
Wang Chen pergi ke lantai bawah untuk memesan makanan bagi semua orang yang berada didalam kamar, termasuk Shan Ming dan Shan Ai yang baru saja tiba 1 jam lalu.
Sementara, di dalam kamar kini hanya tinggal Feng Ying, Shan Ming dan Shan Ai yang masih sadar. Karna Wang Feng tidur. Lalu Shan Ming tidur tiduran di samping Wang Feng.
"Hai cantik.." Goda Feng Ying. Ia tersenyum ke arah Shan Ai yang sedang menatap pintu tertutup setelah kepergian Wang Chen tadi.
Shan Ming menggelengkan kepala, "Kusarankan agar kau berhati hati dengan kakakku itu." Bisiknya pada Feng Ying yang berdiri di samping tempat tidur.
Feng Ying sendiri cuek ketika mendengar ucapan Shan Ming. "Aku ada di sini. Kenapa kau terus memandangi pintu? Chen akan kembali nanti. Lebih baik kau memandangiku yang tampan ini dari pada memandangi pintu yang datar itu dan lebih baik kau memilihku dari pada memilih Chen. Secara, aku lebih tampan dan kuat dari pada dia." Ucap Feng Ying dengan bangga.
Shan Ai tetap tidak bergeming. Ia terus berdiri menghadap pintu. Namun suaranya kini mulai terdengar, "A-aku h-hanya ingin di sini s-saja." Ucapnya yang terdengar gugup.
"Suaramu indah sekali, kau juga sangat cantik.." Goda Feng Ying. "Kau lebih cocok bersamaku dari pada Chen." Ia berjalan mendekat
Feng Ying pun memegang kedua pundak Shan Ai dari belakang dan langsung membalikkan tubuh wanita itu agar menghadap padanya. Nampak bila Shan Ai menundukkan kepala. Beberapa rambutnya juga menutupi wajahnya.
"Kau sudah kuperingatkan. Aku tak ikut campur." Batin Shan Ming ketika melihat apa yang dilakukan Feng Ying. Ia pun memiringkan tubuhnya membelakangi Feng Ying dan Shan Ai.
Feng Ying memegang dagu Shan Ai, "Kalau aku sedang berbicara denganmu, maka tatap aku." Kini, wajah Shan Ai terangkat karna pegangan tangan Feng Ying pada dagunya.
"Nah, ini lebih baik. Kau terlihat lebih cantik saat dilihat dari dekat." Feng Ying tersenyum. Ia seakan mencoba menggoda Shan Ai dengan mengelus pipinya dengan ibu jari.
Wajah polos dan pemalu Shan Ai kini berubah. Ekspresinya menjadi dingin dan tidak bersahabat. "Beraninya kau menyentuh wajahku! Selain Tuan Chen, maka tidak ada yang boleh menyentuh wajahku!"
Shan Ai langsung memukul pipi Feng Ying, hingga membuat Feng Ying melepaskan tangan dari wajahnya. Bahkan pemuda itu terdorong beberapa langkah ke belakang. "Tidak tahu malu! Menyebalkan! Wajahku jadi kotor karnamu! Kalau saja kita bukan sedang berada di dalam ruangan, maka aku sudah memukulmu sampai sekarat! Dan jika saja kau bukan sahabat Tuan Chen, maka aku sudah menendangmu saat kau mendekat satu langkah saja kepadaku!" Ucap Shan Ai dengan tatapan dingin.
"Uh," Feng Ying memegangi pipinya yang kini menjadi lebam karna satu pukulan keras Shan Ai. Ia menatap Shan Ai tak percaya. Tadi wanita itu terlihat sangat pemalu. Tapi ketika Feng Ying menyentuh wajahnya, Shan Ai langsung berubah drastis. Bahkan kata kata yang dikeluarkan dari mulut wanita itu berbeda jauh dengan kata kata yang diucapkannya tadi yang selalu terdengar gugup dan kikuk.
"Ada apa denganmu?" Ucap Feng Ying yang menatap Shan Ai dengan tak percaya.
"Cih, orang sepertimu sangat menyebalkan! Semua orang sama saja, kecuali Tuan Chen!" Bentak Shan Ai. "Aku benci dengan semua orang, selain Tuan Chen! Hmph, semua manusia rendah, kotor, enyahlah dari dunia ini!"
Mendengar kata kata Shan Ai, Feng Ying tambah terkejut. Kata kata wanita itu sangat kasar. Dia berubah begitu besar. "Apa kau bilang?" Feng Ying mengepalkan tangan, menahan marah. Apa wanita itu baru saja mengatakan bila dirinya rendah?
"Cih, manusia rendah dan kotor sepertimu tidak layak hidup!" Ucap Shan Ai dengan kasar.
Baru saja Feng Ying ingin mengatakan sesuatu, pintu sudah dibuka dari luar dan memperlihatkan Wang Chen yang masuk ke dalam ruangan. Ia nampak heran ketika melihat Feng Ying yang seperti menahan marah. "Kau kenapa Ying?"
Shan Ai terkejut mendengar suara Wang Chen. Ia tak menyadari kedatangan pemuda itu karna terlalu fokus memaki Feng Ying. Ia pun membalikkan tubuhnya dan berekspresi seperti awal lagi, pemalu dan kikuk. "T-tuan Chen, A-anda sudah kembali?"
"Iya." Jawab Wang Chen singkat sambil melirik Shan Ai sekilas. Ia pun melihat Feng Ying kembali. "Kau kenapa Ying?"
__ADS_1
"Dasar wanita bermuka dua! Dia bersikap baik sekali pada dia. Sementara padaku, dia sangat kasar. Bersikap baik hanya saat ada Chen saja." Gerutu Feng Ying dalam hati. "Hmph! Tidak ada. Kita akan langsung pergi saja sekarang!"
"Tapi makanannya?" Wang Chen memiringkan kepala.
"Biarkan saja. Bila kau sudah membayarnya, maka kita bisa langsung pergi sekarang." Feng Ying mengambil pil perubah wajah yang ia letakkan di atas meja tadi. Ia pun mengambil satu pil dan menelannya sambil memejamkan mata.
Whuuuss
Hanya dalam waktu beberapa detik, wajah Feng Ying kini berubah. Di tepi mata kirinya kini terdapat tanda lahir kecil, lalu warna iris matanya berubah hijau. Dari mata, hidung, mulut, alis dan bagian lainnya kini berubah, sangat berbeda dari wajah aslinya yang tampan. "Bagaimana panampilanku?"
Wang Chen awalnya terkejut karna wajah Feng Ying benar benar berubah. "Kau berubah sekali, Ying! Aku bahkan tak mengenalimu sekarang."
Feng Ying hanya tersenyum tipis. Ia masih merasa kesal atas apa yang diucapkan Shan Ai tadi. Tapi ia malas memperpanjang masalah saat ini. "Sekarang kita pergi."
***
Waktu terus berlalu. Sudah 3 tahun semenjak berita tentang identitas Feng Ying tersebar. Banyak orang yang mencari keberadaan Feng Ying karna hal itu. Bukan hanya satu benua, tetapi seluruh benua mencarinya, karna semua orang pun sudah tahu mengenai berita ini.
Wajah Feng Ying selalu berubah, sehingga tak dikenali oleh orang lain. Terkadang, Wang Chen pun melakukan hal demikian agar tidak ada orang yang mencurigai bila dirinya bersama seorang buronan. Ya, buronan. Karna berita itu, Feng Ying kini sudah menjadi buronan yang harus ditangkap hidup ataupun mati. Setiap kekaisaran yang ada di seluruh benua bahkan akan memberikan imbalan bagi siapapun yang dapat membunuh Feng Ying. Tentunya kesempatan seperti ini tidak dilewatkan semua orang. Termasuk penduduk biasa. Bila mereka memiliki informasi saja mengenai Feng Ying, maka mereka akan mendapatkan imbalan besar.
Setelah setengah tahun Shan Ai dan Shan Ming berubah menjadi manusia pada saat itu, mereka kembali menjadi roh pedang kembali. Karna efek dari darah phoenix hanya berlangsung selama 6 bulan saja. Maka dari itu, Feng Ying hanya bersama Wang Chen dan Wang Feng saja saat ini.
***
Feng Hua sedang berada di dalam sebuah ruangan bersama suaminya, Zhang Jiangwu. Ia tentunya sangat mengkhawatirkan keadaan Feng Ying. Sekarang pemuda itu diincar oleh semua orang.
"Aku juga tau itu. Tapi dia sudah memutuskannya sendiri. Kita tidak bisa mencegahnya. Dia sangat keras kepala." Ucap Zhang Jiangwu sambil menyeruput teh yang ia ambil di atas meja depannya. "Lagi pula.." Ia meletakkan cangkir di atas meja kembali.
"..Aku dan ayah sudah mengajarinya banyak hal dalam bertarung. Dia pasti bisa menjaga diri. Aku percaya dengan kemampuannya. Kau juga seharusnya seperti itu, Hua'er.." Lanjut Zhang Jiangwu.
"Kenapa kau selalu saja mengatakan itu? Bagaimana bila sesuatu yang buruk terjadi pada Ying'er? Bagaimana bila semua kultivator menyerangnya secara bersamaan?" Ucap Feng Hua kembali.
"Kau terlalu khawatir. Mereka tak mungkin menyerang Ying'er. Karna Ying'er pasti belum mereka temukan. Kau tau sendiri, Ying'er tidak'lah ceroboh. Walaupun dia orang yang tidak tahu malu dan terlalu percaya diri, tapi dia bukan orang yang gegabah dalam bertindak."
"Apa yang dikatakan Wu'er benar, Hua'er." Seseorang tiba tiba masuk ke dalam. Ia adalah seorang pria yang nampak berumur 50 tahunan.
"Kau hobi sekali menguping pembicaraan orang, ya?" Ucap Zhang Jiangwu yang terkesan bernada ejekan.
Pria yang baru saja masuk tak lain adalah Zhang Bingjie, ayah Zhang Jiangwu, sekaligus kakek dari Feng Ying. "Huh, dasar anak tidak tahu sopan santun. Sepertinya sifat Ying'er yang tak tahu sopan santun itu menurun darimu." Zhang Bingjie mendengus.
"Heh, lalu sifatku menurun dari siapa? Tentu saja darimu." Ucap Zhang Jiangwu dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Oh ya?" Zhang Bingjie menaikkan sebelah alisnya.
"Eh, sudahlah.. Kenapa sekarang kalian malah ribut?" Ucap Feng Hua menengahi. "Kalian sama sama sudah tua, tapi suka sekali bertengkar bila bertemu." Feng Hua menghela nafas.
"Jangan mengatakan bila aku sudah tua, Hua'er. Yang sudah tua hanya dia. Aku masih sangat muda dan tampan." Ucap Zhang Jiangwu yang tak terima.
"Heh, terlalu percaya diri." Ucap Zhang Bingjie.
"Itu memang benar. Maka dari itu Hua'er memilihku, karna aku tampan dan baik. Benar 'kan Hua'er?"
Feng Hua menghela nafas. "Sudahlah kalian berdua."
"Hua'er saja tidak membelamu." Ejek Zhang Bingjie.
Zhang Jiangwu mendengus kesal, "Hua'er membelaku. Kau saja yang tidak mendengarnya tadi. Benar kan Hua'er?"
Feng Hua menggelengkan kepala pasrah. Ia pun menatap Zhang Bingjie, "Kenapa ayah kemari? Apa ada sesuatu yang ingin ayah katakan?"
"Nah, bersikap 'lah sopan seperti menantuku ini. Belajar darinya, bagaimana cara bersikap sopan santun pada yang lebih tua." Zhang Bingjie menatap anaknya dengan sinis, seolah sedang mengejeknya. "Untungnya ada Hua'er. Bila tidak, maka semua cucuku pasti ketularan semua sifat jelekmu itu."
"Huh, kau kira sifatku ini didapat dari siapa bila bukan darimu?" Cibir Zhang Jiangwu.
"Kalian.. Bisa hentikan ini?" Ucap Feng Hua sambil tersenyum.
Zhang Bingjie dan Zhang Jiangwu bersamaan menatap Feng Hua yang sudah menahan amarahnya. "S-sudah."
Feng Hua tersenyum manis. "Nah sekarang, ayah, kenapa kau kemari?"
"Memangnya aku tidak boleh kemari ya?" Ucap Zhang Bingjie.
"E-eh, em.. Bukan seperti itu. Aku hanya bertanya saja. Karna biasanya, ayah jarang kemari. Bila kemari pun jika ada sesuatu yang ingin ayah katakan." Ucap Feng Hua dengan bingung.
"Aku hampir melupakannya." Gumam Zhang Bingjie. "Aku ingin mengatakan bila sekelompok orang aliran netral mencurigai kita sebagai keluarga Zhang. Maka dari itu, sebagian orang masuk ke dalam kawasan tempat ini untuk menyelidikinya. Walaupun kita memiliki beberapa pelayan yang bisa diandalkan untuk memusnahkan orang orang itu, tapi kita juga harus waspada.
Bila kita membunuh orang orang itu, maka akan semakin banyak orang yang berdatangan ke tempat kita nantinya. Jadi, jangan sembarangan menggunakan kemampuan mata keluarga Zhang untuk beberapa hari ini saja sampai orang orang itu pergi dengan sendirinya."
"Bagaimana mungkin mereka bisa masuk begitu saja?" Ucap Zhang Jiangwu dengan heran. Di bagian terluar kawasan ini terdapat seorang penjaga yang biasanya menghalangi siapapun orang asing yang masuk ke dalam. Jadi bagaimana bisa mereka masuk? Terlebih gerbang untuk masuk ke tempat ini memiliki berat yang lumayan berat dan harus dibuka dengan kekuatan fisik.
"Karna aku mengizinkan mereka masuk." Ucap Zhang Bingjie dengan mudahnya.
"Apa?!" Zhang Jiangwu terkejut mendengarnya. Begitupun Feng Hua. "Kau yang mengizinkan mereka masuk? Kenapa?!" Ucap Zhang Jiangwu yang masih terkejut.
__ADS_1
"Aku ingin mereka berhenti mencurigai kita. Jadi kuizinkan saja mereka masuk. Namun, hanya untuk saat ini saja." Zhang Bingjie tersenyum miring.