
Baru saja Dian akan bertanya pintu ruangan UGD terbuka dan tampaklah dokter perempuan yang menangani Citra tadi memanggil keluarga pasien
dengan terpaksa Diki maju meski hatinya tak ingin namun karna rasa kasihan terhadap Citra mau tak mau Diki tanggung jawab.
"Bagaimana ke adaannya dok?" tanya Diki
"Kondisinya saat ini sudah setabil meski beberapa saat yang lalu sempat drop. oh ya apa kah anda ayah dari adik kecil itu?: tanya dokter yang bernama Sindi itu.
"Bukan dok, saya tadi menemukannya di jalan di kerumuni warga namun tak ada yang berani membawanya ke rumah sakit karna anak kecil itu korban tabrak lari dik." ucap Diki menjelaskan karna tak ingin dokter itu salah sangka padanya.
"Oh begitu. Kasih sekali nasibnya kemungkinan adik kecil itu akan mengalami amnesia bagian kepalanya terbentur cukup keras dan hampir tadi nyawanya tak selamat jika anda telat membawanya kesini." ucap dokter itu seketika membuat Diki kaget begitu juga Dian yang langsung menutup mulutnya karna kaget.
"Apa dok, amnesia?" tanya Diki memastikan pendengarannya.
"Iya, namun saya masih belum pasti akan permanen atau hanya sementara, tapi saran saya, jika nanti dia bangun tolong jangan mengungkit tentang kecelakaan, cukup jawab saja pertanyaannya, oh ya apa anda sudah menghubungi orang tuanya?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"Saya tidak tau di mana saat ini ibunya berada, tapi saya akan coba cari." jawab Diki mantap. dan setelah itu dokter pun pergi di susul bangker berisi tubuh Citra keluar dari ruangan itu menuju ruangan perawatan yang sudah di pilih Diki.
"Tom, Lo cari Clarisa di mall XX bilang anaknya berada di rumah sakit, dia kalo gak salah jadi ob disana." ucap Diki pada Tomi dan seketika Tomi pergi menjalankan tugas dari bosnya itu.
"Mas jadi yang kecelakaan itu Citra anak. dari mantan mas?" tanya Dian.
"Iya, aku hanya menolong saja, tidak lebih, jangan berpikir yang tidak tidak karna hati ini sudah kamu tempati sepenuhnya jangan kamu ragukan aku." ucap Diki dan menarik Dian dalam pelukannya.
"Bener cuma aku yang ada disini?" tanya Dian menunjuk dada Diki yang tepat berada di hadapannya.
Dengan senyum manis Dian membalas pelukan Diki dengan erat karna hatinya yang tadi terbakar cemburu kini kembali adem karna mendengar ucapan Diki yang membuat hatinya sejuk kembali.
"Kita ke kamar Citra yuk, kasihan Dian nanti sadar gak ada yang jagain." ucap Diki dan jawab anggukan oleh Dian dalam pelukan Diki.
Dengan perlahan Diki melepaskan pelukannya dan tak lupa mengecup pucuk kepala Dian dengan sayang yang seketika membuat wajahnya merah dan langsung menggandeng tangan Dian menuju ruang perawatan Citra.
__ADS_1
Benar dugaan Diki karna tepat Diki membuka pintu ruangan itu, ternyata Citra sudah bangun dan langsung memanggil Dian dengan sebutan mama sambil merentangkan tangannya minta di peluk.
Dian pun langsung berjalan mendekati Citra dan memeluk tubuh anak kecil itu dengan sayang.
Setelah beberapa saat akhirnya giliran Diki yang di panggil oleh Cita dengan sebutan papa.
Meski ragu tapi Diki tetap maju berjalan menuju Dian dan citra dan setelah itu Diki memeluk keduanya dengan perasaan yang sulit di gambarkan karna Diki merasa terharu saat ada anak kecil yang memanggilnya papa untuk pertama kalinya seumur hidupnya.
.
.
Bersambung...
Maaf ya kalo ceritanya gak nyambung, tolong di mengerti ya karna ini murni karangan othor saja ya, jika ada yang salah tolong di maklumi saja...
__ADS_1