
Entah siapa yang memulai kini kedua bibir itu sudah saling bertautan dan semakin dalam untuk mencari yang mereka inginkan hingga Diki melepaskan tautan itu saat nafasnya sudah habis, dengan mata sayu Diki menatap wajah Dian penuh damba dan mata yang sudah berkabut gairah.
"Sayang mas menginginkan kamu, boleh mas jenguk baby?" tanya Diki dengan nafas terengah engah begitu pun dengan Dian yang wajahnya sudah merah.
Dian hanya menjawab dengan anggukan kepala karena dia pun sudah sangat menginginkan sentuhan Diki yang sangat memabukkan itu, dengan segera Diki mendekatkan wajahnya lagi tapi langsung di tahan Dian.
"Ada apa?" tanya Diki.
"Mas kita ke kamar kita yuk, disini ada Citra aku gak mau dia mendengar suara kita nanti dan membuat dia bangun."ucap Dian dan seketika Diki ingat kalo ini bukan kamarnya.
"Astaga, mas lupa sayang." ucap Diki menepuk dahinya dengan cengirannya itu.
"Ya udah, yuk kita ke kamar, udah gak tahan mas ini." ucap Diki dan langsung menggiring Dian keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Diki baru saja melepaskan inti tubuhnya dari inti tubuh Dian, setelah ia puas menggempur tubuh Dian bulak balik kaya ayam panggang.
"Makasih ya sayang, kamu emang terbaik dan selalu membuat mas mabuk." ucap Diki sambil mengecup pucuk kepala Dian sayang.
"Sama sama mas, aku capek banget mas, tapi kita harus segera mandi kan mau lihat baby." ucap Dian lemas dengan mata berbinar saat membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan baby-nya.
"Baik lah, ayo kita mandi, setelah itu kita berangkat, sekalian makan malam di luar aja ya sayang, mas lagi pingin makan ayam bakar madu."ucap Diki dan iya kan Dian.
"Dok bagai mana kondisi anak saya?" tanya Diki saat ia melihat anaknya di layar monitor depannya.
Ya saat ini pasangan yang masih di mabuk cinta itu sudah sampai di klinik dan sudah dalam pemeriksaan setelah tadi mengantri cukup lama karena banyak sekali yang datang periksa malam ini, meski Diki sudah mendapatkan lebih dulu tapi nyatanya banyak juga yang sudah mendapat seperti dirinya dan mau tak mau Diki harus mengantri karena Dian tak mau Diki memakai kekuasaannya dengan terpaksa Diki mengikuti ke inginkan ibu ratu dari pada di suruh tidur di luar malam ini.
"Kondisi bayinya sehat, berat badannya juga sesuai sama umurnya saat ini, nah ini dia yang kita nantikan selama ini, akhirnya dedek bayinya mau kasih lihat monasnya, nih lihat tuan, monasnya terlihat begitu jelas." ucap dokter itu dan melingkari jenis kelamin bayi itu.
__ADS_1
"Anak saya laki laki begitu maksud dokter?" tanya Diki antusias.
"Benar tuan, anak anda laki laki, selamat ya tuan bayi anda berjenis kelamin laki laki." ucap dokter itu dan seketika Diki memeluk erat Dian, karena saking bahagianya ia akan mendapatkan seorang anak laki laki pertama sesuai dengan keinginannya yang menginginkan anak laki laki pertama agar bisa nanti menjaga adiknya jika lahir perempuan maupun laki laki lagi.
"Sayang terima kasih.." ucap Diki dan langsung mengecup seluruh wajah Dian sampai wajah Dian memerah karena malu di lihat oleh dokter dan juga suster disana.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1