
Hari hari berlalu begitu saja Dian dan Diki sudah ikhlas dengan kepergian putrinya untuk selama lamanya dan setelah kejadian itu semua berjalan dengan lancar tanpa ada satu halangan pun yang mengganggu hidup keluarga Wijaya dan tak terasa kini usia si kembar sudah menginjak empat tahun, dan tahun ini sudah masuk sekolah taman kanak-kanak hingga setiap hari Diki selalu menyempatkan waktu untuk mengantar Dian dan kedua anak kembarnya ke sekolah karna jika pulang nanti Dian akan di jemput supir pribadi Dian yang sudah Diki siapkan untuk menjemput dan juga mengantarkan Dian kemana pun Dian pergi, sama seperti para istri Wijaya yang lainnya seperti mama Nadin dan Kiara yang juga mempunyai supir pribadi masing-masing.
Tepat pukul sepuluh seluruh murid TK sudah keluar dari kelas yang artinya kelas sudah usia dan sudah boleh untuk pulang, Dian dengan berjongkok menyambut kedua buah hatinya yang berlari ke arahnya sama seperti biasanya yang selalu begitu ingin lebih dulu sampai pada bundanya.
"Bagai mana hari ini pelajarannya? susah?" tanya Dian sambil membelai jawab kedua buah hatinya.
"Gak susah Bun, tadi kami di ajarin gambar dan berhitung."jawab Abang Fazal.
"Wah anak bunda pintar pintar ya.." ucap Dian dengan senyum cerah.
"Tadi adek buat gambar bunda lo"ucap Fadhel semangat.
__ADS_1
"Wah... pasti bagus gambar adek ya, kan anak bunda pintar pintar gambarnya." ucap Dian senang.
"Kalo Abang gambar apa?" tanya Dian pada anak sulungnya.
"Abang tadi gambar ayah bun, kata Bu guru harus gambar orang tua karna adek udah gambar bunda makanya Abang gambar ayah, padahal ingin gambar bunda juga."ucap Fazal sedih karna dia ingin sekali menggambar sang bunda namun karna adek ya sudah lebih dulu bilang mau gambar bunda nya makanya dia mengalah jadi menggambar ayahnya.
"Wah ayah pasti tempat di gambar ayah ya,Buda yakin ayah pasti seneng di gambar Abang,"ucap Dian menyemangati putranya karna Dian sangat tau wajah putranya murung karna tidak bisa menggambar dirinya.
"Bunda senang gak adek gambar bunda?" tanya Fadhel yang merasa bundanya tidak suka ia gambar dengan wajah murung.
Setelah itu ketiganya pun langsung berjalan menuju pintu gerbang sekolah karna mobil jemputan nya sudah menunggu di sebrang jalan.
__ADS_1
Tanpa Dian sadari jika sedari tadi sudah ada yang mengintainya dan tangah menunggu kesempatan untuk melakukan aksinya yang sudah lama ia tunggu tunggu kesempatan ini.
"Jika aku tidak bisa memiliki kamu maka orang lain pun tak boleh memiliki kamu selamanya karna sudah cukup selama ini aku bersabar dan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaan ku, dan sekarang adalah saat yang tepat untuk melenyapkan kamu dari muka bumi ini dan kita akan berjumpa di sana Dian,." ucap laki laki misterius itu dari dalam mobil sambil matanya terus melihat ke arah Dian.
"Setelah aku berhasil melenyapkan kamu, aku pun juga akan menyusul kamu agar disana kita bersatu, tidak apa aku disini tidak bisa bersatu sama kamu tapi disana kamu harus jadi milik aku." ucap laki laki itu menatap Dian tajam dan setelah itu laki laki itu pun mulai menghidupkan mobilnya dan melaju dengan kencang menuju sasaran.
Brak.....
.
.
__ADS_1
.
Bersambung .....