Feng Ying

Feng Ying
65 -Chapter 65


__ADS_3

Wang Chen hampir sampai di halaman istana. Namun dia tak melihat siapapun di sana. Bahkan para prajurit pun tidak ada. Namun dia melihat banyak darah berceceran di halaman.


Ketika dirinya akan mendekat, ada sekitar 2 tetua dan belasan murid berada di halaman istana. Iapun terkejut melihat mereka.


Dua tetua dan beberapa murid yang ada di sana melirik ke arah Wang Chen. Ketika melihat kalung yang dipakai bocah itu, mereka kini mengetahui bila Wang Chen berasal dari keluarga Luo. "Tangkap dia!" ucap salah satu tetua.


Semua murid aliran hitam mulai berlari ke arah Wang Chen. Melihat hal itu, Wang Chen segera membalikkan tubuhnya dan berniat pergi dari tempat itu. Namun, di depannya kini sudah muncul seorang tetua yang menghadangnya.


"Astaga, apa yang harus kulakukan?!" batin Wang Chen dengan panik.


"Kau takkan kami biarkan lari begitu saja!" ucap tetua di depan Wang Chen.


Ketika Wang Chen sedang bingung harus melakukan apa, tiba tiba pandangannya berubah menjadi hitam. Tubuh Wang Chen langsung jatuh ke lantai.


Dua tetua dan semua murid yang ada di sana terkejut. Mereka melihat seorang pria sepuh, "Yang Mulia."


Pria sepuh yang mereka lihat adalah Jing Quo. Namun sebenarnya dia adalah Zhang Jiazhen. "Aku akan membawanya. Kalian urus saja semua mayat yang ada di seluruh istana. Lalu tumpuk dan bakar mereka di halaman ini."


"Tapi Yang Mulia.. Apa tidak sebaiknya kita kubur saja teman teman ki-"


Zhang Jiazhen memotong ucapan salah satu tetua, "Lakukan saja dan jangan membantah."


"Ba- baik."


Setelah itu, Zhang Jiazhen pergi sambil membawa Wang Chen. Ia akan membawa bocah itu ke penjara dan memenjarakan Wang Chen bersama keluarga Luo lainnya.


***


Disisi lain, satu mata Feng Ying kini sudah diambil. Bagian bawah mata yang hilang itu masih terlihat bekas darah.


Feng Ying sudah tak merasakan sakit sejak tadi pada matanya yang kini menghilang. Karna regenerasi tubuhnya yang cepat. "Ternyata masih ada keluarga Zhang yang tersisa. Dia mantan pemimpin keluarga Zhang. Aku tak mungkin bisa mengalahkannya. Dia lebih cepat dariku. Dia juga lebih hebat menggunakan mata ilusi dan tingkat kultivasinya lebih tinggi dariku.


Bila dia mengambil mataku untuk menggantikan matanya yang buta, bukankah berarti dia tidak bisa mencapai tingkat kedua ilusi dari keluarga Zhang? Itu bisa jadi."


Tingkat pertama ilusi miliki keluarga Zhang adalah tatapan mata mereka. Untuk keluarga Zhang yang beruntung, maka mereka bisa naik ke tingkat dua. Yaitu dapat memberikan sebuah tekanan penyerang mental hanya dengan ucapan ataupun membuat ilusi dengan ucapan. Tentu tingkat kedua ini lebih berbahaya.


Seseorang yang bisa mengalahkan 'ilusi' keluarga Zhang hanyalah orang dengan mental kuat saja. Bila orang tersebut memiliki mental lemah, maka sudah dipastikan akan langsung kalah dengan cepat.

__ADS_1


Bila bisa mencapai tingkat kedua sebelum mata anggota seorang keluarga Zhang buta, maka dia tetap bisa menggunakan ilusi suara. Bahkan bila tidak dapat melihat ataupun tidak memiliki mata.


Feng Ying menghela nafas dan ekspresinya nampak masih santai. Karna dia tak berniat untuk melakukan apapun. Ia hanya ingin istirahat sejenak saat ini.


"Ckckck mungkin bagi orang lain, akan sulit lepas dari rantai seperti ini. Karna kebanyakan kultivator hanya mengandalkan Qi mereka untuk bertarung.


Dia mungkin berfikir bila aku sama saja dengan yang lain. Sehingga mempercayakan diriku pada rantai sialan ini" gumam Feng Ying.


Rantai yang mengikat Feng Ying adalah rantai penyerap Qi. Sehingga, bila seseorang mengeluarkan Qi mereka untuk lepas dari rantai, Qi itu hanya akan terserap oleh rantai. Rantai itu juga sangat kuat, sehingga akan sulit untuk menghancurkannya.


Kedua tangan Feng Ying secara bersamaan mencengkram balik rantai yang mengikatnya. Ia langsung meremasnya dengan kuat. Seketika, rantai langsung putus.


Kraakkk


Kini lengan Feng Ying terbebas dari kekangan rantai. Iapun melepaskan rantai yang sedikit melingkari pergelangan tangannya.


"Hm.. Tapi kurasa dia tak sebodoh itu. Tidak mungkin dia hanya mempercayakanku pada rantai itu. Dia pasti sudah melihat aksiku membunuh orang orang aliran hitam saat tadi" gumam Feng Ying. Iapun langsung duduk di lantai dan menopang dagu dengan satu tangannya.


"Jian, apa kau bisa membantuku berfikir? Menurutmu, dia menggunakan apa lagi untuk menahanku di tempat ini, selain rantai?" ucap Feng Ying.


"Pikir saja sendiri" ucap Jian di dalam pikiran Feng Ying.


"..."


"Hei, Jian.. Bantu aku keluar dari tempat ini."


"..."


"Kau menyebalkan!"


***


Setelah mengurung dan mengikat Wang Chen menggunakan rantai, Zhang Jiazhen langsung pergi menuju halaman belakang istana dengan sangat cepat.


Ia sudah memerintahkan semua orang aliran hitam yang ada di istana untuk mengkosongkan halaman belakang ini dan mengatakan bahwa dirinya akan mulai memanggil iblis dunia lain di tempat ini. Ia juga mengatakan bahwa para penyusup sudah dibereskan, jadi mereka tidak perlu mencari penyusup lagi dan menugaskan mereka untuk membereskan mayat mayat di istana saja.


Semua orang aliran hitam tidak ada yang membantah. Mereka sebenarnya ingin bertanya dimana empat patriarch. Namun mereka tak berani. Jadi mereka hanya menjalankan perintah yang dibuat oleh Zhang Jiazhen.

__ADS_1


***


Zhang Jiazhen mulai membuka kitab pemanggil dengan mengalirkan Qi pada kitab itu. Tidak seperti Feng Ying, ia dapat membuka kitab itu dengan mudah. Satu persatu kata dan halaman ia baca.


Setelah paham, ia langsung melukai telapak tangannya hingga berdarah. Setelah itu, ia menggambar lambang di permukaan tanah dengan darahnya sendiri.


Langit yang masih pagi tiba tiba saja berangin cukup kencang ketika Zhang Jiazhen melakukan gerakan tangan sambil menggumamkan kata kata yang ada pada kitab.


Semua orang yang ada di kekaisaran Naga api saat ini masih juga belum sadarkan diri. Sehingga tidak ada yang tau keadaan di kekaisaran, selain orang orang istana.


Sementara, penduduk dua kekaisaran lain yang ada di benua tengah nampak melihat awan hitam di langit muncul secara tiba tiba disaat hari masih pagi. Bahkan awan awan yang datang itu seperti membawa hawa dingin bagi mereka yang merasakannya.


Banyak orang yang tak mengetahui apa yang terjadi. Namun yang pasti, mereka merasakan firasat buruk dari arah kekaisaran Naga api. Selama ini, tidak banyak orang yang mau masuk ke kekaisaran itu. Karna rumor yang beredar. Sehingga, walaupun mereka merasakan firasat buruk dari arah kekaisaran Naga api, tidak ada yang mau pergi ke kekaisaran itu. Lagi pula, untuk sampai ke kekaisaran itu akan sangat lama.


***


Zhang Jiazhen mengakhiri jurus dengan meneteskan darah pada kitab. Perlahan, kitab mulai menjadi abu dan terbang begitu saja ke langit hingga akhirnya tak terlihat lagi.


Darah yang membentuk lambang bulat dengan sebuah bintang di tengahnya kini bercahaya merah dan nampak agak berasap merah. Hal ini membuat Zhang Jiazhen melompat mundur untuk menjaga jarak dengan lambang yang ia gambar pada permukaan tanah itu.


Tekanan muncul dari arah lambang yang dibuat oleh Zhang Jiazhen. Merasakan tekanan yang semakin kuat, Zhang Jiazhen kembali mundur sampai beberapa meter.


Tekanan itu mulai meluas hingga terasa sampai seluruh istana terkena tekanan itu. Seluruh penghuni yang ada di dalam beberapa terkena dampak. Mereka berlutut karna tak bisa menanggung tekanan yang mereka rasakan. Mereka tentunya adalah murid murid dalam dan inti. Sementara dua tetua yang tersisa masih bisa bertahan untuk tetap berdiri.


Zhang Jiazhen yang berada paling dekat dengan tempat tekanan berasal nampak melindungi diri dengan Qi. Karna dia orang yang paling dekat, sehingga tekanan lebih terasa olehnya. Ia berada di tingkat langit bintang 1. Namun tetap saja ia dapat merasakan tekanan kuat dari arah lambang yang ia buat.


Ia sebenarnya termasuk orang paling kuat di dunia ini. Karna tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkat kultivasi setinggi itu. Tetapi kini ia merasakan tekanan yang lebih kuat darinya.


***


Dari arah kepulan asap kemerahan nampak petir petir berwarna biru. Ketika itu, tekanan semakin terasa kuat dan membuat Zhang Jiazhen memperkuat Qi yang melindungi tubuhnya.


Sementara, murid murid yang ada di dalam istana sudah pingsan. Lalu dua tetua tersisa juga mulai ikut kehilangan kesadarannya.


Angin terasa semakin kencang. Hawa membunuh menyeruak keluar dari arah kepulan asap kemerahan.


"Tekanan ini.. Kuat sekali" gumam Zhang Jiazhen.

__ADS_1


Perlahan, asap kemerahan menghilang terbawa angin. Seorang pria berdiri tegak di tempat asap tadi berasal. Ia terlihat cukup tampan dengan iris mata hijau dan tatapan tajamnya. Hawa membunuh terasa pada tubuhnya. Di kepalanya terlihat sepasang tanduk.


"Ber.. Hasil" batin Zhang Jiazhen dengan tak percaya sekaligus senang.


__ADS_2