
Feng Ying, Wang Chen dan Wang Feng saat ini berada di kamar yang mereka tempati pada waktu itu. Terdengar suara seseorang di depan pintu dan seperti akan masuk.
Benar saja, beberapa saat kemudian, pintu dibuka dan memperlihatkan seorang pemuda berumur 14 tahun masuk ke dalam. Ia langsung terkejut ketika melihat kehadiran makhluk lain di dalam kamarnya, "Ka- kalian.."
Wang Chen melirik ke arah pintu kala mendengar suara pintu ditutup tadi. "Senior Zhao?!"
Bing Zhao adalah orang yang sekamar dengan Feng Ying dan Wang Chen saat kedua bocah itu baru pertama kali tinggal di sekte sebagai murid. Ia menghampiri Wang Chen dan Feng Ying, "Kemana saja kalian selama ini?!" Ucapnya dengan nada marah, tapi juga senang.
"Um.. Um.. Maaf senior Zhao, karna kami tak berpamitan padamu saat itu." Wang Chen menundukkan kepala dan merasa bersalah.
"Sudahlah lupakan itu, kapan kalian kembali? Bagaimana keadaan kalian? Apa ada yang luka? Apa ada yang sakit?", Bing Zhao memutar tubuh Wang Chen untuk memeriksa keadaannya.
"Senior.. Aku baik baik saja. Tidak, tapi tepatnya, kami baik baik saja. Kami kembali dengan selamat. Tak perlu mencemaskan kami."
Bing Zhao menatap Wang Chen, Feng Ying dan Wang Feng yang ada di atas kepala Wang Chen secara bergantian dan bila dirinya perhatikan, mereka bertiga memang baik baik saja. Iapun menghela nafas lega. "Bila pergi, lain kali katakan padaku. Agar aku tidak khawatir."
"Maaf.." Ucap Wang Chen.
"Untuk apa kami mengatakannya padamu, senior Zhao? Kau tidak memiliki hubungan apapun dengan kami." Celetuk Feng Ying.
Bing Zhao menatap Feng Ying dan ia juga sadar bila dirinya bukanlah siapa siapa Wang Chen maupun Feng Ying. Ia juga belum pernah mengajak keduanya untuk berteman. Lalu kenapa Feng Ying dan Wang Chen harus memberitaunya ketika mereka akan pergi? Padahal dirinya tak memiliki hubungan apapun ataupun hubungan khusus seperti saudara dengan mereka. "Maaf.." Itulah kata yang bisa diucapkannya saat ini.
"Se-senior tidak perlu meminta maaf. Ying, jangan berkata seperti itu pada senior."
Feng Ying mengangkat kedua bahu tak peduli, "Tapi apa yang kukatakan memang benar. Dia bukanlah siapa siapa bagi kita."
__ADS_1
"Senior Zhao adalah seniorku, sekaligus teman" Ucap Wang Chen sambil menatap Bing Zhao.
"Junior Chen.." Seulas senyum terbentuk di bibir pemuda yang cukup tampan itu.
"Terserahlah apa yang kau katakan.. Hoams.. Aku mengantuk," Feng Ying merebahkan dirinya di tempat tidur yang empuk dan langsung tertidur.
Wang Chen menggelengkan kepala ketika melihat sikap Feng Ying itu, "Senior.. Maafkan sikap Ying tadi. Dia memang seperti itu. Terkadang, aku juga tidak tau seperti apa jalan pikirannya."
Bing Zhao tersenyum, "Tidak apa. Mungkin junior Ying sedang sangat kelelahan. Sebaiknya kau juga istirahat, junior Chen. Hari ini pelajaran sudah selesai, jadi kau bisa istirahat."
Wang Chen mengangguk, "Terimakasih senior Zhao."
***
"Ayo kita bertarung!" Ucap seorang pemuda yang nampak berusia 16 tahun. Ia merupakan murid luar dan belum juga masuk ke murid dalam cukup lama karna tingkat kultivasinya yang belum juga mencukupi syarat. Ia merasa sangat iri karna Feng Ying dan Wang Chen yang hanya anak baru, bisa langsung masuk ke murid dalam.
Karna Feng Ying saat ini sedang berada di kawasan murid luar, maka dirinya bisa menemui bocah itu saat ini dan menunjukkan latihannya. Ia ingin mengalahkan Feng Ying di depan banyak orang untuk membuktikan bahwa Feng Ying yang hanyalah murid baru yang tidak ada apa apanya dibandingkan dirinya.
Feng Ying tidak menggubris ucapan pemuda itu dan hanya fokus membaca buku di depannya. Selama 3 hari ini, bocah itu memang selalu ke perpustakaan. 2 dan 1 hari lalu ke perpustakaan yang berada di kawasan murid dalam. Lalu hari ini, ia ke perpustakaan yang berada di wilayah murid luar. Entah apa yang sedang dicari bocah itu.
Wang Chen dan Wang Feng tidak ada bersamanya karna kedua makhluk itu berada di kelas etika. Feng Ying selama 3 hari ini selalu dihukum dan diperintahkan ke ruang hukuman. Namun setiap sudah mendapatkan hukuman, dirinya pergi ke tempat lain dan tidak kembali ke kelas.
"Hei, apa kau tidak dengar ucapanku, hah?! Apa kau tuli?!" Ucap marah pemuda itu.
Feng Ying masih belum memberikan respon apapun. Ia awalnya sudah senang karena suasana di perpustakaan wilayah murid luar ini sedang agak sepi saat ini. Sehingga ia bisa tenang. Namun, ketenangannya langsung dihancurkan oleh pemuda berumur 16 tahun yang tak dikenalinya datang tiba tiba.
__ADS_1
"Heh, apa jangan jangan kau adalah orang yang penakut? Apa mungkin.. Kekuatanmu saat itu di turnamen hanyalah karna sebuah pil?" Ucap pemuda itu kembali dengan nada ejekan.
"...Hmph! Tak seharusnya orang lemah sepertimu langsung masuk menjadi murid dalam! Karna kau hanyalah pengecut! Kenapa bisa bisanya patriarch membuatmu langsung masuk menjadi murid dalam, hah.. Apa mungkin, patriarch kau pengaruhi agar membuatnya dapat menjadikanmu murid dalam ya?" Ucap pemuda itu masih dengan ejekan. Sebenarnya dia marah. Sehingga membawa nama nama patriarch dari ucapannya dan seakan menjelek jelekan patriarch. Padahal dia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya marah saja dengan Feng Ying yang tidak juga memberikan respon apapun.
"Bila kau diam, berarti kau memang lemah dan penakut! Hmph!"
Pemuda itu berniat pergi. Namun, sebuah suara membuatnya berhenti berjalan. "Heh, menurutmu begitu?"
Pemuda itu berbalik dan tersenyum karna akhirnya Feng Ying merespon dirinya. Tetapi ucapan yang dilayangkannya kini kembali dengan nada ejekan, "Heh.. Lemah! Ternyata kau sekarang mau berbicara. Kenapa diam saja tadi? Takut, huh?"
"Aku tidak takut sama sekali dan sebaiknya kau dengarkan ucapanku ini dan tanam baik baik dalam dirimu, seseorang tetap diam ketika diejek.. Bukan berarti dia lemah dan tak bisa melawan. Dia diam, bukan berarti orang lain bebas memberikan ejekan padanya dan hanya akan tetap diam seterusnya. Kau tau? Orang pendiam pun bisa menjadi penjahat yang takkan pernah kau pikirkan sebelumnya."
Pemuda itu dibuat terdiam ketika mendengar ucapan Feng Ying. Bocah itu mulai mengambil dua buku yang sudah ia ambil di rak buku tadi dan berjalan pergi. Ia menepuk satu tangan pemuda itu dari arah samping. "Lain kali, jangan hanya diam ketika kau diejek. Berlatihlah dengan giat dan buktikan pada mereka bahwa semua ucapan mereka tidaklah benar. Saat itulah, maka mereka takkan mengejekmu lagi. Yap, sampai jumpa."
Feng Ying berlalu pergi dan meninggalkan beberapa buku di meja. Ia tidak membutuhkan buku buku itu dan malas untuk menyimpannya kembali dalam rak buku. Jadi ia hanya menyimpannya saja di sana. Sementara, dua buku yang ia pegang akan ia bawa ke petugas yang menjaga perpustakaan dan meminjamnya.
Pemuda berumur 16 tahun itu masih terdiam di tempat dan hanya menatap kepergian Feng Ying. "Bagaimana dia bisa.. Mengetahuinya?"
Selama ini, pemuda itu selalu diejek oleh murid murid karna sampai dirinya 16 tahun pun, dirinya masih belum bisa masuk menjadi murid dalam. Ia hanya bisa diam. Biarpun dia melawan dan memukul satu murid habis habisan, tapi bukan berarti murid lain akan diam. Mereka pasti akan melawannya dan tentu ia akan kalah. Ia hanya bisa diam, tidak ada orang yang bisa menjadi temannya. Tidak ada orang yang mau dekat dengannya karna mereka berkata bahwa mereka dekat dengannya, maka mereka juga akan ikut ikutan terkena sial dan tak bisa naik tingkat kultivasi.
Ia mencoba bertarung dengan Feng Ying karna Feng Ying adalah seorang murid dalam yang masuk menjadi murid dalam dengan begitu mudahnya. Bahkan saat pertama kali. Ia merasa mungkin bila mengalahkan Feng Ying yang murid dalam, maka dirinya akan diakui kuat oleh semua murid. Jadi, ia berusaha agar Feng Ying mau melawannya.
Namun tak disangka, bukannya melawan setelah mendapat ejekan darinya, Feng Ying malah memberikan sebuah kata kata yang membuatnya semangat untuk berlatih. Sehingga membuatnya percaya dapat menjadi lebih kuat diantara murid murid luar lainnya dan bisa masuk menjadi murid dalam.
Ia masih termenung. Ada beberapa pertanyaan di benaknya, bagaimana Feng Ying bisa mengetahui bila dirinya sering diejek? Mengapa Feng Ying tidak menyerangnya, walaupun dirinya sudah mengejek bocah itu? Bahkan dalam nada ucapan Feng Ying tadi, tidak ada rasa marah sama sekali.
__ADS_1