
Setelah selesai sarapan dengan keluarga, Diki pun pamit untuk ke kantor dan sekalian pamit untuk pergi dinas keluar negri meski sempat di tahan papa Juna dan mama Nadin, namun Diki bisa menuruti keinginan orang tuanya itu karna sudah menjadi tanggung jawabnya memimpin banyak perusaahan yang ada di tangannya saat ini.
"Udah pah, mah, biarin Diki melakukan perjalan dinasnya, karna setelah itu Diki kan bisa bawa Dian bulan madu dan gak ke ganggu lagi dengan urusan kerjaan nanti biar Dika bantu Tomi deh urus kerjaan Diki nanti saat ia bulan madu." ucap Dika memberi pengertian pada mama papanya.
Mendengar ucapan Dika seketika wajah Dian merah, dengan segera Dian menundukkan kepalanya karna teringat kejadian beberapa menit lalu di dalam kamarnya dengan Diki yang ternyata sangat mesum.
"Iya..., Bener juga apa yang di katakan Dika, ya sudah kamu boleh pergi, tapi jangan lama lama, agar kamu bisa secepatnya bikinin mama cucu." ucap mama Nadin dengan semangat.
Mendengar ucapan mama Nadin semakin membuat wajah Dian merah, bahkan telinganya juga ikut merah menahan malu,
__ADS_1
"Ya udah, Diki pamit ya, titip istri Diki ya, jagain jangan sampe di gondok kucing." ucap Diki sambil melirik Dian yang wajahnya sangat merah.
"Udah mah, jangan godain Dian lagi, kasihan Lo wajahnya sampe merah gitu." ucap Kiara dan semakin membuat tawa keluarga itu pecah.
.
Kini selepas kepergian Diki keluar negri Dian di ajak pulang ke rumah utama oleh mama Nadin, dan untuk ibu dan adik Dian sudah di antar Rey kembali ke apartemen Diki, dan adik Dian pun kini sudah pindah sekolah karna tak ingin terjadi sesuatu jika ia masih sekolah di sekolah yang lama karna besar kemungkinan Bagas akan kembali mencari Dina dan menjalankan rencananya yang sempat tertunda itu.
Setelah di sambut oleh para pelayan, Dian pun di antar ke kamar Diki untuk istirahat karna tadi secara tidak sengaja mama Nadin dan juga Kiara melihat tanda yang begitu banyak di leher Dian yang tadi di tutupi rambut tersingkap karna angin jadi terlihat lah maha karya Diki yang begitu banyak, sampe mama Nadin menutup mulut melihat itu karna tak menyangka putranya yang super dingin itu akan membuat tanda begitu banyaknya di leher samping dan juga belakang Dian, tapi tidak untuk Kiara, karna Diki dan Dika sebelas dua belas untuk urusan melukis di tubuh istrinya, bahkan Dika pun lebih parah karna sampe punggungnya pun tak luput dari sentuhan bibir Dika yang sungguh sangat manis itu.
__ADS_1
Membayangkan kemesuman Dika terhadap dirinya seketika Kiara mendekatkan dirinya pada Dika dan berbisik yang seketika membuat Dika mengembangkan senyumnya tanpa membuang waktu Dika pun membawa istrinya ke kamar mereka tanpa mendengarkan teriakkan mama Nadin di bawah tangga sana selepas mengantarkan Dian ke kamar Diki tadi.
.
.
Bersambung....
Hadehhh.. kakak sama adek kelakuannya gak jauh beda ya..
__ADS_1
pusing othor jadinya dengan kelakuan mesum kakak beradik itu...