
Diki yang sudah lama tidak melakukan sentuhan dengan lawan jenis sungguh tak bisa lagi menahan hasratnya yang menggebu dengan sentuhan sedikit Dian,
Tanpa pikir panjang Diki melakukan apa yang selama ini ia hindari dari wanita selepas ia pisah dengan Clarisa dulu.
Dengan perlahan bibir Diki turun dari bibir Dian dan menikmati leher Dian melukis maha karya disana yang sangat banyak sampe ia mendengar lenguhan dari Dian karna tak kuasa menahan rasa yang baru pertama kali ia rasakan.
Diki bermain di leher Dian dan tangannya pun tak tinggal diam menyusup ke dalam baju yang Dian kenakan mencari buah menggantung yang selama ini sungguh sangat ingin Diki sentuh.
Diki sangat menikmati apa yang tengah ia lakukan dan semakin bersemangat saat mendengar ******* yang lolos dari bibir manis Dian, sungguh hasrat Diki semakin melambung tinggi, namun abru saja ia akan membuka baju yang Dian kenakan sebuah ketukan dari pintu kamar hotelnya membuat ia menghentikan aktifitasnya, dengan mengeram kesal Diki menjauhkan wajahnya dari leher Dian dan melepaskan buah gantung Dian dari tangannya dan membenahi baju Dian yang sangat berantakan akibat ulahnya.
"Siapa sih yang ngetik pintu, ganggu aja.." gerutu Diki masih membenahi baju Dian.
"Aku buka pintu dulu ya, kamu tiduran hadap sana ya biar gak ada yang lihat kamu." ucap Diki dan mengecup bibir Dian sebelum ia beranjak untuk membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek...
"Elo kak, ada apa? ganggu aja!" kesel Diki saat melihat Dika dan Rey di depan pintu.
"Mau jemput pengantin baru sarapan dong, gak lihat jam lo? noh udah jam berapa sekarang!" ucap Rey memperlihatkan jam yang ada di pergelangan tangan kirinya di hadapan wajah Diki.
"Apa..? udah jam tujuh lebih!" kaget Diki karna tak sadar sudah lama berarti ia dan Dian bermain main di kamar sampe lupa waktu kaya gini, dan untuk saja di ingetin kalo gak bisa berantakan jadwal yang sudah tersusun gara gara kebablasan.
"Dari ngapain aja lo? jangan bilang Lo lagi main sama Dian? " tebak Dika tepat sasaran.
"Sabar dikit Napa sih, tunggu Lo pulang dari luar negri dulu baru Lo buka puasa, emang Lo yakin bakal bisa tahan disana setelah Lo buka puasa cuma sebentar dirumah dan gak akan cari pelampiasan karna tak bisa menahan dia yang memberontak minta pulang?" ucap Dika sambil melirik milik Diki yang masih berdiri tegak karna belum mendapatkan apa yang ia mau.
"Kak mati Lo..." ucap Diki malu dan menutup miliknya yang masih berdiri tegak menantang dan seketika tawa Dika dan Rey pecah karna mereka yakin jika Diki belum menuntaskan apa yang seharusnya.
__ADS_1
"Gak sesak Dik, itu di jepit dan gak pusing palanya?" ucap Rey tambah menjadi menggoda Diki dengan tawa yang mengelegar.
"Udah ah sana pergi, ntar gue langsung kesana ajak Dian, Gue mau siap siap dulu." usir Diki tanpa menghiraukan pertanyaan Rey karna sudah sangat malu bahkan wajahnya saja sudah merah akibat menahan malu di olok oleh kedua kakaknya itu.
"****..." umpat Diki saat ia menutup pintu kamarnya keras dan masih bisa mendengar tawa kedua kakaknya di balik pintu kamarnya.
"Ada apa mas? kok marah?" tanya Dian Yanga baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri.
"Gak ada apa apa kok yank, kamu siap siap ya, kita bentar lagi turun buat sarapan, udah di tunggu di restoran sama keluarga kita, mas mau siap siap dulu ya." ucap Diki lembut dan segera berlalu dari hadapan Dian menuju lemari pakaian untuk mengambil baju kerjanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Aduh bang.... gak sesak itu adiknya gak di tidurin, kasihan banget sih bang mau enak enak di ganggu kakaknya...