
Satu jam berlalu dokter pun keluar dari UGD dan langsung berjalan menuju ke arah keluarga Wijaya karena pada saat itu tak ada satupun yang memperhatikan dokter keluar karena semuanya larut dalam pikiran masing-masing.
"tTuan siapa di sini suami pasien?" tanya dokter itu yang kebetulan dokter berbeda dari dokter kandungan yang biasa periksa kandungan Dian.
"Saya suaminya dokter," jawab Diki dan langsung bangun dari duduknya menghampiri dokter perempuan itu.
"Bisa ikut saya ke dalam sebentar karena ada yang ingin saya sampaikan kepada tuan." pinta dokter itu menatap Diki.
"Bisa dokter." jawab Diki dan langsung mengikuti dokter perempuan itu yang sudah lebih dulu perjalanan menuju ruang UGD.
Sesampainya di dalam ruangan UGD Dicky sempat melirik Dian yang tengah berbaring dengan infus yang menancap di tangan kirinya dalam keadaan lemah dan tidak sadarkan diri, Diki pun langsung duduk di hadapan dokter dan persiapan mendengarkan apa yang ingin dokter sampaikan padanya.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istri saya saat ini dokter?" tanya Dicky.
"Begini tuan, karena pada saat istri anda dibawa ke sini dalam keadaan tak sadarkan diri dan bagian bawah sudah berlumuran darah, maka dari itu kami dengan berat hati menyampaikan berita buruk ini bahwasanya anak yang berada di dalam kandungan istri anda tidak bisa kami selamatkan karena janin yang berada di dalam kandungan istri anda sudah meninggal di dalam kandungan." ucap dokter itu seketika membuat Diki diam mematung syok mendengarkan kabar buruk ini.
"Dan kami minta kepada anda tolong sampaikan kabar buruk ini kepada istri anda saat nanti dia terbangun karena saat ini istri anda masih dalam pengaruh obat bius dan bicara dari hati ke hati agar istri anda tidak mengalami depresi." ucap dokter itu lagi.
Diki hanya diam mendengarkan semua ucapan dokter tanpa menjawab sepatah kata pun bahkan untuk menganggukkan kepalanya saja dia tidak bisa karena saking syok nya mendengar kabar buruk ini kehilangan anak yang ia nanti, dan harus pergi untuk selama lamanya disaat dirinya pergi dan itu pun juga karena dirinya yang memaksakan pergi padahal dia sangat tahu bahwa istrinya tidak bisa jauh darinya walau hanya beberapa jam saja sungguh keadaan ini bagai pukulan terbesar bagi Diki dan rasa bersalah yang sangat dalam karna secara tidak langsung dia lah penyebab Dian keguguran.
Setelah cukup lama memeluk Dian Diki pun keluar dari ruangan itu dan langsung berjalan menuju mama Nadin dalam ke adaan lemas dan wajah kusut, Diki langsung memeluk erat mama Nadin menumpahkan semua rasa sesak di dadanya dan menangis sejadi-jadinya dipelukan Mama Nadin yang membuat semua orang di sana kebingungan dan juga menebak apa yang terjadi pada Dian.
"Diki salah ma, Diki yang udah buat Dian seperti ini mah, Diki salah ma." ucap Diki dalam pelukan Mama Nadin.
__ADS_1
"Apa yang terjadi nak kenapa kamu menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini?"tanya Mama Nadin.
"Dian keguguran mah, dan janin yang dikandung Dian sudah meninggal saat dibawa ke sini dan itu semua karena Diki mah yang tidak bisa menjaga dan juga mengerti kondisi Dian mah." ucap Diki menangis dipelukan Mama Nadin.
Deg...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...