Feng Ying

Feng Ying
151 -Pengkhianatan Dan Kematian Wang Feng


__ADS_3

Feng Ying melihat sekilas ke tempat pertarungan Wang Chen dan Wang Feng. Dia merasa agak khawatir dengan mereka berdua. Tapi ia harus percaya dengan kemampuan mereka, percaya bila mereka bisa mengalahkan musuh musuh dengan cepat. Dengan suara bising pertarungan ini, beberapa orang kultivator mungkin akan kemari. Maka dari itu, Feng Ying akan menyelesaikan pertarungan dengan cepat.


"Kau lihat kemana? Lawanmu adalah aku!" Ucap pria yang menjadi lawan Feng Ying. Ia melakukan teleportasi dan muncul di atas Feng Ying dengan pedang yang diayunkan, seakan ingin membelah tubuh pemuda itu. Pedangnya nampak terlapisi oleh elemen cahaya.


Feng Ying menatap ke arah atas, karna merasakan adanya bahaya. Ia pun melompat mundur untuk menghindari serangan. Tak lama, pria tadi jatuh ke permukaan tanah.


Boommm


Dedebuan menutupi pandangan, namun itu hanya sebentar. Setelah dedebuan menghilang, Feng Ying dapat melihat bekas sayatan di permukaan tanah yang nampak dalam. Bila saja dirinya tak menghindar tadi, mungkin tubuhnya sudah menjadi dua.


Feng Ying menatap ke sekitar, karna tak melihat adanya pria itu. Ia mencengkram belati dengan kuat. Ia bisa saja menggunakan kekuatannya yang merupakan ilusi ataupun pengendalian darah. Tapi karna lawannya memiliki kemampuan teleportasi yang membuatnya bisa berpindah tempat dalam satu kejapan mata, membuat Feng Ying akan kesulitan melakukan itu. Lawannya sudah tahu bila ia memiliki kemampuan ilusi, sehingga dia terus berpindah pindah dengan cepat, seakan menghindari tatapan mata secara lama dengan Feng Ying.


"Tunjukkan dirimu di hadapanku, dasar bodoh!" Ejek Feng Ying mencoba memancing emosi lawannya, agar pria itu bisa segera muncul di hadapannya.


"Sialan!" Benar saja, lawannya terbawa emosi. Ia muncul di belakang Feng Ying dengan pedang yang terayun kuat dan terlapisis elemen cahaya.


Merasakan adanya bahaya dari belakang, Feng Ying berbalik dan melakukan tendangan hingga serangannya mengenai perut lawan.


Pria yang menjadi lawan Feng Ying terlempar ke belakang setelah mendapatkan serangan. Namun ia tiba tiba menghilang saat masih berada di udara. Ia muncul kembali tepat di hadapan Feng Ying dengan keadaan pedang siap terayun kuat.


Feng Ying menahan serangan menggunakan belati. "Apa kau tidak memiliki teknik bertarung lain? Selalu saja seperti ini." Ejeknya sambil menatap lawan. Namun, lawannya tidak menatap mata Feng Ying sama sekali dan hanya fokus pada serangan yang ia lakukan.


"Hmph! Memangnya apa urusannya denganmu?!" Ucap pria itu. Ia dengan sigap melakukan tendangan yang langsung ditangkis tangan kiri Feng Ying. Setelahnya, ia kembali menghilang dan muncul tepat di belakang Feng Ying sambil melakukan pukulan menggunakan tangan kirinya pada punggung Feng Ying.


Bughh


Feng Ying hampir berlutut di tanah kala mendapatkan serangan cukup keras di punggungnya. Namun, ia segera menstabilkan tubuhnya dan melompat ke depan untuk menjaga jarak dengan lawan yang kini tengah ada di belakangnya.


"Sepertinya kau sudah belajar dari kesalahan." Ucap Feng Ying. "Kesalahanmu saat itu adalah kau menatap mataku dan hal itu membuatmu masuk ke dalam ilusiku. Tapi melihat kau yang tidak juga menatap mataku sejak tadi, maka aku anggap bila kau sudah belajar dari kesalahanmu."


"Heh, aku sudah bilang bila aku tidak seperti yang dulu. Sekarang aku sudah menjadi lebih kuat lagi." Ucap lawan Feng Ying dengan sombong.


Feng Ying tersenyum miring. Namun lawannya tak melihat ini, karna ia tidak ingin menatap wajah Feng Ying saat ini. Bisa saja pemuda itu langsung menggunakan ilusi padanya. "Tapi masih ada kesalahan yang kau perbuat dari pertemuan kita saat itu sampai sekarang."

__ADS_1


Pria yang menjadi lawan Feng Ying mengerutkan kening kala mendengar ucapan Feng Ying. Ia terlihat penasaran, namun juga tetap waspada. Mungkin saja Feng Ying akan menyerangnya tiba tiba.


"Kau masih saja membangga banggakan kemampuanmu, hingga kau menganggap bila kekuatan lawanmu lemah. Dan seharusnya, kau tidak memberikan waktu bagi lawan untuk memikirkan sebuah rencana." Suara Feng Ying kembali terdengar bersamaan dengan lawannya yang terbatuk darah. Iris mata Feng Ying berubah merah saat ini.


"Uhuk.. A-apa yang terjadi?" Gumam pria itu. Ia merasakan ada senjata yang tertancap di punggungnya. Ia pun segera mencabut sebuah pedang yang menusuk punggungnya. "B-bagaimana bisa? Pedang ini.." Ia langsung melirik ke belakang sisi kanannya. Ia melihat pria yang merupakan temannya mengarahkan satu telapak tangan padanya.


"Kau memang tidak menatap mataku sejak pertemuan saat ini, tapi temanmu itu.." Feng Ying menunjuk pria yang merupakan teman lawannya. "Aku sudah memberinya ilusi semenjak kita bertemu di sini dan aku baru saja mengaktifkan ilusi pada penglihatannya, sehingga dia sekarang mengira bila kau adalah musuhnya." Ucap Feng Ying dengan enteng.


Lawan Feng Ying nampak terbelalak mendengarnya.


Benar saja apa yang dikatakan Feng Ying. Temannya kini mulai menyerangnya dengan gaya tarikan dan dorongan. Tapi karna dirinya memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dan memiliki gerakan secepat cahaya, maka ia bisa menghindari serangan serangan yang dilakukan temannya sendiri padanya. "Berhentilah menyerangku! Kenapa kau malah terus menyerangku?!" Ucapnya dengan kesal. Ia terus menghindar sambil menahan sakit karna luka di punggungnya.


Ucapannya tidak digubris sama sekali oleh temannya.


Feng Ying tersenyum. Ia pun menatap ke arah wanita yang dilawan Wang Chen dengan datar. "Padahal aku juga memberinya ilusi. Tapi seakan ia tak mampu terjerat dalam ilusiku. Apa dia memiliki kultivasi yang tinggi atau dia memiliki semacam kemampuan atau jurus yang bisa menangkal ilusiku?" batinnya.


Feng Ying pun melihat ke arah dimana Wang Feng berada. Harimau bulan itu nampak sedang terluka saat ini. Ketika Feng Ying akan menghampiri Wang Feng, ia mendengar suara debaman keras dari arah tempat dimana Wang Chen berada. Ia melihat ke arah tempat dimana Wang Chen sedang bertarung dengan lawan wanita itu.


Melihat bila wanita itu ada di jarak beberapa meter dari dedebuan, membuat Feng Ying yakin bila yang menyebabkan suara debaman tadi adalah Wang Chen. Ia pun segera berlari ke arah Wang Chen untuk mengetahui kondisinya.


Melihat hal ini, Feng Ying segera berjongkok di samping Wang Chen dan membantu pemuda itu untuk duduk. "Kau baik baik saja?" Tanya Feng Ying dengan suara dan ekspresi datar, seolah tidak merasa khawatir. Padahal tatapannya mengatakan hal lain.


"Uhuk.." Wang Chen mengangguk pelan. agar Feng Ying tidak cemas.


"Sebaiknya kau istirahat saja. Biarkan aku saja yang menyelesaikan ini." Ucap Feng Ying.


Wang Chen memegang tangan Feng Ying ketika pemuda itu hendak berdiri. Ia menggelengkan kepala, "Aku bisa melakukannya."


"Kau sudah terluka cukup parah. Biarkan dirimu istirahat. Aku yang akan menyelesaikan pertarungan ini." Ucap Feng Ying dengan tatapan tegas.


Wang Chen melepaskan cengkraman tangannya dari Feng Ying ketika melihat tatapan pemuda itu. Ia pun hanya mengangguk dan membiarkan Feng Ying melakukan apa yang diinginkannya.


Feng Ying mulai berdiri. Wang Chen juga ikut berdiri. Posisi Feng Ying kini ada di hadapan Wang Chen. Ia menatap wanita yang berjarak beberapa meter darinya dengan tajam.

__ADS_1


"Oh, kau ingin melindunginya?" Ucap wanita itu dengan datar. Ia mencengkram pedangnya dengan kuat dan seolah bersiap untuk bertarung dengan Feng Ying.


Feng Ying tidak menjawab. Tapi ia juga bersiap untuk menyerang dan detik berikutnya, ia dan wanita itu hilang dengan sangat cepat.


Kini mulai terlihat kilatan kilatan cahaya yang berasal dari pertarungan Feng Ying dan wanita yang menjadi lawannya. Mereka terus membenturkan senjata masing masing. Beberapa kali terdengar debaman debaman, entah itu karna serangan nyasar atau hantaman tubuh mereka ke tanah.


Karna sekarang Feng Ying fokus pada wanita yang ia lawan, maka ilusi yang ia buat pada pria berkemampuan menarik dan menghempaskan benda saat ini sudah menghilang. Bahkan ia dan temannya kini tidak saling menyerang lagi satu sama lainnya. Karna Feng Ying sedang tak fokus pada pria itu, maka ilusi yang ia buat padanya memudar dan hilang.


Sudah beberapa menit Feng Ying bertarung melawan wanita berambut biru tua itu. Walaupun sudah terhempas dan terluka berkali kali, namun wanita itu tak juga berhenti. Ia seakan tak merasakan rasa sakit. Saat Feng Ying mencoba menggunakan ilusi padanya pun, ia tak bisa melakukan itu. Lalu setiap Feng Ying ingin mengendalikan darah yang ada pada luka wanita itu, ia tak bisa melakukannya. Hal ini membuat Feng Ying heran dan waspada. Ia tidak tahu siapa wanita ini. Kenapa wanita ini bisa menangkal ilusi dan bahkan kemampuannya dalam mengendalikan darah tak mampu ia lakukan pada wanita ini.


"Sebenarmya siapa kau?" Feng Ying berhenti menyerang dan berdiri di hadapan Wang Chen untuk melindungi pemuda itu dari wanita yang menjadi lawannya.


Wanita itu hanya tersenyum tipis. Namun ia tak menjawab pertanyaan Feng Ying sama sekali.


Feng Ying mengepalkan tangan dengan kesal sambil menatap wanita di hadapannya. "Kau tidak mau menjawabnya? Baiklah, aku akan membuatmu membuka suara dan menjawab pertanyaanku!"


Jlebb


Ketika Feng Ying hendak melesat kembali, tiba tiba ia merasa ada sesuatu yang menancap di belakangnya. Bukan hanya itu, ia juga merasakan rasa sakit. Ia melihat ke bawah, tepatnya ke perutnya.


Feng Ying melihat sebuah pedang menembus tubuhnya dari belakang. Darah menetes melalui pedang dan jatuh ke permukaan tanah. "Uhuk.." Feng Ying memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Ia terkejut melihat adanya pedang yang menembus tubuhnya. Ia melirik ke belakang. "C-Chen.." Gumamnya dengan tak percaya. Wang Chen adalah orang yang sudah menusuknya dari belakang menggunakan pedang. "K-kenapa? Uhuk.."


Wang Chen tersenyum manis, "Sudah cukup sampai di sini saja, Ying." Ia mulai menarik pedangnya dari tubuh Feng Ying dan membuat pemuda itu berlutut di tanah karna kesakitan.


Feng Ying tidak mendongak sama sekali untuk melihat wajah Wang Chen yang kini sudah berdiri di depannya. "Kenapa.. Chen?"


"Aku sudah muak terus mengikutimu. Kukira aku bisa merubahmu menjadi lebih baik, tapi ternyata pikiranku salah. Kau tetap saja tak berubah. Semakin lama, kau semakin merenggut banyak nyawa tak bersalah. Aku tidak suka melihat itu. Kukira, kau pantas mendapat kesempatan untuk berubah. Tetapi kesempatan itu kau sia siakan. Maka dengan ini, tujuanku untuk merubahmu sudah gagal.


Lebih baik aku tak membiarkanmu hidup sejak saat itu, bila aku tahu akhirnya akan seperti ini. Ternyata aku memang tak bisa merubah ramalan itu. Lebih baik kau mati, agar tidak ada lagi korban berjatuhan di tanganmu." Ucap Wang Chen dengan datar.


Feng Ying memegangi perutnya dan berusaha untuk menutup lukanya. Ia menggertakkan gigi ketika mendengar ucapan Wang Chen. "Bodohnya aku karna sudah membiarkanmu ikut denganku. Aku pun seharusnya tak percaya padamu."


Grrraaooo

__ADS_1


Feng Ying sedikit melirik ke samping kala mendengar suara harimau. Nampak bila tubuh Wang Feng saat ini diduduki oleh seorang pria yang pernah ia lawan. Kepala Wang Feng terlepas dari tubuhnya.


Melihat itu, Feng Ying terkejut. Wang Feng telah mati?


__ADS_2