
Tengah malam, Cleon dan Chelsea memutuskan untuk membawa Alula pulang kembali ke kota Birmingham. Alula pun tidak menolak tawaran mereka, karena bagaimana pun Alula rindu dengan kedua orang tuanya. Terlebih, Alula tidak mau merepotkan Anne dan Charlie lebih lama lagi, karena mereka sudah berusia lanjut. Alula takut kehamilannya akan membuat repot Anne dan Charlie, karena kadang di pagi hari ia mengalami morning sickness.
"Kau sudah berpamitan dengan suamimu? Atau Kai juga ikut pulang malam ini?" Anne bertanya kepada Alula.
"Kai tidak pulang bersama kami, dia akan pulang besok," Alula berusaha memberikan alasan kepada Anne.
"Jangan bertindak kelewatan terhadap suamimu! Dia sudah mengorbankan segala urusannya di kota Birmingham untuk menyusulmu ke mari. Dia rela menjadi seorang pengangguran di sini hanya untuk membuatmu pulang bersamanya," Anne memberikan nasehat.
"Alula hanya butuh waktu," Alula tersenyum dengan paksa.
"Baiklah. Jangan terlalu lama mendiamkan suamimu!" Lanjut Anne.
Alula pun mengangguk.
"Alula akan mengunjungi nenek lagi nanti," Alula memeluk Anne dan kemudian memeluk Charlie.
Chelsea dan Cleon pun ikut berpamitan kepada Anne dan Charlie. Setelah itu mereka segera meninggalkan kota York untuk kembali ke kota Birmingham, yang merupakan kota terbesar di Inggris setelah kota London.
Alula memandangi rumah milik Kai ketika mobil yang dikemudikan Cleon melaju melewatinya.
"Mengapa hatiku sangat sakit ketika meninggalkanmu seperti ini? "
Keesokan paginya..
Kai membawa dus yang berisi novel yang diminta oleh Alula. Ia sudah berjanji akan memberikan Alula banyak novel untuk mengisi waktunya.
"Alula kembali ke kota Birmingham saat malam tadi," jawab Anne saat Kai berucap ingin bertemu dengan Alula.
Dus berisi novel yang sedang ia bawa langsung terjatuh dari tangannya.
"Mengapa dia tidak memberi tahu jika akan pulang kembali ke kota Birmingham?" Suara Kai memberat.
"Nenek tidah tahu," Anne merasa iba melihat Kai yang ditinggalkan begitu saja di kota ini.
"Kalau begitu Kai juga pamit untuk kembali ke kota Birmingham, Nek," Kai berpamitan kepada Anne.
"Iya. Susulah istrimu segera! Jangan biarkan masalah kalian semakin berlarut-larut! Jangan sampai hubungan kalian berakhir!" Anne berkata dengan serius.
"Tentu saja. Kai tidak ingin kehilangan Alula. Kai harus segera packing untuk pulang," Kai memaksakan senyumnya. Walaupun kini hatinya terasa sangat terluka.
"Baiklah. Hati-hati di perjalanan menuju kota Birmingham! Titip salam untuk kedua orang tuamu!" Anne mengelus rambut Kai lembut seperti ia memperlakukan Alula.
Kai segera masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap siap pulang. Kai mengambil foto pernikahannya dengan Alula yang ada di laci bermaksud untuk memasukannya ke dalam koper. Kai terduduk sejenak dan memandangi foto ia dan istrinya.
"Al, sudah tidak ada artinya kah aku sebagai seorang suami di matamu? Hingga kau pulang pun tidak memberiku kabar. Aku pikir hubungan kita sudah membaik. Aku pikir kau sudah memaafkan segala kesalahanku. Bagaimana aku menebus kesalahan yang telah ku lakukan padamu? Bagaimana aku membuatmu kembali kepadaku? Aku ingin kita membina kembali rumah tangga ini. Aku ingin hidup bersamamu dan anak kita nanti. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus semua kesalahanku kecuali perpisahan," Kai mengusap sudut matanya yang basah.
Setelah menyiapkan semua barangnya untuk di bawa pulang, Kai segera melajukan mobilnya menuju kota Birmingham.
Sesampainya di kota Birmingham, Kai langsung datang ke rumah orang tua Alula. Kai sudah sangat yakin jika Alula akan pulang ke rumah Halbert dan Ainsley. Saat Kai datang, ia tidak melihat mobil mertuanya itu. Sepertinya Halbert dan Ainsley sedang tidak ada di rumah.
"Al?" Kai mengetuk pintu dan memencet bell. Alula tidak mendengar karena kini ia sedang tidur siang.
Sore hari Alula baru bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke arah jendela untuk membukanya, agar udara bersih bisa masuk ke dalam kamar.
"Kai?" Seru Alula saat ia melihat suaminya sedang tertidur di kursi yang ada di teras rumahnya.
Alula segera turun dan membuka pintu. Kai yang mendengar suara segera terbangun dari tidurnya.
"Sayang? Mengapa kau baru membuka pintunya?" Kai berdiri dan segera menggenggam tangan Alula.
"Aku tadi tertidur," Alula melepaskan tangan Kai.
"Ayo kita pulang kembali ke rumah kita! Bibi May merindukanmu," Kai menangkup pipi Alula dengan tangannya
__ADS_1
"Aku tidak mau. Aku ingin di sini," Alula melepaskan tangan Kai dari pipinya.
"Mengapa kau bersikap dingin kembali kepadaku?" Kai menatap wajah Alula dengan lirih.
"Aku memang seperti ini. Tidak ada yang bersikap dingin terhadapmu," Alula tersenyum.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perjuanganmu. Apa kau akan marah aku perlakukan seperti ini? Atau kau akan memakluminya?"
"Baiklah," Kai mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan Alula.
"Ke mana mama dan papa?"
"Mama dan papa sedang ada rapat ke kota London."
"Jadi, malam ini kau sendirian? Baiklah aku akan menemanimu," Kai tersenyum senang. Ia seperti menemukan celah untuk berdua dengan istrinya.
"Tidak perlu. Aku sudah terbiasa sendiri jika mereka pergi. Kau pulanglah dan bersiap untuk bekerja esok hari!" Alula mengusir halus suaminya.
"Aku ingin di sini menemanimu. Aku tidak ingin kau sendirian. Bagaimana jika ada orang jahat?" Kai berkata dengan lembut.
"Tidak akan. Di sini aman. Kau bisa pulang!" Usir Alula kembali.
Alula langsung menutup pintu rumahnya dan bergegas kembali masuk. Perkataan Cleon dan Chelsea terngiang-ngiang kembali di kepalanya. Alula takut Kai akan meragukannya kembali di masa depan.
Alula kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Kai sedang mendudukan dirinya kembali di kursi yang ada di teras.
"Kai, mengapa kau sangat keras kepala?" Alula memandang Kai dari jendela kamarnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Alula kembali mengintip dari jendela kamarnya, ia melihat Kai berjalan kaki masuk ke halaman rumah dengan membawa sekantong plastik. Sepertinya Kai baru saja dari mini market untuk membeli makanan yang tak jauh dari rumah mertuanya. Dan benar saja, Kai langsung melahap makanan yang baru ia keluarkan dari kantong plastik itu.
Saat Alula masih memandangi Kai yang tengah makan, tiba-tiba listrik di rumahnya padam. Begitu pun dengan rumah yang ada di sekitar rumah Halbert.
"mengapa tiba-tiba mati lampu! Aku takut!" Alula memang takut akan kegelapan. Terlebih di luar sepertinya akan turun hujan. Sementara Kai segera mengambil ponsel miliknya dan segera menyalakan senter.
"Kai?" Alula berteriak dari atas. Ia mencoba berpegangan untuk turun dari tangga.
"Kai, aku takut!" Alula kembali berteriak. Alula benar-benar tidak dapat melihat karena tidak ada cahaya yang membantu penglihatannya.
"Sayang jangan panik! Berjalanlah dengan hati-hati! Berpegangan kepada sesuatu!" Kai berteriak dengan cemas.
"Sayang! Hati-hati!" Kai semakin panik ketika Alula tidak menjawab ucapannya.
"Kau sedang apa sekarang?" Kai menggedor kembali pintu rumah.
"Aku sudah turun dari tangga. Aku ke sana!" Alula mencari benda untuk berpegangan.
Prangg...
Alula memecahkan vas bunga yang ada di depannya.
"Sayang? Ada apa? Kau baik-baik saja?" Kai semakin kalut mendengar suara pecah dari dalam rumah.
"Aku tidak apa-apa, hanya menyenggol vas bunga."
"Hati-hati dengan kakimu! Jangan sampai kau menginjaknya!"
Beberapa saat kemudian, Alula segera membuka pintu. Kai segera memeluk tubuh istrinya dengan begitu posesive.
"Kau tidak kenapa-kenapa kan?" Kai memeriksa tangan dan kaki Alula dengan senter dari ponselnya.
"Aku baik-baik saja. Temani aku di dalam!"
"Kau bilang tidak ingin ditemani olehku tadi," Kai menggoda istrinya.
__ADS_1
"Ya itu kan tadi. Sekarang aku takut," Alula mencubit pinggang Kai.
"Aw. Iya ayo aku temani!" Kai tertawa melihat tingkah Alula.
Saat melewati vas bunga yang sudah pecah, Alula berjongkok untuk membersihkan serpihan vas yang terbuat dari kaca itu.
"Jangan! Biar aku saja," Kai menghentikan pergerakan Alula yang akan membersihkan serpihan vas bunga.
"Tunggulah di sini!" Kai menuntun Alula ke arah sofa.
"Kau mau ke mana?" Alula menarik tangan Kai yang akan pergi.
"Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan pergi ke dapur untuk membersihkan serpihan vas bunga itu."
"Baiklah, jangan lama-lama!" Alula melepaskan tangannya. Kai segera pergi ke dapur dan tak lama kemudian ia segera mengambil sapu dan juga sebuah pengki.
Dengan telaten, Kai mengambil pecahan vas bunga itu dengan tangannya.
"Kai, hati-hati! Nanti tanganmu terluka," Alula berjongkok di hadapan Kai.
"Iya," Kai tersenyum senang saat Alula masih memperhatikannya. Kai segera menyapu partikel kecil yang masih tersisa.
Tak lama senter yang berasal dari ponselnya pun meredup dan mati.
"Yaah, ponselku low," Kai menatap ponselnya.
"Kai?" Alula berpegangan kepada tangan suaminya saat senter dari ponsel Kai mati.
"Ayo kita ke kamar! Kau harus segera tidur," Kai menuntun tangan Alula menuju kamar. Alula pun semakin menggenggam erat tangan Kai karena ia benar-benar tidak dapat melihat.
"Ayo tidurlah!" Kai terduduk di kursi yang ada di sebelah kasur milik Alula. Sedangkan Alula segera terbaring di kasur miliknya.
"Aku tidak bisa tidur jika seperti ini," Alula bahkan tidak bisa menatap wajah suaminya.
"Kai, temani aku tidur! Aku takut."
"Benarkah? Tidak apa-apa jika aku tidur bersamamu," Kai tampak kaget sekaligus sangat senang dengan permintaan Alula.
"Iya. Aku takut. Cepatlah ke mari!"
Kai pun langsung berbaring di samping tubuh istrinya. Kai memiringkan wajahnya menghadap tubuh Alula.
"Jika mati lampu bisa membuatku selalu berdekatan denganmu. Aku rela jika dulu Thomas Alfa Edison tidak menemukan lampu. Aku rela di kehidupan sekarang tidak ada listrik lagi. Asal aku selalu berdekatan denganmu," batin Kai dalam hatinya.
Tak lama hujan turun dengan lebat.
"Kai?"
"Iya sayang?"
"Bagaimana jika rumah ini diserang oleh zombie seperti di film I Am Legend?"
Kai tertawa mendengar perkataan istrinya.
"Sayang, kau terlalu banyak menonton film horor. Tidak ada zombie di kehidupan nyata," Kai berbicara tepat di hadapan telinga Alula. Tak lama suara petir bersahut-sahutan di luar. Alula terlonjak kaget dan langsung memeluk tubuh Kai yang ada di sampingnya. Alula menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Kai balas memeluk dengan lembut.
"Tidurlah!" Kai mengusap punggung Alula dengan pelan. Tak lama Alula pun merasa rileks dan segera pergi ke alam mimpi.
5 menit kemudian, lampu tampak menyala kembali. Pemandangan yang Kai lihat saat lampu menyala adalah raut wajah istrinya ketika tertidur.
Air mata terjatuh dari mata Kai saat memperhatikan wajah Alula dari jarak yang sangat dekat.
"Sehat sehat di perut mama, sayang! Jangan menyusahkannya!" Kai mengusap dengan lembut perut istrinya. Tak lama kemudian ia menciumi seluruh wajah Alula dan memeluknya kembali.
__ADS_1
"Aku bersyukur bisa memelukmu lagi seperti ini. Tolong lapangkan hatimu untuk memaafkanku! Aku akan berubah menjadi orang yang lebih baik agar bisa selalu bersamamu," Kai merekatkan pelukannya.
Terima kasih kepada para readers yang sudah berkenan mampir, membaca, memberikan like, memberikan komen, rate maupun vote. Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam kebahagiaan. ❤❤