
Dika, Diki dan Rey kini tengah berada di kantin paling pojok, tengah membicarakan masalah yang menimpa kedua menantu keluarga Wijaya hari ini. Dari mulai Dika dan Diki mengabsen semua rekan bisnis mereka yang kira-kira melakukan tak suka dengannya dari yang dekat hingga yang jauh hingga satu nama yang membuat Dika dan Diki terdiam saat Rey mengucapkan satu nama yang berkaitan dengan masa lalu Diki.
Diki masih belum yakin kalo nama yang di sebut Rey itu adalah dalang dari kejadian hari ini, namun tak menutup kemungkinan juga karna Diki pernah menghancurkan perusaan yang ia pimpin waktu itu hingga Dika meminta Rey untuk menyelidiki laki laki itu seminggu belakangan ini dan juga meminta mengawasi kegiatan laki laki itu karna Diki masih tak bisa mikir apa pun untuk saat ini karena pikirannya hanya tertuju pada putra dan istrinya saat ini meski tubuhnya ada di hadapan Dika dan Rey tapi pikirannya tengah berkelana dan baik Dika maupun Rey mengerti akan kondisi Diki saat ini.
Melihat adiknya hanya diam saja membuat Dika kasihan dan segera menyuruh Diki untuk balik ke ruangan ICU untuk menemani Dian.
"Lebih baik Lo balik ke ruang ICU gih, gue lihat Lo lagi gak konsen saat ini, lebih baik masalah ini biar gue dan Rey yang urus, karna Tomi juga gue yakin gak akan bisa konsen mengingat istrinya juga lagi di rawat."ucap Dika dan Diki pun menuruti ucapan kakaknya karna memang benar apa yang di ucapkan Dika kalo saat ini pikirannya lagi gak bisa fokus dan ingin segera melihat Dian.
__ADS_1
"Ya udah gue balik ke kamar Dian ya, " pamit Diki dan setelah itu Diki bergegas balik dan tak lupa m melakukan makanan untuk ibu mertuanya dan juga iparnya Dina yang sedang menunggui anaknya di ruang perawatan.
Setelah sampai di depan ruang ICU Diki segera menyerahkan makanan yang ia beli pada ibu mertuanya dan setelah itu Diki pamit untuk menemui Dian di dalam sana.
Setelah selesai mengenakan baju steril Diki berjalan perlahan dan melihat Dian yang tengah berbaring dengan banyak kabel yang menempel di tubuhnya tanpa terasa air mata Diki menetes melihat ke adaan Dian yang seperti itu.
"Sayang, cepat bangun ya,mas sudah kangen banget sama kamu, kangen suara kamu, senyum kamu semua tentang kamu."ucap Diki sambil mengelus punggung tangan Dian dengan lembut.
__ADS_1
Diki terus mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Dian meski tak mendapat balasan apa pun dari Dian karna Dian masih diam dan setia menutup matanya namun Diki yakin Dian mendengarnya.
Dan setelah puas menemani Dian, Diki pun keluar dari ruang ICU dan berjalan menuju ruang rawat anaknya dan masuk kesana yang disana sudah banyak orang yang menunggui sebab Dian tak bisa di tunggu di dalam ruang ICU dan hanya bisa di tengok sebentar sebentar saja, saat Diki baru masuk Diki langsung di sambut tatapan kedua putranya yang tengah berlinang air mata.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....