Feng Ying

Feng Ying
154 -Ingatan Masa Depan


__ADS_3

"...Maka dari itu, sekarang ini, tubuh ini, adalah milikku sepenuhnya." Ucap Feng Ying sambil tersenyum. "Dan kau tau, siapa yang menyebabkan semua ini?"


Wang Chen menggertakkan gigi dengan marah sambil memandang wajah Feng Ying yang hanya berjarak satu jengkal saja dengannya.


Senyuman Feng Ying semakin lebar kala melihat ekspresi Wang Chen, "Sahabatnya sendiri, Wang Chen. Kau yang membuatnya menangis, putus asa dan bahkan membuatnya kehilangan jati dirinya, menyebabkan dia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Dia, takkan kembali lagi." Bisiknya.


Deg


Wang Chen merasa terpukul kala mendengar ucapan Feng Ying. Apalagi ketika mendengar bila sahabatnya sampai menangis karna dirinya. Padahal ia tak pernah melihat Feng Ying sedih, apalagi menangis. Kata itu tak pernah ada dalam kamus sahabatnya. Namun kini, ia 'lah yang menyebabkan semua itu. Ia menundukkan kepala dengan rasa bersalah.


Feng Ying memundurkan tubuhnya perlahan ke belakang. Ia pun mengambil sebuah belati yang ada di dalam cincin ruangnya. "Baiklah, aku sudah menjelaskan terlalu banyak hal padamu. Sekarang kita mulai saja." Ia tersenyum smirk.


Wang Chen mengangkat wajahnya kembali kala mendengar ucapan Feng Ying. "Apa.. yang ingin kau lakukan?" Ucapnya dengan suara bergetar. Bukan karna takut, tetapi karna dirinya menahan amarah.


"Aku harus membunuhmu dengan tubuh ini secara langsung. Maka dengan itu, jiwa Feng Ying benar benar takkan bisa bangun kembali. Aku yang akan mengendalikan tubuhnya selamanya dan dengan ini, maka aku akan membalas dendam terhadap semua orang!" Feng Ying tersenyum smirk, walau tatapannya nampak memperlihatkan kebencian.


Feng Ying menendang perut Wang Chen, dimana terdapat luka di sana. "Uhuk.." Wang Chen terbatuk. Ia merasakan sakit.


Tidak hanya sekali, Feng Ying menendang perut Wang Chen berkali kali, hingga membuat pemuda itu memuntahkan seteguk darah. Wang Chen tak bisa melawan sama sekali ataupun menghindar, karna rantai yang mengikat kaki, serta tangannya.


"Hahaha, bagaimana rasanya? Apakah itu sakit?" Ucap Feng Ying dengan tawa jahat.


"Ugh.. Uhuk.. Kau.. Bisa menyiksaku semaumu, Ying.. Tapi.. Kembalilah.. Uhuk.." Ucap Wang Chen.


"Heh, apa kau masih tak paham juga? Dia, sudah tiada." Ucap Feng Ying sambil tersenyum sinis. Ia menancapkan belati di tangan Wang Chen dan membuat darah mengalir dari luka pemuda itu, "Akh.." Wang Chen mendesah kesakitan.


Feng Ying mencabut kembali belati yang tertancap di tangan Wang Chen. Tidak berhenti di sana, Feng Ying mulai menancapkan belati pada bagian tubuh lainnya pada Wang Chen.


Wang Chen hanya bisa berteriak kesakitan, tanpa bisa melawan. Beberapa kali ia berteriak meminta agar Feng Ying kembali. Tetapi sia sia. Karna Feng Ying yang asli, takkan bisa kembali lagi.


"Hah.. Hah.. Hah.." Nafas Wang Chen tidak beraturan. Darah membasahi seluruh pakaiannya. Bahkan satu tangannya kini telah terpotong akibat ulah dari Feng Ying.


Wang Chen terduduk di lantai dengan kedua kaki dan satu tangan tersisa yang masih terantai. "Hah.. Hah.. Ying.. Maafkan aku.. Kumohon, tolonglah kembali. Kau pasti.. bisa mendengar suaraku 'kan?"


"Heh, sia sia saja." Feng Ying menendang wajah Wang Chen dengan permukaan bawah sepatunya. Ia tersenyum puas melihat keadaan Wang Chen yang terlihat begitu menyedihkan saat ini. Ia sudah memukul, menendang dan menancapkan belati pada pemuda itu, hingga membuat Wang Chen terluka parah.


"Ah~ sangat disayangkan bila aku membunuhmu setelah ini." Feng Ying tersenyum kecewa. "Tapi setidaknya, aku akan memberimu kematian yang menyakitkan untuk terakhir." Feng Ying kembali tersenyum senang.


Feng Ying berjongkok di hadapan Wang Chen. Ia pun memegang dagu pemuda itu, hingga membuat Wang Chen mendongak. Terlihat bila kening dan pelipisnya berdarah. Tatapan Wang Chen nampak memelas dan begitu menyedihkan di mata Feng Ying.


"Ini hadiah terakhirku untukmu." Feng Ying tersenyum. Ia langsung menggoreskan belati ke leher Wang Chen.


"Aakhh.." Wang Chen mengerang kesakitan. Feng Ying melukai lehernya dengan cukup dalam, tapi tidak membunuhnya. Luka itu malah menyiksa dirinya.

__ADS_1


Feng Ying menghempaskan kepala Wang Chen ke lantai dan membuat darah yang keluar dari leher Wang Chen mengenai lantai. Kini keadaan Wang Chen terlihat seperti ayam yang disembelih.


Feng Ying berdiri kembali ketika melihat bila permainan sudah berakhir. Ia pun membuang belati ke sembarangan arah sambil tetap memandang Wang Chen. "Nikmatilah siksaan untukmu. Sampai jumpa~" Ia memandang Wang Chen sinis. Setelahnya, ia langsung pergi meninggalkan Wang Chen yang terkapar di lantai dan tak berdaya.


"Engh.." Wang Chen merasa sulit bernafas. Ia juga sudah kehilangan banyak darah. Siksaan ini begitu menyakitkan. Tetapi saat membayangkan kondisi Feng Ying yang asli saat ini, membuat Wang Chen merasa lebih sakit. "Ying.."


Wang Chen menutup matanya dan air matanya langsung tumpah dengan sendirinya. Ketika ia merasa pasrah dan putus asa, tiba tiba sesuatu terbesit di dalam pikirannya.


...***...•••...***...


"Ibu..!! Paman..!!"


"C-Chen.. A-aku.. aku tidak sengaja.."


"Ying.. kenapa.. Kau..."


"A-aku tidak sengaja, maafkan aku!"


...***...•••...***...


"Kenapa kau kemari?"


"Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu tentang adikku, Ying'er."


"Dengarkan aku terlebih dahulu! Kau salah paham tentang Ying'er!"


"Kau pikir aku hanya mendengar penyebab kematian ibu dan paman pamanku dari orang lain? Aku melihatnya sendiri! Jadi kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku."


"Tck, Ying'er sebenarnya memiliki hasrat untuk membunuh. Setiap keinginan hasrat itu muncul, maka Ying'er tak bisa mengendalikan dirinya. Ia akan membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Maka dari itu, aku ingin mengatakan bila Ying'er pasti tak sengaja membunuh orang orangmu. Kau sudah salah paham padanya dan kau tau, kau sudah membuat Ying'er mati."


...***...•••...***...


"Ying.. Kumohon hentikan ini! Maafkan aku karna sudah salah paham padamu dan maafkan ucapanku yang menyakitimu saat itu."


"Sudah terlambat."


...***...•••...***...


"Apa kau yakin Chen'er? Kau mau melakukan itu?"


"Aku yakin, guru."


"Kau memang bisa pergi ke masa lalu dengan benda itu untuk merubah masa depan. Tapi saat kau sampai di masa lalu nanti, maka ingatanmu tentang masa depan akan mulai pudar dan hilang dari ingatanmu. Kekuatanmu juga tidak akan sekuat ini. Kekuatanmu akan sama dengan kau di masa lalu. Jika seperti itu, bagaimana caramu membunuhnya dan menghentikannya? Semua benda yang kau miliki, termasuk benda pemutar waktu ini pun takkan ada di tanganmu. Karna pada saat kau kecil, kau hanya memiliki sebagiannya saja."

__ADS_1


"Walau begitu, aku pasti bisa melakukannya guru, percayalah padaku. Dan guru harus ingat, tujuanku ke masa lalu bukan untuk mencari dan langsung membunuhnya yang masih kecil. Tapi aku akan mencari pedang kembar bunga phoenix nanti. Lalu saat dia kehilangan jati dirinya, maka aku akan menggunakan pedang itu untuk masuk dan terhubung ke alam bawah sadarnya untuk membangunkannya kembali. Karna yang kutahu, dua pedang itu bisa menghubungkan dua alam bawah sadar seseorang yang memiliki pedang itu. Jadi satu pedang akan kubawa dan satunya lagi, aku berikan pada dia."


"Kau mungkin bisa mengubah masa depan dengan pergi ke masa lalu. Tapi kehadiranmu nanti, tidak menjamin akan membuat masa depan menjadi lebih baik lagi. Mungkin saja lebih buruk dari ini."


"Aku tetap akan pergi."


"Haish.. Kau keras kepala. Dengarkan ucapanku, bila kau memiliki sebagian dari benda pemutar waktu dan benda itu ada di tanganmu, maka selama beberapa minggu atau beberapa bulan saat kau mulai berada di sana, maka benda itu akan melindungimu. Karna kau bukan berasal dari zaman itu. Tapi setelahnya, maka kau harus melinsungi dirimu sendiri. Karna benda itu takkan bisa digunakan untuk melindungimu lagi.


Satu lagi dan sangat penting, kau akan kehilangan semua ingatanmu tentang masa depan. Bahkan semua jurus yang sudah kau pelajari pun akan hilang dalam ingatanmu. Kau hanya akan memiliki ingatan yang sesuai dengan umurmu yang dulu. Kau bisa mengubah masa depanmu juga. Kau harus menjadi semakin kuat dengan kemampuanmu sendiri. Kau bisa menjadi lebih kuat lagi, Chen'er."


...***...•••...***...


Banyak ingatan mulai bermunculan di pikiran Wang Chen dan hal ini membuat Wang Chen merasakan sakit kepala. Ia sedikit mengerang kesakitan. Ingatan macam apa ini? Apa maksudnya.. ia berasal dari masa depan?


Sekarang Wang Chen mengingat semuanya. Ingatan yang semula ia lupakan kini teringat lagi di dalam pikirannya. Ternyata selama ini ia sudah merubah alur kehidupan. Banyak hal yang awalnya tak terjadi di masa lalu, kini terjadi karna kedatangan Wang Chen dari masa depan.


Walaupun saat itu Wang Chen tak memiliki ingatan masa depan, jurus yang ia pelajari pun sudah lenyap dalam ingatannya, kekuatannya yang lemah, ditambah dengan ukuran tubuhnya yang menyusut, tetapi Wang Chen bisa merubah masa depan. Awalnya di masa depan, Feng Ying kehilangan kendali saat umurnya menginjak 25 tahun. Tapi yang terjadi sekarang, kejadiannya 5 tahun lebih awal.


Semua alur kehidupan sudah berubah sepenuhnya karna Wang Chen. Ibu dan pamannya yang seharusnya mati saat ia berusia 25 tahun pun, tidak akan terjadi. Karna masa lalu sudah berubah saat ini.


Walaupun kini Wang Chen sudah mendapatkan ingatannya kembali, tapi apa yang bisa ia lakukan? Untuk menggerakkan satu jarinya saja, Wang Chen tidak bisa. Lukanya terlalu parah dan bahkan ia kini sudah sekarat. Tubuhnya pun mulai mendingin.


Wang Chen menatap ke depan dengan tatapan lirih. Banyak rasa penyesalan di dalam dirinya. "Guru.. Maafkan aku.." Wang Chen menutup matanya dan bersamaan dengan itu, setitik air mata mengalir dari matanya dan menetes ke lantai.


Tak lama setelah Wang Chen menghembuskan nafas terakhirnya, kalung yang ada di lehernya bercahaya. Tepatnya liontin yang ada pada kalung.


Cahaya mulai mengitari tubuh Wang Chen dan setelahnya, tubuh Wang Chen ikut bercahaya.


***


Di tempat lain, Feng Ying dan kelima bawahannya saat ini berada di dalam sebuah bangunan kosong yang berada di tengah hutan. Tidak ada orang lain lagi di sini, selain mereka berenam.


"Kerja yang bagus. Tidak sia sia aku memberikan sebagian kekuatanku pada kalian." Ucap Feng Ying sambil tersenyum tipis.


"Apa lagi yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan?" Ucap Zhaou Yuan dengan datar. Ia sedikit melirik ke arah samping, tepatnya pada Zhou Yan. Pemuda itu nampak mengepalkan tangannya dengan erat dan tatapannya pun menyiratkan kemarahan. Sebenarnya, Zhou Yan baru mengetahui Tuannya yang sebenarnya beberapa saat lalu. Ternyata Tuannya adalah salah satu dari orang yang sudah membantai keluarga Zhou dan merupakan orang yang ingin dibunuh oleh Zhou Yan.


Walaupun Zhou Yuan sudah menjelaskan beberapa hal dan mengatakan bila fisik Tuannya memang Feng Ying, tapi jiwanya bukan Feng Ying, tetap saja Zhou Yan tidak bisa menerima hal ini dengan begitu mudah. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa melawan, karna bila ia berkhianat dan melawan, maka dirinya yang akan mati.


Feng Ying atau lebih tepatnya Jian pun sudah mengetahui tentang itu. Ia mengetahui bila Zhou Yan membenci Feng Ying. Tapi ia tidak peduli dan tetap membawa Zhou Yan ke dalam anggotanya.


"Untuk saat ini, kita istirahat saja beberapa hari. Aku juga harus menyesuaikan diri dengan tubuh ini." Ucap Feng Ying.


"Baik!"

__ADS_1


__ADS_2