Feng Ying

Feng Ying
95 -Keluar Lagi Dari Sekte


__ADS_3

Feng Ying kini berada di kamarnya sendiri dan sedang membaca salah satu dari dua buku yang ia bawa tadi. "Heh, ternyata tokoh dalam novel ini menjadi seorang pahlawan. Hm.. Lumayan.. Novel ini tidak membosankan ternyata."


Flashback~


"Heh, menurutmu begitu?"


Feng Ying merasa kesal dengan tokoh yang berada dalam novel yang sedang dibacanya. Namun nada bicaranya terdengar tenang.


"Heh.. Lemah! Ternyata kau sekarang mau berbicara. Kenapa diam saja tadi? Takut, huh?"


"Aku tidak takut sama sekali dan sebaiknya kau dengarkan ucapanku ini dan tanam baik baik dalam dirimu, seseorang tetap diam ketika diejek.. Bukan berarti dia lemah dan tak bisa melawan. Dia diam, bukan berarti orang lain bebas memberikan ejekan padanya dan hanya akan tetap diam seterusnya. Kau tau? Orang pendiam pun bisa menjadi penjahat yang takkan pernah kau pikirkan sebelumnya."


Feng Ying berdecak kagum dengan kata kata seorang tokoh utama di cerita novel yang ia baca, sehingga ia mengeluarkan suara saat membacanya. Kata kata itu terdengar begitu keren baginya dan menurutnya, ucapan tokoh utama itu juga memang ada benarnya. Ia langsung mengambil dua buku yang menarik baginya di meja dan mulai pergi.


Sebelum sepenuhnya pergi, Feng Ying menepuk sesuatu di sampingnya dan mengira bila itu hanya tembok karna pandangannya hanya terus pada buku yang dipegang, jadi tidak memperhatikan sekitar. Ia ingin mencoba melakukan gerakan dan ucapan yang dilakukan dalam tokoh novel tanpa melihat dialog dalam buku, "Lain kali, jangan hanya diam ketika kau diejek. Berlatihlah dengan giat dan buktikan pada mereka bahwa semua ucapan mereka tidaklah benar. Saat itulah, maka mereka takkan mengejekmu lagi. Yap, sampai jumpa."


Kata 'yap, sampai jumpa' yang diucapkan Feng Ying, merujuk pada perpustakaan ini. Setelah mengatakan itu, Feng Ying langsung pergi menuju tempat petugas perpustakaan tanpa tahu bila ucapannya sudah membuat kesalah pahaman.


Flashback End~


"Hah.. Cukup untuk bersantai kali ini. Aku harus membaca buku ini. Mungkin di dalamnya ada informasi yang kubutuhkan." Gumam Feng Ying. Ia menyimpan buku novel yang baru setengah ia baca dan mengambil satu buku lain yang dipinjamnya.


Buku itu memiliki sampul berwarna biru tua dan buku juga tak terlalu tebal. Tertulis judul 'senjata senjata biasa sampai legenda yang ada di dunia'.


Ada berbagai macam gambar pedang, tombak, busur dan sebagainya yang terlihat pada buku. Di sana juga terdapat nama nama setiap senjata itu. Namun disana tidak dijelaskan secara detail bagaimana cara menggunakannya, tempatnya berada, syarat untuk bisa menggunakannya dan hal hal lainnya. Disana hanya ada nama, gambar dan kemampuan senjata saja.


Feng Ying berhenti pada halaman buku yang menunjukkan gambar dua pedang menyilang dengan gagang berwarna merah, juga biru. Kedua pedang itu memiliki ukiran bunga dan seekor burung phoenix. Dikatakan bila pedang dengan gagang merah itu bisa mengendalikan api dan mengeluarkan api tanpa harus menggunakan Qi untuk membuat api itu keluar. Yang mengejutkan adalah bila pedang itu ditancapkan pada tanah dan dialirkan Qi yang besar, maka bisa membuat tanah mengering dan air di dalam tanah maupun sekitarnya akan menguap. Dampaknya tidak hanya wilayah sekitar, namun dampaknya akan sangat luas.


Lalu pedang dengan gagang yang berwarna biru dapat mengendalikan air maupun mengeluarkan air sebagai serangan atau pertahanan tanpa harus mengeluarkan Qi. Dikatakan bila pedang itu dapat membuat hujan dan bahkan bisa membuat tanah yang seharusnya tandus dan tidak bisa ditanami tanaman lagi, dapat kembali subur dan wilayahnya akan berair. Membuat tanah tidak lagi tandus.

__ADS_1


Serangan maupun pertahanan dari kedua pedang ini sangat luar biasa. Serangan maupun pertahanannya setara dengan orang yang sudah berada di tingkat langit bintang 3. Sementara, tidak banyak orang yang dapat menyampai kultivasi sampai tingkat langit.


"Kenapa hanya kedua pedang ini saja yang berada pada halaman yang sama?" Gumam Feng Ying.


Alasan Feng Ying selalu ke perpustakaan selama 3 hari ini, karna menginginkan informasi tentang senjata senjata legenda. Setelah mencari di perpustakaan wilayah murid dalam, ia tidak mendapat apa yang diinginkannya. Lalu saat ia pergi ke perpustakaan murid luar, barulah dia menemukannya. Walaupun, informasi yang diterimanya tidak lengkap.


Sebenarnya, setelah membunuh seekor griffin pada saat itu, dirinya pergi menjelajahi gua dan menemukan kumpulan benda benda, seperti koin emas dan perak. Lalu, ada juga beberapa pedang. Namun yang membuatnya sangat tertarik adalah pedang yang tertancap di bagian puncak harta. Pada saat itu, dirinya dapat merasakan adanya kekuatan besar dalam pedang itu. Hal inilah yang membuat Feng Ying tambah senang. Setelahnya, ia mulai mencari informasi tentang pedang yang ia temukan itu dan kini ia sudah menemukannya.


Pedang yang ditemukan Feng Ying memiliki gagang berwarna merah dengan ukiran bunga dan burung phoenix.


"Sepertinya ada alasan mengapa ada dua pedang yang memiliki kemampuan berbeda, bahkan bertolak belakang berada dalam satu halaman yang sama." Gumam Feng Ying. "Aku tak bisa menggunakan pedang itu begitu saja. Tanpa mengetahui informasi lainnya. Lagi pula, pasti ada syarat yang harus dilakukan atau dimiliki agar dapat menggunakan pedang itu. Karna bagaimanapun, pedang itu termasuk pedang legenda."


***


Di tempat lain, di tempat latihan murid luar. Nampak bahwa pemuda yang mengganggu Feng Ying pada saat di perpustakaan sedang berlatih saat ini.


"Heh, dia masih berada disini ternyata. Dia tidak berbakat, lalu kenapa masih saja disini? Apa dia tidak malu ya, terus berada disini?"


"Kau sepertinya benar, hahaha."


Para murid junior yang masuk baru satu tahun lalu ke sekte phoenix api menertawai pemuda yang sedang berlatih. Mereka terus mencemooh karna merasa lebih hebat dibandingkan dengan senior mereka yang tidak juga masuk menjadi murid dalam.


"Jangan hiraukan mereka.." Batin pemuda berumur 16 tahun itu. Ia bernama Dong Baojia. Ia sebenarnya adalah anak dari seorang Jenderal di kekaisaran 'Liu' ini. Ia tidak pernah mengatakan identitasnya pada siapapun. Karna dirinya hanyalah anak angkat dari Jenderal itu. Namanya pun diganti menjadi Dong.


Dong Baojia awalnya hanyalah anak terlantar yang dibuang oleh orangtuanya. Orangtuanya berpisah ketika ia berusia 8 tahun dan dirinya dibuang, ditinggalkan begitu saja. Tidak ada yang mau merawatnya. Sehingga ia menjadi gelandangan.


Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Jenderal yang sudah mengangkatnya menjadi anak. Jenderal itu tidak menuntutnya untuk menjadi kuat sama sekali. Namun berbeda dengan istri dari Jenderal. Ia begitu menuntut Dong Baojia agar bisa menjadi kuat dan berguna. Jenderal dan istrinya tidak bisa memiliki anak, jadi mengangkat Dong Baojia menjadi anak.


"Jangan dengarkan mereka.. Baojia.." Batin Dong Baojia. Ia terus menghiraukan ucapan ucapan semua orang padanya dan hanya fokus dengan pedang yang sedang dirinya mainkan.

__ADS_1


"Lain kali, jangan hanya diam ketika kau diejek. Berlatihlah dengan giat dan buktikan pada mereka bahwa semua ucapan mereka tidaklah benar. Saat itulah, maka mereka takkan mengejekmu lagi. Yap, sampai jumpa."


Dong Baojia selalu terngiang kata kata itu dan membuatnya kembali bersemangat. Maka dari itu, ia harus membuktikan kemampuannya dan membuat orang orang yang sudah mengejeknya membungkam mulut mereka.


"Terimakasih.. Akan kuingat namamu, Feng Ying.."


***


3 hari kemudian, Feng Ying saat ini berada di hutan bambu buatan. Dirinya tidak hanya sendiri, melainkan bersama dengan Wang Chen dan Wang Feng juga. Hari sudah malam dan bintang bintang pun sudah terlihat menghiasi langit.


"Chen, aku harus pergi sekarang." Ucap Feng Ying.


"A-Apa maksudmu?" Wang Chen terkejut mendengar ucapan Feng Ying.


Nyawn? Nyawn!


"Aku tidak suka terus diam di satu tempat. Lagi pula, tujuanku keluar dari rumah karna aku ingin berpetualangan di luar sana dan mendapatkan pengalaman, juga hal hal baru menakjubkan. Aku ingin berburu banyak harta terpendam." Ucap Feng Ying dengan semangat.


"Kalau begitu, aku ingin ikut! Karna bagaimanapun, aku belum membayar kerja keras yang kau katakan saat itu." Ucap Wang chen dengan mantap. Sebenarnya ia masih ingin di sekte. Karna tujuannya keluar rumah adalah untuk menjadi murid di sekte besar. Tapi ia juga masih tetap ingin bersama Feng Ying. Entah kenapa ia tidak mau berpisah dengan bocah itu. Mungkin karna dirinya merasa sudah nyaman ketika bersamanya dan merasa sudah sangat dekat seperti kakak adik.


"Tapi Chen.. Petualanganku pasti akan terdapat penuh tantangan dan bahaya. Aku tak bisa menjamin hidupmu. Sebaiknya kau tetap disini saja. Kau boleh ikut bila kau sudah menjadi sangat kuat dan bisa melindungi dirimu sendiri."


"Tapi Ying.."


Nyawn?


"Kau juga tetap disini bersama dengan Chen, Wang Feng. Kau belum cukup kuat untuk melakukan petualangan ke dunia luar."


"Aku tidak masalah dengan itu, Ying! Tapi biarkan aku ikut denganmu. Aku pasti tidak akan menjadi beban bagimu!" Ucap Wang Chen.

__ADS_1


"Aku tetap tidak bisa melakukannya," Feng Ying berbalik membelakangi Wang Chen dan Wang Feng. "Katakan pada patriarch, bila aku harus pergi."


__ADS_2