Feng Ying

Feng Ying
137 -Tetap Bersama


__ADS_3

Wang Chen kini duduk di kursi dekat tempat tidur dimana Feng Ying berada. Ia saat ini sedang membersihkan luka luka yang ada di tubuhnya dengan menggunakan sapu tangan. "Sssttt..." Terasa sangat perih. Banyak sekali luka di tubuhnya.


Wang Chen sesekali melihat ke arah Feng Ying untuk melihat apakah pemuda itu sudah bangun ataukah belum. Namun, Feng Ying masih terus menutup matanya. Wang Chen menghela nafas sedih. "Ying.."


Beberapa saat kemudian, Wang Chen sekarang telah membalut luka luka di tubuhnya dengan perban yang ia dapat dari dalam cincin ruangnya. Feng Ying memang tidak melukai bagian vital. Tapi dia membuat banyak luka di tubuh Wang Chen.


Wang Chen tidak membawa Feng Ying ke tempat Jiang Fu berada, karna ia tidak mau Jiang Fu melihat keadaan dirinya dan Feng Ying yang penuh dengan darah. Ia melirik Feng Ying kembali untuk memastikan bila Feng Ying memang benar benar belum bangun. Setelah itu, Wang Chen berdiri. Ia akan mencari kamar lain di tempat ini dan mengganti pakaiannya.


***


Ketika Wang Chen baru saja kembali setelah berganti pakaian, ia terkejut karna Feng Ying tidak ada di atas tempat tidur. "Ying?! Ying, kau dimana?!" Ia langsung berlari mencari ke seluruh ruangan. Namun ia tidak menemukan pemuda itu. Wang Chen pun pergi ke luar, "Ying!"


Feng Ying berdiri di depan rumah dengan berdiri menghadap keluar. Ia memperhatikan keadaaan sekitarnya dan menyadari bila semua ini pasti karna dirinya. Ia berbalik ke belakang kala mendengar suara seseorang. Ia berekspresi dingin.


Wang Chen tertegun melihat raut wajah Feng Ying. Apa Feng Ying masih seperti tadi? Apa pemuda itu belum juga sadar?


"Y-Ying.. Ada apa?" Ucap Wang Chen dengan gugup. Tatapan Feng Ying sangat tajam terhadapnya.


Feng Ying memperhatikan keadaan Wang Chen. Di kedua tangan pemuda itu terlilit perban yang dapat dilihatnya samar samar, karna tertutupi pakaian Wang Chen. "Kau tadi melihat semuanya?" Ucapnya dingin. Ia berjalan mendekat pada Wang Chen.


"Y-ya.. Aku.. Melihatnya.. Aku melihatmu membantai orang orang di tempat ini." Ucap Wang Chen dengan perasaan tegang. Apa yang ingin Feng Ying lakukan setelah ini? Wang Chen mundur satu langkah ke belakang.


Feng Ying, "Kau kenapa? Kenapa kau menjauh? Apa setelah mengetahui kebenarannya, kau ingin membunuhku? Kau membenciku?" Ucapnya dengan senyum sinis. Ia masih berjalan mendekat pada Wang Chen.


Wang Chen tertegun mendengar ucapan Feng Ying. Ketika ia hendak menjawab, lehernya sudah dicengkram oleh Feng Ying. "Ugh.."


"Kau tau, aku tidak akan membiarkan saksi mata tetap hidup setelah mengetahui identitasku. Karna mereka, akan memberitahu yang lain." Ucap Feng Ying dengan dingin.


Wang Chen mencengkram balik kedua tangan Feng Ying yang mencengkram lehernya. Ia merasa kesulitan bernafas, "A-aku tidak.. Akan.. Mengatakannya.. Ying.. A-aku.. Berjanji.." Ucapnya dengan kesulitan.


"Omong kosong! Semua orang pasti akan mengatakan sesuatu agar mereka bisa menyelamatkan nyawanya, termasuk dirimu! Kau mengatakan janji saat ini, tapi dilain waktu, kau pasti akan melanggarnya." Bentak Feng Ying. Ia mengeratkan cengkramannya.


"Ugh.. Ah.. Y-Ying.. A-aku.. Sungguh sungguh.. Aku.. Masih ingin.. Bersama dengan.. Mu.. Ying.." Ucap Wang Chen kesulitan. Keringat terlihat di keningnya. Terasa begitu sesak untuk bernafas.


Feng Ying menatap mata Wang Chen dengan tajam. Terlihat binar kesungguhan yang sangat kuat dari tatapan pemuda itu. Ia melonggarkan cengkraman tangannya dari leher Wang Chen. Ia merasa tidak ingin membunuh pemuda itu. Akhirnya, Feng Ying melepaskan cengkraman tangannya dari Wang Chen.


"Hah.. Hah.. Hah.." Wang Chen mengambil nafas sebanyak banyaknya. Akhirnya ia bisa bernafas dengan lebih leluasa sekarang.


Feng Ying mencengkram dagu Wang Chen dan membuat Wang Chen dipaksa melihat wajahnya. "Aku memang terkadang suka berbohong, tapi aku tidak suka dibohongi oleh orang lain." Cengkramannya semakin kuat, "Bila kau melanggar janjimu, maka aku tidak akan membunuhmu. Tetapi aku akan membuat hidupmu menderita."


Wang Chen menganggukkan kepala dengan cepat. Ia pun berucap, "M-maka dari itu, biarkan aku terus bersama denganmu."


Feng Ying melepaskan cengkramannya dari Wang Chen dengan kasar, "Tentu saja kau akan terus bersama denganku, agar aku bisa mengawasi dirimu."

__ADS_1


Wang Chen memegang lehernya yang terasa agak sakit. Namun ia tidak mengeluhkan itu pada Feng Ying.


"Kenapa kau masih terus ingin bersamaku, padahal kau sudah tau identitasku yang asli? Kenapa kau tidak membunuhku saja saat aku tidak sadarkan diri tadi? Dan kenapa kau tidak takut saat dekat denganku, padahal aku bisa membunuhmu dan menyiksamu saat ini juga." Ucap Feng Ying sambil menatap ke arah lain.


Wang Chen tersenyum tipis, "Karna aku adalah sahabatmu. Bagaimanapun identitasmu, aku akan tetap menerimamu. Aku tidak takut dengan bagaimana kau akan memperlakukanku. Aku hanya takut padamu bila aku kehilangan sosokmu."


Feng Ying tertegun mendengar ucapan Wang Chen. Pemuda itu selalu mengatakan 'sahabat.. Sahabat dan sahabat' apa maksud dari kata itu? Apa arti dari sahabat sebenarnya?


Feng Ying merasakan perasaannya bergejolak aneh. Ia merasa seperti senang atas apa yang diucapkan Wang Chen. Padahal ia tidak pernah merasakan perasaan senang yang berbeda ini sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang menyentuh hatinya dan menggerakkannya, membuat setitik cahaya dalam hatinya.


Wajah Feng Ying tiba tiba merah ketika memikirkan bila dirinya terharu atas ucapan Wang Chen. Bagaimana mungkin ia bisa terharu hanya dengan kata kata dari seorang Wang Chen?!


"Y-Ying? Ada apa?" Ucap Wang Chen dengan ragu.


Feng Ying melirik Wang Chen. "Tidak ada." Ia menggelengkan kepala.


Wang Chen terlihat heran melihat wajah Feng Ying yang merah seperti itu. "Kenapa wajahmu merah? Apa kau sekarang demam setelah kejadian tadi?" Ia bisa melihat jelas wajah Feng Ying yang merah karna ia sudah mengelap bekas darah di wajah pemuda itu tadi. Jadi ia bisa melihatnya dengan jelas.


Feng Ying membuang muka, "Bukan urusanmu!" Ia mendengus kesal.


Wang Chen hanya menatap Feng Ying masih dengan ekspresi bingung. Tapi ia merasa senang melihat Feng Ying seperti ini. Berarti Feng Ying sudah kembali seperti biasa. Pemuda yang selalu marah marah dan terkadang menjadi orang yang begitu menyebalkan.


Feng Ying kembali menatap Wang Chen kala merasa bila wajahnya sudah kembali normal. "Apa yang kau katakan tadi sungguh sungguh?"


Feng Ying mendengus kesal, "Sudahlah, lupakan! Jangan pikirkan apa yang kukatakan tadi."


Wang Chen berfikir sebentar, "Apa maksudmu kata kataku ketika aku mengatakan bila aku sahabatmu?"


"L-lupakan!" Ucap Feng Ying gugup.


Wang Chen tersenyum senyum ketika melihat Feng Ying yang gugup, "Oh~ Ada apa ini? Kenapa kau gugup? Apa yang kukatakan benar? Yang kau tanyakan adalah ketika aku mengatakn bila aku sahabatmu? Hm.. Apa kau bahagia mendengarnya? Atau bahkan kau terharu mendengar kata kataku yang sangat indah tadi?" Ia mencoba menggoda Feng Ying.


Wajah Feng Ying agak merah. Ia membuang muka dan mendengus, "Hmph! Mimpi! Mana mungkin aku terharu dengan kata katamu itu?!"


Wang Chen tertawa. Kini suasana kembali seperti semula lagi. Tidak seperti tadi, yang terasa tegang.


Feng Ying kembali menatap Wang Chen dan menggelembungkan pipi karna kesal, "Jangan tertawa terus seperti itu! Apa yang kau katakan tadi sama sekali tidak benar! Berhenti tertawa!"


"Hahaha, baiklah.. Baiklah.." Wang Chen tersenyum ketika menatap Feng Ying.


***


Byyuurrrr

__ADS_1


"Ah, air ini sangat segar!" Ucap Feng Ying dengan senyuman. Ia dan Wang Chen saat ini berada di dalam hutan dekat kota. Saat perjalanan menuju ke kota saat kejadian pembantaian itu belum terjadi, Feng Ying melihat danau di tempat ini. Jadi dirinya memutuskan untuk pergi kembali menuju tempat ini dan menceburkan diri ke danau saja untuk membersihkan dirinya yang terlihat kotor oleh darah dan debu.


Darah yang ada di pakaian dan tubuh Feng Ying kini mengenai air danau dan membuat air menjadi agak merah. Namun Feng Ying tak mempedulikan itu.


"Kenapa kau tidak masuk ke dalam? Danau ini sangat segar!" Ucap Feng Ying pada Wang Chen yang duduk tak jauh dari danau.


Wang Chen menggelengkan kepala, "Aku sudah membersihkan diri tadi di rumah itu. Jadi aku tidak mau masuk ke danau. Lagi pula, bila lukaku terkena air, akan terasa agak perih."


Feng Ying mengangkat kedua bahu, "Terserah kau saja."


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Feng Ying menghampiri Wang Chen yang masih duduk di dekat danau. "Coba kulihat lukamu." Ia pun duduk di samping Wang Chen. Feng Ying langsung menarik tangan Wang Chen dengan kasar.


"Aahh, sstt... S-sakit.." Wang Chen meringis kesakitan karna tindakan Feng Ying.


"Ah, maaf.." Ucap Feng Ying dengan enteng, seolah ia tidak benar benar tulus mengatakannya. Ia membuka perban yang menutupi satu tangan Wang Chen dan melihat bila tangan Wang Chen banyak terdapat luka. Bahkan darah dari lukanya kembali keluar saat ini dan mengenai perban.


Feng Ying sedikit melirik Wang Chen, "Apa ini sakit?"


"T-tidak.. Tidak terlalu sakit. Lagi pula, kenapa aku harus kesakitan hanya karna luka ini?" Ucap Wang Chen percaya diri. Padahal dalam hati meringis kesakitan.


Feng Ying tersenyum jahil dan hal ini tidak disadari Wang Chen. "Ah begitu.." Feng Ying langsung mencengkram tangan Wang Chen di bagian luka dengan cukup kuat.


"Aakkhh!" Wang Chen terkejut dan sedikit menjerit.


"Kau bilang tidak sakit.. Lalu aku pegang sedikit saja, kau sudah berteriak seperti itu." Feng Ying tersenyum mengejek, lalu melepaskan cengkramannya tadi.


Wang Chen meniupi tangannya yang dicengkram Feng Ying tadi. Darahnya kembali keluar. Bila terus seperti ini, ia bisa bisa kekurangan darah. "Kau menyebalkan! Ini sangat sakit!" Keluhnya.


Feng Ying terkekeh. Ia pun mengeluarkan dua buah pil dari dalam cincin ruang miliknya. "Cepatlah minum ini agar kau bisa cepat sembuh."


"Pil apa ini?" Bingung Wang Chen.


"Yang satu adalah pil penambah darah dan yang satunya lagi untuk menyembuhkan lukamu. Lukamu pasti akan sembuh dalam beberapa hari lagi, mungkin dua?"


"Kenapa kau memberikanku pil?" Wang Chen mengangkat sebelah alisnya.


"Kau terluka. Maka dari itu, aku memberikanmu pil. Lagi pula, kau terluka itu karna diriku." Ucap Feng Ying dengan suara yang semakin rendah.


Wang Chen mengambil dua pil yang disodorkan Feng Ying, "Baiklah.. Aku akan menelannya."


Wang Chen langsung menelan satu persatu pil. Saat pil menyentuh lidahnya, pil itu langsung melebur dan ia pun menelannya. Padahal dulu, bila ia menelan pil penambah darah dan penyembuh luka, pil itu tidak melebur di mulutnya. Pil seperti apa yang diberikan Feng Ying padanya?


"Aku tidak pernah menelan pil seperti yang kau berikan. Pil itu melebur di mulutku dan membuatku bisa dengan mudah menelannya. Kau membelinya dimana?" Bingung Wang Chen.

__ADS_1


"Hehe, tentu saja di suatu tempat. Aku bahkan bisa mendapatkannya secara gratis." Feng Ying tersenyum bangga.


__ADS_2