
tak terasa waktu cepat berlalu dan kini papa Juna pun sudah selesai menjalani operasi dan sudah berada di ruangannya untuk melakukan menyembuhkan sebab papa Juna harus istirahat yang banyak dan syukur nya kondisi papa Juna saat ini sudah stabil dan masih dalam tahap penyembuhan saja.
Saat ini ke empat anak laki laki papa Juna sedang berada di ruangan papa Juna menunggu papa Juna sadar dan juga mama Nadin yang baru saja tertidur sebab kelelahan menemani papa Juna dari semalam tidak tidur karna khawatir akan operasi yang akan di jalaninya hari ini.
"kak gue ijin keluar bentar ya, mau telpon Dian." pamit Diki pada Dika dan yang lainnya karna Diki sudah sangat merindukan istrinya itu.
"Iya, yuk bareng, gue juga mau keluar mau telpon Kiara kangen gue." ucap Dika yang juga sama merasakan kangen dengan istrinya.
"kita giliran keluar ya, nanti kalo gue dan Diki udah selesai baru kalian telpon istri kalian, biar papa dan mama masih ada yang jagain." ucap Dika pada Rey dan juga Tomi yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Ok.." saut keduanya bersamaan dan setelah itu Dika dan Diki pun keluar dari ruangan itu menuju taman belakang rumah sakit untuk menghubungi istri masing masing.
.
Tut.... Tut... Tut...
__ADS_1
Sambungan telpon dari handphon Diki tapi belum di jawab sang pemiliknya.
"Kenapa lama sekali Dian tumben angkat telponnya, padahal Dian gak pernah jauh dari handphone kalo aku lagi tidak di rumah." ucap Diki bicara sendiri sambil menunggu panggilan telponnya di jawab.
sampe panggilan ke empat tak juga mendapat jawaban hingga membuat Diki kesal karna tak biasanya Dian seperti itu apa lagi di jam jam seperti ini yang Diki tau biasanya Dian lagi di dapur atau kalo gak lagi di kebun dan pasti selalu membawa handphone.
karna kesal dan juga khawatir dengan keadaan anak istrinya di rumah akhirnya Diki menghubungi no rumah dan tak berapa lama akhirnya telponnya di jawab oleh salah satu pelayan disana.
"Halo... dengan kediaman Wijaya ada yang bisa di bantu...?" tanya bik Jum salah satu pelayan disana yang Diki sangat tau suaranya karna hanya suara bik Jum yang pelan dan lembut.
"Oh... den Diki, anu den neng Dian sama neng Kiara lagi ke sekolah den Fazal karna tadi dapat telpon dari sekolah kalo den Fazal dan den Fadil sedang bertengkar di sekolah makanya neng Dian pergi b uru buru di temani neng Kiara den.." jawab bik Jum menjelaskan.
"Oh gitu ya bik.. nanti kalo udah kembali suruh hubungin saya ya bik ." ucap Diki semakin khawatir takut terjadi sesuatu sama kedua putranya.
" baik den " ucap bik Jum dan Diki pun langsung mematikan sambungan telponnya dan melihat ke arah kakaknya yang terlihat sama sepetinya tadi karna telponnya belum juga di angkat oleh Kiara
__ADS_1
Dengan perlahan Diki menghampiri kakaknya dan duduk di samping Diki.
"Gak usah di telpon lagi kak, paling kak Kiara gak bawa handphone karna sedang anter Dian ke sekolahan Fazal." ucap Diki tanpa melihat kakaknya
"Dari mana kamu tau?" tanya Dika dan berhenti melakukan panggilan ke no Kiara.
"Baru saja aku telpon ke no rumah karna Dian tidak menjawab telpon ku dan bik Jum bilang kalo Dian dan mba Kiara pergi ke sekolah Fazal karna tadi dapat telpon dari sekolahnya kalo mereka berantem." ucap Diki.
"Apa ..? bener bener buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.." ucap Dika tertawa sambil memasukkan handphone kembali ke sakunya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...