
Setelah berkutat di dapur mini itu, kini Dian tengah menghidangkan masakan sederhana yang ia buat khas masakan rumahan yang sering ia buat untuk sarapan bersama ibu dan adiknya.
"Tuan sarapannya sudah siap." ucap Dian memberitahu Diki yang lagi memainkan laptop di ruang tamu.
"Baik lah."jawab Diki dan langsung menutup laptopnya setelah itu ia melenggang ke meja makan.
Dian pun mengikuti Diki dari belakang karna ia akan menyiapkan makanan untuk tuannya itu.
"Segini cukup tuan?" tanya Dian saat dia mengambilkan nasi di piring untuk Diki.
"Cukup" jawab Diki singkat.
Dian pun ngisi piring Diki dengan lauk yang buat yaitu, tumis kangkung, ayam dan tempe goreng serta sambal terasi dan setelah itu menaruh piring yang sudah lengkap itu di depan Diki.
"Tanpa pikir panjang Diki langsung menyikat makanan itu sampe habis, dan ia sangat menikmati masakan yang di buat Dian karna begitu pas di lidahnya, bahkan sangat mirip rasanya dengan masakan Kiara yang selalu jadi makanan favoritnya.
Dian yang melihat Diki makan dengan lahap pun tersenyum manis karna masakannya di terima oleh majikannya, Dian berharap jika tuannya suka dengan pelayanannya kedepan.
__ADS_1
"Kenpa kamu gak makan?" tanya Diki.
"Saya sudah makan tadi di rumah sama ibu dan adik saya tuan." jawab Dian ramah.
"Mulai sekarang, jangan panggil saya tuan, panggil saya mas.!" ucap Diki.
"Tapi tuan saya meras tidak pantas memanggil anda mas, Jan tuan majikan saya." jawab Dian tidak enak memanggil Diki dengan sebutan mas.
"Ini perintah, dan saya tidak suka di bantah." ucap Diki dingin dan langsung membuat Dian menganggukkan kepalanya karna takut melihat mata Diki yang sudah menusuknya.
"Baik tuan,." jawab Dian pasrah.
Dan disini lah mereka di sebuah mall di ibu kota yang cukup dekat dari apartemen Diki, Dian tak tau kenapa tuannya mengajak dia jalan jalan sedangkan di apartemen dia punya pekerjaan yang harus ia selesaikan sebagai pembantu yang harus memastikan apartemen Diki selalu bersih dan wangi.
Diki dengan langkah pelan namun pasti mengandeng tangan Dian menyusuri lantai demi lantai di mall tersebut padahal ia tak tau mau kemana yang pasti ia hanya ingin berjalan berdua bersama seperti ini.
"Mas kita mau kemana?" tanya Dian yang sudah mulai lelah karna sedari tadi Diki hanya diam dan menggandeng tangan Dian tanpa di lepaskan.
__ADS_1
"Kamu mau beli apa?" tanya Diki balik tanya karna ia pun bingung mau beli apa di sini.
"Saya tidak beli apa apa mas,." jawab Dian bingung karna Diki justru bertanya padanya.
"Kita makan yuk, bentar lagi makan siang." ucap Diki dan langsung membawa Dian menuju salah satu restoran favoritnya di mall tersebut.
Saat baru saja akanasuk ke dalam restoran favorit Diki tak sengaja Dian menabrak anak Kevin karna kakinya yang tak seimbang mengikuti langkah Diki yang panjang.
"Maaf dek kamu gak papa?" tanya Dian sambil membangunkan anak kecil itu yang jatuh akibat jatuh tertabraknya.
"atu tidak papa anteh..."jawab maka kecil itu dan langsung saja Dian menggendongnya.
"Ibu kamu mana dek, kok sendirian saja disini?" tanya Dian lagi dan merapikan anak rambut yang berantakan di wajah anak kecil itu.
"Atu tidak tau anteh, tadi mama nyulih atu untuk unggu cini." jawab anak kecil itu sambil melihat wajah Dian dengan mata bulatnya yang berkedip bagai boneka itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung....