Feng Ying

Feng Ying
140 -Dimanfaatkan


__ADS_3

Feng Ying kini telah kembali membakar kota dan mayat mayat yang ada. Namun, Wang Chen mengambil mayat Jiang Fu dan menguburnya di depan gerbang, karna ia tidak mau jasad Jiang Fu dibakar. Feng Ying pun hanya menuruti saja tanpa berdebat. Lagi pula, itu hanyalah mayat, kenapa harus berdebat tentang itu?


Feng Ying, Wang Chen dan Wang Feng pergi meninggalkan kota karna tempat itu kini sudah dibakar. Mereka tentu tidak mau ikut terbakar di tempat seperti ini.


"Hah.. Aku masih tidak menyangka bila Fu'er.." Wang Chen tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia mengatupkan mulut. Dirinya dan Feng Ying saat ini berada di atas punggung Wang Feng yang sedang berlari.


"Dari awal saja aku sudah merasa aneh dengannya. Ternyata apa yang kurasakan memang benar." Ucap Feng Ying. Ia duduk di depan.


"Bagaimana kau bisa mengetahui bila Fu'er bukan manusia, Ying? Bahkan ketika kau mengatakan dia bukan manusia, aku masih belum mengetahuinya. Lalu bagaimana caramu tahu?" Bingung Wang Chen.


Feng Ying tersenyum bangga sambil melirik kepada Wang Chen, "Tentu saja karna aku luar biasa! Aku ini istimewa!"


Wang Chen memutar bola matanya ketika mendengar ucapan Feng Ying, "Huh! Bukan itu yang ingin kudengar darimu."


Feng Ying nampak cemberut ketika mendengar ucapan Wang Chen, "Menyebalkan!"


***


Di suatu tempat, nampak seorang pria menghampiri seseorang di dalam sebuah desa. Tubuhnya terluka saat ini, bahkan tangan kirinya pun terpotong. Bercak darah terlihat pada pakaian dan tubuhnya. "T-tolong... Siapapun.. Tolong aku.."


Para warga desa yang berlalu lalang di jalanan mulai menatap pria itu. Mereka nampak terkejut melihat keadaannya yang terluka. "K-kau kenapa?" Mereka mulai menghampiri pria itu. Lihatlah kondisinya yang begitu mengkhawatirkan. Dia masih hidup sampai sekarang pun termasuk sebuah keajaiban.


Dengan dibantu para warga, pria itu dibawa ke rumah kepala desa untuk mendapatkan perawatan.


Kepala desa awalnya terkejut karna melihat seseorang dibawa oleh warganya. Namun, ia memperbolehkan mereka masuk dan membawa pria itu ke kamar tamu yang ada di rumahnya.


"Siapa dia? Kenapa keadaannya bisa sampai seperti ini?" Ucap kepala desa. Ia menatap pria itu yang kini terlihat mengerang kesakitan di atas tempat tidur. Darimana asal pria ini?


"Kami juga tidak tau. Dia datang dan meminta pertolongan. Jadi kami membawanya kemari." Ucap salah satu warga.


"Kalau begitu–"


Belum selesai kepala desa berucap, sebuah uluran tangan dari pria yang terluka langsung memegang tangannya. "Aku.. Diserang.. Seseorang.. Uhuk.. Dari keluarga.. Zhang.. Keluarga Zhang.. Belum mati.."


Mendengar ucapan pria itu, para penduduk desa langsung terkejut. Keluarga.. Zhang? Bukankah keluarga Zhang sudah musnah? Bagaimana mungkin masih ada orang yang tersisa? Bila ini dibiarkan, maka mungkin keluarga Zhang itu akan membalas dendam atas pembantaian ratusan tahun lalu.


"Apa Anda tidak salah lihat? Mungkin saja kau salah melihatnya.." Ragu kepala desa.

__ADS_1


"Aku.. Tidak berbohong.. Buktinya, adalah.. Luka ini.. Tidak mungkin.. Uhuk.. Aku akan melukai diriku sendiri hanya untuk berbohong.. Uhuk.." Ucap pria itu dengan suara terpotong potong.


Orang orang saling memandang dengan raut berbeda beda. Kepala desa pun mulai berucap, "Untuk sekarang, kita akan mengobati lukamu terlebih dahulu. Untuk masalah yang kau katakan, aku akan mengatakannya pada seluruh warga desa agar mereka bisa memperingatkan orang lain tentang kedatangan keluarga Zhang."


***


"Kita berhenti di sini saja." Ucap Feng Ying. Setelah seharian menaiki Wang Feng, akhirnya mereka berhenti. Feng Ying langsung turun setelah Wang Feng menghentikan larinya.


Hari kini sudah malam dan mereka berada di hutan. Wang Chen turun dari tas punggung Wang Feng. Ia mengelus kepala Wang Feng dan memeluknya. "Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana denganmu, Wang Feng?" Wang Chen tersenyum senang.


Nyawn! Nyawn!


Wang Feng mengeluskan kepalanya pada tangan Wang Chen. Hari hari buruk itu akhirnya berakhir baginya. Karna ia kini tak sendirian lagi.


"Kita bisa menyimpulkan bila gerbang dunia sebenarnya bukan hanya berada di tempat itu saja. Tetapi juga berada di seluruh tempat. Hanya saja, tidak ada orang yang menyadarinya. Mungkin saja itu bisa terjadi." Ucap Feng Ying. Ia mengangkat kedua bahu.


Wang Chen mendongak ke atas untuk melihat Feng Ying yang kini bersandar di atas pohon. "Mungkin saja itu benar. Mungkin hanya ada beberapa orang yang tahu akan hal itu."


Wang Feng kini sudah mulai tertidur, karna lelah. Tubuhnya sudah menyusut sampai berukuran sebesar 1 meter lebih. Wang Chen pun duduk dan bersandar pada tubuh Wang Feng. Sangat empuk dan hangat. "Setelah ini, apa yang akan kita lakukan Ying?"


"Hanya itu saja? Apa kau tidak memiliki keinginan lainnya?" Heran Wang Chen.


Feng Ying mengambil sesuatu dari cincin ruang miliknya. Itu adalah sebuah gelang dengan liontin kecil berbentuk satu daun berwarna biru. Liontin seakan bercahaya di tempat ini. Namun Wang Chen tak melihatnya, karna ia memunggungi Feng Ying, ditambah karna tubuh Wang Feng menutupinya. "Ada satu hal lain yang ingin kulakukan. Aku ingin mencaritau tentang benda pemutar waktu. Aku sudah pernah mencoba menggunakannya. Tapi ini tidak berfungsi sama sekali. Tapi sebelum itu, aku ingin membiasakan diri untuk menggunakan Shan Ming." Ucap Feng Ying. Ia pun memasukkan benda yang diberikan oleh putri Liu Mei kembali ke dalam cincin ruang.


"Shan Ming?" Wang Chen mengerutkan kening ketika mendengarnya. Ia seperti pernah mendengar nama itu.


"Apa kau lupa? Shan Ming, nama dari roh pedang milikku. Jadi, aku memberi nama pedang ini dengan Shan Ming. Karna nama pedang ini terlalu panjang." Ucap Feng Ying dengan malas.


Wang Chen mengangguk. Ia pun mengingatnya. "Kalau begitu, aku juga akan memberikan nama pada pedangku." Ia tersenyum lebar, "Kuberi nama 'kucing'."


Hening. Tak lama, Feng Ying tertawa ketika mendengar ucapan Wang Chen, "Hahaha.."


Wang Chen mengerutkan kening, merasa heran. "Kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan? Memangnya apa yang kukatakan lucu?"


"Haha.. Tentu saja! Bagaimana bisa kau menamai pedang dengan 'kucing'? Haha.." Ejek Feng Ying.


Wang Chen memasang ekspresi kesal. "Memangnya kenapa?! Tidak ada yang aneh dengan nama yang kuberikan! Itu nama yang bagus. Lagi pula, aku menamai pedang ini dengan kucing karna roh di dalamnya adalah roh yang pemalu. Yasudah kunamai kucing!" Kesalnya. Ia menggelembungkan pipi kesal.

__ADS_1


Feng Ying menghentikan tawanya. Ia pun menarik nafas panjang dan membuangnya, "Haish.. Tapi kau bisa memberikan nama lebih bagus daripada itu."


Wang Chen mendengus, "Hmph! Biarkan saja!"


Wang Chen menatap ke atas langit. Kini hanya ada keheningan diantara keduanya. Ia sedikit merindukan ibunya yang kini sudah kembali lagi ke benua tengah. Sudah beberapa tahun lalu ibunya kembali ke kekaisaran. Tentunya yang mengantar ibunya ke tempat itu bukanlah dirinya. Tetapi patriarch Lao. Ibunya pasti marah pada saat itu padanya, karna sudah pergi ke kekaisaran tanpa sepengetahuannya. Tapi sekarang mungkin tak masalah. Lagi pula, masalah itu sudah selesai beberapa tahun lalu.


Wang Chen memang sedikit merindukan ibunya. Tapi bila ia pergi ke sana, maka ia akan kehilangan jejak Feng Ying. Karna bagaimanapun, Feng Ying pasti takkan diam di satu tempat saja selamanya, Pemuda itu akan terus berpindah pindah tempat dan akan membuatnya kesulitan bila mencarinya. Ia pun kembali memulai pembicaraan, "Ying.. Apa hanya itu yang kau inginkan?"


"Hm? Memangnya kenapa?" Heran Feng Ying.


"Apa kau tidak merindukan keluargamu? Kau pasti sudah lama tidak bertemu dengan mereka."


Feng Ying mendengus. Ia pun tersenyum, "Mana mungkin aku merindukan mereka? Lagi pula, mereka bisa menjaga diri sendiri. Bila aku kembali, maka mereka mungkin takkan membiarkanku keluar lagi. Huft.. Sangat menyebalkan." Ia terdiam sejenak, "Dan juga.. Aku tidak mau dimanfaatkan."


"Dimanfaatkan? Siapa yang memanfaatkanmu?" Wang Chen mengangkat sebelah alisnya.


"Hah.. Sudahlah.. Aku malas mengatakannya. Aku malas membahas ini." Ucap Feng Ying. Ia pun menutup mata untuk beristirahat, berusaha tidak menghiraukan Wang Chen.


"Tapi Ying, aku ingin tahu."


"...."


Tidak ada jawaban sama sekali. Wang Chen berdiri. Ia pun melihat ke bawah belakang, dimana Feng Ying duduk. Ia melihat Feng Ying sudah tertidur. Wang Chen mendengus kesal, "Kau malah tidur! Aku sedang berbicara!"


"..." Feng Ying tidak merespon ucapan Wang Chen sama sekali. Karna ia malas berbicara saat ini.


Wang Chen mendengus kesal. Ia pun kembali duduk dan tidak mempedulikan Feng Ying yang kini sudah tidur.


Feng Ying membuka satu matanya. Ia pun mulai membuka kedua matanya perlahan. Ia tidak tidur. hanya berpura pura saja. Ia tidak ingin 'dimanfaatkan' oleh keluarganya. Itulah salah satu alasannya pergi dari rumah. Ia berfikir, bila keluarganya melatihnya dengan sangat keras dan selalu mengatakan ataupun menceritakan bagaimana pembantaian keluarga Zhang saat itu adalah agar ia ikut membenci semua orang. Agar dirinya membalas dendam atas pembantaian keluarga Zhang. Maka dari itu, dirinya hanya akan dijadikan alat untuk balas dendam. Karna keluarganya tentu tau bagaimana potensinya dan kemampuannya. Mereka pasti ingin menjadikannya alat untuk balas dendam!


Itulah yang dikatakan Jian pada Feng Ying saat kecil dulu, bahkan sampai sekarang masih melekat di pikiran Feng Ying. Lagi pula, bila Feng Ying pun berada di posisi yang sama dengan ayah dan kakeknya itu, ia akan melakukan hal yang sama. Ia akan memanfaatkan seseorang yang berpotensi akan menjadi sangat kuat, menjadikan mereka alat untuk balas dendam. Lalu kakek dan ayahnya pun pasti demikian. Mereka juga pasti memiliki pemikiran yang sama dengannya. Jadi, mereka ingin menjadikan Feng Ying sebagai alat balas dendam.


"Hah.." Feng Ying membuang nafas pelan, agar Wang Chen tak mendengarnya. Karna Wang Chen mengira ia tidur. "Mungkin lain kali saja aku mengunjungi mereka kembali." Batinnya.


Feng Ying memejamkan mata untuk beristirahat kembali.


...~ Sesuatu yang kita pikirkan, belum tentu adalah kenyataannya. ~...

__ADS_1


__ADS_2