Duren Dingin Ku

Duren Dingin Ku
Bab 123


__ADS_3

Di rumah benar tebakan Diki jika Dian sudah m nunggunya di teras rumah dengan raut wajah khawatir dan itu m membuat Diki merasa bersalah karna tidak m ngabarin istrinya kalo ia akan pulang larut, karna ingin menyelesaikan pekerjaannya sampai ia lupa memeriksa ponselnya yang habis daya hingga membuat istrinya khawatir dengan pikiran yang sudah kemana mana.


"Mas...,"ucap Dian saat Diki baru keluar dari mobil.


"Maaf sayang mas, pulang terlambat dan handphone mas mati jadi tidak bisa memberi kamu kabar." ucap Diki penuh sesal.


"Gak papa mas, yang penting mas tidak kenapa kenapa, yuk masuk pasti mas capek sekali kan."ajak Dian dan menggandeng tangan Diki setelah Tomi pergi dari hadapan mereka.


"Capek mas hilang kalo sudah ketemu kamu dan anak anak." ucap Diki dan mencuri kecupan di pipi Dian.


"Mas, masih di luar juga, nanti ada yang lihat kan malu."ucap Dian malu dan berjalan cepat hingga tangan Diki terseret dan Diki pun hanya tersenyum melihat tingkah malu malu Dian seperti itu.


"Udah punya anak juga masih aja malu kalo mas cium kamu di luar, padahal kan cuma pipi bukan lumayan di bibir kamu." bisik Diki di telinga Dian saat Diki mengimbangi jalannya Dian

__ADS_1


"Mas..."kesel Dian tapi dalam hati ya Dian tersenyum karna Diki tak pernah berubah bahkan semakin menyayanginya.


Mas langsung mandi, habis mandi makan malam, belum makan malam kan?" tanya Dian.


"Belum sayang, mana pernah mas makan di luar kalo bukan terpaksa. ucap Diki dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melihat kedua buah hatinya yang sudah terlelap di dalam kamar mereka yang letaknya di samping kamar Diki.


Semenjak tak Dian hamil, Diki pun mulai membiasakan si kembar tidur di kamar mereka sendiri meski kadang masih di temani Dian saat malam hari, namun saat Dian tidak. Isa tidur di sana, Dian akan minta salah satu bibik untuk menemani si kembar tidur agar nanti saat bangun gak nangis karna takut.


.


"Sudah, dan ternyata jauh lebih tampan dari ekspektasi ku." jawab Meri dengan senyum Masin membayangkan pertemuan tadi dengan laki laki yang di incar.


"Dekati terus, bila perlu buat dia berada dalam pengawasan kamu, pokoknya pantai semua gerak geriknya." ucap laki laki itu memberi perintah

__ADS_1


"Tidak masalah, yang penting kau ingat dengan janji mu, makan aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik " ucap Meri wajahnya langsung murung mengingat keluarganya terutama anak kecil yang ia angkat jadi anak ya itu berada di tangan laki laki bajingan itu.


"Kamu tenang saja, asal pekerjaan kamu beres dan memuaskan aku jamin keadaan mereka baik baik saja." ucap laki laki itu dan langsung menutup telpon tanpa mendengar ucapan Meri yang menggeram kesal karna ia akan selalu lembab kalo sudah berhadapan dengan orang yang ia sayang.


"Setelah misi ini selesai, giliran kamu yang akan aku hancurkan." ucap Meri kesal.


"Andai aku tidak termakan bujuk rayunya mungkin aku akan tidak mengalami nasib seperti ini,." ucap Citra menyesali pertemuannya dengan kaki laki bajingan yang sudah menyandra keluarganya hanya untuk menjadikan Meri bonekanya.


"Aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini, agar aku bisa balas dendam sama bajingan itu. " ucap Meri dan bergegas membersihkan wajahnya dan bersiap tidur agar esok pagi ia tidak bangun kesiangan untuk berangkat kerja sekaligus menjalankan rencananya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2