
Feng Ying terus berlari hingga akhirnya sampai di depan sebuah lukisan besar. "Kurasa dia tadi pergi ke tempat ini. Tapi tidak ada jalan lain setelah ini." Gumamnya.
Tatapannya pun mengarah pada lukisan di depan, "Apa mungkin.. Di balik lukisan ini ada jalan lain?"
Feng Ying mendekat pada lukisan dan langsung menurunkan lukisan itu. Dilihatnya lubang dengan seukuran orang dewasa di balik lukisan tadi. Di dalam terlihat begitu gelap, sehingga tak bisa diketahui seluas apa tempat itu. Di sekitar Feng Ying juga minim cahaya. Jadi tidak begitu terlihat bagaimana di dalamnya.
Walaupun begitu, Feng Ying tidak peduli. Ia langsung masuk ke dalam tanpa rasa takut. "Mungkin sekarang dia bersama dengan satu orang temannya."
Feng Ying pun akhirnya sampai di ujung tempat dengan cara meraba tembok di sampingnya. Di tempat tujuannya nampak ada cahaya obor. Maka dari itu, Feng Ying tau bila dirinya sudah sampai. "Wah.. Dugaanku benar. Kau bersama dengan temanmu ternyata."
Putri Liu Mei saat ini masih pingsan dengan kedua tangan yang kini terikat tali. Tubuhnya disandarkan tak jauh dari tempat dua orang sekte lembah tengkorak berada.
"Heh, kau sudah sampai ternyata." Ucap tetua musuh dengan sinis. Ia sepertinya sangat percaya diri saat ini. Iapun melirik ke arah orang yang berada di sampingnya. "Patriarch, dia adalah orang yang mengikutiku. Sepertinya Jenderal itu tidak bisa menyelesaikannya dengan benar."
Orang yang dipanggil patriarch menatap Feng Ying dengan datar. "Sepertinya dia memang tidak bertarung dengannya. Mungkin dia ingin memberontak. Tapi itu tidak masalah. Kita tidak membutuhkannya lagi. Karna kita sudah mendapatkan apa yang 'Tuan' inginkan."
"Hm.. Tuan? Apakah sekarang kalian menjadi budak?" Feng Ying menatap dua orang di depannya dengan tatapan mengejek.
"Apa kau bilang?!" Tetua ingin maju dan memberikan pelajaran pada Feng Ying. Namun, Patriarch mencegah. "Aku yang akan melawannya. Kau bangunkan putri dan paksa dia untuk memberikan benda pemutar waktu."
"B-baiklah.." Tetua menatap Feng Ying sekilas dengan kesal. Iapun berjalan ke arah Liu Mei untuk membangunkannya.
"Ternyata kau berani juga berurusan dengan kami." Ucap patriarch. Iapun menghentakkan kakinya ke permukaan tanah.
KRAAKK
"Hah?!" Feng Ying langsung melompat ke belakang beberapa kali kala tanah tajam muncul dari bawah permukaan menuju ke arahnya secara terus menerus.
Tak lama dari itu, muncul puluhan tanah tajam di udara seukuran kepalan tangan dan melesat ke arah Feng Ying secara berkala. "Kau memiliki elemen tanah ya?" Ucap Feng Ying dengan masih terus menghindar.
"Kena kau!"
Feng Ying terkejut kala kakinya menginjak sesuatu yang lembut di bawah kakinya. Bahkan kakinya mulai masuk ke dalam. "Ap–"
Belum sempat Feng Ying menyelesaikan kalimatnya, tanah tajam yang berada di udara melesat ke arahnya dengan cepat.
__ADS_1
SSTABB
Tanah tajam langsung menancap di dada. Sudut bibir Feng Ying mengeluarkan darah, begitupun luka yang ada di dadanya.
"Heh, lemah! Hanya itu kemampuanmu?!" Ucap patriarch dengan nada cemooh.
"Tentu saja tidak. Kau kalah!"
Sudut bibir patriarch mengeluarkan darah. Matanya membulat terkejut. Iapun melihat ke arah dadanya dan melihat tangan yang menusuknya dari belakang. "Ap– bagai.. Mana.. Bisa?"
Feng Ying menusukkan tangannya ke dada patriarch dari belakang. Ia menyeringai. Kuku di tangan yang ia gunakan untuk menusuk tubuh patriarch nampak sangat tajam dan panjang. "Dari awal kau sudah terjebak olehku." Iris matanya kini berwarna merah. Sebenarnya ia sudah menggunakan ilusi sejak pertama kali bertemu dengan patriarch. Ia juga bahkan sudah menggunakan ilusinya pada tetua yang sedang membangunkan putri sejak bertemu di tempat tersembunyi ini.
Patriarch melirik ke belakang dengan kesulitan. Dilihatnya Feng Ying dengan iris mata merah milik pemuda itu. Ia terkejut, "K-kau.."
"Apa yang ingin kau katakan.. Patriarch? Apa kau terkejut karna mengetahui siapa aku?" Feng Ying menyeringai.
"Sialan!" patriarch memuntahkan seteguk darah setelah mengatakan itu.
Feng Ying menarik tangannya dari tubuh patriarch secara perlahan dan membuat patriarch merasa begitu kesakitan. Jelas sekali bila Feng Ying ingin menyiksanya secara perlahan dengan tindakannya ini.
"Aarrggghhh!!" patriarch meraung kesakitan. Namun, tetua tidak mendengar itu sama sekali. Karna Feng Ying sudah mengendalikan apa saja yang dapat didengar oleh tetua itu.
"Ugh.. Aargghh! Si-sialan!"
Feng Ying pun kembali mengeluarkan tangannya perlahan dan ketika tangannya sudah di luar, terlihat bila tangannya mencengkram jantung milik patriarch.
Setelah Feng Ying mengeluarkan tangannya, tubuh patriarch terjatuh ke depan dan tergeletak di permukaan tanah tanpa nyawa.
"Hah.." Feng Ying menghembuskn nafas panjang. Ia meremas jantung di tangannya dan menghancurkannya. "Sekarang tinggal pria itu."
Feng Ying melemparkan jantung yang sudah diremasnya ke tanah dan iapun langsung berjalan ke arah tetua.
Tanpa basa basi lagi, Feng Ying melakukan hal yang sama pada tetua. Ia menancapkan tangannya yang berkuku panjang ke dada tetua dan menarik jantungnya perlahan.
"Aarrgghh!!"
__ADS_1
Tetua terkejut. Ia mengerang kesakitan karna perbuatan Feng Ying. Ia menjatuhkan Liu Mei yang ada digendongannya.
Tak lama, tubuh tetua ambruk ke belakang setelah Feng Ying menarik jantungnya dan mencengkram lehernya hingga tulang lehernya patah. Kepala tetua dilempar oleh Feng Ying dengan sembarangan.
Tubuh Feng Ying ternodai oleh darahnya sendiri dan juga darah dari musuh. Iris matanya kembali berubah warna menjadi biru. Kukunya juga kini kembali normal. "Walaupun aku sudah menelan pil itu, tapi tetap saja.. Aku tidak merasa lebih baik saat ini. Karna racun itu kembali menyebar." Gumamnya. Feng Ying memegangi kepalanya yang terasa pusing. Sudah sejak tadi ia menahan rasa pusing dan rasa sakitnya, hanya untuk menggagalkan rencana musuh.
Feng Ying berlutut di depan Liu Mei yang terlihat menutup mata. Nafasnya kembali tidak beraturan dan jantungnya berdetak lebih cepat. Kakinya terasa lemas untuk berjalan.
"Y-Ying..."
Feng Ying melirik ke arah suara. Melihat seorang pemuda yang berjalan ke arahnya dengan khawatir. Pandangannya agak buram. Tapi ia tahu siapa pemuda itu.
"Aku tidak bisa terus mengendalikan sebagian tubuhmu lagi. Kau akan merasa lebih kesakitan bila itu terjadi. Lebih baik sekarang kau istirahat dan menyembuhkan diri."
Feng Ying bisa mendengar suara Jian di kepalanya. Bersamaan dengan itu, rasa pusing dan semua rasa sakit di tubuhnya terasa berkali kali lipat.
"Ying..!!"
Wang Chen menahan tubuh Feng Ying dari belakang agar pemuda itu tidak jatuh. Mata Feng Ying mulai menutup setelah tubuhnya ditahan Wang Chen. "Ying.. Ying.. Ying..!"
Wang Chen menepuk nepuk pipi Feng Ying untuk membangunkan pemuda itu. Namun nihil, pemuda itu tidak juga bangun. Wajahnya juga terlihat pucat. Begitupun bibirnya.
Wang Chen memandang seluruh tubuh Feng Ying yang banyak ternoda darah. Iapun menjadi lebih khawatir. "Ying,.. bertahanlah!"
***
1 bulan kemudian...
Seorang pemuda yang selama ini tertidur mulai membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah langit langit ruangan. "Aku.. Dimana?" gumamnya. Ia tak lain adalah Feng Ying. Selama 1 bulan ini, dirinya pingsan dan tak mengetahui apapun yang sudah terjadi padanya ketika pingsan.
Feng Ying mulai menggerakkan tangan kanannya. Iapun menyadari bila seseorang memegangi tangannya. "Huh?"
Kepala Wang Chen berada di atas tempat tidur. Tangannya memegangi satu tangan Feng Ying. Iapun langsung terbangun kala merasakan adanya gerakan dari tangan Feng Ying. Ia membuka mata perlahan dan mengangkat kepalanya dari atas tempat tidur. Wang Chen menggosok tangannya dan menguap. "Hoams.."
"Kau.." Ucap Feng Ying dengan posisi yang masih terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Mendengar suara yang dikenalnya, Wang Chen terkejut. Ia menurunkan tangannya dan melihat Feng Ying. "Y-Ying.." Matanya berkaca kaca.
Tanpa kata kata lagi, Wang Chen langsung memeluk Feng Ying dan terisak. "Ying.. Akhirnya kau sadar.. Hiks.."