
Setelah mendengar ucapan Diki Mama Nadin hanya bisa menghela nafas panjang dan mengusap punggung Diki dengan sayang setelah itu mama Nadin berkata.
"Kamu yang sabar nak semua ini adalah cobaan agar kamu ke depannya bisa lebih dewasa dan bisa lebih memprioritaskan mana yang lebih utama dan mana yang bisa kamu handle nanti dan anggap ini sebagai pelajaran yang berharga buat kamu agar kedepannya kamu nanti bisa lebih teliti dalam mengambil sikap agar tidak terulang kembali kejadiannya seperti ini untuk kedua kalinya kamu mengerti kan nak."ucap mama Nadin menasehati Diki
"Diki mengerti mah dan Diki sangat menyesal dengan kejadian ini, Diki tidak menyangka keputusan yang diambil untuk menyelamatkan nasib karyawan di sana malah menjadi petaka buat hidup Diki mah, Diki hanya tidak ingin melihat ratusan karyawan di sana kehilangan pekerjaannya dan juga kehilangan mata pencahariannya karena Diki mah."ucap Diki memberi alasan karena memang seperti itu yang ia lakukan pergi keluar kota untuk menyelamatkan para pekerja di sana agar tidak kehilangan mata pencahariannya yang bekerja di bawah naungan perusahaan yang saat ini dia pimpin.
"Mamah ngerti sayang bahkan Mama sangat mengerti dengan apa yang kamu lakukan karena dulu Mama juga sempat mengalami apa yang Dian rasakan saat ini karena kesibukan Papa mengelola perusahaan sampai Mama harus kehilangan kakak kamu saudara kembar Dika untuk selama-lamanya."ucap Mama Nadin agar Diki tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dan yang sekarang kamu lakukan adalah kamu tenangkan diri kamu ikhlaskan semua yang sudah terjadi agar nanti di saat Dian sadar kamu bisa menenangkan Dian dan kamu kuat melihat tangis Dian karena kalau kamu rapuh seperti ini yang ada Dian justru malah lebih rapuh dari kamu, kamu harus kuat kamu harus sabar karena kamu adalah sumber kekuatan Dian saat ini."ucap Nadin lagi dan melepas pelukannya mengusap wajah Diki yang banjir air mata dengan sayang.
"Yuk kita ke mushola kita solat bareng agar kamu bisa lebih tenang."ajak Dika Diki pun menuruti perkataan kakaknya dan mengikuti langkah kakaknya yang berjalan di depannya menuju mushola yang di belakang Diki ada Papa Juna juga yang ikut sama mereka.
Setelah ketiga laki-laki Wijaya menuju mushola tak lama dokter beserta suster keluar dari ruang UGD dengan mendorong Dian di atas tempat tidur yang masih dalam keadaan belum sadar menuju ruang rawat VVIP yang sudah dipesan Papa Juna tadi diikuti Kiara dan mama Nadin dari belakang.
.
__ADS_1
lama Diki memanjatkan doa hingga tak terasa sudah satu jam lamanya dan masih juga ditemani kakak dan papanya di sana sampai Diki selesai berdoa dan setelah itu kembali lagi menuju kamar merawat Dian sudah diberitahu Mama Nadin lewat pesan yang bilang kalau Dian sudah berada di ruang rawat.
Saat baru memasuki ruang rawat Dian, Diki melihat Dian yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan wajah sendu dan bercerai air mata menatapnya, tanpa banyak kata Diki langsung berjalan ke arah Dian dan langsung memeluk Dian erat tanpa perduli banyak pasang mata yang melihatnya saat ini.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....