
saat sampai di rumah sakit Diki langsung menggendong Dian keluar dari mobil menuju lobby rumah sakit yang disana sudah ditunggu dokter kandungan terbaik di rumah sakit yang yang selama ini ni memeriksa kandungan Dian.
"Tuan taruh di sini tuan."ucap salah satu suster yang berdiri di samping bunker yang sudah disiapkan.
Diki pun menuruti ucapan suster itu menaruh Dian dengan hati-hati ti dan setelah itu bangkrut didorong menuju UGD agar segera mendapat pertolongan.
Dua jam berlalu belum ada ada tanda-tanda dokter maupun suster keluar dari ruangan itu sehingga membuat Dicky tambah prustasi panik marah khawatir bercampur jadi satu, Dicky pun membenturkan kepalanya beberapa kali di tembok menyesal karena tadi ia lalai dalam menjaga Dian padahal dia tahu sendiri kalau kondisi Dian dalam keadaan sangat lelah.
"Dik udah nanti kepala lu bocor siapa yang akan nungguin Dian lu mau buat diam tambah khawatir sama lo dengan keadaan lo yang seperti ini,"ucap Dika marah ah karena tak tahan melihat adik kesayangannya membenturkan kepalanya terus menerus di tembok.
"Gue penyesal kak, andai tadi gue temenin Dian masuk kedalam kamar mandi pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi." ucap Diki penuh penyesalan.
"Lo boleh menyesal tapi jangan lo nyakitin diri lo seperti ini, kalau lo rapuh seperti ini gimana Dian bisa semangat melewati semua ini, seharusnya nya lo kuat agar Dian bisa bersandar di bahu lo, lo harus saling menguatkan bukan saling menyalahkan."ucap Dika menasehati Diki yang saat ini dalam keadaan prustasi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dika membuat Diki sadar bahwa apa yang ia lakukan saat ini salah dan tidak seharusnya ia seperti ini Diki pun membenarkan semua ucapan Dika sehingga ia langsung memeluk erat Dika untuk menumpahkan segala tangisnya agar bisa mengeluarkan unek-uneknya di hatinya yang menyesakkan itu sebelum ia bertemu Dian nanti agar bisa memasang wajah tegar dan kuat bukan seperti sekarang penuh penyesalan dan berderai air mata.
Katakanlah Diki cengeng karena menangis untuk seorang perempuan yang saat ini sangat berarti dalam hidupnya nya. Diki sangat jarang menangis bahkan tak pernah, terakhir kali ia menangis saat iya pertama kali berangkat ke Belanda saat akan menuntut ilmu di salah satu universitas di Belanda karena harus berpisah dengan mama Nadine untuk waktu yang lama.
tak lama keluarlah dokter dari ruangan UGD dan meminta suami korban masuk ke dalam ruangannya karena ada suatu hal yang ingin dibicarakan dengan suami korban.
Dicky pun masuk kedalam ruangan itu ditemani Dika karena Dika tahu saat ini adiknya benar-benar dalam keadaan rapuh.
"silakan duduk."ucap dokter itu meminta Dika dan Diki duduk di depannya.
"Begini tuan, ibu Dian mengalami benturan yang cukup keras pada bagian perutnya sehingga bayi yang ada dalam perutnya harus dikeluarkan sekarang juga agar memperkecil kemungkinan yang tidak diinginkan dan saya meminta persetujuan anda untuk mendatangani surat persetujuan operasi Caesar." ucap dokter itu dan menyodorkan surat persetujuan dihadapan Diki untuk segera ditandatangan.
"lakukan yang terbaik buat anak dan istri saya dok."ucap Dicky dan langsung menandatangani surat itu dengan tangan bergetar.
__ADS_1
"Dokter kita harus segera melakukan tindakan karena pasien mengalami pendarahan." ucap suster yang baru masuk mengejutkan semua yang ada di ruangan itu sehingga membuat raut wajah dokter yang tadi tenang menjadi tegang.
"Kami minta doanya Tuan agar operasi ini bisa berjalan lancar." ucap dokter itu sebelum pergi dengan tergesa-gesa mengikuti suster yang tadi mengejutkan itu.
.
.
.
Bersambung....
.
__ADS_1
Maaf ya jika kurang dalam kat kata othor karena ini murni halunya othor, mohon di maafkan ya...