Duren Dingin Ku

Duren Dingin Ku
Bab 43


__ADS_3

Sudah seminggu dari waktu Diki menyatakan perasaannya pada Dian hari itu, tapi sampe sekarang Dian masih tidak memberikan jawab atas pernyataan perasaan Diki padanya, sikap Dian ke Diki pun masih sama, meski di ke esokan harinya Dian sempat menghindar karna takut Diki minta jawaban atas pernyataannya itu tapi hingga kini tak pernah sekali pun Diki meminta jawaban itu meski Dian bersyukur Diki belum minta jawabannya tapi di sudut hatinya Dian merasa ragu dengan keseriusan Diki yang nampak cuek dan biasa saja cuma sedikit perhatian saja Diki padanya sejak hari itu.


"Apa omongan mas Diki waktu itu gak serius ya tentang perasaannya padaku, makanya dia cuek sama aku, atau mungkin karna habis ketemu mantannya dia jadi bicara ngelantur." monolog Dian bicara sendiri mengingat sikap Diki padanya.


"Tuh kan aku jadi baper karna pernyataan mas Diki yang ngelantur waktu itu, ini juga hati ini gampang banget luluhnya." kesal Dian pada dirinya karna ia merasa sudah jatuh hati pada Diki.


"Aku gak boleh kaya gini, gak boleh berharap yang tidak tidak, sadar diri Dian." rutuk Dian pada diri sendiri keliwat kesel.


"Udah jam segini lebih baik aku mask aja deh, biar nanti habis masak aku bisa di kamar tanpa harus melihatnya." putus Dian karna tak ingin bertemu Diki.


Satu jam berselang masakan Dian pun telah siap, Dian menata masakan yang ia buat di meja makan dengan rapi dan cantik seperti orangnya.

__ADS_1


Tak lupa Dian menyiapkan piring sendok dan gelas juga se teko air agar nanti saat Diki datang tak perlu memanggilnya untuk menyiapkan makanan karna sekarang sudah lengkap Dian siapkan, niat Dian untuk menghindari Diki bener bener sudah matang untuk menjaga kedamaian hatinya agar tidak sakit hati.


Diki masuk ke dalam apartemen nya dengan perasaan sedih karna malam ini ia di minta tidur di rumah utama sama mama Nadin dan mau tak mau Diki harus meninggalkan Dian sendirian di apartemennya padahal Diki ingin bicara sama Dian tentang jawaban Dian pada pernyataannya waktu itu.


Diki dengan langkah lesu berjalan menuju meja makan karna ia pikir Dian ada disana sedang menguapkan makanan untuknya seperti biasanya tapi saat sampai di sana Diki tak melihat keberadaan Dian disana dimeja makan nampak sudah lengkap hidangan makan malam Diki pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang biasa ia gunakan dan menunggu Dian untuk makan malam bersama.


Lama Diki menunggu hampir satu jam namun Dian tak juga datang membuat Diki bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar Dian, tak biasanya Dian seperti ini membuat Diki khawatir takut Dian sakit tanpa sepengetahuannya.


"Dian..." panggil Diki dari depan kamar Dian.


Dian yang baru saja selesai membersihkan diri buru buru membuka pintu dan lupa dengan penampilannya yang hanya menggunakan handuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Iya mas." saut Dian dan membuka pintunya dengan lebar sehingga Diki bisa dengan jelas penampilan Dian yang membuat Diki bengong melihat buah dada Dian yang menyembul keatas.


"A... Aku.. Tunggu di meja makan." ucap Diki gugup dan segera pergi dari hadapan Dian dengan wajah yang memerah menahan sesuatu di bawah sana yang mulai mengeras hanya dengan melihat sedikit buah dada Dian itu.


"Astaga...." ucap Dian menutup pintu kamarnya dengan keras saat menyadari penampilannya saat melihat wajah merah Diki tadi. Dan betapa malunya Dian saat ini yang secara tak sengaja sudah menggoda Diki.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2