
"K-kau.." Liu Mei terkejut ketika seseorang masuk secara tiba tiba ke dalam kamarnya. Bagaimana bisa pemuda itu ke tempat ini? Bukankah seharusnya prajurit yang berjaga dekat kamarnya mencegahnya masuk? Tapi kenapa dia diperbehkan masuk?
Tanpa sadar, Liu Mei langsung mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauh dari pemuda itu. Dalam hati, ia sangat ketakutan ketika melihatnya.
Ia pernah melihat iris mata pemuda itu yang berubah merah ketika pemuda itu membunuh tetua yang akan membawanya pergi lagi. Ia sebenarnya sudah sadar sejak tetua yang pada saat itu menculiknya akan membawanya pergi. Namun ia langsung berpura pura masih pingsan. Padahal, ia melihat bagaimana Feng Ying membunuh tetua dengan kejam dan melihat bagaimana iris pemuda itu, tanpa diketahui oleh Feng Ying sendiri.
Liu Mei tau, orang yang memiliki iris mata merah hanyalah keluarga Zhang yang kini seharusnya sudah musnah. Ia tidak mengatakan tentang identitas Feng Ying pada orang lain, karna pemuda itu sudah menolongnya. Walau begitu, ia tetap saja takut pada Feng Ying dan mewaspadai pemuda itu.
Feng Ying mengerutkan kening ketika melihat wajah Liu Mei yang nampak agak pucat. Apakah wanita itu sedang sakit? Dan lihatlah, wanita itu juga terlihat ketakutan. "Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat ketakutan?"
Liu Mei menggelengkan kepala dengan cepat. Iapun menguatkan diri agar tidak takut, "K-kenapa.. Kau bisa ada di tempat ini?" Ucapnya dengan suara agak bergetar.
"Ah, maaf.. Maaf.. Kau pasti mengira bila aku orang jahat, karna masuk ke kamarmu secara tiba tiba seperti ini." Feng Ying tertawa dan mengira mungkin itu yang membuat Liu Mei takut. Lagi pula, Liu Mei adalah wanita. Orang asing masuk ke kamarnya secara tiba tiba, apalagi saat malam. Mungkin saja Liu Mei jadi memikirkan hal yang tidak tidak tentangnya.
Liu Mei terkejut melihat sikap Feng Ying. Ia kira, Feng Ying akan bersikap dingin dan kasar padanya. Tapi ternyata, pemuda itu tidak seburuk yang dipikirkannya. Liu Mei menelan ludahnya karna rasa gugup dan takut. Ia ingin sekali berteriak meminta agar penjaga masuk ke tempat ini dan membawa Feng Ying pergi. Namun bila ia melakukannya, maka Feng Ying akan curiga bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang Feng Ying.
"Pertama tama, perkenalkan. Namaku adalah Feng Ying. Aku kemari untuk bertanya sesuatu padamu. Apakah boleh?" Feng Ying tersenyum ramah.
"A-apa?" pipi Liu Mei menjadi merah ketika melihat wajah Feng Ying yang tersenyum padanya. Detak jantungnya menjadi tidak karuan. Ia juga tidak tau, apakah ini karna takut ataupun sesuatu yang lain.
"Aku ingin bertanya tentang benda pemutar waktu yang ada padamu." Ucap Feng Ying dengan ekspresi yang mulai serius.
"Benda.. Pemutar waktu?" Gumam Liu Mei.
Feng Ying dapat mendengar gumaman pelan Liu Mei. Karna kamar ini sangat sepi. "Ya, benda pemutar waktu. Aku sangat membutuhkannya. Kumohon, tolong beritau tentang benda pemutar waktu itu padaku. Bila kau memilikinya, maka aku ingin kau menukarnya dengan benda yang kumiliki."
__ADS_1
Liu Mei merasa gemas ketika melihat tatapan memelas Feng Ying yang begitu mematikan. "A-aku tidak mengerti.. Benda apa yang kau maksud. T-tapi ayah pernah memberikan benda berkilau ini.. Padaku. D-dia mengatakan bahwa benda ini.. Berharga.." Iapun memperlihatkan sebuah gelang yang dipakainya. Pada gelang terdapat sebuah linontin berbentuk satu daun berwarna biru terang. Liontin itu seakan bercahaya di tempat ini. Terlihat juga titik titik hijau pada permukaan liontin.
"Liontin itu terlihat.. Agak aneh.. Bisa saja itu adalah benda yang dicari oleh orang orang itu." Batin Feng Ying. Ia berjalan mendekat pada Liu Mei yang berjarak beberapa meter darinya. "Um.. Apakah aku boleh melihatnya? Aku ingin mencoba memeriksanya."
"T-tentu." Entah disadari atau tidak oleh Liu Mei, ia menjawab saja dengan spontan. Pesona Feng Ying saat tersenyum mendekat padanya bahkan mengalahkan ketakutannya terhadap pemuda itu.
Setelah Feng Ying berada di depannya, Liu Mei mengulurkan tangan pada pemuda itu dan memperlihatkan gelang yang dipakai olehnya.
"Dari aura yang dikeluarkannya, ini memang agak aneh. Aura yang kuat, tapi tidak menyakiti ataupun melindungi. Memang banyak benda dengan aura seperti ini. Tapi rasanya.. Ini sedikit berbeda." Batin Feng Ying sambil menyentuh liontin yang masih menggantung pada gelang Liu Mei.
"Dilihat dari sedekat ini, d-dia sangat berbeda." Batin Liu Mei dengan pipi yang mulai merah kembali.
Feng Ying mulai mengangkat wajahnya untuk menatap Liu Mei, "Aku ingin menukar liontin ini. Apa yang kau mau?"
"Ini terlihat sangat indah.. Aku menyukainya. Walaupun ini bukan benda yang kucari, tapi aku tetap menyukainya." Feng Ying tersenyum.
"Dia terlalu dekat.." Batin Liu Mei. Wajahnya semakin bersemu merah.
"Kau kenapa? Apa kau sedang sakit?" Feng Ying menyentuh kening Liu Mei. "Hm.. Sepertinya tidak."
Liu Mei mundur beberapa langkah menjauh dari Feng Ying, "A-aku baik baik saja. Aku akan memberikannya.. Dengan gelangnya juga. S-sebagai hadiah perkenalan." Liu Mei melepas gelang miliknya dan memberikan itu pada Feng Ying.
"Benarkah? Kau memberikannya begitu saja? Apa kau tidak mau bertukar saja?" Ucap Feng Ying setelah menerima gelang Liu Mei.
"T-tidak perlu. K-kau bisa mengambilnya dan menyimpannya. N-namaku Liu Mei. Anak satu satunya Kaisar Liu Changhai dari kekaisaran Liu." Liu Mei menundukkan kepalanya agar Feng Ying tak melihat wajahnya yang begitu merah.
__ADS_1
"Kalau begitu, ini untukmu. Sebagai hadiah perkenalan." Feng Ying mengambil sesuatu dari dalam cincin ruang miliknya dan langsung memberikan itu pada Liu Mei. "Aku saat itu membeli kalung ini untuk adikku. Tapi sepertinya ini lebih cocok bila dipakai olehmu." Feng Ying tersenyum.
Liu Mei memperhatikan kalung yang ada di tangannya. Kalung itu memiliki liontin berbentuk bunga yang indah. "T-tidak perlu memberikan benda ini padaku. A-aku memberikan gelang milikku sebagai hadiah perkenalan. B-bukan saling bertukar barang."
"Ambil saja. Aku sudah bilang, bila itu juga bukan barang pertukaran. Tapi sebagai hadiah perkenalan."
"K-kalau begitu, terimakasih.." Ucap Liu Mei dengan cukup pelan.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Tidak baik bila aku terlalu lama di tempatmu." Feng Ying menyentuh pucuk kepala Liu Mei dan mengelusnya. "Sampai jumpa."
Setelah itu, Feng Ying langsung pergi keluar dan Liu Mei hanya memandangi punggungnya di belakang.
DDRRAPP
Pintu sudah ditutup kembali. Setelah kepergian Feng Ying, kaki Liu Mei terasa lemas. Ia langsung terduduk di lantai. Entah ada apa dengan dirinya saat ini setelah bertemu dengan Feng Ying. Ia memperhatikan kalung yang ada di genggamannya. "Aku akan.. Menjaganya."
***
Feng Ying kembali menuju ke kamarnya berada. Tentunya dengan sembunyi sembunyi.
"Haha, kau memang sangat hebat dalam hal ini! Tak kusangka, taktik seperti itu juga bisa mempan padanya." Ucap Jian dengan tawa.
Feng Ying tersenyum, "Tentu saja! Aku ini memang luar biasa! Dia begitu mudah terjebak. Hanya dengan taktik itu saja, aku berhasil mengambil benda pemutar waktu."
Tak lama, akhirnya Feng Ying telah sampai di dalam kamarnya. Iapun langsung tidur untuk beristirahat. Karna besok dirinya akan pergi dari istana ini dan memulai perjalanannya lagi.
__ADS_1