
Saat selesai melakukan penyatuan di malam hari yang dingin namun tak terasa di kamar mereka karna keringat yang sudah membanjiri seluruh tubuh keduanya di temani bulan dan bintang karna Dian tak menutup pintu balkon dan mematikan lampu kamarnya sehingga cahaya bulan dan bisa langsung masuk kedalam kamar mereka, Diki berbaring di samping Dian dan memeluk Dian erat sambil sesekali mencium pucuk kepala Dian sayang penuh cinta, tak pernah berhenti Diki bersyukur karna sudah di berikan jodoh seperti Dian yang amat sangat mengerti, menerima semua kekurangan dan kelebihannya dan selalu mendukung setiap langkah yang akan yang ia ambil.
"Mas, kok aku ngerasa di kehamilan kali ini aku lemas sekali ya, mudah banget capeknya tau, pinginnya tidur aja." adu Dian manja sambil mengusap dada Diki dengan membuat pola abstrak membuat gairah Diki kembali terpancing.
"Sayang, tangannya bisa diem gak, kamu mancing dia lagi untuk bangun, nanti kalo dia bangun lagi mas pusing loh sayang." ucap Diki menghentikan tangan Dian dengan lembut dan menggenggam tangan Dian sambil sesekali mengecupnya.
"Kalo bangun juga gak papa, Dian suka dan masih mau lagi." ucap Dian dengan menatap Diki dengan wajah polosnya membuat Diki diam menatap Dian dengan pandangan tak bisa di artikan, karna jujur saja dia masih pingin dan selalu pingin melakukan penyatuan sama Dian, tapi karna saat ini kondisi Dian tengah hamil muda membuatnya harus menahan nafsunya kuat kuat untuk tak m nyerang Dian seperti dulu.
"Sayang kamu lagi hamil muda loh, kan gak boleh sering sering melakukan penyatuan sayang, nanti dedeknya kenapa kenapa." ucap Diki mengelus pipi Dian dengan lembut agar Dian tidak marah dan tersinggung dengan penolakannya.
"Tapi Dian masih pengen mas." ucap Dian manja dengan mata penuh harap.
__ADS_1
Melihat wajah Dian yang penuh harap membuatnya prustasi, dia ingin bahkan sangat ingin tapi dia tidak bisa melakukan penyatuan itu lagi karna mengingat kondisi Dian yang lagi hamil maka tidak ada cara lain lagi untuk menuntaskan hasrat Dian dengan membuatnya lelah tanpa melakukan penyatuan lagi meski harus dirinya tersiksa sepanjang malam.
Setelah membuat Dian lelah akhirnya Diki bisa bernafas lega meski dia tersiksa karna harus menahan gejolak di dalam dirinya yang begitu menyiksa hingga ia harus terpaksa berendam di air dingin di badtab hingga sampai satu jam akhirnya bisa juga menidurkan adik kecilnya yang terus meronta minta di lepaskan.
Setelah selesai dari kamar mandi Diki pun keluar dari kamar namun saat sudah membuka pintu Diki di buat kaget saat melihat Dian duduk bersandar di dashboard menatapnya dengan tajam membuat Diki mengerutkan dahinya.
"Ada apa sayang kok bangun."ucap Diki berjalan mendekati Dian.
"Mas mandi sayang sama sekalian berendam untuk menidurkan dia." ucap Diki saat sudah berada di samping Dian.
"Kenapa berendam untuk menidurkan dia, kan Dian bisa buat dia tidur." ucap Dian kesal dan semakin memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Kan tadi kita sudah melakukan itu saya,mas gak mau terjadi sesuatu sama kamu dan dedek jika mas melakukan lagi, cukup sekali saja asal kalian sehat sehat saja sudah cukup buat mas sayang." ucap Diki lembut sambil membelai wajah Dian sayang setelah duduk di samping Dian.
"Beneran" tanya Dian ragu karna merasa bersalah sebab tidak bisa melayani Diki sampel puas seperti dulu sebelum dia hamil lagi.
"Beneran sayang, kita istirahat ya sayang, gak baik begadang buat orang hamil." ucap Diki membaringkan Dian di kasur dan ikut naik kesana karna sungguh dia pun sudah sangat ngantuk maka dia tidak memperdulikan kalo dirinya masih belum memakai pakaian apa pun saat ini selain selembar handuk untuk menutupi bagian bawahnya saja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....