
Dalam pencarian Wang Chen dan Feng Ying selama seharian, mereka menemukan sebuah gua dengan batu besar yang menutupinya. "Aku merasa ada sesuatu di dalam sini, Ying. Bagaimana bila kita masuk ke dalam?" Ucap Wang Chen. Ia menempelkan telapak tangan pada batu yang menutupi gua. Ia merasa seperti ada sebuah kekuatan yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam gua.
Feng Ying menaikkan sebelah alisnya, "Sesuatu apa yang kau maksud?"
"Entahlah.. Tapi kita harus mencoba masuk ke dalam dan melihat apa isi di dalamnya." Ucap Wang Chen. Ia melirik Feng Ying.
Feng Ying berpikir sejenak. Namun akhirnya, ia mengangguk. Agak aneh juga bila sebuah gua ditutupi oleh batu besar, padahal tidak ada permukaan tanah yang lebih tinggi dari gua ini di sekitarnya. "Kalau begitu, kau singkirkan gua ini sekarang. Ini perintah."
Wang Chen mengangguk. Ia pun mulai mengepalkan tangannya dengan kuat dan memfokuskan Qi pada kepalan tangan. Ia langsung memukul batu dengan keras.
Krraaakkk Kraakk Braakk
Batu mulai retak dan pecah berkeping keping setelah menerima pukulan dari Wang Chen. Ia mulai masuk terlebih dahulu. "Ayo Ying!"
Feng Ying mengangguk. Ia mengikuti Wang Chen dari belakang.
Semakin masuk ke dalam, gua semakin gelap. Sehingga, Feng Ying dan Wang Chen harus berpegangan pada dinding gua.
"Eh? Apa ini?" Gumam Wang Chen. Ia merasakan sesuatu yang empuk sudah ia sentuh di dinding gua. Iapun berhenti berjalan dan mengambilnya. Terasa agak licin dan bersisik..
"Benda apa i–"
Sssttttt
Mendengar suara desisan, membuat Wang Chen terkejut. "Aakhh!" Dengan refleks, ia melemparkan ular yang baru saja ia pegang ke belakang dan hal ini membuat ular mengenai tubuh Feng Ying dan kini berada di atas kepalanya.
"Hm? Ada apa? Kenapa kau berteriak? Apa ada sesuatu di depan sana?" Ucap Feng Ying dengan heran. Ia masih belum menyadari bila ular kini sudah berada di atas kepalanya.
"A-ah.. T-tidak.. Tadi aku hanya tak sengaja memegang ular." Ucap Wang Chen dengan jantung yang masih berdegup kencang karna terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Ia tidak menyadari bila ular yang dilemparnya kini berada pada Feng Ying.
"Lalu sekarang dimana ular itu?" Feng Ying mencoba melihat ke sekitar untuk menemukan ular yang dikatakan Wang Chen. Walaupun apa yang ia lakukan sia sia. Karna tempat ini sangat gelap dan dirinya kini tak bisa melihat karna gelap.
Wang Chen berkata dengan agak santai, "Tenang saja.. Aku sudah membuang ular itu ke belakang tadi. Jadi tak perlu cemas."
"Kalau begi–"
Ssstttt
Feng Ying mendengar suara desisan ular yang sangat dekat dengannya. Iapun meraba kepalanya dan merasakan sesuatu yang empuk. "Apa ini? Panjang.. Empuk seperti daging.. Suara itu berasal dari atas kepalaku.. Apa jangan jangan.." Feng Ying membulatkan mata kala menyadari sesuatu. Ia langsung mengambilnya dan suara desisan semakin terdengar. "Aaahh!! Ular! Kenapa bisa ada ular di atas kepalaku?!" Feng Ying melemparnya dan membuat ular itu mengenai wajah Wang Chen.
"Aarkh! Apa ini?! Kenapa kau melemparkannya padaku?!" Wang Chen mengambil tubuh ular yang mengenai wajahnya dan kembali melemparkan ular pada Feng Ying.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah memberikannya lagi padaku?!" Feng Ying menghempaskan ular yang ada di telapak tangannya ke tanah. Iapun menginjaknya dengan kuat. Hingga membuat tubuh ular terpisah menjadi dua bagian. Darah menyiprat ke dinding dan bau amis darah tercium dari bangkai ular.
Feng Ying terengah engah. Ia terkejut sekaligus agak takut. Ia memang sangat tidak menyukai ular, ia sangat membencinya. Lebih tepatnya, ia agak takut dengan hewan itu.
Deru nafas Feng Ying dapat didengar Wang Chen di tempat yang sunyi ini. "Hei, ada apa? Kau seperti sudah berlari selama berhari hari tanpa istirahat saja." Celetuknya.
Feng Ying menatap ke arah suara Wang Chen yang ia dengar. Ia menjadi kesal karna pemuda itu, dirinya harus menemukan hewan yang sedikit dia takuti ini. Ia pun langsung memukul kepala Wang Chen. Ia bisa mengetahui keberadaan Wang Chen dari sumber suara berasal. "Kenapa kau malah memberikan ular itu padaku tadi, hah?!"
__ADS_1
Wang Chen mengelus kepalanya, "Ugh.. Memangnya kenapa? Aku juga tadi tidak sengaja. Kenapa malah memukulku?! Lalu kenapa reaksimu sampai seperti ini?"
Feng Ying mendengus. Mana mungkin ia akan memberitahu pemuda itu bahwa ia takut ular?
"Tidak ada, aku hanya membenci ular!" Ucap Feng Ying.
"Hm.. Benarkah?" Wang Chen tidak mempercayai sepenuhnya ucapan Feng Ying tadi.
"Iya! Tidak perlu dibahas lagi, sebaiknya kita–"
Feng Ying menghentikan ucapannya dan mengerutkan kening. Seperti ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya. Ia pun mulai meraba raba. Benda ini agak licin dan empuk. "Aaahkk! Ular!" ia langsung melemparkan ular yang ada di atas kepalanya tadi pada Wang Chen.
"Akh?! Apa ini?! Kenapa kau melemparkan ular lagi padaku?!" Wang Chen membanting ular yang agak besar itu ke dinding gua dengan keras.
Braakk
Ssstttt
Ssstttt
Suara desisan ular semakin banyak dan seperti terdengar berada dimana mana. Gua yang awalnya sangat gelap kini sedikit diterangi cahaya. Feng Ying maupun Wang Chen melihat ke atas langit langit tempat cahaya terlihat.
Ternyata, terdapat batu kristal yang bercahaya di langit langit. Namun, batu kristal terhalangi oleh tubuh tubuh ular di atas langit langit gua. Bukan hanya di seluruh langit langit gua saja yang terdapat banyak ular, tetapi ada juga beberapa ular yang berada di dinding gua.
Feng Ying membulatkan mata kala melihat begitu banyaknya ular yang berada di langit langit. Ternyata gua ini sebenarnya memiliki kristal yang bercahaya, hanya saja semua kristal tertutupi oleh ular. Sehingga gua menjadi gelap. Ular ular mendesis dan beberapa ular bahkan berjatuhan dari atas yang menyebabkan gua menjadi agak terang karna kristal bercahaya yang tidak tertutup lagi.
"Kenapa ada banyak ular di tempat ini?!" wajah Feng Ying memucat. "Kita harus segera pergi dari tempat ini!" ia berlari ke depan lebih dahulu, meninggalkan Wang Chen.
Beberapa ular terkadang berada di atas permukaan tanah. Maka dari itu, mereka harus berhati hati berlari di tempat ini. Ular ular seperti sedang marah. Mungkin karna tadi Feng Ying membunuh satu teman mereka.
"Kau urus masalah ular ular di tempat ini dan bekukan mereka. Buatkan jalan untukku pergi ke dalam!" Ucap Feng Ying dengan agak panik.
Wang Chen mengangguk. Ia mulai berlari mendahului Feng Ying. Ia pun menggunakan kekuatannya untuk membekukan ular ular yang menghalangi jalan di permukaan tanah.
Seekor ular yang baru saja turun dari atas gua, mendesis ke arah Feng Ying dan menghalangi jalannya.
"Pergi kau!" Feng Ying menginjak ular dengan keras dan membuat tubuh ular terbagi menjadi dua. Darah menyiprat pada permukaan tanah dimana ular itu mati.
Ssstttt
Ssstttt
Ular ular yang ada di tempat ini semakin marah ketika melihat Feng Ying membunuh teman mereka. Seekor ular yang ada baru saja turun dan tak jauh berada di belakang Feng Ying, langsung mematuk kaki pemuda itu.
"Ahsstt.." Feng Ying meringis pelan kala merasakan sesuatu mengenai kakinya tadi. Namun ia tak mempedulikan lebih jauh tentang itu dan terus berlari mengikuti Wang Chen dari belakang.
***
Setelah puluhan menit berlari, keduanya berhenti berlari. Mereka sudah sampai di ujung gua. Tepatnya di luar gua.
__ADS_1
Feng Ying mengatur nafasnya sejenak. Begitupun Wang Chen. Seharusnya mereka takkan selelah ini, bila saja keduanya tidak membawa rasa panik saat berlari tadi. Mereka belum menyadari bila tempatnya saat ini bukanlah sebuah gua.
Mereka saat ini seperti berada di dalam lubang yang besar. Namun terdapat air terjun yang mengalir dengan tenang dari ketinggian. Terdapat juga danau yang berada di bawah air terjun. Di sekitarnya tertanam pohon pohon dengan daun berwarna oren. Air terjun tersinari matahari sore dan membuatnya nampak indah.
"Kurasa.. Hah.. Tidak ada lagi ular di tempat ini, Ying.. Hah.." Ucap Wang Chen yang nafasnya mulai stabil. Ia berdiri dengan tegak dan melihat ke depan. Wang Chen terkejut, "Y-Ying.. Ying.. Lihatlah ke depan!"
"A-apa ada ular lagi di depan sana?" Ucap Feng Ying dengan suara yang agak bergetar. Ia masih memegang kedua lututnya dan tak mau melihat ke depan, sebelum dirinya tahu apa yang ada di depan sana.
Wang Chen menghadap Feng Ying. Ia memandang Feng Ying heran, "Memangnya kenapa kalau ada ular?"
Feng Ying menggelengkan kepala, "Tidak ada! Aku hanya bertanya saja!"
Mendengar nada suara Feng Ying yang tidak seperti ketika mengatakan sesuatu dengan percaya diri, membuat Wang Chen tersenyum senyum sendiri. Iapun berkata dengan menggoda, "Hehe.. Ying.. Kau takut dengan ular?"
Feng Ying menegakkan tubuhnya dan menatap Wang Chen dengan ekspresi kesal, "Mana mungkin aku takut dengan ular?! Aku tidak takut dengan apapun!"
Wang Chen semakin melebarkan senyumnya, "Kau yakin?"
"Iya!" Jawab Feng Ying kesal.
Wang Chen membulatkan mata seolah terkejut. Ia menunjuk atas kepala Feng Ying, "Di atas kepalamu ada ular, Ying!"
Feng Ying ikut terkejut. Ia dengan refleks mengambil ular yang dikatakan Wang Chen dan langsung melemparkannya pada pemuda itu. "Ahkk! Itu untukmu saja!"
Benar saja apa yang dikatakan Wang Chen. Di atas kepala Feng Ying memang ada ular yang agak kecil. Ular yang dilemparkan Feng Ying mendarat di atas kepala Wang Chen.
"Akhh! Kau melemparnya lagi padaku?!" Wang Chen dengan cepat membanting tubuh ular ke permukaan tanah.
Ssstttt
Bukannya menyerang kembali, ular itu malah langsung pergi kembali masuk ke dalam gua. Seakan ia tidak mau berada di tempat ini lebih lama.
"Hahaha, kau takut ular! Jangan mengelak lagi, Ying!" Ucap Wang Chen sambil tertawa.
Feng Ying memasang ekspresi sebal, "Aku tidak takut ular! Aku hanya membencinya!"
"Jangan mengelak.. Buktinya adalah reaksimu tadi. Hahaha.. Kau sangat lucu saat berekspresi seperti itu, membuatku ingin tertawa!" Ucap Wang Chen yang masih terus tertawa.
Feng Ying yang kesal langsung menendang perut Wang Chen dan membuat pemuda itu terjatuh, "Sialan! Kau mengejekku!" Ia mendekat pada Wang Chen dan langsung mengangkat kerah depan Wang Chen. "Bagian mana lagi yang kau ingin kupukul, hah?!"
Wang Chen tertawa canggung melihat Feng Ying yang sepertinya marah. "T-tidak.. Ampuni aku.. Jangan pukul aku~"
Feng Ying mendengus kesal. "Kalau begitu, berhentilah mengejekku!"
"Hehe, baik.. Baik.." Wang Chen mengangkat kedua tangan ke atas, seakan menyerah.
Feng Ying membuang muka. Iapun melepaskan cengkramannya pada Wang Chen.
Wang Chen masih tertawa canggung, "Hehe.." Iapun teringat sesuatu. Ia menatap ke depan, "Ying! Lihatlah ke sana! Di sana ada danau!" Ia menunjuk danau berada.
__ADS_1
Namun, tak ada jawaban sama sekali dari Feng Ying. Wang Chen pun melihat ke arah Feng Ying yang seharusnya berdiri di sampingnya dan terkejut melihat Feng Ying yang malah pingsan. "Eh?! Ying!"
Wang Chen berlutut di samping Feng Ying. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Feng Ying. Namun, tidak ada respon. "Ying? Kau kenapa?! Apa kau terlalu ketakutan hingga pingsan sekarang?! Ying?!"