Duren Dingin Ku

Duren Dingin Ku
Bab 134


__ADS_3

"Maaf mas..." lirih Dian saat berada di pelukan Diki.


"Iya sayang.., mas juga minta maaf, ini salah mas." ucap Diki menunjukan rasa bersalahnya.


"Aku yang salah mas yang tidak bisa menjaga anak kita saat kamu jauh dari ku" ungkap Dian lagi.


"Mas juga salah sayang karna tidak bisa mengerti ke adaan kamu, maafin mas ya, dan kita ikhlaskan kepergian anak kita ya." ucap Diki sambil memeluk Dian erat dan tak terasa dia pun meneteskan air mata karna merasa kan hal yang sama dengan apa yang di rasakan istrinya, rasa kehilangan yang begitu dalam.


Kedua insan yang lagi berduka itu terus saling memeluk dan saling menguatkan dan mengikhlaskan kepergian buah hatinya hingga tak berapa lama seorang suster datang ke ruangan itu dan meminta ayah dari bayi untuk mengikutinya agar bisa m lihat wajah terakhir bayi itu sebelum di kuburkan.


Hati Diki kembali teriris saat melihat wajah ayu nan cantik bayi merah yang sudah pucat itu dalam gendongannya untuk yang terakhir kalinya sebelum di makamkan, Diki memeluk dan mencium bayi kecil itu hingga tak kuasa ia menahan air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh juga. Diki pun memberikan nama pada putri cantiknya itu dengan nama Ayu Putri Wijaya.

__ADS_1


Dika yang ada di samping Diki pun mengabadikan momen adiknya saat mencium wajah putrinya dan tak lupa foto bayi kecil itu agar Dian dan yang lain bisa melihat dan mengetahui wajah anak Dika dan Dian yang sudah tak bernyawa itu.


Proses penguburan berjalan lancar dan hanya di hadiri oleh beberapa orang saja karna Diki sengaja tak memberi tahu tentang musibah yang menimpanya ini Hinga hanya papa Juna, mama Nadin, Diki, Diki, Rey, Tomi dan seorang ustad saja yang menghadiri pemakaman itu untuk memimpin mengirim doa doa untuk bayi kecil itu.


Waktu menjelang sore membuat Diki memilih pulang dulu untuk membersihkan diri sekaligus mengganti pakaiannya sebelum kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani sang istri yang masih terbaring lemah, tak lupa Diki membawakan beberapa baju ganti untuk Dian dan juga dirinya agar tak perlu bulak balik lagi ke rumah untuk berganti pakaian.


"Langsung berangkat nak?" tanya mama Nadin yang saat itu berada di ruang makan menemani kedua anak Diki yang lagi makan melihat Diki berjalan ke arahnya.


"Iya mah, kasihan Dian jika Diki terlalu lama meninggalkannya, dan juga agar mbak Kiara bisa pulang untuk istirahat." ucap Diki dan duduk di samping kedua buah hatinya yang lagi menatapnya sendu.


"Ayah...., Kangen unda.." ucap keduanya dan menangis menatap Diki dengan sendu.

__ADS_1


"Bunda lagi sakit sayang, jadi bunda belum bisa pulang karna harus berobat, doain bunda ya agar bunda segera sembuh dan bisa cepat pulang" ucap Diki sambil merengkuh kedua tubuh kedua anaknya dalam gendongannya.


"Jangan nakal di rumah ya, nurut sama Oma dan Tante ya, ayah mau jagain bunda agar bunda cepat sembuh." ucap Diki lagi sambil mengusap punggung anaknya agar berhenti menangis.


Lama Diki mengusap punggung kedua putranya hingga tak terdengar lagi isakkan keduanya yang ternyata sudah tertidur di pelukan Diki tanpa menyelesaikan makanya terlebih dulu.


"Mah, Diki bawa mereka ke kamar dulu ya, habis itu baru Diki berangkat ke rumah sakit." pamit Diki dan di iyakan mama Nadin dan tak lupa mama Nadin meminta pengasuh cucunya untuk mengikuti Diki dari belakang agar bisa membantu Diki saat membuka pintu dan menidurkan keduanya di kasur.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2