
Tak terasa kehamilan Dian sudah menginjak bulan ke lima, selama Dian hamil sampai saat ini Diki tak pernah di kasih tidur malam dan tidak mau di tinggal pergi meski hanya untuk menghadiri rapat penting sebentar, dan alhasil Din pun ikut kemana pun Diki pergi dan Diki pun mau tak mau mengiyakan permintaan Dian karna kalo di tolak sudah pasti Dian akan ngambek seharian dan menangis sepanjang hari selama di tinggal pergi oleh Diki.
"Sayang proyek mas yang di luar kota ada masalah boleh gak mas pergi kesana untuk beberapa hari, karna Tomi gak bisa mewakili mas karna desa adat setempat minta agar atasan dari karyawan mas yang bekerja disana menangani proyek itu di minta datang."ucap Diki berbicara pelan meminta ijin pada Dian yang memang akhir akhir ini sangat sensitif.
"Berapa hari?" tanya Dian.
"Kurang lebih tiga sampe empat hari sayang."jawab Diki lembut.
"Emmmm....
__ADS_1
Gimana ya, sebenarnya Dian gak papa kalo mas mau pergi kerja, tapi kalo dedeknya kangen ayahnya gimana? kan Dian gak sanggup kalo harus menangin dedek yang ngambek nendangin perut Dian terus." ucap Dian sedih.
"Men sekarang gimana? mas boleh pergi gak? karna ini darurat dan penting sekali sayang, mas ingin ajak kamu kesana, tapi situasi disana yang gak memungkinkan buat ibu hamil, apa lagi ada si kembar yang tidak mau jauh dari kamu,." ucap Diki masih nada lembut karna tak ingin Dian salah paham
"Mas bingung mana yang harus mas pilih, pilih kerjaan atau keluarga, tapi keduanya sangat penting buat mas, satu sisi kamu adalah orang yang paling mas cintai tapi satu sisi pekerjaan dan ada ratusan karyawan yang bekerja di sana sedang menunggu mas karna masib karyawan itu ada di tangan mas."ucap Diki lagi.
Mendengar ucapan Diki membuat Dian sadar kalo tanggung jawab suaminya sangat berat apa lagi banyak karyawan yang bergantung hidup dengan suaminya,dan Dian pun langsung sadar kalo selama ini Dian begitu manja pada Diki dan Diki pin tak pernah sekali pun marah atau pun ngeluh karna sikapnya itu langsung saja Dian berhambur ke dalam pelukan Diki dan menangis sejadi jadinya setelah menyesali sikapnya beberapa bulan belakangan ini yang sudah sangat merepotkan Diki banget.
"Maafin Dian mas, Dian salah sudah sangat merepotkan mas, dan mengganggu waktu mas kerja,maafin Dian mas, Dian juga gak tau kenapa Dian gak mau di tinggal mas, Dian hanya ingin terus melihat mas saja."ucap Dian dalam pelukan Diki.
__ADS_1
Diki hanya tersenyum setelah mendengar ucapan Dian yang menyesali sikapnya beberapa bulan belakangan ini dan Diki pun ngerti dan paham dengan hormon kehamilan Dian yang membuatnya sangat manja dan sensitif banget.
"Gak papa, mas gak keberatan jika kamu manja dan selalu ingin dekat mas karna kamu sayang dan cinta sama mas." ucap Diki semakin mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Dian beberapa kali hingga sesuatu yang tengah tertidur di bawah sana terbangun dan minta untuk di puaskan hingga akhirnya apa yang di inginkan Diki pun di sambut dengan baik oleh Dian karena semenjak hamil keinginan Dian untuk di sentuh Diki meningkat tajam.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Skip aja ya adegan ehem ehemnya, di rumah othor lagi rame jadi gak bisa ngajak kamar pak suami..