
Feng Ying terus saja mencoba berbagai makanan yang ada di Ibu kota sampai lupa waktu. Matahari sudah tenggelam karna hari sudah malam.
Iapun langsung duduk di permukaan tanah ketika merasa sudah kenyang. Ia menyandarkan punggungnya di depan toko pakaian. Rasanya begitu lelah, "Hah.. Aku kenyang.."
Feng Ying menghela nafas dan berniat untuk menutup matanya. Namun, ia melihat sesuatu yang membuatnya senang dan langsung berdiri, "Aku pasti mendapatkan yang terakhir itu!"
Feng Ying pergi menghampiri seorang penjual tanghulu. Ia memang sangat menyukai tanghulu. Tadi dirinya belum sempat membeli manisan buah itu, karna sibuk mencoba makanan lain dan karna ia belum juga menemukan penjual manisan itu sejak tadi.
Feng Ying langsung menyambar tanghulu terakhir yang ada di meja penjual manisan. Namun, seseorang sudah memegang tanghulu terlebih dahulu. Walaupun begitu, Feng Ying tetap ingin mengambilnya, sehingga dirinya juga memegang tanghulu bersama tangan orang itu.
Feng Ying menatap orang di sampingnya yang juga memegang tanghulu yang ia pegang, "Ini milikku! Aku yang mengambilnya pertama kali tadi. Jadi lepaskan tanganmu."
Seorang pemuda yang memiliki usia sama dengan Feng Ying juga menatapnya, "Apa kau tidak lihat? Akulah yang pertama kali mengambilnya. Jadi ini milikku! Singkirkan tanganmu."
Feng Ying menatap penjual dengan tatapan tajam, membuat penjual ketakutan. "Katakan padanya, bahwa aku yang lebih dulu mengambil ini. Jadi dia harus mengalah."
Pemuda di samping Feng Ying tak mau kalah. Ia ikut menatap penjual, "Ini adalah tanghulu terakhir dan aku yang mengambilnya. Paman pasti melihatnya sendiri tadi."
"I--"
Belum sempat penjual itu berucap, Feng Ying memotong ucapannya sambil menatap pemuda di sampingnya, "Jangan kira aku akan mengalah padamu. Hanya karna kau yang pertama kali mengambil ini."
"Heh, akhirnya kau mengaku juga. Akulah yang pertamakali mengambilnya. Jadi ini milikku." Ucap pemuda itu.
Feng Ying mengambil beberapa koin perak dari balik pakaiannya dan menyimpan itu di atas meja, "Aku yang pertamakali membayar. Jadi ini milikku."
Pemuda di samping Feng Ying tidak terima dengan sikap Feng Ying. Jadi, ia juga ikut mengeluarkan uang koin dari balik pakaiannya dan menyimpan itu di atas meja, "Aku juga sudah membayar. Ditambah dengan kenyataan bahwa aku yang mengambilnya terlebih dahulu. Jadi aku yang berhak mendapatkannya."
Feng Ying kembali mengeluarkan koin. Bukan koin perak, tetapi satu koin emas dan menyimpannya di atas meja. "Tidak ada tanghulu lagi di tempat lain. Jadi aku tidak akan memberikan tanghulu terakhir ini padamu."
Pemuda di hadapan Feng Ying ikut mengeluarkan satu koin emas dan menyimpannya di meja, "Itulah yang ingin kuucapkan. Tidak ada penjual tanghulu lain di sini dan ini adalah tanghulu yang tersisa. Maka aku juga takkan memberikannya padamu."
Keduanya saling bertatapan dengan tajam. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Karna tanghulu adalah makanan kesukaan mereka. Tanghulu juga hanya tinggal satu ini saja. Tidak mungkin mereka akan melepsakannya.
__ADS_1
Feng Ying menarik tanghulu dari pemuda itu. Namun di lain pihak, pemuda itu juga menarik tanghulu. Sehingga keduanya terlibat saling tarik menarik.
"Kau bisa membeli tanghulu yang lain. Tapi tidak dengan yang ini!" Ucap Feng Ying.
"Mana bisa! Hanya ada ini satu satunya tanghulu tersisa di Ibu kota! Semuanya sudah habis dibeli!" Ucap pemuda itu.
"T-tuan, besok aku bisa membawanya lagi. J-jadi jangan--"
"Aku tidak mau!" Ucap Feng Ying dan pemuda itu bersamaan sambil menatap penjual--membuat penjual menjadi takut. Sehingga ia tidak mau terlibat pertengkaran kecil ini.
"Junior Chen..!"
Mendengar suara yang dikenalnya, pemuda yang bersama Feng Ying membalikkan tubuhnya dan menatap pada orang yang memanggil namanya.
Hal ini, membuat kesempatan bagi Feng Ying. Ia segera menarik tanghulu dari tangan pemuda itu dan pergi dengan cepat, "Aku yang menang! Sampai jumpa, haha!"
Pemuda itu kembali berbalik ketika mendengar ucapan Feng Ying dan terkejut karna tanghulu yang dipegangnya sudah diambil. "Hei, kembalikan tanghulu milikku!"
Pemuda yang dipanggil junior Chen langsung berbalik dan menatap seniornya. "T-tidak ada senior Zhao.."
"Apa kau yakin?"
Pemuda yang dipanggil junior Chen itu mengangguk. Namun terlihat bila tangannya terkepal erat, menandakan bahwa dirinya sangat kesal.
"T-tuan Muda.. Kau bisa mengambil uangmu kembali. K-karna kau tidak mendapatkan tanghulunya tadi." Ucap penjual dengan suara gugup. Ia tidak mau mengambil uang dari pemuda ini. Karna bagaimanapun, pemuda ini tidak mendapatkan tanghulu yang diinginkannya. Sebenarnya, tanghulu yang dibayar oleh pemuda ini ataupun Feng Ying kebanyakan. Ia juga ingin mengembalikannya pada Feng Ying. Namun apa daya, Feng Ying sudah pergi.
Pemuda itu menatap penjual dengan ramah. Walaupun sebenarnya masih sangat kesal dengan Feng Ying dan tak terima karna tanghulunya diambil, "Ambil saja untuk paman. Senior Zhao, apa guru memanggilku?"
Orang yang dipanggil senior Zhao mengangguk, "Iya. Maka dari itu, aku pergi mencarimu."
***
Feng Ying yang sudah mendapatkan tanghulu merasa senang. Ia segera memakannya, walaupun hanya mendapatkan satu. Ia tidak peduli bila pemuda tadi marah padanya. Karna yang terpenting, dia mendapatkan apa yang diinginkan. "Tanghulu memang sangat enak.."
__ADS_1
Feng Ying pun fokus pada tanghulu miliknya sambil berfikir, "Apa mereka ikut merayakan ulang tahun putri hanya dengan menghias kota saja? Jika seperti itu, maka tidak menyenangkan. Lagi pula, yang bersenang senang nanti hanya orang orang yang berada di istana saja. Mengapa mereka repot repot menghias kota hanya karna ulang tahunnya?"
Feng Ying menggelengkan kepala dan merasa tak paham dengan pemikiran warga di Ibu Kota ini. Setelah menghabiskan tanghulu, ia segera pergi untuk mencari penginapan. Hingga tiba tiba, ia terbesit sebuah ide, "Hehe.. Ini akan tambah menyenangkan. Kalian harus berterimakasih padaku."
Apapun yang sedang dipikirkan Feng Ying saat ini, pastilah bukan hal baik.
***
Feng Ying sudah berada di kamar penginapan yang sudah disewa olehnya. Ia melihat ke arah luar jendela dan menatap orang orang yang ramai berlalu lalang. "Dia mengatakan bahwa acara akan dimulai sekitar 2 jam lagi. Kalau begitu, aku harus bersiap siap." Iapun tersenyum.
Senyumannya semakin mengembang kala melihat beberapa kereta kuda mewah berjalan menuju ke arah istana yang tak jauh dari Ibu kota. "Mereka ternyata sudah datang. Hm.. Ini akan semakin menyenangkan. Bagaimana bila pesta yang seharusnya menyenangkan, berubah menjadi teror? Hm.. Itu pasti akan semakin menyenangkan."
"..Tapi, di pesta pasti tidak hanya akan ada orang orang dari kekaisaran lain atau Wali Kota. Pasti akan ada orang orang yang berasal dari sekte aliran putih maupun netral yang diundang. Maka dari itu, aku harus berhati hati."
***
Di dalam aula istana yang sudah dihias dengan meriah dan mewah, nampak beberapa orang yang sudah datang. Mereka adalah orang orang yang berasal dari sekte. Tentunya orang orang ini bukanlah orang orang sembarangan, tetapi orang orang kuat dan disegani. Bahkan ada juga orang orang jenius dan berbakat di sini.
"Guru!"
Seorang pria tua dengan rambut dan janggut putih, nampak melihat ke arah suara berasal. Ia melihat murid pribadinya dan murid yang berasal dari sektenya berjalan mendekat dan memberikan hormat. Iapun mengangguk dan suara dari murid pribadinya langsung terdengar.
"Guru, apa ada sesuatu yang ingin guru bicarakan padaku?"
Pria tua itu mengangguk, "Kaisar ingin bertemu denganmu, Chen'er."
"Bertemu.. Denganku? Kenapa?"
"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang kau ikut denganku, Chen'er. Dan kau Wang Feng, kau bersama Zhao'er terlebih dahulu. Kau paham?"
Nyawn~
Seekor harimau dengan ukuran sebesar kucing dewasa nampak mengangguk ketika mendengar ucapan pria itu. Sebenarnya ukurannya lebih besar dari ini. Namun ia mengecilkan tubuhnya.
__ADS_1