernama Will dan juga Stella. Tetapi mereka hanya bisa berdekatan sekitar 5 langkah saja, karena mereka memiliki penyakit yang sama yaitu cystic fibrosis. Jika mereka berdekatan tentu itu akan membahayakan nyawa mereka berdua," Alula menjelaskan sinopsis film itu.


"Jika mereka tidak bisa berdekatan lalu bagaimana kisah percintaan mereka?" Kai merapikan rambut Alula yang sedikit tergerai di wajahnya.


"Mereka hanya bergandengan tangan dengan tongkat billiard, sayang. Ketika Stella tenggelam, Will memberikan nafas buatan dan dia rela membahayakan nyawanya sendiri."


"Katanya kau belum menonton tetapi tahu ceritanya?" Tanya Kai lembut.


"Aku kan membaca sinopsisnya, sayang."


"Sepertinya aku pernah menonton film serupa. Film itu berjudul A Fault in Our Stars. Aku menontonnya ketika bersama mantanku di Amerika."


"Bibir ini mengapa tidak bisa di rem? Habislah aku !"


"Kau menonton film romantis dengan mantanmu? Jangan jangan kalian berciuman di dalam bioskop. Iya kan?" Alula meninggikan suaranya kembali.


"Tentu saja tidak, sayang. Itu mengganggu penonton lain. Atau jangan-jangan kau yang pernah berciuman saat menonton film ya?" Kai tahu dia adalah pria yang pertama kali mencium Alula. Kai hanya mencoba untuk membalikan keadaan.


"Kau tidak percaya padaku jika aku tidak pernah berciuman dengan pria selain dirimu? Kau jahat!" Alula membalikan tubuhnya.


"Kaivan kau memang bodoh !" Maki Kai kembali.


"Jadi, kau pernah berciuman dengan siapa saja?" Tanya Alula kembali.


"Pikirkan Kai, pikirkan agar tidak membuat dia marah !"


"Hanya denganmu saja," Kai mencoba untuk membohongi Alula.


"Kau ini membohongiku! Aku tahu kau pernah berciuman dengan mantanmu. Iya kan?"


"A-aku-"


"Kau benar-benar tidak bisa menjaga kesucian bibirmu!"


"Yang terpenting kan kau yang mengambil kesucian tubuhku," Kai menjawab sekenanya.


"Sayang, kau sangat menggelikan!" Alula tertawa mendengar ucapan suaminya.


"Lalu, bagaimana dengan Beverly?" Tanya Alula kembali.


"Kau kan tahu aku memacarinya karena apa. Bahkan kau menampar suamimu ini di depan teman-teman karena membela Beverly," Kai memegangi pipinya.


"Sayang, maafkan aku! Aku hanya emosi karena kau mempermainkan Beverly saat itu," Alula mengelus lembut pipi suaminya.


"Ini masih sakit sampai sekarang sayang, huhu," Kai berpura-pura menangis.


"Kasihan sekali, suamiku ini! Sini aku cium!" Alula mencium pipi Kai lembut.


"Sayang, kau pernah berkencan dengan Beverly ke mana?"

__ADS_1


"Emm, ke Meadows. Kita kan bertemu di sana. Aku ingat wajahmu waktu itu. Kau sangat cantik sekali."


"Kau ini pandai sekali menggombal. Pernah menggombal ke siapa saja, hah?"


"Anakku sayang, cepatlah keluar dari perut mamamu agar papa tidak menjadi korban amukan mamamu lagi."


"Hanya ke kamu, sayang."


"Kau pernah berciuman dengan Beverly?" Alula kembali mewawancarai suaminya.


"Tentu saja tidak. Bahkan waktu itu aku akan memutuskannya saat tahun baru. Kau yang merusak rencanaku, sayang."


"Maksudmu kau menyalahkanku?" Alula memelototkan matanya.


"Ti-tidak. Aku tidak menyalahkanmu, sayang."


"Lalu, bagaimana dengan Arabella. Kau berpacaran dengannya selama tiga tahun. Kau bahkan mengajaknya ke World Disney yang ada di Amerika," mata Alula memerah mengingat ketika ia melihat foto suaminya dan Arabella di depan Disneyland Amerika.


"Sayang, walau aku berpacaran dengan Arabella selama tiga tahun, tetapi kau berbeda. Kau sangat spesial untukku. Maka dari itu, aku mampu melupakan Arabella. Nanti aku akan mengajakmu ke Disneyland."


"Kau ingin mengenang mantan kekasihmu bersamaku?"


"Ya ampun, salah lagi."


"Tidak. Kalau begitu, mari kita pergi ke New Zealand! Kita lihat rumah Hobbit di sana."


"Nah, kalau itu aku setuju," Alula tersenyum kembali.


"Kau yakin tidak pernah tidur dengan Arabella? Aku sangat tahu Arabella seperti apa saat berpacaran dengan Rein. Sangat tidak mungkin kau bisa menahan godaan dia. Terlebih kalian tinggal di apartemen dan jauh dari orang tua," Tanya Alula memastikan.


"Sayang, kau ingin aku ceritakan sesuatu mengenai Arabella?" Kai menarik nafasnya dalam.


Alula pun mengangguk.


"Waktu itu aku melihat pergaulan teman-temanku yang sangat bebas. Aku pun adalah seorang pria yang normal, aku merasa terpengaruh melihat gaya pacaran teman-temanku. Aku sempat berfikir untuk tidur dengan Arabella," Kai menerawang.


"Tetapi, saat itu Nino dan Alden memberi tahuku jika Arabella datang ke pesta Spring Break. Mereka bercerita, Arabella tidak risih saat tubuhnya disentuh pria yang ada di sana," senyuman Kai memudar saat mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu itu.


"Maka dari itu, aku tidak berselera dengannya. Aku tidak suka dengan gadis yang pernah di sentuh orang lain. Aku pun membulatkan tekadku kembali, jika aku hanya akan tidur dengan wanita yang ku cintai dan akan aku nikahi. Saat aku bersama Arabella, aku tidak memikirkan sebuah pernikahan. Maka dari itu, aku tidak menyentuhnya."


"Tetapi, mengapa kau melanjutkan hubunganmu dengannya?" Alula menatap mata cokelat yang berusaha menggali masa lalunya.


"Karena waktu itu aku masih membutuhkannya. Aku sangat malas untuk mencari kekasih baru. Dia pun memang tidak mengkhianatiku. Aku tidak memiliki alasan untuk memutuskannya," jelas Kai kembali.


"Jika kau tidak suka dengan wanita yang sudah di sentuh orang, mengapa saat kita pertama kali melakukannya kau mau menyentuhku? Saat itu kan kau salah paham dan menyangka aku sudah tidur dengan Cleon?"


"Aku tidak tahu, mungkin karena aku benar-benar mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya," Kai menatap Alula dengan penuh kejujuran.


"Saat awal kita menikah, kau masih berhubungan dengan Arabella?"


"Tidak, sayang. Walau di awal pernikahan kita tidak saling mencintai, tetapi aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Aku tidak seburuk itu."


"Aku percaya padamu, sayang. Kalau begitu, ayo kita tidur! Malam sudah larut," Alula menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


"Kau tidak membayarku karena telah bercerita?" Kai tersenyum penuh maksud.


"Membayar? Membayar dengan apa?" Alula tampak kebingungan.


"Kau pun tahu," Kai membangunkan tubuhnya. Tangannya dengan lincah membuka piyama istrinya.

__ADS_1


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—


__ADS_2