Feng Ying

Feng Ying
121 -Ilusi


__ADS_3

Setelah lama bertengkar dan akhirnya selesai, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada kejadian berarti lainnya di tempat ini. Mereka hanya menemukan demonic beast saja dan bertarung dengan mereka. Bagi Wang Chen, bertarung dengan demonic beast yang ada di tempat ini cukup menguras tenaga. Bukan hanya karna jumlahnya saja yang selalu bergerombol. Tetapi juga karna kekuatan mereka yang lumayan tinggi. Bila saja Wang Chen sendiri dan menghadapi gerombolan demonic beast berkali kali dalam waktu yang lumayan singkat, maka dirinya tidak akan bisa bertahan di tempat ini.


Feng Ying dan Wang Chen telah sampai di depan gua dengan bagian depan yang berbentuk ular. Sudah 7 hari mereka berada di tempat ini dan mereka belum menemukan apapun.


Feng Ying melirik Wang Chen yang berdiri di sampingnya. Iapun menutupi hidupnya, "Kau harus mandi! Sudah 7 hari kau tidak mandi. Tubuhmu sangat kotor! Lihat, kau juga berlumuran darah yang sudah mengering. Pakaianmu juga terlihat seperti pengemis! Apa kau tidak malu seperti itu?" cibir Feng Ying.


Wang Chen membuang muka, "Aku tidak mau!"


"Haish.. Apa ini karna tubuhmu itu? Jadi kau tidak juga mandi selama berhari hari?" Ucap Feng Ying dengan malas.


Wajah Wang Chen memerah ketika Feng Ying membahas itu. Memang itulah yang membuatnya tidak juga mandi. Lagi pula, ia akan merasa mengintip seorang wanita bila tetap mandi dengan keadaan tubuhnya yang masih belum kembali seperti semula. Suaranya memang sudah kembali seperti semula. Tapi tidak dengan tubuhnya. Sepertinya ini karna dirinya memakan terlalu banyak apel itu, membuat tubuhnya masih tetap seperti ini walau sudah beberapa hari.


Melihat Wang Chen yang diam, Feng Ying sudah mengetahui jawabannya. Iapun menepuk wajahnya dan berekspresi seakan pasrah, "Hah.. Apa aku ceburkan saja kau ke dalam danau?"


Wang Chen yang mendengar itu langsung mundur beberapa langkah dari Feng Ying. Ia saat ini memang sudah bisa berenang. Tapi jika ia diceburkan ke danau, maka pakaiannya akan basah dan dirinya harus berganti pakaian. Ia tidak mau melakukan itu. "Jangan menyentuhku!" Ucap Wang Chen dengan tatapan tajam.


Feng Ying bereskpresi malas, "Kau berbicara seakan aku akan melecehkanmu. Hah.. Lupakan. Kita masuk sekarang."


Setelah mengatakan itu, Feng Ying masuk ke dalam gua dan tidak mempedulikan Wang Chen. "Hah.. Menyebalkan. Tidak ada yang menarik di tempat ini. Hanya ada banyak demonic beast saja. Tapi harta, sangat sedikit. Dunia sangat pelit padaku." Gerutunya.


Wang Chen mulai mengikuti Feng Ying dari belakang. Dirinya meraba raba dinding gua karna tempat sangat gelap ketika dirinya berjalan semakin ke dalam. "Sebenarnya kita akan kemana Ying?"


"..." Tidak ada jawaban sama sekali.


"Ying?" Wang Chen mencoba memanggil kembali. Namun, tidak ada yang menyahutnya. Hanya suara gema saja yang ia dengar. "Y-Ying.. Kau dimana? Jangan tinggalkan aku!"


"..."


"Ying.. Jangan bercanda! Jawab aku!"


"..." Masih saja tak ada jawaban dari Feng Ying. Hal ini membuat Wang Chen khawatir. "Ying? Ying? Kau kemana?"


Wang Chen mempercepat jalan. Bahkan ia sedikit berlari, walau keadaan sangat gelap dan semakin gelap.


Wang Chen tiba tiba berhenti kala melihat seseorang berdiri membelakanginya. Gua seakan tidak gelap saat ini, membuat dirinya dapat melihat seseorang di depan. "Ying? Apa itu kau?"


Seseorang di depan Wang Chen berbalik dan menghadap Wang Chen. "Chen'er.. Lama tidak bertemu." Ia tersenyum hangat.

__ADS_1


Wang Chen terdiam membeku di tempatnya. "A-ayah?"


***


"Haish.. Dia itu malah meninggalkanku di belakang. Dia sebenarnya kenapa? Dia tiba tiba semakin masuk ke dalam gua mendahuluiku." Gumam seorang pemuda. Ia tak lain adalah Feng Ying. Setelah dirinya masuk, Wang Chen ikut masuk. Namun tak lama kenudian, Wang Chen tiba tiba berlari dengan cepat masuk ke dalam meninggalkannya. Bahkan Feng Ying dapat mendengar Wang Chen berteriak dan memanggil namanya. Feng Ying sudah menyahut, namun Wang Chen seakan tak mendengar suaranya.


"Haish.. Dia merepotkan!" gerutu Feng Ying.


"Apa kau tidak mau lari mengejarnya?" Ucap Jian dalam kepala Feng Ying.


Feng Ying mendengus singkat, "Untuk apa? Hanya buang buang tenaga. Lebih baik berjalan kaki saja. Walau perlahan, asalkan sampai dengan aman."


Di dalam gua tidak terlihat gelap sama sekali. Karna atap atap gua diterangi beberapa kristal bercahaya. Namun Wang Chen tak melihat itu. Ia hanya melihat bila gua sangat gelap. Berbeda dengan Feng Ying yang dapat melihat kristal kristal bercahaya itu.


"Apa kau tidak khawatir? Dia sepertinya terkena ilusi dari cahaya kristal ini."


"Biarkan saja. Lagi pula, aku akan sampai di tempatnya nanti." Ucap Feng Ying dengan santai. Seolah, ia tidak mengkhawatirkan apapun.


"Saat kau sudah sampai, dia sudah mati."


"Terserah kau saja. Aku ikut saja denganmu."


***


Wang Chen terdiam membeku di tempatnya, "A-ayah?"


"Hai, Chen'er.. Bagaimana kabarmu?" Ucap orang di depan Wang Chen yang tak lain adalah ayahnya, Luo Anming.


"B-bagaimana bisa.."


Luo Anming memiringkan kepala dengan heran, "Bagaimana bisa apa? Apa yang kau pikirkan, Chen'er?"


"Bagaimana bisa ayah berada di tempat ini! Ayah sudah mati!" Ucap Wang Chen dengan nada keras.


Luo Anming berjalan mendekat. Ia mengelus kepala Wang Chen dan tersenyum, "Tentu saja aku belum mati, nak.. Bagaimana mungkin aku mati dengan begitu mudahnya di tangan orang orang itu?"


Wang Chen mundur beberapa langkah ke belakang dan hal ini membuat tangan Luo Anming menjauh dari kepalanya. "Aku melihat sendiri bagaimana ayah mati! Aku melihatnya! Jadi kau bukanlah ayahku!"

__ADS_1


Mata Wang Chen berkaca kaca ketika mengingat kejadian itu. Melihat bagaimana ayahnya mati matian melindungi dirinya dan ibunya. Hingga akhirnya, ia melihat ayahnya tertusuk pedang pada tubuhnya. Walau begitu, ayahnya tetap berdiri dan melindunginya dan ibunya sekuat tenaga. Itu adalah kenangan yang begitu menyakitkan bagi Wang Chen. Karna saat itulah, ia harus kehilangan ayah yang ia sayangi, bahkna ia tak bisa membantu apapun untuk ayahnya.


"Berhentilah untuk berpura pura menjadi ayahku! Sialan!" teriak Wang Chen dengan setitik air mata yang jatuh.


Luo Anming memandang Wang Chen dengan sedih, "Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ayahmu lagi, hanya karna aku meninggalkanmu beberapa tahun untuk aku menyembuhkan diri? Apa aku sudah mati di matamu? Apa aku sudah tidak berarti lagi bagimu, Chen'er? Apa kau tidak ingin memiliki ayah sepertiku?"


Kata kata yang begitu menyakitkan bagi Wang Chen. Orang di depannya mengatakan itu. Apalagi wajah, ekspresi dan suaranya begitu sama dengan ayahnya. Apa mungkin ini memang ayahnya? Ucapannya yang mengatakan 'pergi untuk menyembuhkan diri' memang terdengar masuk akal. Mungkin saja saat itu Luo Anming terluka parah dan harus menyembuhkan diri terlebih dahulu.


"B-bukan seperti itu. Aku.. Aku tidak bermaksud membuatmu berpikir begitu. Hanya saja, apa kau benar benar ayah dan apa kau benar benar masih hidup?" Ucap Wang Chen ragu.


Luo Anming masih bereskpresi sedih, "Tentu saja aku masih hidup. Apa kau masih belum percaya padaku? Pada ayahmu sendiri.."


Luo Anming berjalan mendekat pada Wang Chen. Iapun mengelus kepala Wang Chen dengan sayang, "Apa kau masih belum percaya padaku?"


"Usapan ini.. Tangan ayah." Batin Wang Chen. Tangan yang mengusap kepalanya benar benar terasa seperti saat ayahnya pernah mengusap kepalanya. Hal ini membuat Wang Chen yakin bila orang di depannya adalah Luo Anming. "Ayah.. Jangan pergi lagi dariku.."


Luo Anming tersenyum. Ia mengusap air mata yang sedikit menetes dan membasahi pipi Wang Chen, "Laki laki tidak boleh menangis."


"A-aku tidak menangis.." Wang Chen mengelak tuduhan Luo Anming padanya.


Luo Anming tersenyum, "Apa kau mau ikut denganku, Chen'er? Kita akan kembali lagi dan juga memulai kembali hidup yang baru bersama sama."


Wang Chen mengangguk dan tersenyum. Ia seakan melupakan bila dirinya berada di dalam gerbang dunia. Ia bahkan seakan melupakan bila Feng Ying ikut bersamanya. Ia seakan melupakan apa saja yang tidak ada hubungannya dengan masa lalunya yang kelam. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ayahnya saja, Luo Anming.


"Kalau begitu, ayo kita pergi." Ajak Luo Anming.


Wang Chen kembali mengangguk. Ia berniat berjalan dan ikut dengan Luo Anming. Namun, sebuah suara mengejutkannya.


"Haish.. Kau sangat lemah! Hanya dengan ilusi rendahan ini saja kau sudah kalah!"


Wang Chen berbalik untuk melihat siapa pemilik suara itu. Ia seakan mengetahui siapa pemilik suara itu. Namun, ia hanya ingin memastikan saja. Wang Chen melihat ke arah orang itu. Namun, tubuh ataupun wajah orang itu terlihat buram di matanya.


Feng Ying menatap Luo Anming setelah melihat Wang Chen dan memberinya sedikit ilusi. Mata Feng Ying berbeda warna. Yang satu biru, sementara satunya lagi merah. Bukan merah biasa pada umumnya saat dia memakai kemampuannya. Tetapi merah darah dengan lambang pentagram berwarna hitam keunguan. Padahal biasanya tidak seperti ini.


Seharusnya Feng Ying tak bisa melihat ilusi dari seseorang yang terpengaruh ilusi orang lain ataupun ilusi yang bukan dari dirinya. Namun kini berbeda. Ia dapat melihat ilusi itu dan seakan masuk dalam ilusi yang didapat Wang Chen dari cahaya kristal. Feng Ying juga tak tahu mengapa bisa seperti ini. Tapi yang jelas, ia merasa lebih terbantu dengan ini.


"Sesuatu yang sudah hilang, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Termasuk orang ini, Chen." Ucap Feng Ying sambil menatap ilusi Luo Anming.

__ADS_1


__ADS_2