Duren Dingin Ku

Duren Dingin Ku
Bab 41


__ADS_3

Dian meminta ijin pada Diki untuk ikut makan bersamanya karna ia tak tega meninggalkan anak kecil itu sendirian di luar sana menunggu ibunya datang, dan Diki pun mengiyakan tapi satu hal yang membuat Diki diam dan teringat sesuatu yaitu wajah anak kecil itu yang sangat mirip dengan mantan istrinya Clarisa.


Ketiga nya makan siang dengan lahap dan sesekali Diki menyuapi Dian makanan yang ada di piringnya dan itu membuat Dian malu karna Diki memperlakukannya layaknya seorang kekasih.


"Mas, malu.." cicit Dian saat dirinya menjadi tontonan gratis disana karna Diki terus menyuapi makanan dan mengelap sisa makanan di bibirnya sungguh Dian malu dan takut baper atas perlakuan Diki.


"Biarkan saja, anggap saja tidak ada orang disini." jawab Diki cuek.


Tak lama datang lah seorang perempuan yang sangat Diki kenal mendekat ke arah mejanya, awalnya Diki cuek dan tak mau melihat wanita itu, namun lama ke lamaan wanita itu terus medekat meski wanita itu tak sadar jika yang bersama anaknya itu adalah orang yang pernah ia sakiti, dan ya wanita itu adalah Clarisa yang datang untuk menjemput putrinya setelah ia selesai bekerja.


"Dek.. makasih ya sudah mau jagain anak saya." ucap Clarisa menatap wajah Dian yang tengah bercanda dengan anaknya Citra.


"Oh.. mba ibunya adek mania ini, sama sama mba." jawab Dian tersenyum ramah.

__ADS_1


Tak sengaja mata Clarisa melihat laki laki yang di depannya karna sedari tadi matanya hanya fokus pada tawa anaknya yang tertawa lepas dengan orang baru. Betapa terkejutnya dia saat melihat Diki duduk dengan Dian dan menggenggam tangan Dian dengan erat yang berada di atas meja.


Deg...


Dada Clarisa bergetar hebat saat melihat Diki menggenggam tangan Dian, hatinya tiba tiba sesak melihat itu.


"Mas Diki..." ucap Clarisa lirih.


Mendengar Diki memanggilnya sayang di depan umum seketika wajah Dian merah padam, bagai mana tidak baper hati Dian jika Diki terus membuatnya melayang begini.


Tanpa banyak kata Diki langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju kasir guna membayar makanan mereka dan setelah itu Diki kembali menghampiri Dian dan langsung menggandeng tangan Dian tanpa mengucapkan apa apa lagi dan pergi begitu saja.


Melihat Diki yang cuek padanya membuat hati Clarisa, ingin marah, tapi apa ia masih berhak, jujur ia sangat cemburu dan sangat kehilangan sosok penyayang yang selalu ada untuknya.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang kamu panggil sayang mas, seharusnya aku yang kamu gandeng mas bukan dia," ucap Clarisa menangis melihat kepergian Diki dari hadapannya tanpa memberikan dia waktu untuk bicara setidaknya untuk minta maaf."


"Aku harus cari cara agar bisa bicara dengan mas Diki, apa aku ke kantornya saja ya, tapi bagai mana kalo aku di usir lagi?" monolog Clarisa sendiri.


"Sebaiknya aku pikirkan itu nanti, lebih baik aku pulang dulu, kasihan Citra pasti sudah capek banget." ucap Clarisa melihat wajah putrinya yang kelihatan sangat letih.


Di jalan Diki terus menggenggam tangan Dian tanpa melepaskan meski ia sedang mengemudi tapi tangan dia selalu di genggamannya, Diki melakukan itu sebagai kekuatan karna sejujurnya hatinya masih sakit saat melihat wanita itu lagi darahnya seketika mendidih mengingat apa yang pernah di lakukan perempuan itu di belakangnya, tapi saat melihat wajah Dian, Hati nya jadi berangsur angsur adem maka dari itu ia terus menggenggam tangan Dian sebagai kekuatan dia saat dirinya rapuh seperti ini.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2