
Di luar kota, Diki yang merasa hatinya gelisah dan tak tenang sejak semalam dan selalu terbayang wajah Dian memutuskan untuk menghubungi Dian dan melakukan panggilan video, namun hingga panggilan ke tujuh nomor Dian tak juga di angkat hingga Diki pun memutuskan untuk menghubungi sang mama untuk mencari tau kondisi Dian saat ini dan juga meminta mama Nadin bilang pada Dian untuk menerima panggilan darinya namun mama Nadin pun juga tak menjawab panggilannya.
Melihat istri dan ibunya tak menjawab panggilan telpon darinya membuat perasaan Diki kacau pikirannya pun jadi kalut dan timbullah prasangka buruk sehingga tanpa perduli dengan jadwal kerjanya hari ini Diki pun langsung bergegas keluar dari kamar untuk menemui Tomi dengan pakaian siap pergi namun Diki lupa menghubungi papa dan kakaknya mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
"Loh Dik, Lo mau kemana?" tanya Tomi kaget.
"Gue mau balik, perasaan gue gak enak banget gue mau balik." ucap Diki dengan nada panik.
Deg...
"Ikatan batin Diki, Dian dan juga anaknya memang kuat, di saat Dian lagi sakit dan sangat membutuhkan Diki karna ulah anak dalam kandungan Dian sungguh ikatan keluarga yang sangat harmonis." ucap Tomi dalam hati.
"Oh.. ya udah yuk, baru juga mau gue ajakin balik, soalnya urusan disini udah bisa di handel karyawan disini lagian juga urusan yang besar udah kita lewati kemarin." ucap Tomi dan langsung masuk kedalam kamar Diki untuk membereskan barang bawaan Diki karna Diki hanya keluar membawa diri handphone dan juga dompet saja.
__ADS_1
Diki pun ikut lagi masuk dalam kamarnya untuk membantu Tomi membereskan barang bawaannya agar tak ada yang tertinggal setelah selesai Diki dan Tomi pun langsung keluar dari kamar menuju lobi hotel untuk melakukan check out dan mengalihkan kunci akses.
Sepanjang perjalanan hati Diki masih saja di liputi kegelisahan karna tidak mendapat kabar dari mama Nadin maupun Dian, dan lagi lagi Diki melupakan papa Juna dan Dika untuk minta kabar, hingga tak terasa beberapa jam berlalu dan kini tibalah dia dan Tomi di depan rumah utama yang terlihat sangat sepi.
"Tom kok perasaan gue tambah gak karuan ya..?" tanya Diki sambil memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.
"Tarik nafas Lo dalam dalam dan keluar kan dari mulut tiga sampe empat kali agar keadaan Lo lebih tenang." ucap Tomi, karna setau Tomi kalo saat ini kondisi Dian lagi tidak baik baik saja, dan Tomi pun berharap dengan kehadiran Diki keadaan Dian akan jadi membaik karna yang membuatnya sakit sudah datang.
"Apa Lo tau sesuatu?" tanya Diki menyelidik.
"****...." umpat Diki kesal.
"Udah gue duga kalo perasaan gue gak tenang itu karna Dian lagi butuh gue, ya udah gue turun ya, kalo Lo mau langsung balik ya balik aja,kalo mau masuk gue duluan" ucap Diki dan langsung keluar dari mobil menuju pintu utama karna sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dian.
__ADS_1
Tok.... Tok....
Pintu pun di buka dari dalam dan keluarlah salah satu asisten rumah tangganya dengan wajah bingung.
" Loh mas, gak langsung ke rumah sakit?" tanya bibik itu.
"Rumah sakit? siapa yang sakit bik? tanya Diki dengan perasaan yang tidak karuan.
"Kan non Dian masuk rumah sakit mas."ucap bibik itu seketika membuat Diki diam mematung...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....