Feng Ying

Feng Ying
152 -Perasaan Sedih


__ADS_3

"Wang.. Feng.." Gumam Feng Ying tak percaya.


Wang Chen membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari Feng Ying. Ia kemudian berdiri di samping wanita yang tadi dilawannya.


Feng Ying pun melihat itu. Apa mungkin Wang Chen bersekongkol dengan mereka?


"Aku akan membantu kalian menghapuskan penjahat itu." Ucap Wang Chen sambil menunjuk Feng Ying dengan dagunya.


Wanita di hadapan Wang Chen mengerutkan kening, "Temanku sudah membunuh harimaumu itu. Kau masih mau bergabung?" Ucapnya yang seolah bingung.


"Wang Feng hanyalah teman untuk menghilangkan kebosananku saja. Tidak ada yang spesial darinya. Terlebih Ying. Aku mengikutinya hanya karna tujuan untuk merubah sikap dan perbuatannya saja. Tapi karna aku tidak bisa melakukan itu.." Wang Chen menutup mata sejenak dan kembali membukanya, "Maka aku akan membantu kalian menghapuskan dirinya dari dunia ini. Dia tak layak hidup. Dia sudah merenggut banyak nyawa tak bersalah. Dia harus menerima hukumannya."


Wanita di hadapan Wang Chen tersenyum tipis. "Baiklah. Aku menerimamu. Bukan begitu semuanya?"


Dua pria yang menjadi teman wanita itu nampak menatap Wang Chen dari jarak beberapa meter. Mereka berdua langsung mengangguk setuju.


Feng Ying mencoba berdiri sebisa mungkin. Di bagian sisi kanannya, sudah ada dua musuh dengan mayat Wang Feng. Sementara beberapa meter di depan, berdiri Wang Chen dan musuhnya. Ia tidak menyangka bila Wang Feng akan mati dan sekarang pun, Wang Chen memihak pada musuh. Apa selama mereka bersama, itu tidak berarti sama sekali di mata Wang Chen? Apakah ini alasan awal pemuda itu mengikutinya? Tapi kenapa?


Sejak awal ia bertemu Wang Chen, apakah pemuda itu sudah tahu bila dirinya adalah anggota keluarga Zhang? Mungkin benar.. Karna saat ia membantai banyak orang di kota pun, Wang Chen keras kepala untuk tetap ikut bersamanya. Apakah mungkin pemuda itu tahu siapa dirinya saat Feng Ying sedang menyelamatkan Liu Mei?


Feng Ying tersenyum getir ketika memikirkan semua itu. Seharusnya dari awal, ia memang tidak perlu mempercayai seseorang. Ia kini bahkan tak bisa menyerang orang kepercayaannya yang sudah menghianati dirinya. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia tidak ingin melukainya.


Apa ini rasanya dilukai? Tidak berdarah, namun menyakitkan. Bahkan rasanya lebih menyakitkan dari pada luka yang dialaminya saat ini. Dikhianati orang terdekat dan paling ia percayai. Bahkan ia harus kehilangan teman lembutnya yang tak lain Wang Feng. Ia merasa seperti dipermainkan oleh Wang Chen.


"Baiklah, sekarang kita bereskan saja dia secepatnya. Aku sudah muak melihat wajahnya. Dan sebaiknya kau bersiap siap, Ying." Ucap Wang Chen dengan senyum.


Wanita di samping Wang Chen dan kedua musuh Feng Ying yang lain pun nampak bersiap menyerang.


Melihat hal ini, Feng Ying tidak hanya diam. Ia mencengkram belati di tangannya dengan kuat. Bahkan saking kuatnya, telapak tangannya kini terluka. "Chen.. Aku sangat kecewa padamu."


Ucapan Feng Ying seakan tidak mengganggu Wang Chen sama sekali. Ia hanya tersenyum sinis, seakan sedang mengejek Feng Ying.


***


Feng Ying bersandar pada sebuah pohon besar yang ada di dalam hutan larangan. Beberapa saat yang lalu, dirinya pergi melarikan diri ke dalam hutan ini. Musuh musuhnya pun tak mengikutinya ke dalam, seakan mereka takut untuk masuk.


Feng Ying pun tahu bila ini adalah hutan larangan. Hutan ini dikenal memiliki ilusi yang dapat membuat seseorang takkan bisa keluar dari hutan selamanya dan orang itu hanya akan mati bila tetap nekat masuk ke dalam.


Namun karna Feng Ying memiliki kemampuan ilusi, maka dirinya masuk ke hutan ini tanpa ragu sama sekali.

__ADS_1


Saat melarikan diri, Feng Ying sempat membunuh satu satunya musuh wanita yang menyerangnya dengan Qi yang cukup besar. Bahkan karna serangannya itu, ia langsung menghancurkan tubuh lawan sampai berkeping keping. Walau begitu, Feng Ying juga mendapatkan luka di tubuhnya.


Darah keluar dari sudut bibir Feng Ying. Ia memang mendapatkan beberapa luka. Namun rasa sakitnya tidak seberapa dengan rasa sakit di hatinya.


Feng Ying menangis tanpa suara. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menangis. Bahkan saat masih kecil dan saat masih bayi pun dirinya tidak pernah menangis. Apa seperti ini rasanya kesedihan? Untuk pertama kalinya, Feng Ying bisa merasakan kesedihan yang terdalam di hatinya. "Kenapa.. kenapa kau mengkhianatiku, Chen?" lirihnya.


"Aku sangat bodoh karna mempercayaimu." Gumam Feng Ying dengan tangan terkepal erat seakan memendam amarah. Walau sebenarnya tatapannya mengatakan hal yang berbeda. Tentu Feng Ying bukan hanya marah. Tapi sedih dan kecewa. "Kenapa kita harus bertemu bila akhirnya seperti ini?! Lebih baik aku tidak pernah bertemu dengan mereka sejak awal." Feng Ying mencengkram rambutnya. Ia terlihat frustasi.


______________________________________


Kini, Feng Ying seakan berada di dalam tempat yang sangat gelap, tanpa adanya cahaya sama sekali. Feng Ying membenamkan wajahnya di lutut dan menangis tanpa suara.


Tiba tiba, seseorang memeluk leher Feng Ying dari belakang dan berbisik. "Aku akan menghapus kesedihanmu. Kau tidak akan lagi merasakannya. Percaya padaku. Sekarang kau diam saja, aku yang akan menyelesaikan sisanya."


***


Praanggg


Di tempat lain, seorang wanita yang sedang membawa cangkir, tiba tiba tak sengaja menjatuhkan cangkir teh yang sedang dipegang olehnya. Ia terkejut dan langsung menatap ke bawah, dimana pecahan itu berada. "Kenapa perasaanku sangat tidak enak?" Gumamnya dengan cemas.


Wanita ini adalah Feng Hua, ibu dari Feng Ying. Ia segera berlari menuju sebuah pintu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan langsung membukanya tanpa permisi terlebih dahulu.


Suara benturan dari pintu terdengar keras, hingga membuat orang yang berada di dalamnya lansung menoleh ke arah Feng Hua. "Astaga, Hua'er.. Kau mengejutkanku." Ucap seorang pria yang terlihat berusia 50 tahun. Walau sebenarnya umurnya lebih tua dari itu. Ia tak lain adalah Zhang Bingjie, kakek Feng Ying.


"Ayah, aku merasakan firasat yang tidak enak. Ini tentang Ying'er. Kita harus segera mencarinya!" Ucap Feng Hua dengan tergesa gesa dan raut panik.


***


Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan yang nampak agak redup dan tertutup. Terlihat seorang pemuda yang baru saja diikat dengan rantai. Kedua tangan dan kakinya diikat oleh rantai yang dapat menyerap Qi. Jika seseorang mencoba melepaskan rantai ini dengan Qi, maka itu akan sia sia. Karna Qi yang ia gunakan akan terserap ke rantai dan membuat rantai semakin kuat. Ujung rantai lain yang mengikat tangan pemuda itu nampak menancap di dinding belakangnya.


"Sialan! Lepaskan aku!" Ucap pemuda itu sambil menatap dua orang pria di hadapannya dengan marah.


"Untung saja kita segera membawanya kemari dengan cepat dan mengikatnya, sebelum dia mendapat kesadaran miliknya kembali." Ucap salah satu pria. Ia adalah orang yang dilawan Feng Ying tadi. Sementara, pemuda yang diikat adalah Wang Chen.


"Rencana kita berhasil." Ucap pria berkemampuan teleportasi itu.


"Bukan rencana kita. Tetapi rencana Tuan yang berhasil. Kita hanya melakukan perintah." Ucap pria dengan kemampuan menarik dan mendorong benda tanpa menyentuhnya. Ia mengoresksi ucapan pria di sampingnya.


"Iya.. Iya! Rencana Tuan. Tapi bila kita tidak melakukannya sesuai rencana, kau pikir ini akan berhasil?"

__ADS_1


"Terserah. Tidak perlu mendebatkan hal sepele ini."


Pria berkemampuan teleportasi itu kini muncul tepat di hadapan Wang Chen dan menendang perut permuda itu dengan keras.


Bughh


"Uhuk.." Wang Chen terbatuk. Pria itu menendangnya di bagian luka dan membuatnya kesakitan. "Sialan.." Gumamnya.


Pria yang menendang Wang Chen tersenyum puas. "Heh, apa itu sakit?"


Wang Chen mengangkat kepalanya kembali dan menatap pria itu dengan geram, "Kenapa aku bisa ada di sini?! Dimana teman temanku?! Apa yang kalian lakukan pada mereka?!"


Pria di hadapan Wang Chen tersenyum sinis. "Harimau bulan yang pergi bersamamu sudah mati. Sementara orang yang satunya, pergi meninggalkanmu."


Wang Chen mengerutkan kening. "Apa maksudmu?!"


Pria itu mulai mengeluarkan sebuah kepala berukuran besar dari dalam cincin ruang miliknya. Ia menjatuhkan kepala itu dan membuat kepala menggelinding sampai menyentuh ujung sepatu Wang Chen.


Wang Chen perlahan melihat ke bawah dan langsung terbelalak ketika mengetahui pemilik dari kepala itu. "Wang Feng!" Ia mencoba melepaskan diri untuk bisa menggapai kepala Wang Feng. Namun apa yang ia lakukan sia sia. Rantai yang mengikatnya semakin kuat, sehingga semakin sulit dilepaskan. "Wang Feng! Hiks.." Wang Chen meneteskan air mata kala mengetahui kenyataan bila Wang Feng telah mati.


"Beraninya.. Beraninya kalian membunuh Wang Feng!" Ucap Wang Chen dengan marah. "Sekarang dimana Ying?! Apa yang kalian lakukan padanya, hah?! JAWAB SIALAN!"


Pria berkemampuan teleportasi itu nampak mengorek telinganya dengan ekspresi malas, "Berisik sekali. Apa kau tidak bisa diam, huh?"


"Cih, dimana Ying?!" Teriak Wang Chen.


"Orang yang bersamamu itu?" Pria di hadapan Wang Chen mulai menatap Wang Chen kembali, "Kau sudah berkhianat padanya dan memilih kami." Ucapnya santai.


"Apa maksudmu?!"


"Ah~ tentu kau takkan paham, karna tadi kau mengatakan dan melakukannya tanpa sadar. Baiklah, aku akan menceritakannya." Ucap pria itu. Ia mulai menjelaskan semua yang terjadi. Apa saja yang sudah dilakukan dan dikatakan Wang Chen pada Feng Ying saat tadi.


Wang Chen terbelalak mendengarnya. "Tidak mungkin! Sebenarnya apa yang kalian lakukan padaku, hah?!"


"Bukan kami, tapi Tuan. Tuan menghipnotismu tanpa kau sadari." Ucap pria teleportasi itu dengan santainya.


"Kau terlalu banyak bicara." Seseorang muncul dari bagian gelap ruangan ini.


Wang Chen langsung menatap ke arah suara berasal dan melihat seorang pemuda yang seumuran dengannya. "Sebenarnya siapa kalian semua?!"

__ADS_1


__ADS_2