
Iris mata Feng Ying berubah menjadi merah. Tatapannya juga berubah, tidak seperti tadi. "Akan kubantu kau untuk satu kali ini saja."
Ia langsung melompat ke belakang untuk menghindari cakar harimau lainnya. Setelah itu, ia langsung menghilang dengan sangat cepat dan muncul kembali tepat di depan harimau yang kini sudah berubah menjadi mayat dengan kepala yang sudah terpisah.
"Cih, cepatlah bertambah kuat." Gumam Feng Ying. Iris matanya kini kembali berwarna biru dan dirinya langsung berlutut di tanah dengan nafas tersengga sengga.
"Hah.. Hah.. Tadi itu apa? J-Jian.. Kau membantuku?" Ucap Feng Ying.
"..."
Tidak ada jawaban sama sekali dari orang yang dipanggil namanya oleh Feng Ying. Iapun akhirnya hanya menghela nafas. Kepalanya terasa agak pusing setelah dirinya kembali mengambil alih diri. Padahal hanya sebentar, tubuhnya dikendalikan oleh Jian.
Feng Ying menatap mayat harimau di depannya dan merasa takjub. Karna ketika berada di dalam ruang jiwa, ia melihat sendiri bagaimana cepatnya Jian menghabisinya. Ia jadi ingin bisa sehebat Jian. "Apa aku bisa sepertinya?" Gumam Feng Ying.
Krruyuuukk
Feng Ying memegangi perutnya karna lapar. Punggungnya saat ini sudah tidak sakit lagi. Jian pernah mengatakan padanya bahwa dirinya memiliki darah special yang membuatnya memiliki regenerasi cepat. Jadi Feng Ying tak aneh bila rasa sakit di tubuhnya tiba tiba hilang dengan cepat.
"Bagaimana caraku memakannya?" Gumam Feng Ying. Ia pun melihat sekitar dan tidak ada sumber air sama sekali untuknya bisa membersihkan mayat harimau. Namun dari jarak yang tak terlalu jauh darinya, ia dapat mendengar suara air yang jatuh dari ketinggian. Mendengar itu, membuat Feng Ying semangat dan langsung menyeret tubuh besar harimau.
"Aku bawa sebagian saja."
Feng Ying langsung menghentikan aktivitasnya yang menyeret mayat harimau. Kini, ia menghadap pada mayat itu dan mengambil belati yang baru saja disimpannya di pinggang. Lebih baik menguranginya, agar bisa membawanya. Lagi pula, ia tidak mungkin menghabiskan satu daging harimau sekaligus. Itulah yang Feng Ying pikirkan. Untuk apa dirinya membawa satu mayat utuh dari harimau ini, bila ujung ujungnya, ia takkan memakan semuanya?
***
Sudah 5 hari Feng Ying terus bertahan di hutan ini. Dirinya bahkan hampir menyerah untuk berharap agar ayahnya segera datang dan mengatakan bahwa pelatihan sudah selesai. Harapannya seakan sirna saat ini. Apakah ayahnya melupakannya? Atau memang karna pelatihan ketiga ini yang belum selesai, sehingga ayahnya tidak menemuinya?
__ADS_1
Feng Ying sendiri kini tak lagi memikirkan itu. Ia hanya ingin bisa terus bertahan hidup di hutan menyeramkan ini. Semenjak dirinya berada di sini, maka tak ada kata 'aman' untuknya. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, harus digunakan untuk bertarung melawan hewan hewan buas yang datang padanya. Lalu siang? Ia juga seperti itu. Kebanyakan, Feng Ying menghabiskan waktu di tempat ini dengan bertarung, walupun tanpa bisa bela diri. Ia hanya secara asal saja melawan mereka semua.
Setiap hari, Feng Ying harus mendapatkan luka. Itupun bukan hanya luka luka ringan, terkadang dirinya akan mendapat luka yang cukup parah. Namun lukanya akan selalu sembuh dengan cukup cepat. Sehingga membuat Feng Ying masih bisa bertahan sampai saat ini.
5 hari kemudian, Feng Ying yang baru saja bertarung dengan seekor demonic beast dan memenangkan pertarungan, nampak terengah engah di bawah sebuah pohon. Keringat bercucuran di keningnya dan nampak menahan sakit.
"Ying'er.."
Mendengar suara itu, Feng Ying tidak langsung menyahut. Dirinya masih fokus dengan diri sendiri. Seluruh organ dalamnya terasa sangat sakit, membuat Feng Ying tidak mempedulikan apapun lagi.
Seorang pria menghampiri Feng Ying dan memberikan satu buah pil, "Telanlah itu. Maka kau akan sembuh."
Feng Ying membuka mulutnya dan langsung menelan pil itu begitu saja.
Setelah belasan menit, Feng Ying merasa lebih baik. Nafasnya pun kini mulai teratur. Sungguh, tadi itu sangat menyakitkan baginya. Setelah melawan demonic beast ular, ia berada di kondisi seperti ini.
Feng Ying masih mengatur nafasnya. Ia menatap pada Zhang Jiangwu. Ayahnya itu kini begitu 'kejam' padanya. Apa dia tidak khawatir sama sekali, melihat kondisinya seperti ini?! Bahkan ayahnya meninggalkannya di hutan ini begitu saja!
"A-ayah.."
"Pelatihan ketiga sudah selesai hari ini. Kau hebat karna bisa bertahan hidup di hutan ini sendirian, tanpa kemampuan bertarung. Tapi sebenarnya hewan dan demonic beast yang selama ini kau lawan, belumlah apa apa. Bila aku tak membuat pelindung untuk tempat yang ada di sekitarmu ini, maka demonic beast yang lebih kuat akan menghampirimu dan kau akan mati bila melawan mereka. Jadi, jangan terlalu senang dengan pencapaianmu yang belum seberapa ini." Ucap Zhang Jiangwu dengan dingin.
Feng Ying yang sudah merasa lebih baik, kini mulai berdiri dan menatap ayahnya. Zhang Jiangwu sendiri sudah siap bila Feng Ying melakukan protesan atau apapun itu. Namun, ucapan yang keluar dari mulut anaknya membuat Zhang Jiangwu terdiam.
"Apa lagi yang harus kulakukan setelah ini, ayah?" Ucap Feng Ying serius.
Zhang Jiangwu berpikir sejenak, "Latihan berikutnya adalah latihan fisik. Bila sudah, maka aku akan mengajarimu hal lainnya."
__ADS_1
***
Dimulai hari itu, Feng Ying terus berlatih fisik seperti mengangkat batu ataupun berlari dan hal lainnya. Semua pelatihan yang dirinya lakukan terlihat tak masuk akal untuk dilakukan anak seumurannya. Bisa dikatakan, pelatihan itu terlihat seperti penyiksaan bagi anak kecil. Karna semua pelatihan itu berat untuk dilakukan anak seumurannya. Bahkan untuk anak yang beberapa tahun lebih tua darinya.
Setelah berlatih fisik selama 1 tahun, Feng Ying diajarkan hal lainnya oleh ayahnya. Lalu saat umurnya menginjak 8 tahun, Feng Ying dilatih pribadi oleh kakeknya. Walau begitu, ayahnya juga tetap melatihnya.
Semakin lama, sifat Feng Ying pun berubah. Ia yang awalnya naif, penyayang pada keluarga, lemah dan lainnya, hilang seiring berjalannya waktu. Perubahan sifatnya bukan hanya karna semua pelatihan yang selama ini dilakukannya ataupun sifat ayahnya. Namun juga karna seseorang yang juga berkonstribusi pada perkembangan Feng Ying. Membuat Feng Ying menjadi manusia tanpa perasaan belas kasihan.
Flashback End~
Kini, Feng Ying sudah berumur 17 tahun dan menjadi seorang pemuda yang tampan. Dengan rambut hitam dan iris mata biru yang indah, serta wajahnya yang ramah, orang lain akan berpikir bila dia adalah pemuda yang baik, yang tak mungkin menjadi seorang penjahat.
Feng Ying saat ini baru saja memasuki sebuah kota yang ramai. "Kenapa di kota ini sangat ramai? Dan kenapa mereka memasang banyak hiasan di sini?" Gumamnya.
Seorang warga yang mendengar gumaman Feng Ying pun bersuara tanpa menatap Feng Ying, "Nanti malam, akan diadakan pesta untuk Sang putri di istana. Jadi, kami semua ikut merayakannya dengan menghias seluruh kota."
"Kenapa kalian repot repot melakukan ini? Putri yang kalian maksud pun tidak tentu akan menghargai kalian." Celetuk Feng Ying.
Warga yang mendengar ucapan Feng Ying pun merasa agak kesal dan langsung mengalihkan tatapannya menatap pemuda itu, "Memangnya kenapa?! Apa kau keberatan?!" Ucapnya.
Feng Ying mengangkat kedua bahu tak peduli, "Tidak juga, aku hanya berkomentar saja. Apa itu tidak boleh?"
Warga itu menggertakkan gigi dan menahan kesal. Walaupun pemuda di depannya sangat tampan, namun menurutnya, pemuda itu sangat menyebalkan. Ia sampai tidak bisa menjawab ucapannya.
Feng Ying, "Kau tidak bisa menjawab ucapanku. Baiklah, tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan, sampai jumpa." Iapun berlalu pergi meninggalkan orang itu.
Hari kini akan malam dan kota pun sudah terlihat akan selesai didekorasi. Feng Ying menatap sekeliling dengan cukup takjub, "Lumayan.. Mereka lumayan pandai menghiasi kota."
__ADS_1
"Jika ada acara seperti ini, biasanya akan banyak penjual makanan. Mungkin mereka akan memberikan potongan harga," Feng Ying tersenyum. Iapun segera mendatangi salah satu penjual yang ada di dekatnya.