Duren Dingin Ku

Duren Dingin Ku
Bab 194


__ADS_3

setelah berbicara berdua di taman karna tidak bisa menghubungi istri masing masing, Dika dan Diki kembali ke ruang rawat papa Juna dan mendapati ternyata papa Juna sudah siuman dan sedang makan di suapi mama Nadin, sungguh hati keduanya sangat bahagia melihat ayah tercintanya sudah melewati masa masa menyakitkan kemarin dan bersyukur ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya pada papa Juna meski mereka tidak tau siap orang nya yang pasti mereka sangat berterima kasih karna sudah bersedia menolong papa Juna.


"Nak.. kalian sudah kembali?" tanya mama Nadin.


"Sudah mah.., " jawab Dika dan berjalan mendekat duduk di samping papa Juna.


"Apa ada yang sakit pah? bagaimana perasaan papah sekarang?" tanya Dika sambil menggenggam tangan papa Juna.


"Papa merasa lebih baik nak, apa kabar anak perempuan papa semua di rumah dan juga cucu papa? apa mereka baik baik saja?" tanya papa Juna menanyakan menantu dan juga semua cucunya.

__ADS_1


"tadi gak bisa bicara sama mereka pa, karna gak bisa di hubungi dan kata Diki, Kiara lagi antar Dian ke sekolahan Fazal karna dapat telpon dari gurunya kalo mereka bertengkar." jawab Dika pelan.


"Anak kamu itu memang tidak jauh beda dari kamu dek waktu kamu kecil," ucap papa Juna sambil tersenyum mengingat masa lalu saat Diki sering membuat masalah dulu.


Diki yang mendengar hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalnya yang tidak gatal karna ia akui kalo dirinya sangat bandel sejak dulu dan sering kali membuat masalah terutama sama anak perempuan dengan menjahilinya sampe menangis karna kalo belum menangis belum puas rasanya.


"Diki pikir juga begitu mah, tapi Dian sangat menginginkan anak perempuan tapi tuhan berkehendak lain." ucap Diki ingat Dian yang sangat menginginkan anak perempuan.


"belum jodoh kalian punya anak perempuan dek, mungkin nanti cucu kalian banyak perempuan, jadi syukuri aja apa yang sudah ada " ucap papa juna.

__ADS_1


"ya, pah, kalo Diki sih sudah sangat bersyukur punya si kembar, tapi kadang sedih juga rasanya tidak bisa membahagiakan Dian maksimal karna tidak bisa memberikan Dian anak perempuan." ucap Diki sambil memeluk mama Nadin karna posisi duduk Diki tepat di belakang mama Nadin yang duduk di tempat tidur papa Juna menyuapi makan.


"Apa yang kamu rasakan sama persis seperti apa yang papa rasakan nak, karna mama kamu juga sama seperti Dian yang tidak bisa hamil lagi maka dari itu sebisa mungkin papa membahagiakan mama agar mama selalu bahagia berada di samping papa." ucap papa Juna sambil menatap mama Nadin penuh cinta.


dan apa yang di ucapkan papa Juna menjadi pelajaran buat semuanya dan semakin membuat keempat anaknya kagum dengan besarnya cinta papa Juna terhadap mama Nadin.


"Diki janji akan berbuat sebisa mungkin untuk membahagiakan Dian pah, karna Diki sangat mencintai Dian pah." janji Diki pada kedua orang tuanya dan di saksikan oleh saudaranya yang lain.


"Bagus, itu baru anak papa, dan papa harap semua anak papa bisa berjanji seperti Diki karna kita cukup satu istri untuk selamanya karna istri kita adalah surganya anak anak kita dan jangan pernah mencoba melirik yang lain karna bukan hanya rumah tangga kalian saja yang terancam bubar, tapi kebahagian anak anak kalian jadi taruhannya." ucap papa Juna menasehati semua anak anaknya karna papa Juna mendengar kabar dari salah satu anak buahnya yang mengawasi semua anak anaknya bahwa ada salah satu anaknya yang sedang dekat dengan perempuan lain. maka dari itu papa Juna memberi tahu lebih dulu dari pada sudah kejadian meski bukan secara langsung karna papa Juna tidak mau anak anaknya curiga kalo mereka masih di awasi hingga saat ini.

__ADS_1


__ADS_2