
Feng Ying terus membawa Wang Chen menjauh dari area perpustakaan. Hingga ia berhenti di koridor sepi dan agak gelap. "Aku tidak tau tempat tempat di sini. Jadi kita harus ke mana Chen?" ucap Feng Ying.
Wang Chen menggigit bibirnya dan nampak berfikir, "Aku memang mengetahui letak letak tempat di istana. Tapi aku tidak tau apakah di tempat yang akan kutunjukkan padamu nanti akan terdapat banyak musuh atau tidak."
"Baiklah, aku akan bertanya saja. Tempat dengan pintu besar berwarna putih dan corak bunga mawar berwarna emas. Ruangan apa itu?" ucap Feng Ying.
Wang Chen menjadi bingung ketika Feng Ying tiba tiba saja bertanya seperti itu, "Itu adalah kamar tamu. Memangnya ada apa?"
Feng Ying tak menjawab. Karna dirinya tengah berfikir, "Barang barang yang ada di ruangan itu pasti sudah dikeluarkan. Kini kemungkinan tempat itu kosong tanpa barang. Lalu mereka menggunakan tempat itu untuk melakukan jurus yang dapat membuat penduduk patuh pada mereka."
"Kalau begitu, antarkan aku ke tempat itu. Karna aku tidak tau ke mana arah yang tepat untuk ke tempat itu dari sini" ucap Feng Ying.
"Kenapa harus ke kamar tamu?" ucap Wang Chen heran.
"Karna di sana ada sebagian musuh utama kita. Sudah, jangan banyak bertanya lagi. Kau tunjukkan tempatnya."
"Baiklah."
***
Feng Ying dan Wang Chen pergi menuju kamar tamu dengan sembunyi sembunyi. Ketika mereka hampir ketahuan, mereka akan bersembunyi dan Wang Chen menggunakan kalungnya untuk menyembunyikan hawa keberadaan mereka.
Ketika sampai di depan pintu, tak ada orang yang menjaga sama sekali. Saat Feng Ying pergi ke arah sini saat tadi pun dia memang tak melihat ada satupun penjaga.
Ini memang aneh. Namun bagi Feng Ying, ini tidak aneh sama sekali. Lagi pula, orang orang aliran hitam sudah membuat seluruh penduduk patuh pada mereka. Lalu untuk apa mereka mencemaskan adanya penyusup? Orang orang luar yang masuk ke wilayah kekaisaran ini saja ikut menjadi patuh kepada orang orang aliran hitam di istana ini.
Wang Chen mencoba membuka pintu itu. Namun, pintu terasa sangat berat. Padahal seharusnya tak seberat ini. Feng Ying menatap Wang Chen datar, "Astaga.. Apa membuka pintu saja kau tak bisa?"
Wang Chen berhenti mendorong pintu. Ia menatap Feng Ying, "Pintu ini sangat berat. Seharusnya tak seberat ini. Bahkan setelah aku memakai Qi, tetap tak bisa. Kalau begitu sekarang kau yang mencobanya, dan buktikan bila kau lebih kuat dariku. "
"Kurasa kau jadi lebih sombong. Dari siapa kau belajar bersikap seperti ini?"
"Darimu," Wang Chen menunjuk Feng Ying.
Feng Ying berkedip, "Sejak kapan aku bersikap sombong? Kurasa aku tak pernah sombong pada siapapun" ucap Feng Ying dengan polos.
Wang Chen memutar bola mata malas, "Lupakan. Sekarang coba kau yang membuka pintu ini."
__ADS_1
"Baiklah," Feng Ying meletakkan kedua telapak tangan di pintu. "Aku tak perlu menggunakan Qi. Pintu ini terlihat lebih ringan dari gerbang yang sering kudorong untuk masuk ke dalam rumah."
Boomm
Pintu yang besar itu langsung terbuka dengan keras. Bahkan pintu pun menghantam tembok di belakangnya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut ketika pintu tiba tiba saja terdorong dengan keras. Padahal mereka tak merasakan hawa keberadaan siapapun tadi.
Sementara Wang Chen tidak berkedip ketika melihat bahwa Feng Ying membuka pintu dengan sangat mudahnya, seolah tak ada hambatan apapun pada Feng Ying. Berat pintu juga seakan tak menjadi masalah bagi Feng Ying. "Apa aku salah lihat? Tadi aku tak bisa membukanya. Tapi Ying.. Dia membuka pintu dengan mudahnya?"
Feng Ying berjalan masuk dan meninggalkan Wang Chen yang masih tercengang dengan tindakannya tadi. Ia tak mempedulikan itu dan kini dirinya sudah berada di jarak beberapa meter dari salah satu musuh utama, selain Kaisar baru.
Di ruangan itu terdapat 5 orang yang mengelilingi 4 orang ditengah. 4 orang itu nampak diikat dan pingsan. Bukan hanya mereka, namun ada juga beberapa orang yang merupakan murid inti ataupun senior menjaga ruangan.
Semua murid inti dan senior menatap ke arah Feng Ying. "Heh, apa yang kau lakukan di sini?! Siapa kau?!" ucap salah satu murid inti.
Semua penjaga langsung mengeluarkan senjata masing masing. Sementara 5 orang yang membentuk lingkaran tetap fokus dengan sesuatu.
"Hm.. Sepertinya aku pernah melihat tanda di lantai itu" gumam Feng Ying. Ia menatap 5 lingkaran berwarna biru yang ada di lantai 5 orang yang membentuk lingkaran. Di lantai 4 orang yang pingsan juga ada. Namun berwarna merah. Tubuh mereka juga nampak kurus kering dan pucat.
"Aku ingat," Feng Ying menjentrikkan jarinya ketika ingat salah satu buku yang ia baca. Di buku itu, ia melihat pola lingkaran lingkaran seperti ini. Sebuah jurus yang berdampak pada wilayah luas. Jurus ini dapat membuat orang orang dengan jarak yang sudah ditentukan akan pingsan. Sementara, tubuh mereka yang bergerak dikendalikan oleh jurus itu sendiri, bukan si pembuat jurus. Orang orang itu seakan dirasuki roh lain, sementara roh sendiri tertidur.
Jurus ini tak bisa dihentikan begitu saja oleh yang melakukannya. Karna akan mengakibatkan semua orang yang dikendalikan mengamuk dan menghancurkan sekitarnya. Bahkan orang yang melakukan jurus ini tak bisa menghentikannya. Jika seperti itu, maka akan terjadi pertumpahan darah dimana mana.
Dampak lain dari melakukan jurus ini adalah kehilangan kewarasannya secara perlahan. Karna setiap orang yang menggunakan jurus ini maka mereka akan sering mendapatkan mimpi buruk dan mendapatkan ilusi yang dapat mengganggu mental. Dilihat dari manapun, dampak negatif jurus ini jauh lebih besar.
Yang Feng Ying tau, hanya beberapa orang saja yang memiliki buku jurus seperti ini. Tidak banyak yang memilikinya. "Apa mereka tak memiliki penjelasan dampak tentang jurus ini, sehingga mereka suka rela begitu saja melakukannya?"
Feng Ying menggelengkan kepala, "Ini sudah 5 tahun sejak penyerangan itu. Jadi jurus ini juga sudah dilakukan cukup lama dan tentunya mereka tak mungkin tidak menyadari dampak dari jurus ini. Lalu apa tujuan mereka yang sebenarnya? Hingga mereka rela melakukan semua ini."
Feng Ying menatap ke arah orang orang yang kini sedang melakukan ritual untuk jurus itu. Iapun menatap ke sekitar. Para murid senior dan murid inti sudah siap dengan senjata masing masing.
"Siapa kau?! Jawab!" ucap murid senior dengan marah menatap Feng Ying.
Feng Ying menatap ke arah senior itu. Ia melipat tangan di depan dada dan tersenyum, "Siapa aku? Kalian tak perlu mengetahuinya. Lagi pula, apa untungnya memberitaukan tentangku pada orang yang akan mati?"
"Kau..!! Serang dan bunuh dia!" teriak murid inti. Ia merasa marah ketika mendengar ucapan Feng Ying.
__ADS_1
Tak lama setelah diperintah seperti itu, semua murid mengangguk. Mereka langsung berlari ke arah Feng Ying dan membentuk posisi lingkaran.
"Kau keluar dan pergi menjauh dari tempat ini, Chen" ucap Feng Ying dengan Qi sehingga suaranya dapat didengar Wang Chen yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya.
Feng Ying mengatakan itu bukan karna cemas dengan keselamatan Wang Chen. Namun dia hanya ingin Wang Chen tak mengganggu kesenangannya yang akan ia mulai.
"Tapi.."
"Cepat pergi, serahkan ini padaku! Aku tak suka bila kau membantah ucapanku ini, Chen!"
Dengan ragu ragu, Wang Chen berlari keluar, menjauh dari tempat ini.
Melihat seseorang yang keluar, semua murid berniat mengejar. Namun tiba tiba Feng Ying sudah ada di depan pintu. Ia menutup pintu dan membuat suara cukup keras yang diakibatkan hantaman pintu yang menutup.
"Kalian tidak akan pergi dari tempat ini.. Karna kalian semua akan mati di tanganku," Feng Ying menyeringai kejam. Ia melakukan gerakan tangan dan langsung membuat pelindung kedap suara di ruangan ini.
Para murid langsung mundur beberapa langkah dan menatap Feng Ying dengan waspada. Walaupun hanya seorang bocah, namun mereka tak mau meremehkannya.
Lagi pula, mereka tadi melihat sendiri bahwa gerakan Feng Ying sangat cepat. Dari kepungan mereka, Feng Ying berpindah tempat di depan pintu.
Iris mata Feng Ying berubah merah. Namun bukan itu saja, sebelah matanya yang berwarna putih perlahan berubah menjadi hitam. Ia menyeringai. Niat membunuh terlihat jelas dari tubuhnya dan sorot matanya.
Beberapa murid bahkan merinding ketika merasakan niat membunuh yang besar ini. Namun mereka lebih terkejut dengan iris mata Feng Ying yang berubah menjadi merah. Salah satu mata Feng Ying yang putih juga berubah menjadi hitam.
Kuku Feng Ying memanjang dan menjadi sangat tajam. Ia saat ini tidak terlihat seperti seorang bocah. Namun terlihat seperti binatang buas yang sedang kelaparan menatap mangsa.
Jangan lupa terus dukung author agar author semangat, dengan:
*Like
*Vote
*Favorite
*Komen
*Share
__ADS_1
*Rate πππππ