
"Sesuatu yang sudah hilang, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Termasuk orang ini, Chen." Ucap Feng Ying sambil menatap ilusi Luo Anming.
Wang Chen terkejut ketika Feng Ying memanggil namanya untuk pertama kalinya setelah perkenalan yang kedua ini. Padahal, Feng Ying tak pernah memanggil namanya setelah perkenalan kedua ini. "Y-Ying.." Gumamnya.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Jangan mau terhasut oleh ilusi murahan seperti ini!" Ucap Feng Ying dengan tak acuh.
Wang Chen, "Ilusi?" Ia melirik ke arah Luo Anming yang berdiri di sampingnya.
"Jangan pernah berharap sesuatu yang telah hilang dapat kembali lagi. Begitupun orang seperti dia. Berhentilah berharap bila orang yang sudah mati dapat hidup kembali." Feng Ying menunjuk Luo Anming.
"Tapi, Ying..." Wang Chen ragu untuk berucap.
"Hanya dirimu sendiri yang dapat menghapuskan ilusi yang kau lihat. Kau hanya harus menolak keinginannya dan teruslah melangkah maju ke depan." Ucap Feng Ying.
"Chen'er.. Ayo kita pergi.. Kita akan bersama sama kembali." Ucap Luo Anming dengan lembut. Ia membelai kepala Wang Chen.
Wang Chen menundukkan kepala. Sepertinya ia terlalu berharap bila ayahnya masih hidup. Iapun mengangkat wajahnya dan menepis tangan Luo Anming darinya, "Berhenti meniru wajah ayahku. Itu sangat mengganggu. Sekarang, di dunia ini, tidak ada lagi.. Orang yang hidup bernama Luo Anming!"
Luo Anming termundur beberapa langkah. Ia menatap Wang Chen sendu, "Chen'er.. Apa yang kau katakan? Ini aku, Luo Anming, ayahmu dan aku masih hidup."
Wang Chen yang kesal langsung menarik pedang yang berada di pinggangnya. Iapun dengan agak ragu langsung menusuk tubuh Luo Anming. "Berhentilah menggangguku!"
Tubuh Luo Anming memudar. Iapun menghilang dengan ekspresi sedih yang terpampang di wajahnya. "Chen'er.."
Wang Chen langsung terduduk di tanah. Tubuhnya memang baik baik saja, tapi mentalnya agak goyah.
Sebelah mata Feng Ying yang berwarna merah dengan lambang pentagram berwarna hitam keunguan kini kembali normal berwarna biru. Bersamaan dengan itu, pandangan Wang Chen pada dirinya tidak buram lagi dan kini menjadi jelas. Feng Ying menepuk bahu Wang Chen, "Jangan pernah ragu melangkah ke depan. Tidak perlu kau harapkan lagi seseorang yang sudah mati, karna itu tidak berguna."
Wang Chen menengadahkan kepalanya ke atas, menatap wajah Feng Ying. Tidak ada candaan sama sekali dalam tatapan Feng Ying dan pemuda itu seakan sedang menegaskan kata katanya. Ia mulai berdiri dan menyarungkan kembali pedang miliknya.
Wang Chen baru saja menyadari bila atap atap gua bercahaya karna kristal cahaya. "Sejak kapan gua ini terang? Seingatku, tempat ini sangat gelap tadi."
Feng Ying memutar bola mata dengan malas, "Kau yang tidak menyadarinya. Sejak pertama, gua ini memang terang. Kau terpengaruh oleh cahaya kristal ini yang mana cahayanya akan memperlihatkan ilusi seseorang yang kau sayangi sudah mati. Maka dari itu, jangan berharap bila seseorang yang sudah mati dapat hidup kembali."
Feng Ying berjalan lebih dahulu, "Kuperingatkan, ilusi akan sering muncul di dalam gerbang dunia ini. Kau ingin tetap ikut denganku atau berhenti saja di sini?"
"Tentu saja aku ikut!" Wang Chen menyusul Feng Ying dan berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Bila kau memilih ikut, jangan sampai terpengaruh oleh ilusi rendahan seperti tadi lagi. Bila kau masih terpengaruh oleh ilusi serendah itu, maka aku akan meninggalkanmu." Ucap Feng Ying.
"Baiklah.. Aku.. Akan berusaha." Ucap Wang Chen. Ia menatap wajah Feng Ying secara diam diam, "Tanpa keraguan, tegas, tanpa perasaan maupun belas kasihan. Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi cahaya bagi Ying?"
Feng Ying kini menyadari bila Wang Chen menatapnya. Iapun menatap Wang Chen balik, "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
Wang Chen menggelengkan kepala dan membuang muka, "Siapa yang menatapmu? Aku hanya sedang menatap kristal kristal yang bercahaya itu. Jangan terlalu percaya diri."
Feng Ying mendengus dan tersenyum, "He? Apa begitu? Kau berbohong."
"T-tidak.. Aku tidak berbohong." Wang Chen masih tidak menatap Feng Ying.
Feng Ying menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum jahil. "Ha~ Sepertinya nona cantik ini mulai menyukaiku. Bahkan kau memandangiku tadi. Apa sekarang kau menyadari bila diriku sangat tampan, hingga memikatmu, nona~"
Wang Chen langsung menatap Feng Ying ketika pemuda itu mulai mengatakan hal yang begitu memalukan. Ia merinding geli ketika mendengarnya, "Menjijikan! Berhentilah mengatakan itu! Apa kau tidak memiliki rasa malu, hah?!"
"Ah~ Tentu saja aku memilikinya nona~ Bila tidak, maka aku sudah 'memakanmu'." Feng Ying mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.
Bercandaan Feng Ying sudah kelewatan bagi Wang Chen. Ia memandang dingin Feng Ying. Ia juga bahkan mengeluarkan keinginan membunuh yang ditujukan pada Feng Ying. "Aku benar benar sudah muak! Aku akan membunuhmu!"
***
Sehari kemudian setelah kejadian itu, Feng Ying dan Wang Chen mengakhiri pertarungan mereka di dalam gua. Kini mereka sudah sampai di ujung gua yang sangat panjang.
Terlihat bila ujung gua sangat luas. Terdapat danau cukup besar yang memiliki air jernih. Terlihat juga beberapa tanaman bersinar yang menempel pada dinding gua.
"Danau ini sangat indah." Gumam Wang Chen dengan mata berbinar.
"Ternyata ini danau yang dikatakan pada buku itu. Baiklah, kita masuk ke sana!" Ucap Feng Ying.
"Tidak! Nanti pakaianku akan basah!" Ucap Wang Chen. Ia menggelengkan kepala.
Feng Ying melirik Wang Chen dan tertawa mengejek, "Jadi kau sekarang takut air ya? Kau seperti kucing saja.."
"Aku tidak takut air! Dan aku bukan kucing!" Teriak Wang Chen.
"Kalau kau memang pemberani, maka masuklah ke dalam. Bila kau memang penakut, ya.. Kau diam saja di tempat ini dan jangan ikuti aku. Perjalananmu denganku berhenti di sini." Setelah mengatakan itu, Feng Ying melompat ke dalam danau dan berenang ke dalam.
__ADS_1
"E-eh?! Kenapa seperti itu?! Tidak adil! Ying! Ying!"
Wang Chen memandang danau dengan ragu ragu. Bila dirinya tidak mengikuti Feng Ying masuk ke dalam danau, maka dirinya takkan diperbolehkan ikut dengan Feng Ying lagi. Tapi bila ia memperhatikan tubuhnya yang belum juga kembali normal, membuat Wang Chen bertambah ragu.
Wang Chen berpikir keras. Hingga akhirnya memilih untuk masuk ke danau dan berenang mengikuti Feng Ying.
***
Setelah beberapa waktu masuk ke danau, Feng Ying menemukan bahwa di bawah terlihat seperti ada cahaya. Ia berenang semakin cepat dan akhirnya keluar dari danau.
Di dalam dasar danau ternyata bukan permukaan tanah. Melainkan jalan menuju keluar danau. Di atas Feng Ying terdapat langit yang cerah. Sementara sekitar, terlihat seperti sebuah hutan.
"Sudah kuduga akan seperti ini. Kebanyakan danau yang berada di tempat misteri yang kujelajahi akan seperti ini." Gumam Feng Ying. Ia keluar dari danau dan menatap sekitar.
Pakaian dan tubuh Feng Ying basah oleh air. Pemuda itupun menyadari sesuatu. Ia menatap kedua telapak tangannya, "Tubuhku terasa hangat setelah keluar dari danau itu."
Feng Ying berbalik dan melihat danau. Ia kini dapat merasakan bila air danau memiliki Qi yang tebal. Padahal saat masuk tadi, ia tidak merasakannya. Apa mungkin itu terjadi karna tempat Feng Ying saat ini? Karna, tempatnya saat ini berdiri memiliki Qi yang cukup tebal di sekeliling. Tidak seperti saat di danau dalam gua.
Feng Ying memandangi danau beberapa saat. Seseorang mulai muncul dan naik ke permukaan saat ini untuk keluar danau. "Kau ternyata ikut.." Ucap Feng Ying.
Wang Chen mulai mengubah posisinya menjadi duduk, "Kau yang memaksaku masuk ke dalam danau! Jadi tidak ada pilihan lain!" ia menatap Feng Ying kesal.
Feng Ying terkekeh pelan. Iapun menunjuk Wang Chen, "Tapi karna itu, kau sudah kembali lagi seperti semula."
Wang Chen mengerutkan kening dengan bingung. Ia menatap tubuhnya sendiri dan terkejut karna ternyata tubuhnya kembali normal. Dadanya tidak seperti wanita lagi. Saking terkejut dan senangnya, Wang Chen langsung melompat dan berdiri. Ia berteriak, "Aarrkk akhirnya aku bisa kembali seperti semula!"
"Berterimakasihlah padaku. Bila bukan karna aku memaksamu masuk ke danau, kondisimu masih akan tetap sama." Ucap Feng Ying dengan bangga.
Wang Chen menatap Feng Ying, "Memangnya kau sudah tau, bila aku masuk ke dalam danau ini, maka aku akan kembali seperti semula?"
Feng Ying mengangguk. "Danau ini memiliki aroma yang agak aneh dan mungkin aromanya hampir sama dengan buah apel yang kau makan saat itu. Di dekat danau juga terdapat tanaman tanaman aneh yang kuyakini sebagai tanaman obat. Jadi, air danau pasti bisa mengembalikan tubuhmu seperti semula."
Wang Chen langsung memegang kedua pundak Feng Ying dan menggoyangkannya kencang. "Terimakasih.. Terimakasih.. Terimakasih Ying..!!"
"Iya.. Iya.. Tapi lepaskan aku! Kau membuatku pusing!"
Wang Chen langsung melepaskan tangannya dari Feng Ying. Ia tersenyum lebar dan merasa sangat senang. Tak terbayangkan, seberapa besar rasa senang Wang Chen. Ia seperti mendapatkan jiwanya kembali.
__ADS_1