Feng Ying

Feng Ying
159 -Tamat


__ADS_3

"Ying!"


Feng Ying menghentikan aksinya kala mendengar sebuah seruan yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia menurunkan pedang yang sempat ia angkat ke udara dan hendak ia tebaskan ke leher dua orang di hadapannya.


Tatapannya masih terarah ke bawah. Namun terlihat bila kedua bola matanya terbelalak kaget ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. Bagaimana mungkin? Seharusnya.. dia sudah mati.. Itulah yang Feng Ying pikirkan.


Orang yang memanggil nama Feng Ying adalah Wang Chen. Tapi bagaimana bisa pemuda itu masih hidup setelah semua penyiksaan yang ia lakukan padanya? Bahkan saat itu, Wang Chen ia tinggalkan saat keadaannya sudah sangat sekarat. Lalu sekarang? Apa yang terjadi? Kenapa dia masih hidup? Ia yakin bila Wang Chen sudah mati. Lalu kenapa? Kenapa dia mendengar suaranya sekarang?


Zhang Bingjie dan Zhang Jiangwu pun melirik ke belakang dengan kesulitan. Mereka melihat seorang pemuda dengan rambut berwarna hitam panjang dan iris mata berwarna hitam tengah berlari ke arah mereka.


Feng Ying perlahan mengangkat wajahnya dan menatap orang yang sudah memanggilnya. Tatapannya nampak kosong ketika tahu bila orang yang memanggilnya ternyata memang ada di sini. Kenapa.. ini bisa terjadi?


Ternyata suara tadi bukanlah halusinasinya. Ternyata suara itu benar benar ia dengar. Wujud dari orang itu pun ada. Terlebih, tubuhnya nampak baik baik saja tanpa luka. Bahkan satu tangan yang seharusnya sudah patah, kini tersambung kembali.


"Ying.. akhirnya aku menemukanmu." Ucap Wang Chen yang kini telah berada tepat di belakang Zhang Bingjie dan Zhang Jiangwu.


Secara refleks, Feng Ying langsung melompat mundur untuk menjauh dari Wang Chen. Ia mencengkram pedangnya dan menatap Wang Chen tajam, "Bagaimana mungkin kau masih hidup?! Aku sudah membunuhmu!"


Wang Chen tersenyum, "Itu rahasia. Aku tak mau memberitahukannya padamu."


"S-siapa kau?" Ucap Zhang Jiangwu dengan kesulitan. Ia perlahan berdiri dan menatap Wang Chen.


"Aku? Aku Wang Chen." Ucap Wang Chen.


Ketika mendengar nama itu, Zhang Jiangwu merasa pernah mendengarnya. Ia pernah mendengar nama itu dari anaknya, Feng Chao.


"Kau teman dari cucuku itu?" Zhang Bingjie berucap sebelum Zhang Jiangwu mengatakannya. Ia perlahan bangkit berdiri sambil memandang Wang Chen.


Wang Chen terkejut ketika mendengar ucapan Zhang Bingjie. Apa maksudnya adalah Feng Ying? Apa kedua pria di hadapannya memiliki hubungan dengan Feng Ying?


Wang Chen mengangguk, "Em.. Um.. Apa kalian memiliki hubungan dengan Ying?" Ucapnya hati hati.


"Aku adalah kakeknya. Sementara, dia adalah ayah dari cucuku." Ucap Zhang Bingjie. Ia kembali terbatuk darah dan hal ini membuat Wang Chen memandangnya dengan cemas.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Aku yang akan menghentikan Ying. Aku juga sudah mengatakan pada kakaknya bahwa aku akan membuat Ying kembali sadar." Ucap Wang Chen.


"Apa kau.. sudah tahu bila tubuhnya sekarang dikendalikan oleh.. iblis?" Ucap Zhang Jiangwu.


Wang Chen mengangguk, "Aku sudah tahu semuanya. Aku mohon, agar kalian segera pergi dari sini. Aku tidak mau kalian terluka, apalagi mati karna serangan nyasar." Ucapnya dengan khawatir.


Zhang Jiangwu mendengus ketika mendengar ucapan Wang Chen, "Kau pikir kami akan mati hanya karna.. serangan nyasar?" Ia menatap pemuda di hadapannya dengan tajam dan seolah tak suka mendengar ucapan Wang Chen tadi.


"Sepertinya aku salah bicara." Batin Wang Chen. Ia tersenyum canggung, "Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin kalian menjauh dari tempat ini terlebih dahulu, saya mohon.." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Bagaimana dengan Ying'er?" Ucap Zhang Bingjie.


"Saya yang akan mengurusnya. Kalian tenang saja. Saya akan melakukannya sebisa mungkin. Saya tidak ingin kalian tambah terluka." Ucap Wang Chen dengan sopan.


Zhang Jiangwu menatap Zhang Bingjie, meminta keputusan dari ayahnya. "Baiklah, aku serahkan semuanya padamu." Ucap Zhang Bingjie dengan serius.


Zhang Jiangwu terkejut ketika mendengar ucapan ayahnya, "Ayah–"


"Aku tahu kau sangat khawatir dengan Ying'er. Tapi untuk kali ini, kita serahkan semuanya pada dia." Ucap Zhang Bingjie. Ia pun mengambil sebuah kertas teleportasi dari dalam cincin ruang dan menyobeknya. Bersamaan dengan itu, tubuh Zhang Bingjie mulai menghilang, berubah menjadi butiran butiran cahaya.


Zhang Jiangwu menghela nafas ketika melihat bila ayahnya sudah menghilang, "Bilang saja kalau kau tidak mau mati di tangan cucumu sendiri." Gummnya dengan kesal. Ia pun menatap Wang Chen dengan tajam, "Bila sesuatu yang buruk terjadi pada Ying'er, maka aku akan mencarimu dan membunuhmu."


Zhang Jiangwu melakukan hal yang sama dengan Zhang Bingjie. Setelah kertas teleportasi ia sobek, dirinya mulai menghilang dan berubah menjadi butiran butiran cahaya.


Wang Chen mengangguk ketika Zhang Jiangwu menghilang. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Tempat ini sangat berantakan. Banyak mayat dengan keadaan mengerikan tersebar di setiap titik kota.


"Ternyata kau sudah membuat banyak sekali kekacauan." Ucap Wang Chen yang kini mulai menatap Feng Ying.


Feng Ying mendecakkan lidah dengan kesal kala melihat Wang Chen, "Kenapa kau tidak mati saja, hah?! Sangat mengganggu!"


Wang Chen mengeluarkan pedang kembar bunga phoenix yang tergantung di pinggangnya. Ia pun mengarahkan itu pada Feng Ying, "Akan kusingkirkan kau sekarang juga dari tubuh Ying."


Feng Ying tersenyum sinis melihat kepercaya dirian yang Wang Chen tunjukkan padanya. "Baiklah. Siapa takut? Aku, akan membunuhmu kembali."


Feng Ying dan Wang Chen memperkuat pijakan kaki masing masing. Tak lama dari itu, mereka melesat dengan sangat cepat, mendekat satu sama lain.


Tring Tring..


Benturan pedang mereka terdengar begitu nyaring di telinga. Bahkan gesekan antara pedang mereka membuat percikan api pada pedang. Tidak ada yang mengalah sama sekali. Mereka terus berpindah pindah tempat dengan sangat cepat, bahkan kecepatannya tidak bisa dilihat oleh mata biasa.


"Aku akan menyelamatkan Ying." Batin Wang Chen.

__ADS_1


"Aku akan membunuhnya dan memastikan bila dia takkan bisa hidup kembali." Batin Feng Ying.


Keduanya saling melakukan tendangan dan pukulan dengan sangat kuat, beberapa bangunan yang sudah rusak menjadi target dari serangan nyasar, hingga membuat bangunan benar benar roboh dan berubah menjadi puing puing bangunan.


Keduanya saling memberikan luka goresan satu sama lain. Namun belum ada yang lelah ataupun kesakitan. Pertarungan mereka terus berlanjut sampai sejam lamanya.


Setiap luka yang didapat keduanya bisa sembuh dengan cepat. Feng Ying karna darahnya. Sementara Wang Chen, karna ia dihidupkan kembali oleh benda pemutar waktu, sehingga setiap luka yang ia dapat seakan diputar waktunya kembali saat ketika Wang Chen belum terluka. Namun itu pun membutuhkan beberapa detik untuk sembuh, sama seperti Feng Ying.


Waktu terus berputar dan setelah pertarungan yang mengeluarkan banyak energi itu, kini keduanya mulai kelelahan. Keduanya berdiri di jarak beberapa meter dan saling menatap waspada satu sama lain.


"Aku tak boleh kalah." Batin Wang Chen. Ia mengucapkan nama jurus yang saat itu ia pelajari dari buku yang diberikan gurunya.


Wang Chen pun memutar pedangnya membentuk seperti lingkaran. Bersamaan dengan itu, ratusan pedang terlihat bermunculan di belakang dan di samping Wang Chen. Pedang pedang itu adalah pedang yang terlihat sama dengan pedang yang saat ini Wang Chen pakai.


Wang Chen mengarahkan bagian tajam pedang pada Feng Ying, seakan memerintahkan agar semua pedang itu menyerang ke arah Feng Ying.


Whuuuss


Melihat banyaknya pedang yang mengarah padanya, tidak membuat Feng Ying gentar. Ia memperkuat pijakan kakinya dan pegangan tangannya pada pedang. Bersamaan ketika pedang mendekat padanya, ia langsung menangkis semua pedang dengan begitu cepat, tak peduli dengan bagian tubuhnya yang terkena sayatan pedang.


Wang Chen yang melihat bila Feng Ying saat ini sedang disibukkan oleh serangannya pun langsung melesat cepat ke arah Feng Ying, walau keadaannya masih terasa letih.


Feng Ying diam diam tersenyum sinis. "Kau kira bisa mengalahkanku?" batinnya.


Feng Ying menghilang dan berubah menjadi asap hitam yang terbawa angin. Dirinya tiba tiba muncul di hadapan Wang Chen dengan pedang yang sudah tertancap di perut pemuda itu. Ia tidak terlalu suka menyerang dari belakang seseorang, karna itu terlihat seperti pengecut baginya. Jadi ia menusuk Wang Chen dari depan.


Langkah Wang Chen terhenti ketika pedang menusuk perutnya. Ia terbatuk darah.


"Aku 'lah pemenang–Uhuk.." Feng Ying menghentikan ucapannya dan langsung terbatuk darah.


"Aku berhasil melakukannya." Batin Wang Chen dengan senang. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di bagian perutnya sama sekali. Karna sekarang 'lah saatnya.


Wang Chen memejamkan mata dan terfokus untuk masuk ke dalam alam bawah sadar Feng Ying dengan perantara melalui kedua pedang yang tertancap di tubuhnya dan di tubuh Feng Ying.


***


Wang Chen tiba tiba berada di dalam sebuah tempat yang sangat gelap. Tidak ada cahaya sama sekali di tempat ini. Ia berjalan menelusuri tiap titik dan tiap sudut tempat ini. "Ying!" ia berteriak mencoba memanggil nama Feng Ying. Mungkin bila ia melakukan ini, maka Feng Ying akan menyahutnya.


Wang Chen merasakan perasaan hampa setelah masuk ke tempat ini. Rasanya pun terasa dingin dan kesepian. Sangat tidak nyaman. Wang Chen terus melihat ke sekitar untuk menemukan Feng Ying. "Alam bawah sadar Ying, terasa menyakitkan." Gumamnya dengan sedih.


Senyuman Wang Chen memudar kala telah sampai di depannya. Itu memang Feng Ying. Tapi pemuda itu nampak terluka parah. Darah melumuri pakaian dan tubuhnya. Bahkan saat ini terdapat sebuah pedang yang menancap pada perutnya. Itu bukanlah pedang yang digunakan Wang Chen saat menusuk Feng Ying tadi. Tapi itu adalah pedang yang ia gunakan saat menusuk Feng Ying ketika dirinya terhipnotis.


Wang Chen berdiri tepat di hadapan Feng Ying. Ia merasa sakit ketika melihat kondisi Feng Ying saat ini. Ia mulai memegang pegangan pedang yang tertancap di perut Feng Ying dan mencoba mencabut pedang itu. Namun sekuat apapun ia menariknya, pedang ini tidak mau terlepas. "K-kenapa pedang ini tak mau lepas?" gumamnya.


Saat ini kedua tangan Feng Ying terantai pada tiang kokoh di bagian kiri dan kanannya. Matanya menutup dan wajahnya tertunduk. Bila saja tidak ada dua rantai ini yang mengikatnya, maka tubuhnya pasti akan langsung terjatuh ke bawah.


Wang Chen memegang wajah Feng Ying dan mengangkatnya agar wajah itu menghadap padanya, "Ying.. kumohon bangunlah.. Ying.. apa kau mendengarku?"


"..Jika kau mendengarku, kumohon bangunlah. Buka matamu."


Feng Ying yang asli masih diam dan tidak merespon Wang Chen sama sekali. Wang Chen menggertakkan gigi, menahan sedih. "Maafkan aku, Ying.. Tolong jangan tinggalkan aku. Kumohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu padamu. Itu bukan aku. Aku melakukannya tanpa sadar. Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud untuk berkhianat."


Mata Wang Chen menatap wajah Feng Ying. Tidak ada respon yang ditunjukkan pemuda itu padanya. Pemuda itu sama sekali tak merespon apa yang ia ucapkan. Apa Ying.. benar benar tak bisa diselamatkan?


Wang Chen menggelengkan kepala ketika memikirkan itu. "Wang Feng sudah mati. Aku tak bisa menolongnya. Aku membiarkannya mati begitu saja. Aku tak bisa melindunginya, hingga dia harus mati saat itu.


Kumohon, kau jangan ikut meninggalkanku seperti Wang Feng. Kau adalah sahabatku. Aku tak mau kehilangan sahabatku lagi untuk kedua kalinya. Kau dan Wang Feng adalah orang yang berharga untukku. Wang Feng sudah pergi. Jangan kau juga."


Wang Chen terus menahan air mata yang serasa ingin tumpah. Rasanya begitu menyakitkan. "Kumohon, Ying.. kumohon sadarlah.. kembali.. aku rindu dengan dirimu yang cerewet. Aku rindu dengan dirimu. Tubuhmu memang ada, tetapi jiwanya bukanlah dirimu. Aku rindu dengan jiwamu yang ini. Ying.. bangunlah..


Jika kau marah padaku, kau bisa membentakku, menyiksaku atau bahkan membunuhku. Tapi dengan tubuh dan jiwamu. Bukan jiwa iblis itu. Jika kau memaafkanku, kumohon.. Kumohon kau kembali.. buka matamu.. tatap aku dan katakan bila kau sudah memaafkanku." Ucap Wang Chen dengan tangis yang ia tahan.


"Kau tidak sendiri, aku ada untukmu. Aku takkan membiarkanmu sendirian lagi seperti ini. Jadi kumohon buka matamu dan kita pergi dari tempat ini. Pergi dari tempat yang menyakitkan ini. Jika kau menerima maafku, maka buka matamu. BUKA MATAMU, YING!"


Wang Chen menundukkan wajahnya bersamaan dengan air matanya yang menetes ke pipinya. Ia sedikit terisak. Tangannya perlahan turun dari wajah Feng Ying. Ia seakan menyerah untuk membangunkan Feng Ying.


"Chen.."


Wang Chen mengerjap ketika mendengar suara lemah di hadapannya. Apa ia baru saja berhalusinasi? Apa suara tadi nyata?


Tak lama kemudian, pedang yang menusuk perut Feng Ying menghilang dan berubah menjadi asap hitam, lalu menghilang begitu saja.


Wang Chen mulai mengangkat wajahnya dan menatap wajah pemuda di hadapannya. Nafas Wang Chen tercengkat di tenggorokan. Ia melihat mata Feng Ying membuka dengan tatapan lemah, menatap ke arahnya.


"Hiks.. Ying!" Wang Chen langsung memeluk Feng Ying secara tiba tiba. "Akhirnya kau sadar Ying! Kukira kau takkan kembali lagi, kukira aku akan kehilanganmu untuk kedua kalinya.. Hiks.. Ying.."

__ADS_1


"C-Chen.. terlalu.. kuat.." Ucap suara Feng Ying dengan kesulitan. Ia merasa sesak karna Wang Chen memeluknya begitu erat.


Wang Chen yang mengerti maksud dari Feng Ying langsung melepaskan pelukannya. "M-maaf, aku terlalu senang tadi."


Akhirnya Feng Ying bisa bernafas dengan baik setelah Wang Chen melepaskannya. Ia mengalihkan tatapannya ke arah samping, seolah tak mau melihat Wang Chen.


Wang Chen menyeka air mata yang sempat ia keluarkan tadi. Ia pun menatap Feng Ying khawatir, "Apa kau masih marah padaku, Ying?"


Feng Ying hanya diam dan tetap memalingkan wajahnya dari Wang Chen.


Wang Chen berekspresi cemas. Ia pun langsung menyentuh wajah Feng Ying dan membuat pemuda itu menatapnya, "Apa kau masih marah pada–kau kenapa Ying? K-kau menangis?"


Feng Ying memalingkan wajahnya dari Wang Chen, "Hiks.. Dasar bodoh! Aku mendengar semua ucapanmu tadi! Karna ucapanmu juga 'lah yang membuatku kembali. Karna ucapanmu aku menangis, bodoh! Seharusnya kau tak mengatakan itu!"


Wang Chen mengerjap pelan ketika mendengar ucapan Feng Ying. Ia pun berusaha menahan tawa ketika mendengarnya. "Bhufftt.. Hahaha.."


Mendengar Wang Chen tertawa, membuat Feng Ying langsung menatap pemuda itu, "Jangan menertawakanku!" Ucpnya dengan wajah memerah. Astaga, kenapa ia tadi harus mengatakan itu? Kenapa ia mengucapkannya secara terang terangan?


"Apa kau bercanda dengan ucapanmu tadi?" Lanjut Feng Ying.


Wang Chen menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan Feng Ying, "Eh, tentu saja tidak! Aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan semua itu tulus dari hariku. Aku tidak berbohong." Wang Chen menggelengkan kepala sambil mengangkat tangan setinggi bahu.


Feng Ying memalingkan wajahnya. Ia tersenyum ketika mendengar ucapan Wang Chen. Ia senang ketika mendengarnya. Tapi ia tidak boleh terlihat senang saat Wang Chen mengatakan itu.


"Ekhem.. Ying.. Sekarang kita harus segera pergi dari sini. Kau harus mengambil alih kendali tubuhmu lagi." Ucap Wang Chen.


Feng Ying mulai menatap Wang Chen dan mengangguk.


Wang Chen menyentuh wajah Feng Ying dan menghapus bekas air mata yang ada di pipi Feng Ying. "S-singkirkan tanganmu dari wajahku!" Ucap Feng Ying terbata bata.


"Tanganmu masih diikat. Kau takkan bisa menghapusnya sendiri." Ucap Wang Chen yang masih terus menghapus air mata sahabatnya.


"Ekhem.. Ekhem.. kalian terlihat seperti pasangan yang serasi." Terdengar suara dari arah samping keduanya.


Wang Chen dan Feng Ying melihat ke arah suara.


Seorang anak kecil datang bersama dengan seorang wanita yang nampak berumur 20 tahun. Terdapat api yang melayang di samping mereka dan membuat Wang Chen, serta Feng Ying dapat melihat wajahnya.


"Kalian?!" Wang Chen terkejut ketika melihat Shan Ming dan Shan Ai, yang mana mereka berdua adalah roh pedang kembar bunga phoenix. "Bagaimana kalian bisa ada di sini?" Heran Wang Chen.


"Sebenarnya sejak tadi kami sudah ada di tempat ini. Semenjak Tuan Chen masuk ke dalam alam bawah sadar ini melalui perantara kami. Karna Tuan menggunakan kami sebagai perantara, maka kami juga bisa masuk ke dalam alam bawah sadar ini.


Kami mengikuti Tuan ke tempat ini dengan menggunakan pendengaran kami, karna kami tak bisa melihat keberadaan Tuan. Api Ming'er pun tak bisa menyala saat berada di tempat ini. Tapi setelah Tuan Ying membuka mata, Ming'er bisa menyalakan apinya dan menerangi wajah kami. Beberapa saat setelah Tuan Ying membuka mata, saya menyuruh Ming'er menyalakan api dan ternyata itu berhasil. Tapi Ming'er mengatakan bila kami jangan mengganggu kalian dahulu. Jadi Ming'er mematikan apinya kembali, agar Tuan Chen dan Tuan Ying tidak melihat api itu dan mengetahui keberadaan kami." Jelas Shan Ai.


Shan Ming tertawa. Roh pedang yang terlihat seperti anak perempuan itu nampak ceria saat ini, "Haha, kita juga melihat apa yang kalian lakukan tadi, haha. Kalian terlihat seperti pasangan yang begitu serasi."


Feng Ying menatap Shan Ming dengan marah, "Sialan! Kau ingin kuhajar hah?!"


Shan Ming menjulurkan lidahnya seakan mengejek, "Sini, bila kau bisa!"


Feng Ying menggertakkan gigi dengan kesal.


"Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu lagi. Waktu di dunia nyata akan segera bergerak kembali. Menurut yang kutahu, saat seseorang masuk ke alam bawah sadar orang lain melalui perantara pedang kembar bunga phoenix, maka waktu di dunia nyata akan berhenti beberapa menit. Tapi setelahnya, maka waktu akan kembali berputar. Kita harus cepat keluar dari sini, sebelum waktu di dunia nyata berputar kembali." Ucap Wang Chen dengan serius.


Shan Ming dan Shan Ai mengangguk setuju. "Tuan Ying harus segera mengambil alih kembali tubuhmu." Ucap Shan Ai.


Feng Ying mengangguk paham.


.......


.......


.......


...TAMAT~...


Note Author:


Alhamdulillah, akhirnya novel ini udah tamat. Selama 5 hari bikin episode sebanyak ini, capek😪Maaf waktu 1 minggu lebih kemarin author ga update update. Soalnya idenya udah habis banget. Tadinya author mau hiatus aja ini novel. Tapi setelah ngobrol ngobrol sama kak Rin dan dapet beberapa ide lagi, author mutusin buat lanjut novel ini dan nyelesaiin novel secepetnya.


Makasih kak Rin karna udah bantu💕Makasih juga buat semua yang sabar menunggu updatenya novel ini. Makasih udah baca sampai sejauh ini dan selalu memberikan dukungannya💕Maaf buat kalian yang menunggu novel author yang lama update waktu itu.


Sekian, wasalamualaikum wr.wb.


E-eh.. satu lagi. Mungkin akan ada epilog. Tapi entahlah, author ga tahu. Mikir mikir dulu. Kalau ada epilog, mungkin epilog nya besok.

__ADS_1


Sekian, salam hangat dari AHA. Itu singkatan singkatan nama abjad depan author ya..😁


__ADS_2