Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
London Eye


__ADS_3

Beverly dan Henry akan pergi ke kota London untuk berbulan madu. Kedua orang tua Beverly dan kedua orang tua Henry sangat antusias dengan bulan madu itu. Pagi ini, mereka bersiap untuk melepas Henry dan Beverly yang akan berangkat berbulan madu ke kota London.


"Pokoknya pulang honeymoon, Beverly harus sudah hamil," pinta Alice sambil menepuk bahu putranya.


Henry dan Beverly pun langsung berpandangan mendengar ucapan Alice.


"Jangan begitu! Biarkan mereka menikmati dulu masa awal awal pernikahan," Ron, ayah Henry menimpali.


"Tapi, aku ingin segera punya cucu. Iya kan, Kate?" Alice meminta dukungan kepada Kate.


"Benar. Aku juga ingin segera punya cucu. Pokoknya kalian harus rajin ya?" Pinta Kate kepada Beverly dan Henry.


"Jangan terlalu menekan!" Ucap Ben kepada Kate.


"Kak, aku juga request keponakan ya?" Cleon ikut-ikutan.


"Kau ini!" Henry mengacak rambut adiknya.


"Mending kau saja yang cepat menikah dengan Chelsea," sembur Beverly kepada mantan laki-laki yang ia sukai yang sekarang sudah menjadi adik iparnya.


"Siapa itu Chelsea, sayang?" Tanya Alice kepada putra bungsunya.


"Dia kekasihku, ma," jawab Cleon dengan bangga.


"Kekasih? Kok mama tidak tahu? Tadinya mama ingin mengenalkanmu dengan anak teman mama, karena kau tidak kunjung mempunyai kekasih," jawab Alice.


"Mama tidak perlu repot-repot. Cleon sudah punya kekasih. Dia sangat cantik dan baik. Mama pasti suka," Cleon berkata dengan sumringah saat menceritakan sang kekasih hatinya.


"Nanti akhir pekan bawa dia untuk menemui mama!" Pinta Alice kepada Cleon.


"Baiklah. Nanti Cleon atur."


"Nikahkan saja dia, ma!" Cetus Henry kepada ibunya.


"Iya. Nikahkan saja, Ma!" Beverly ikut-ikutan.


"Mama harus kenal dulu dengan kekasih adikmu," tukas Alice.


"Baiklah, Ma, Pa? Henry dan Beverly berangkat dulu," Henry berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga ayah dan ibu mertuanya. Beverly pun ikut berpamitan untuk pergi ke kota London.


Sepasang pengantin baru itu langsung naik ke mobil untuk melakukan perjalanan ke ibu kota negara Inggris.


"Bagaimana perasaanmu sekarang terhadap adikku?" Tanya Henry di dalam mobil.


"Bagaimana apanya?" Beverly membuka snack dan mulai menyemilnya.


"Ya, apa kau masih suka dengan adikku?" Henry bertanya dengan penuh rasa penasaran. Ia sungguh tidak sabar mendengar jawaban istrinya.


"Kau ingin tahu atau ingin tahu banget?" Beverly masih asik dengan snack yang ada di tangannya.


"Kau ini menyebalkan!" Henry menggerutu.


"Ayo cepatlah jawab! Aku ingin tahu," Henry menoleh kepada istrinya, lalu memfokuskan kembali matanya untuk menyetir.


"Tidak. Aku sudah tidak mencintai adikmu," jawab Beverly dengan mulut yang penuh dengan snack.

__ADS_1


"Mengapa kau bisa move on dengan begitu mudah?"


"Aku hanya bersikap realistis saja. Untuk apa memendam rasa kepada pria yang tidak mengharapkanku?"


Henry tersenyum mendengar penuturan istrinya. Entah kenapa hatinya begitu lega mendengar Beverly sudah tidak mencintai adiknya.


"Mengapa kau senyum senyum seperti itu? Jangan jangan kau yang sudah tergila-gila padaku kan?" Beverly mencolek pipi Henry.


"Kau ini selalu saja menggodaku!"


"Tapi benar kan jika kau sudah menyukaiku?" Tanya Beverly kembali. Di hatinya ia berharap Henry menjawab iya.


"Emm bagaimana ya? Kau inginnya bagaimana?" Tanya Henry dengan usil.


"Katakanlah! Kau ingin aku mencintaimu atau tidak?" Tanya Henry kembali


"Mengapa aku jadi yang terpojok begini sih?" Resah Beverly dalam hatinya.


"Kalau kau? Kau ingin aku mencintaimu atau tidak?" Beverly membalikan pertanyaannya.


"Emm-" Henry tampak gusar dengan pertanyaan Beverly.


"Jawab dulu pertanyaanku!" Henry mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin kau mencintaiku karena kau adalah suamiku," jawab Beverly dengan tegas. Henry tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk mencintaimu," ucap Henry dengan senyum yang masih merekah di bibirnya.


"Kalau bisa yang cepat ya?" Pinta Beverly masih dengan asyik menikmati snack di tangannya.


Setelah 2 jam, akhirnya mereka sampai di London, kota yang merupakan terbesar di Inggris Raya.


Beverly dan Henry segera check in ke hotel yang ada di pusat kota. Setelah check in, mereka segera menyusuri kota yang di juluki The Smoke itu. Julukan The Smoke di sematkan bukan tanpa alasan. Semenjak revolusi industri terjadi di kota London, kota ini menjadi di selimuti kabut akibat polusi yang dihasilkan dari pabrik dan juga penggunaan batu bara.


"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Beverly.


"Kau ingin ke mana?" Henry balik bertanya.


"Aku ingin pergi ke London Eye," sahut Beverly dengan tersenyum.


"Baiklah," Henry segera melajukan mobilnya ke arah London Eye.


Tak lama, mereka pun sampai di London Eye.


"Ini mengagumkan!" Beverly menatap Bianglala terbesar di dunia itu.


"Henry kita naik ya?" Pinta Beverly kepada suaminya.


"Na-naik bianglala ini?" Tanya Henry dengan terbata.


Sejujurnya Henry sangat tidak suka dengan ketinggian. Ia mempunyai kenangan yang buruk. Saat remaja, Henry pernah terjatuh saat menaiki permainan flying fox. Itulah yang menyebabkan dirinya trauma akan ketinggian. Bahkan Henry sempat mengalami gangguan kecemasan dan membutuhkan psikiater untuk membantu menyembuhkannya.


"Iya. Kau mau kan?" Beverly merajuk sembari memegangi tangan Henry.


"Apa aku bisa?" Henry menatap bianglala raksasa itu.

__ADS_1


"Baiklah, ayo!" Henry menyetujui. Ia tidak ingin Beverly kecewa karena sudah datang ke London Eye.


Setelah mengantri untuk membeli tiket, tibalah giliran mereka untuk naik. Henry memegangi dadanya.


"Henry, kau kenapa?" Tanya Beverly yang melihat raut wajah suaminya.


"Tidak apa," Henry memaksakan senyumnya.


Mereka pun segera masuk ke dalam bianglala yang memiliki 32 kapsul itu. Beverly tersenyum menikmati pemandangan kota London dari dalam Bianglala. Sementara Henry tampak memegangi dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat saat naik Bianglala ini, keringat dingin mulai berkucuran dari dahinya. Bianglala mulai berputar dengan kecepatan pelan.


"Henry? Indah sekali ya?" Tanya Beverly kepada suaminya. Henry tampak tidak menjawab pertanyaan Beverly.


"Henry?" Beverly menoleh kepada pria yang terduduk di sampingnya. Henry tampak sedang menyentuh dadanya.


"Henry kau kenapa?" Tanya Beverly panik. Ia segera mendudukan dirinya di depan Henry.


"Aku tidak bisa bernafas!" Henry meringis.


"Henry, tenanglah! Ikuti aku! Tarik nafas dan hembuskan perlahan! Hembuskan dari hidungmu bukan dari pantatmu!" Seru Beverly sembari mempraktekannya.


Henry sungguh ingin tertawa, tetapi rasa sesak di dadanya tidak memungkinkan untuk itu.


"Henry? Ayo!" Beverly menggenggam kedua telapak tangan Henry yang sudah dingin.


"Aku tidak bisa," Henry memejamkan matanya


"Henry, jangan panik! Ayo coba ambil nafas!"


Henry tampak tidak merespon. Dadanya terasa semakin sesak.


Beverly yang melihat wajah Henry semakin meringis segera menangkup pipi Henry dengan kedua tangannya. Beverly menyentuhkan bibirnya di bibir Henry dan mulai memberikan nafas buatan. Mata Henry membulat secara sempurna saat istrinya itu memberikan nafas buatan padanya.


Beverly melepaskan bibirnya. Kemudian ia mulai memberikan nafas buatan lagi kepada bibir suaminya. Henry merasakan sesak di dadanya hilang, tetapi kini dadanya berdetak tak karuan.


"Henry, bagaimana? Sudah lebih baik?" Tanya Beverly setelah ia selesai memberikan nafas buatannya. Henry melihat jelas kekhawatiran yang besar di wajah Beverly.


"Henry, maafkan aku! Aku tidak tahu kau akan begini," air mata mulai menggenang di mata Beverly. Ia merasa sangat bersalah sudah mengajak Henry untuk naik ke London Eye.


"Tidak apa, Bev," Henry mengusap pipi istrinya lembut.


"Aku takut kau kenapa-kenapa," Beverly memeluk Henry dan mulai menangis.


"Tenanglah! Aku lebih baik sekarang," Henry mengusap pelan punggung istrinya.


"Maafkan aku yang merepotkanmu," ucap Henry saat Beverly melepaskan pelukannya.


"Kau ini bilang apa? Kau tidak merepotkanku," Beverly menepuk pelan bahu suaminya.


"Maafkan aku karena takut ketinggian!" Tutur Henry kembali.


"Sudahlah. Aku akan memelukmu sampai bianglala ini berhenti berputar. Pejamkanlah matamu!" Beverly menarik Henry ke dalam pelukannya. Ia terus memeluk tubuh suaminya sampai Bianglala itu berhenti berputar.


"Bev, aku bersyukur menikah denganmu."


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2