Feng Ying

Feng Ying
132 -Hukuman Pencuri


__ADS_3

Setelah hari sudah siang, Wang Chen dan Feng Ying akhirnya telah sampai di desa lain. Keduanya masuk ke dalam sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. Bangunan itu adalah sebuah restoran kecil.


Keduanya memesan makanan dan minuman yang ada. Hanya dalam waktu beberapa menit, keduanya mendapatkan apa yang mereka pesan. Mereka pun langsung memakannya. "Makanan dan minuman di tempat ini lumayan enak juga. Walaupun restoran ini hanyalah restoran kecil, tapi makanan di tempat ini layak untuk dimakan." Ucap Feng Ying.


"Ucapanmu terdengar seperti sebuah penghinaan, Ying. Jangan bicara terlalu keras." Wang Chen bersuara dengan berbisik. Para pelanggan saat ini menatap mereka dengan tajam karna ucapan Feng Ying tadi. Restoran ini adalah satu satunya yang ada di desa ini dan restoran ini merupakan tempat dimana makanan yang sangat enak bagi mereka disajikan. Tapi Feng Ying malah mengatakan 'tapi makanan ini layak untuk dimakan'. Kata katanya terdengar seperti mengatakan bila makanan di restoran ini sangat buruk dan yang terbelakang dari restoran lain yang ada di tempat lain.


Feng Ying mengerutkan kening dan menatap sekitar, "Apa lihat lihat?!"


Para pelanggan yang merupakan asli penduduk di desa ini hanya menatap Feng Ying sekilas dengan marah. Mereka pun kembali melanjutkan makannya yang tertunda tadi. Memang jarang ada orang dari tempat lain yang singgah di desa ini. Jadi kebanyakan pelanggan hanyalah warga setempat saja.


"Mereka aneh sekali. Aku 'kan hanya mengatakan pendapatku saja." Ucap Feng Ying dengan suara agak pelan.


"Iya, tapi lihat dulu sekelilingmu. Mereka menjadi marah padamu karna ucapanmu yang sangat terang terangan dan keras itu." Bisik Wang Chen.


Feng Ying mengangkat kedua bahu tak peduli, "Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang diriku. Karna yang menjalankan hidupku adalah diriku sendiri, bukan mereka. Untuk apa aku mendengarkan ucapan mereka? Bila mereka tak menyukaiku, yasudah biarkan saja.." Ia kembali melanjutkan makan. Walaupun sekarang ia merasa kurang bernafsu untuk makan.


Wang Chen menghela nafas, "Percuma mengatakan itu padamu." Ia kembali memakan makanan miliknya dengan tenang. Hari ini, Feng Ying mentraktirnya. Jadi Wang Chen tak perlu membayar.


Setelah selesai makan dan membayar makanan, keduanya pergi keluar untuk berjalan jalan sebentar di desa ini. Mereka pun melintasi salah satu titik desa dengan dinding yang memiliki gelang dan kalung rantai yang menempel pada dinding. Ini terlihat seperti saat mereka terkena ilusi di dalam gerbang dunia.


"Kenapa tempat ini sama dengan ilusi saat itu, Ying?" Bisik Wang Chen.


Feng Ying pun merasa bingung. Ternyata tempat seperti ini ada juga di dunia nyata. Feng Ying mengangkat kedua bahu, "Aku tidak tahu."


"Bila seperti ini, apakah mungkin kejadian di dalam ilusi itu akan terjadi lagi?" Ucap Wang Chen dengan raut yang sulit diartikan. Ia jelas tak suka dengan ilusi yang saat itu ia lihat dalam kabut yang ada di dalam gerbang dunia. Baginya, itu sangat kejam.


Benar saja, belum lama setelah Wang Chen berucap demikian, terdengar kegaduhan para warga. Banyak orang yang melihat bagaimana seseorang diseret. Leher dari orang itu kini terdapat kalung besi karna para warga yang memasangkannya. Kedua tangannya pun demikian. Tangannya dilingkari oleh gelang besi dengan sebuah rantai yang tertanam pada dinding.


Saat Wang Chen melihatnya, ia langsung terkejut. Kejadian ini sama dengan yang saat itu terjadi dalam ilusi berkabut. Seorang anak laki laki yang kini ditahan oleh para warga. Yang berbeda hanyalah wajah anak itu dan semua warga yang ada di tempat ini. Lalu kata kata yang mereka ucapkan tak jauh berbeda dengan intinya dari yang saat itu ia lihat di ilusi.


Anak laki laki itu ketakutan dan nampak ingin menangis. "L-lepaskan.."


Empat orang berjalan lebih dekat pada anak itu. Mereka membawa balok kayu. "Heh, lepaskan? Kau pikir kau siapa berani memerintah kami, huh?"


"Kau sudah mencuri di desa ini. Maka kau harus dihukum!" Tambah yang lain. Ia nampak geram menatap anak di depannya.


"Hiks.. A-aku hanya mengambil roti. Itu saja.. Aku tidak melakukan hal lain.." Ucap anak laki laki dengan ketakutan. Para warga menatapnya dengan tajam, membuatnya ketakutan.

__ADS_1


"Heh, 'hanya' kau bilang?! Pencuri tetaplah pencuri! Seberapa kecil pun barang yang kau ambil, tetap saja kau harus dihukum! Kau adalah pencuri! Kau akan dihukum mati!"


"Hiks.. L-lepaskan aku.. Ampuni aku.. T-tolong.. Lepaskan.." Ucap anak laki laki itu dengan suara bergetar takut.


"Kotor! Jahat! Tidak berhak diampuni!" Teriak para warga.


"Kami tidak akan melepaskanmu!" Ucap salah satu orang yang memegang balok kayu. Ia lalu menatap ketiga orang yang juga memegang balok kayu. Ia memberikan aba aba untuk segera memukul anak laki laki itu.


Ketiga orang lainnya mengangguk, "Kotor! Jahat! Tidak berhak diampuni!"


Orang orang itu mulai memukuli pencuri dengan balok kayu tanpa mempedulikan teriak kesakitan dan tangisan dari anak laki laki yang mereka siksa. "Hiks.. S-sakit.. Lepaskan.. Ampuni aku.. Hiks.."


Wang Chen menatap anak laki laki itu sedih. "Ying, kita harus menolongnya. Saat itu mungkin hanyalah ilusi. Tapi sekarang berbeda. Ini benar benar nyata! Kita harus menolongnya!"


"Tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Lagi pula, kita tidak mengenal dia sama sekali. Kenapa kau malah ingin menyelamatkannya?" Ucap Feng Ying dengan malas. Seharusnya ia semangat melihat penyiksaan itu. Namun kini berbeda. Ia merasa sangat terganggu dengan siksaan itu. Bukan karna merasa kasihan, tetapi karna ia tidak menyukai penduduk yang ada di desa ini. Mereka bertingkah seolah mereka adalah yang paling benar.


"Tidak Ying. Kali ini, Aku tak bisa diam begitu saja melihatnya disiksa seperti itu!" Ucap Wang Chen dengan tatapan mata penuh tekad. Ia hendak berlari ke tempat itu. Namun, tangannya ditahan oleh Feng Ying.


"Tak perlu ikut campur. Lihat dan perhatikan saja. Kau harus tetap diam di sini, tidak perlu membantu bocah itu. Ini perintah!"


Wang Chen menatap Feng Ying sekilas. Ia pun menghempaskan tangan Feng Ying, "Maaf.. Untuk kali ini, aku tidak akan melakukan perintahmu. Aku tidak mau diam saja melihatnya seperti itu." Wang Chen berlari ke arah keramaian penduduk. Sementara, Feng Ying hanya menghela nafas dan membiarkan Wang Chen pergi.


"Aagh.. S-siapa kau?!"


"Beraninya kau menghentikan kami!"


Para penduduk menatap Wang Chen dengan marah. Pemuda itu sudah mengacaukan aktivitas mereka saat ini, pemuda itu mengacaukan aturan yang berlaku di dalam desa.


Wang Chen berdiri menghadap para penduduk. Tubuhnya menutupi para penduduk untuk melihat anak laki laki pencuri itu. "Aku tidak akan membiarkan kalian melukainya lebih dari ini!"


Anak laki laki itu terkejut dengan kehadiran Wang Chen yang tiba tiba berada di depannya dan menolongnya. Ia sedikit menengadah ke atas untuk melihat Wang Chen yang memunggunginya. Anak laki laki yang dipukuli nampak terluka. Di kedua hidungnya terdapat darah, di sudut bibirnya pun demikian. Pakaiannya saat ini sangat kotor. Air mata terlihat membasahi pipinya. Ia menahan sakit karna perlakuan penduduk pada dirinya.


"Kalian tidak seharusnya bersikap kasar seperti ini pada anak kecil sepertinya! Kalian keterlaluan!" Ucap Wang Chen. Ia menatap para penduduk desa dengan tajam. Ia tak suka dengan perlakuan mereka pada anak yang ia lindungi ini.


"Memangnya kenapa?! Itu sudah menjadi tradisi di desa ini! Kau berani beraninya merusak tradisi dan aturan desa kami!" Salah satu warga menatap Wang Chen marah. Ia tidak peduli dengan tatapan tajam Wang Chen yang kini diarahkan padanya. Karna ia merasa bila Wang Chen 'lah orang yang sudah membuat kerusuhan. Sementara dirinya dan warga desa lain tidak bersalah atas ini.


"Heh, tradisi dan aturan macam apa itu?! Sangat keterlaluan! Tradisi dan aturan yang begitu bodoh dan kalian malah mempertahankannya!" Wang Chen mendengus kesal.

__ADS_1


"Kau..!!" Para warga semakin marah ketika mendengar ucapan Wang Chen.


Wang Chen berbalik dan menatap anak laki laki itu. Ia dengan tangan yang dipusatkan sebuah Qi langsung memotong besi yang tergantung di leher dan tangan anak laki laki itu.


"Beraninya kau mengacaukan tradisi kami! Kau bahkan menghina kami!" Ucap seorang kepala desa. Ia adalah salah satu orang yang memegang balok kayu.


"Dia tidak berhak diampuni!"


"Dia harus dihukum!" Teriakan para warga terdengar. Mereka ingin bila Wang Chen dihukum atas apa yang dilakukan dan diucapkan pemuda itu.


Wang Chen menghentakkan kaki ke permukaan tanah ketika para warga mulai mendekat ke arahnya dan anak laki laki yang sedang bersamanya. "Enyahlah!"


Stabbb Stabbb Stabbb


Tubuh semua warga biasa itu kini tertusuk oleh es yang muncul dari permukaan tanah. Mereka mengerang kesakitan. Hingga tak lama akhirnya, mereka mati mengenaskan.


Wang Chen untungnya sudah menutup mata anak laki laki yang sedang ia gendong agar anak itu tak melihat apa yang terjadi.


"Hiks.. Sakit.." Ucap anak laki laki itu. Ia masih merasa kesakitan.


"Maaf aku baru menolongmu sekarang.." Lirih Wang Chen. Ia tak tega melihat anak yang dalam gendongannya ini terluka seperti ini.


Tak lama kemudian, terdengar suara warga lain yang berasal dari desa ini. Warga yang menyaksikan penyiksaan tadi memang tidak semua. Jadi, ketika mendengar suara jeritan, para warga yang tersisa langsung berlarian ke arah suara berasal.


Wang Chen melihat ke arah para warga yang ia bunuh. Ia tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang ia lakukan. Karna ia merasa bila semua orang orang itu berhak mati. "Aku akan membawamu dan menyembuhkanmu. Tahanlah sebentar.."


Wang Chen berlari ke arah Feng Ying. Ia pun berucap ketika sudah berada tepat di depan pemuda itu, "Ying. Kita harus pergi meninggalkan desa ini sekarang."


Feng Ying memutar bola mata malas, "Aku sudah bilang agar kau tak perlu melakukan itu. Sekarang kau malah membuat masalah."


Wang Chen menundukkan kepala, "Maaf Ying.. Karna tidak melakukan perintahmu tadi."


"Untuk saat ini lupakan dulu masalah itu. Kita pergi." Feng Ying mulai berlari pergi dari desa. Wang Chen pun mengikuti kemana Feng Ying berlari.


***


Para warga yang tersisa terkejut melihat orang orang mereka yang mati mengenaskan tertusuk oleh bongkahan es yang muncul dari bawah tanah. Mereka mencari ke sekitar untuk menemukan pelaku yang melakukannya. Namun hasilnya nihil. Mereka tidak bisa menemukan orang yang sudah melakukan ini.

__ADS_1


Seorang pemuda nampak berdiri di atas dahan pohon yang besar, tak jauh dari desa berada. Ia menatap ke arah dimana perginya Feng Ying dan Wang Chen tadi. "Hm.. Walaupun tidak sesuai dengan rencanaku yang pertama, tapi ini bisa menjadi awal bagiku untuk melakukannya. Namun sebelum itu, aku akan bersenang senang terlebih dahulu." Sudut bibirnya terangkat.


__ADS_2