
Mata Wang Feng yang terpejam mulai membuka. Bersamaan dengan lambang yang bercahaya di tubuhnya meredup. Pandangannya menangkap gambar salah satu orang yang ia khawatirkan.
Nyawn!
Feng Ying langsung membalikkan tubuhnya sehingga menghadap ke arah Wang Feng. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik sekarang. "Kau sudah bangun?"
Luka maupun darah di tubuh Wang Feng sudah menghilang saat ini. Setelah dirinya menggunakan energi kehidupan untuk menyembuhkan diri. Ia yang baru saja sembuh langsung berlari ke arah Feng Ying dan melompat ke arah bocah itu.
Hap!
Feng Ying menangkap tubuh mungil Wang Feng. Harimau bulan itu langsung mengeluskan kepalanya pada tangan Feng Ying.
Nyawn?
"Astaga.. Kau ini seperti tak mengetahuiku saja! Tidak mungkin aku terluka parah!" ucap Feng Ying sambil tersenyum bangga. Ia mengelus kepala harimau bulan itu. Bulu dari Wang Feng terasa lembut dan membuat Feng Ying ingin terus mengelusnya.
Nyawn?
"Dia baik baik saja. Sekarang pasti dia berada di suatu tempat di istana ini" ucap Feng Ying. "Sekarang sebaiknya kita pergi menemuinya. Aku malas terus di sini dan melihat banyak orang aliran putih yang mencurigaiku sebagai seorang jahat. Padahal aku ini sangat baik dan bukan orang jahat. Tapi mereka menuduhku sebagai orang jahat? Hah.. Menyebalkan! Kau setuju denganku, 'kan?"
Nyawn~
Wang Feng mengangguk angguk dengan memasang ekspresi senang.
Feng Ying berjalan pergi sambil terus membawa Wang Feng yang kini sudah berada di atas kepalanya.
***
Di ruangan lain, Wang Chen terbaring di atas tempat tidur. Matanya terpejam. Ia sudah meminum pil dari seorang tetua sekte aliran putih yang datang ke istana ini tadi. Ia juga disuruh untuk beristirahat.
Wang Chen menolak dan ingin menemui ketiga pamannya yang dibawa ke ruangan berbeda. Tetapi, tetua itu memaksa. Akhirnya, Wang Chen hanya menurut saja.
Ia sebenarnya juga ingin mengecek kondisi Wang Feng. Namun, keadaan tak memungkinkan. Dirinya saja tak bisa berdiri dengan benar. Bagaimana dia bisa mencari harimau bulan itu?
Sementara Wang Chen istirahat, tetua yang memberinya pil penyembuh itu merawat luka luka yang ada di tubuh Wang Chen. Tetua itu juga membalut luka yang ada di perut Wang Chen dengan perban. Sehingga saat ini bocah itu nampak telanjang dada dengan perban di perutnya.
__ADS_1
Tetua itu sebenarnya takjub karna walaupun perut Wang Chen terluka, namun bocah itu masih bisa sadarkan diri. Padahal lukanya cukup parah.
Setelah mengobati luka luka Wang Chen, tetua itu langsung pergi keluar dari dalam kamar. Sehingga di dalam hanya ada Wang Chen. Kamar nampak masih utuh dan tidak rusak. Karna memang, beberapa kamar di istana masih dalam keadaan baik. Sebab, hanya beberapa tempat saja yang menjadi tempat bertarung.
***
"Aku tak menyangka.. Ini sudah 5 tahun berlalu" ucap seorang murid. Di hadapannya ada Tang Shen. Selain mereka berdua, beberapa murid dari satu sekte menengah juga nampak di sana. Semua orang aliran putih yang datang ke istana, memang hanya berasal dari satu sekte yang lokasinya paling dekat dengan istana.
Ketika pintu didekat mereka terbuka, terlihatlah seorang tetua sekte keluar. Ia kembali menutup pintu. Semua murid yang ada di sana memberikan hormat pada tetua itu. Begitupun Tang Shen yang walaupun dirinya bukan berasal dari murid sekte yang sama. Tetapi kesopanan juga tentunya harus ia terapkan.
Kemudian, semua murid mengangkat kembali kepalanya dan berdiri tegak. Ketika tetua itu menggumam dengan suara yang dapat mereka dengar jelas.
Tetua melirik Tang Shen, "Bukannya aku sudah memintamu untuk istirahat? Kau juga terluka."
Tang Shen tadi di bawa ke ruangan yang berbeda dengan Wang Chen. Ia diberikan pil dan dioleskan salep pada semua luka cambuknya. Pakaiannya juga sudah ia ganti dengan pakaian yang ia miliki di cincin ruangnya. Seharusnya ia istirahat sekarang. Namun, ia ingin mengecek keadaan Wang Chen.
Beberapa murid di sana adalah orang yang diperintahkan untuk menjaga Tang Shen. Mereka awalnya pun mencegah Tang Shen keluar dan menyuruhnya istirahat. Namun, Tang Shen keras kepala dan tetap ingin keluar. Jadi, mereka pun mengikuti pemuda itu.
Tang Shen menjawab dengan sopan. Namun nadanya tetap datar, "Maaf.. Tapi saya ingin menjenguk junior Chen."
"Dia sedang istirahat. Sebaiknya kau juga begitu" ucap tetua itu.
Tetua itu menghela nafas dan menyerah dengan sifat keras kepala Tang Shen. Iapun berkata, "Kalau begitu, jangan menyalahkanku bila sesuatu terjadi padamu. Aku sudah mengatakan agar kau istirahat."
Tang Shen mengangguk pelan. Iapun meminta izin untuk pergi mencari seseorang. Tetua menyetujuinya. Namun, ia juga memerintahkan beberapa murid di sana untuk pergi bersama Tang Shen untuk berjaga jaga bila pemuda itu tiba tiba pingsan atau lainnya.
***
Langkah Feng Ying dihentikan oleh beberapa murid yang berasal dari sekte aliran putih. "Ada apa?" ucap Feng Ying dengan malas. Orang orang aliran putih yang ada di istana ini selalu saja mencurigainya. Sehingga, ia menjadi kesal karna itu. Apa ia terlihat seperti penjahat cilik? Sehingga semua mencurigainya?
"Siapa kau?! Kenapa bisa ada di sini?!" ucap salah satu murid sambil menatap Feng Ying dengan tajam.
Feng Ying menatap murid itu dengan malas, "Kenapa aku harus memberitu kalian siapa diriku?", ia menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum mengejek.
Murid yang bertanya pada Feng Ying nampak mengepalkan tangan kesal, "Kau harus memberitau siapa dirimu. Bila tidak, maka kami akan menganggapmu sebagai musuh!"
__ADS_1
Feng Ying memutar bola mata kesal, "Memangnya aku terlihat seperti penjahat cilik yang menyamar, memata matai kalian dan akan menyerang kalian secara diam diam?!"
"Junior Ying?"
Mendengar sebuah suara, membuat murid aliran putih itu berbalik dan melihat seorang pemuda yang berjalan bersama beberapa teman mereka. Mereka tau bila pemuda itu adalah Tang Shen.
Feng Ying melihat ke arah belakang para murid itu. Iapun melihat seorang pemuda yang dikenalnya, "Senior Shen.. Akhirnya kau datang juga. Aku sudah muak dengan mereka yang selalu saja mencurigaiku. Itu menyebalkan!" protesnya.
"Maaf senior.. Dia temanku. Dia bukan musuh" ucap Tang Shen sambil menunduk hormat. Iapun kembali berdiri tegak sambil menatap ketiga orang senior di depannya dengan ekspresi datar.
"Sebaiknya kau mengajari dia agar bisa bersikap lebih sopan pada senior. Perbaiki sifatnya" ucap salah satu senior sambil melirik Feng Ying.
Tang Shen mengangguk, "Tentu senior."
"Hei! Apa yang kau katakan?! Perbaiki?! Memangnya aku ini rusak?! Sifatku memang sudah seperti ini!" protes Feng Ying ketika mendengar ucapan senior tadi.
Tang Shen berjalan ke arah Feng Ying dan menarik tangannya. Iapun menatap tiga senior tadi, "Terimakasih karna tidak melukainya senior. Maaf atas sikapnya yang tak sopan."
Tiga senior mengangguk. Mereka pun hanya menatap kepergian Tang Shen yang menarik Feng Ying. Bersama dengan kepergian teman teman mereka yang tadi ikut dengan Tang Shen.
Feng Ying melirik ke belakang. Tangannya masih ditarik paksa oleh Tang Shen, "Jika ingin berkomentar tentang sifat seseorang, perbaiki terlebih dahulu sifat kalian! Kalian menyebalkan! Menuduhku dengan yang tidak tidak!" ucapnya kesal. Iapun kembali menatap ke arah depan.
Tiga senior tadi saling bertatapan dan menggelengkan kepala. Menurut mereka, sifat Feng Ying memang sangat tak sopan saat berbicara di depan orang yang lebih senior darinya. Dipikiran mereka, hanya ada dua kata untuk Feng Ying, 'harus diperbaiki.'
***
Tang Shen menarik Feng Ying dengan lebih cepat. Ia bahkan memperkuat cengkraman tangannya. Bukan dirinya yang mengatakan itu, namun malah dirinya yang merasa malu dengan sifat tidak sopan Feng Ying.
"H- hei, pelan pelan" ucap Feng Ying.
Wang Feng hanya diam di atas kepala Feng Ying. Ia memang tak mengenal Tang Shen. Namun, bila melihat bagaimana Feng Ying berinteraksi dengan pemuda itu, sepertinya Tang Shen bukanlah musuh.
"Kau memalukan dan tidak sopan" ucap Tang Shen.
"Apanya yang memalukan? Aku hanya bicara apa adanya. Mereka memang harus memperbaiki sifat. Mereka tak boleh menuduh sembarangan orang. Bahkan mereka sampai menuduh anak baik ini yang tak bersalah sama sekali" ucap Feng Ying dengan suara yang terdengar menceritakan kisah sedih hidupnya.
__ADS_1
Tang Shen tak mengatakan apapun. Sementara, Feng Ying kembali bersuara, "Kau akan membawaku ke mana? Juga, di mana Chen?"
"Aku akan membawamu ke tempatnya, junior Ying" ucap Tang Shen.