
Kini, Feng Ying sudah dikepung oleh semua kultivator yang ada di sekitar. Mereka menatapnya dengan waspada.
Mata Feng Ying berkilat merah. Sedetik kemudian, pertarungan terjadi. Suara teriak kesakitan dan suara senjata berbenturan terdengar. Bahkan suara tanah yang terhantam sebuah benda keras pun terdengar yang menyebabkan tanah menjadi cekungan besar. "Aarghhh!"
Wang Chen membulatkan mata ketika melihat apa yang dilakukan Feng Ying. Ia segera menyembunyikan Jiang Fu di belakangnya agar anak itu tidak melihat apa yang terjadi. "Tutup matamu, Fu'er.. Sebelum aku menyuruhmu membukanya, maka kau tak boleh membuka matamu. Kau mengerti?"
"I-iya.." Jawab Jiang Fu.
Wang Chen melihat ke arah depan, dimana Feng Ying dan para kultivator bertarung. "Ying! Hentikan!" Teriaknya. Namun, Feng Ying tidak mendengarkan apa yang ia ucapkan.
Feng Ying terus bertarung dan menghabisi para kultivator. Darah dan potongan daging berserakan dimana mana. Tubuhnya sudah terkena banyak cipratan darah. Namun, Feng Ying belum juga menghentikan aksinya. Ia nampak menyeramkan saat ini dengan seringai dan cipratan darah di wajahnya itu.
"Aarggh!"
Tanah tajam muncul dari bawah tanah dan berniat menusuk Feng Ying. Bola petir yang juga merupakan serangan seorang kultivator ikut dilemparkan. Namun, pemuda itu dapat menghindari serangan dengan sangat gesit dan serangan serangan itu malah melukai kultivator lain.
Di udara sekitar Feng Ying terbentuk beberapa jarum darah yang dibuat dari darah orang orang yang mati.
Semua kultivator yang menyerangnya terkejut karna tak menyangka bila Feng Ying dapat melakukan hal itu. Beberapa jarum yang dilesatkan Feng Ying mengenai beberapa kultivator. Beberapa jarum menancap di jantung, mata ataupun telinga para kultivator. Sungguh mengerikan.
"Aarggh!"
"Aarghh!"
Banyak kultivator yang sudah mati. Beberapa diantara kultivator juga sudah terluka. Mereka seperti bukan tandingan bagi Feng Ying yang nampak ganas saat ini. "Dia monster!" Teriak salah satunya sambil menunjuk Feng Ying dengan tangan gemetar.
Para kultivator mengangguk setuju. Mereka menatap Feng Ying ngeri dan takut takut. "Kita harus segera menghabisi monster itu! Jangan biarkan dia hidup dengan bebas!"
"Ya! Dia tidak boleh hidup lebih lama lagi!"
"Dia akan membahayakan semua orang!"
Beberapa kultivator kembali menyerang Feng Ying, walaupun mereka takut dengan pemuda itu. Karna yang ada di pikiran mereka saat ini adalah untuk tidak membiarkan Feng Ying hidup, maka sampai sekarang mereka masih menyerang dan melawan.
Wang Chen melindungi Jiang Fu dari serangan nyasar para kultivator. Ia mulai pergi membawa Jiang Fu menjauh, agar anak itu tidak terluka. Beberapa kali serangan hampir saja mengenai dirinya dan Jiang Fu. Namun, Wang Chen segera menepis maupun menghindari serangan. "Aku akan membawamu pergi jauh dari si–"
Boommm
Tiba tiba sesuatu menghantam jalan di depan Wang Chen dan membuat Wang Chen melompat mundur sambil terus menggendong Jiang Fu. "Apa itu?!" Kagetnya.
Wang Chen menatap dedebuan dan melihat seseorang terbaring dengan luka parah di tubuhnya. Orang itu adalah orang yang terkuat diantara kultivator lain yang masih hidup.
Wang Chen berlari mendekat pada orang itu dan berjongkok di sampingnya. Ia mengecek kondisi tubuh kultivator itu dan ternyata dia masih hidup. "Apa yang harus kulakukan?" Gumamnya. Ia melirik ke sekitar untuk mencari seseorang yang mungkin bisa menolongnya ataupun adanya sebuah toko obat di sekitar. Namun, ia tak menemukannya sama sekali di tempat ini.
Belum sempat Wang Chen pergi, sebuah serangan nyasar jatuh tak jauh di belakangnya dan hal ini pun membuat Wang Chen terkejut. "Sebaiknya aku membawa Fu'er menjauh dari tempat ini terlebih dahulu." Batin Wang Chen.
__ADS_1
"Maafkan aku.. Aku tak bisa menolongmu.." Lirih Wang Chen pada kultivator di depannya. Ia segera berlari dan membawa Jiang Fu menjauh.
***
Setelah belasan menit, Feng Ying menghabisi seluruh kultivator yang ada. Dirinya bahkan sudah menghabisi para warga yang tadi berniat kabur darinya. Kini hanya tersisa satu orang warga yang hidup dan sedang dicengkram lehernya oleh Feng Ying. Warga itu memiliki kondisi yang tidak begitu baik. Dahinya berdarah karna terkena bangunan yang runtuh akibat serangan nyasar. Tulang tangannya pun patah bagian dalam, sehingga tidak memperlihatkan luka sobekan pada kulitnya. Warga menatap takut Feng Ying, "L-lepas.."
"Lepas?" Feng Ying tersenyum menyeringai. Ia menusukkan tangannya yang berkuku tajam pada pria yang ia cengkram.
"Ugh.." Sudut bibirnya kini terluka. Ekspresinya nampak menderita. Ia tak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini padanya. "Ugh..."
Feng Ying menarik usus pria itu dan mengeluarkannya.
"Ying! Hentikan!" Teriakan terdengar. Suara langkah juga mulai terdengar mendekat pada Feng Ying.
Feng Ying melirik ke arah suara. Ia hanya diam dengan seringai di wajahnya. Ia juga langsung melemparkan warga yang kini sudah mati itu ke permukaan tanah dengan keras.
Wang Chen merasa sulit bernafas ketika berhadapan dengan Feng Ying. Ia juga merasa mual, ingin muntah melihat kondisi mayat mayat di sekitarnya. "Y-Ying.. Apa yang kau lakukan?" Ucapnya dengan suara bergetar.
Feng Ying, "Mangsa baru, hehe.." Ia berjalan mendekat pada Wang Chen. Setiap langkahnya menimbulkan jejak darah di permukaan tanah. Tetesan tetesan darah dari kuku dan tangannya juga mengenai permukaan tanah. Penampilannya benar benar terlihat kacau dan menyeramkan.
Wang Chen mengepalkan tangan. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ia merasa bila Feng Ying yang ada di hadapannya tidak seperti Feng Ying yang ia kenal. Jadi, Wang Chen mulai nengeluarkan pedang. Pedang yang ia keluarkan adalah pedang yang pernah diberikan oleh patriarch Lao.
Feng Ying masih tetap berjalan ke arah Wang Chen. Sedetik kemudian, dirinya menghilang begitu saja dengan cepat.
Wang Chen merasakan adanya bahaya dari arah samping. Jadi, dirinya langsung menahan serangan dengan pedang. Ia melihat Feng Ying menyerangnya dengan kukunya yang berlumuran darah. Wang Chen melakukan tendangan. Tetapi, Feng Ying sudah menghilang di depannya.
Tak lama dari itu, Feng Ying membentuk jarum jarum yang terbuat dari darah yang berserakan dimana mana. Jarum jarum darah mengambang di udara mengelilinginya. Ia seakan siap melemparkan semua itu pada Wang Chen. Sasarannya tentu saja bukan bagian vital yang dapat membuatnya mati seketika. Karna ia ingin menyiksa pemuda di depannya terlebih dahulu.
Wang Chen terkejut. Apa yang dilakukan Feng Ying sama dengan yang dilakukan pemuda itu saat menghabisi banyak kultivator tadi-membentuk darah menjadi senjata. "Ying.." Lirihnya.
Wang Chen bersiap untuk menghindar bila sewaktu waktu Feng Ying melepaskan serangannya.
Sebelum Feng Ying melemparkan serangan jarum jarum itu, Wang Chen sudah merasakan sakit di bahu bagian belakangnya setelah merasakan sesuatu menusuk tubuhnya. Ia segera melirik ke belakang untuk melihat apa yang menancap di bahunya.
Namun Wang Chen terkejut saat melihat di belakangnya juga terdapat banyak jarum darah yang melayang di udara. Ternyata Feng Ying tidak hanya membuat jarum darah di sekitarnya. Tetapi juga di belakang Wang Chen.
Whuuuss
Whuusus
Sebagian jarum darah yang berada di sekitar Feng Ying melesat ke arah Wang Chen dan mengenai tubuhnya. Tidak ada jarum yang meleset sama sekali.
"Arkhh.." Kini, kaki dan tangan Wang Chen juga terasa sakit. Ia melompat ke samping untuk keluar dari tengah tengah serangan yang mungkin akan dilakukan Feng Ying lagi. "Ssstt.. Sakit.."
Tidak lama, jarum darah yang menancap di tubuh Wang Chen kembali berubah menjadi cairan darah. Namun luka di tubuh pemuda itu tetap saja ada. Karna ia sempat terluka oleh jarum darah.
__ADS_1
Walaupun Wang Chen pernah mengonsumsi darah Feng Ying, tetapi itu tidak bisa membuat regenerasi tubuhnya menjadi sangat cepat seperti Feng Ying. Regenerasi tubuhnya hanya bertambah cepat sedikit saja.
Feng Ying tidak memberikan waktu pada Wang Chen, karna ia langsung melesatkan seluruh jarum darah yang tersisa pada Wang Chen.
Wang Chen terkejut. Ia mencengkram pedang dengan kuat dan mulai menangkis beberapa jarum darah yang dilesatkan Feng Ying menggunakan pedang.
Tapi walaupun begitu, tetap saja Wang Chen menerima beberapa jarum darah serangan Feng Ying. Bahkan ada jarum yang hampir saja menusuk matanya, bila Wang Chen tak segera memiringkan kepala ke samping.
Jarum darah kini sudah habis. Wang Chen terengah engah karna terkejut dengan kejadian tadi. "Itu tadi, hampir saja.." Gumamnya. Ia menatap Feng Ying dan langsung menghentakkan kaki ke permukaan tanah, membuat serangan beku pada Feng Ying.
Dari bawah sampai perut, tubuh Feng Ying sudah membeku, membuat Feng Ying terdiam di tempat. Namun seringaian tetap saja terlukis di wajahnya. Bekuan es masih bergerak untuk membekukan tubuh Feng Ying bagian atas.
Wang Chen mengatur nafas sejenak. Ia berniat akan membekukan seluruh tubuh Feng Ying terlebih dahulu.
Sebelum Wang Chen merasa sudah lega karna telah mengatur nafasnya dengan benar, es yang mengurung Feng Ying retak dan pecah.
Wang Chen terkejut. Ia langsung menatap Feng Ying yang berjarak beberapa meter darinya. Semua es yang membekukan tubuh pemuda itu kini sudah pecah.
Wang Chen sebenarnya memiliki sebuah jurus yang diajarkan oleh gurunya, tepatnya ia belajar dari kitab yang diberikan gurunya. Jurus itu sangat hebat karna dapat membuatnya bisa menciptakan ribuan pedang dari energi Qi. Pedang yang terbuat pun sangat kuat, tidak akan mudah dihancurkan, bahkan oleh orang dengan tingkat langit bintang 1. Tetapi Wang Chen tak mau melukai Feng Ying. Biar bagaimanapun, Feng Ying adalah sahabatnya. Saat ini Feng Ying hanya tidak sadar saja dengan apa yang dilakukannya. Maka dari itu, Wang Chen tak mau menggunakan jurus itu.
Beberapa saat kemudian.. Terlihat saat ini bila leher Wang Chen dicengkram kuat oleh tangan Feng Ying. Tubuh Wang Chen sudah penuh dengan darah dari luka di tubuhnya sendiri maupun dari darah yang ada di sekitarnya. Wang Chen mencengkram balik tangan Feng Ying. Ia merasa kesulitan bernafas. "Y-Ying.. L-lepaskan.."
Tatapan Feng Ying masih tetap sama. "Lepaskan? Tidak akan." Ia tersenyum tipis. Matanya berkilat merah. Cengkramannya semakin kuat terhadap Wang Chen, bahkan membuat sebuah goresan di leher pemuda itu.
"Ugh.. Ying.." Wang Chen mencengkram kedua tangan Feng Ying semakin kuat. Ia pun langsung menghempaskannya dari lehernya sekuat tenaga, hingga bisa terbebas dari Feng Ying. Wang Chen langsung menendang perut Feng Ying dan membuat pemuda itu termundur beberapa langkah ke belakang.
Tidak sampai di sana, saat tubuh Feng Ying goyah, Wang Chen mendorongnya hingga membuatnya menindih tubuh sahabatnya. Wang Chen mencengkram leher Feng Ying dengan lumayan kuat dan membuat Feng Ying meronta. Feng Ying mencoba melepaskan cengkraman tangan Wang Chen darinya, namun tidak bisa, seakan Wang Chen memiliki kekuatan baru yang besar saat ini hingga ia tak bisa melepaskan cengkraman tangan pemuda itu.
"Ying! Berhenti! Kembali.. Kumohon, sadarlah!" Ucap Wang Chen dengan kesulitan. Ia menatap wajah Feng Ying dengan mata berkaca kaca. Ia seperti baru saja kehilangan sosok sahabatnya. Padahal, Feng Ying ada bersamanya saat ini.
Wang Chen memejamkan mata untuk menahan sedih. Ia bahkan tak menyadari ada sesuatu yang aneh. Tangannya tiba tiba saja sedikit bersinar putih dan bersamaan dengan itu, di sela sela jarinya yang sedang mencengkram leher Feng Ying, keluar asap hitam tipis.
"Aarrggh!" Feng Ying berteriak kesakitan.
"Ying, sadarlah!" Ucap Wang Chen yang masih memejamkan mata dan tak menyadari apa yang terjadi.
Tak lama kemudian, Feng Ying berhenti memberontak. Iris matanya yang berwarna merah kembali berwarna biru. Perlahan, matanya terpejam dan tubuhnya seakan lemas tak bertenaga saat ini.
Wang Chen membuka mata karna merasakan bila Feng Ying tak memberontak lagi. Ia mengendurkan cengkraman tangannya dari leher Feng Ying. "Y-Ying.."
Wang Chen mulai berdiri dan kemudian duduk di samping Feng Ying berbaring. Ia mengecek kondisi tubuh Feng Ying dan mengetahui bila dia masih hidup. Wang Chen menghela nafas, "Syukurlah.."
Wang Chen mulai mengangkat tubuh Feng Ying dan menggendongnya di punggung. Ia pun pergi membawa Feng Ying ke rumah yang terlihat masih bagus di tempat ini daripada rumah yang lain.
***
__ADS_1
Tanpa diketahui Wang Chen, seseorang sudah memperhatikan dirinya dan Feng Ying cukup lama. Namun, ia hanya diam saja dengan ekspresi datarnya. Ia pun mulai berjalan pergi dari tempat itu setelah melihat kepergian Wang Chen dan Feng Ying.