
Melihat kedatangan Bagas, Dina jadi takut dan secara spontan ia menggenggam erat tangan Dian untuk mengurangi rasa takutnya, Dina sangat takut Bagas akan membawanya pergi untuk menjalankan misi balas dendamnya, Dina sangat sangat kecewa terhadap Bagas karna yang Dina kira Bagas itu tulus sayang sama dia, tapi ternyata itu hanya kedok belaka untuk memuluskan rencananya itu, sungguh hati Dian hancur mendengar ucapan Bagas tapi ia bersyukur Tuhan masih baik sama dia dengan memberi tahu lebih dulu kebusukan Bagas sehingga perasaan yang baru tumbuh bisa segera di buang.
Dian yang merasa genggaman tangan adiknya lebih erat langsung menyapa Bagas agar tidak menimbulkan curiga, dengan sikap Dina yang mulai ketakutan melihat Bagas.
"Hai..., Gas, tumben datang kesini ada apa?" tanya Dian pura pura tidak tau hubungan Bagas dengan Dina.
"Hai... Juga Dian, aku kesini mau ketemu Dina sekalian jemput mau ajak keluar." ucap Bagas lembut dan matanya yang penuh damba terhadap Dian.
Diki yang melihat tatapan mata Bagas pada gadisnya membuat darahnya seketika mendidih, ingin rasanya Diki mencongkel mata itu agar tidak bisa lagi melihat untuk selamanya tapi Diki tahan karna tak ingin membuat citra jelek di hadapan calon mertua.
"Duh... Maaf ya Gas, Dina gak bisa ikut kamu, ini aku jemput ibu dan Dina mau di ajak liburan sama majikan aku karna majikan aku lagi merayakan wedding anniversary di luar kota, jadi maaf ya Dina tidak bisa ikut kamu." ucap Dian beralasan.
__ADS_1
"Oh... Gitu ya, ya udah gak apa, mungkin lain kali aku bisa jalan sama Dian." ucap Bagas dengan wajah masam.
"Kamu apa kabar?." tanya Bagas dengan senyum manis.
"Aku baik, ya udah kami pamit ya gas, gak enak sama majikan aku kalo beliau lama nunggunya." ucap Dian mengakhiri acara basa basinya dengan Bagas karna sudah sangat muak berhadapan sama orang licik seperti Bagas.
"Iya,, hati hati di jalan Dian, telpon aku kamu angkat ya." ucap Bagas pada Dian bukan pada Dina yang notabene nya adalah pacarnya.
Tanpa mengucapkan kata Dina pergi begitu saja dari hadapan Bagas dan Bagas pun tak mengucapkan sepatah kata padanya yang semakin membulatkan tekatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Bagas.
Baru beberapa langkah Dina berjalan lantas Dina menghentikan langkahnya dan berbalik menuju Bagas yang masih menatap kakaknya dengan tatapan mata memuja.
__ADS_1
"Kak Bagas, mulai sekarang kita putus, maaf kalo aku gak bisa jadi yang kakak pingin tapi sayang aku buat kakak itu tulis, dan semoga saja kakak bisa mendapatnya perempuan yang lebih tulis dari aku, oh ya, satu lagi, jangan pernah berharap kakak mendekati kakak aku, karna aku orang pertama yang akan menentang hubungan itu." ucap Dina dingin dan pergi begitu saja dari hadapan Bagas tanpa mendengarkan jawaban Bagas.
"****....." umpat Bagas setelah Dina pergi dari hadapannya.
Mendengar ucapan Dina barusan entah mengapa Bagas merasa tidak suka, dan merasa hatinya sakit mendengar kata putus dari Dina dan melihat wajah Dina yang sendu sungguh ia benci dengan tatapan mata Dina yang penuh dengan kecewa itu.
.
Bersambung...
Udah up lagi ya kakak kakak, jangan ngomel lagi ya...
__ADS_1